Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 5.3


Bab 5 - Kami Sebenarnya Tidak Pernah Cocok Sejak Lama




Laut yang kupilih sebagai lokasi pengakuan perasaan adalah Tanjung Futtsu.


Kami tiba setelah sekitar empat puluh menit berkendara motor dari Kisarazu, dan rasa lelah akibat panas terasa mereda, mungkin karena angin laut yang menerpa dari samping dan menerobos lewat.


Pemandangan indah di mana birunya langit dan birunya laut berdampingan mengguncang perasaanku.


Pantai ini memiliki bentuk daratan yang seolah menjorok ke laut, namun meski aku seharusnya terbiasa dengan laut Kisarazu, tempat ini terasa seperti dunia lain.


Karena warna air laut, aroma angin, dan tekstur pasirnya pun berbeda, mungkin otakku yang dibanjiri informasi baru sedang menciptakan kesan kesegaran.


“Ada bangunan segitiga besar di sana, itu menara pandang, ya?”


Yang ditunjuk Haru-senpai dengan penuh rasa ingin tahu adalah bangunan yang menjulang di tepi pantai, menyerupai sebuah piramida.


Banyak tangga memanjang dari segala arah, seolah siapa pun bisa naik ke puncaknya.


“Itu Menara Pandang Peringatan Seratus Tahun Era Meiji. Sepertinya memang tempat untuk menikmati pemandangan.”


“Wah, Natsume-kun yahu banyak juga, ya?”


Padahal aku hanya sedikit mencari informasi saat merencanakan rute kencan.


“Mumpung sudah di sini, bagaimana kalau kita naik sampai puncak?”


“Kita ke sini kan mau main ke laut?”


“Aku juga mau ambil foto berbagai pemandangan. Ayo pergi.”


“Siap. Karena aku ini junior yang baik dan perhatian pada Senpai, aku akan menemani ke mana pun.”


“Jangan menyebut dirimu sendiri ‘junior yang baik’ dong. Tapi, terima kasih!”


Mengikuti ajakan Senpai yang kuhormati dengan tulus adalah ciri junior yang baik.


Kami menaiki tangga menara pandang tanpa kesulitan dan berdiri di puncaknya.


Meski pegangan dan tiangnya tampak terkorosi oleh angin laut, Teluk Tokyo dapat terlihat sepenuhnya.


Di atas laut, Benteng Laut Pertama dan Kedua juga tampak berdiri, dan di hari cerah ini permukaan laut berkilauan.


Namun, aku tak punya kelonggaran untuk menikmati pemandangan dengan santai.


Area pandang di puncak ternyata cukup sempit.


Kesadaranku tersita oleh kenyataan bahwa Haru-senpai berada sedekat hingga bahu kami hampir bersentuhan, dan panas di pipiku serta detak jantungku tak menunjukkan tanda-tanda mereda.


Aku pikir ini adalah panggung terbaik yang disiapkan oleh dewa romcom—tidak, oleh Dewa Lumba-lumba Keberuntungan.


“Melihat laut itu menyenangkan?”


“Kalau melihat pemandangan yang indah sekali, rasanya terharu, kan? Kamu tidak tertarik?”


“Sebenarnya......aku juga sedang bersemangat.”


“Oh, ternyata memang kita cocok, ya.”


Aku sebenarnya tidak tertarik pada apa yang disebut pemandangan indah itu, tapi aku sangat tertarik pada wajah Senpai yang sedang bersenang-senang.


Aku suka melihat Senpai yang dengan gembira memotret pemandangan memakai ponselnya, jadi sambil berperan sebagai junior yang selalu setuju, diam-diam aku sedang melayang bahagia.


Tanganku berkeringat karena gugup, bercampur dengan keringat akibat panas.


Sesekali, angin laut bertiup tajam, mengangkat ujung rambut Senpai yang lembut dengan gerakan rumit.


Di sekitar puncak, tidak ada siapa pun selain kami.


Suara angin yang berlalu dengan sibuk dan suara ombak jauh yang terdengar dengan ritme tetap sampai ke telinga.


Di dunia tempat semua itu berpadu, tak ada satu pun yang mengganggu kami yang berdiri berdampingan.


Namun, suara untuk menyatakan perasaanku, tidak keluar.


Padahal semua sudah dipersiapkan sampai sejauh ini.


Kakak, apa yang harus kulakukan.


Bagaimana caranya membebaskan Haru-senpai dari bayangan dirimu.


Hanya waktu yang berlalu, diiringi gema suara lingkungan dan bunyi rana kamera.


Suhu yang kurasakan perlahan menurun, bahkan terasa lebih nyaman entah kenapa.


Sudah berapa menit berlalu sejak kami tiba di sini?


Padahal aku sudah berkali-kali berduaan dengan Senpai, tapi karena perasaan gelisah ini, keheningan beberapa puluh detik terasa seperti berjam-jam.


“Haru-senpai.”


“Hm? Apa?”


Akhirnya aku menguatkan tekad dan entah bagaimana berhasil membuka mulut yang kaku.


“Pemandangannya indah, ya.”


“Hah? Tiba-tiba sekali? Ada apa?”


“Yah, tapi dibanding pemandangan ini, Haru-senpai lebih cantik.”


“Eeh? Natsume-kun, itu agak menjijikkan, tahu?”


“Dasar Touri......mengajari gombalan bodoh begitu.”


“Ahaha, kamu dipermainkan Touri-chan, ya.”


Touri, terima kasih. Sepertinya itu dianggap hanya celetukan ringan untuk mencairkan suasana, dan entah kenapa udara di antara kami terasa sedikit menghangat......kurasa.


“Haru-senpai......umm!”


“Natsume-kun.”


Aku memanggil nama Senpai, tapi langsung ditimpa dengan namaku sendiri.


Aku yang sudah benar-benar lengah pun tersentak, dan Haru-senpai perlahan mendekatkan bahunya—


Suara rana.


Senpai mengulurkan tangan yang memegang ponsel, lalu menekan tombol rana dalam mode swafoto.


“Dua foto bareng tiba-tiba itu curang, tahu......?”


“Anggap saja kenang-kenangan karena kita datang ke sini! Nanti aku kirim juga ke Natsume-kun ya♪”


“Aku tadi kaget, jadi mukaku kelihatan bodoh, kan.”


“Eh? Polos dan imut kok? Boleh jadi wallpaper?”


“......Itu memalukan, jadi tolong jangan.”


“Kalau diunggah ke story SNS atau dibagikan ke orang-orang klub basket?”


“Itu lebih tidak boleh. Apalagi Touri pasti akan mengejekku.”


“Yah, mau bagaimana lagi. Kita simpan jadi kenangan berdua saja, ya.”


Aku ingin menjadikannya kenangan rahasia yang hanya milik kami berdua.


Menatap langsung wajah kami berdua di layar terasa memalukan, tapi perasaan senang yang luar biasa berlari kencang di dalam diriku dan emosiku terus meluap.


Bisa. Aku bisa mengatakannya. Aku bisa menyatakan. Kalau ke pantai, pasti.


“Foto-fotonya juga sudah banyak, ayo kita turun.”


“......Kita ke pantai?”


“Iya. Mumpung sudah datang, ayo lakukan sesuatu yang terasa musim panas, berdua.”


再び上昇していく体感温度に不穏な影を感じながらも、夏らしさを取り戻した海岸の風景はやはり気持ちいい。

Futatabi jōshō shite iku taikan ondo ni fuon na kage o kanjinagara mo, natsu rashisa o torimodoshita kaigan no fūkei wa yahari kimochi ii.

Meski aku merasakan firasat tak enak dari suhu yang kembali naik, pemandangan pantai yang kembali bernuansa musim panas tetap terasa menyenangkan.


Kami turun dari menara pandang menuju pantai yang letaknya tepat di depan mata. Kami menjauh sedikit dari area yang ramai oleh keluarga, kelompok teman, atau pasangan yang datang dengan suasana akrab dan riang.


“Ini baru terasa laut musim panas! Seharusnya aku bawa baju renang, ya!”


Kami bertelanjang kaki dan berjalan-jalan di tepi pantai, tempat riak ombak kecil menggambar jejak di pasir.


“Soalnya pergi ke laut ini adalah acara kejutan.”


“Kalau kamu bilang bawa baju renang, tujuan kita akan ketahuan ya?”


“Iya. Aku sendiri sebenarnya ingin melihat Haru-senpai dalam baju renang, kok.”


“Eh, dasar cowok—jadi hanya mau lihat gadis dalam baju renangnya saja?”


“Bukan begitu, maksudku bukannya siapa saja boleh—”


“Kamu maunya lihat aku pakai baju renang, kan? Waktu di kolam juga kamu bilang begitu. Iya iya, junior yang baik dan perhatian pada senior, ya. Meski hanya basa-basi, aku senang kok.”


Padahal bukan basa-basi......tapi karena malu aku tak bisa membalasnya, dan akhirnya selalu terdengar seperti candaan.


“Yah, tanpa baju renang pun masih ada permainan klasik yang bisa dinikmati, kan.”


“Permainan klasik......seperti memecahkan semangka atau voli pantai?”


“Beach flags, kan?”


“Tidak mau.”


“Eh? Waktu SMP kita sering main itu berdua, kan!”


“Hari ini rasanya bukan mood ke arah sana, lebih ingin santai jalan-jalan.”


“Yang kalah traktir jus, aku sering ditraktir Natsume-kun dulu.”


“Tapi kalau dihitung keseluruhan, aku lebih sering menang, kan.”


“Eh, mengubah ingatan itu tidak baik, ya. Justru aku yang lebih sering menang.”


Aku mengenang masa SMP, saat kami bermain sepulang latihan di pantai sepi dengan pemandangan Aqualine.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Karena itu hanya permainan biasa dan kami tak pernah menghitung menang-kalahnya, masing-masing hanya berpegang pada kesan samar dan mengklaim diri sendiri lebih unggul.


“Kalau begitu, yang menang hari ini jadi pemenang selamanya!”


Haru-senpai mengangkat sudut bibirnya dengan senyum cerah sambil mengajukan usulan itu.


Sejujurnya, sebagai seseorang yang sedang merasa seperti kekasih, aku ingin mempertahankan suasana kencan manis ini. Tapi karena aku juga sangat menyukai jarak akrab kami sebagai senior dan junior......aku tidak menggelengkan kepala.


“Badanku juga sudah kaku karena ujian dan belajar ujian. Sesekali olahraga mungkin tidak buruk.”


Meninggalkan gumaman yang terdengar disengaja, aku menjauh dari tepi ombak......lalu meletakkan botol minuman yang kubawa untuk mengisi cairan tubuh, sendirian di atas pasir.


“Oh, menarik juga, ya? Sebagai mantan ace basket putri, aku tidak boleh kalah.”


“Kelihatannya percaya diri sekali, tapi kalau Haru-senpai kalah, bagaimana?”


“Kalau aku kalah, aku akan menuruti satu permintaanmu, selama masih dalam kemampuanku!”


“Kamu yang mengatakannya, ya? Aku dengar jelas, lho.”


“Mana mungkin aku kalah dari Natsume-kun yang kurus seperti tauge.”


Gawat. Semangatku hampir mencapai puncaknya.


“Tapi sebagai gantinya, kalau Natsume-kun kalah, kamu mau menuruti satu permintaanku?”


“Baik. Bahkan kalau Haru-senpai mengajukan permintaan yang mesum sekali pun......aku siap menerimanya.”


“Akhir-akhir ini, Natsume-kun kadang mengatakan hal yang menjijikkan, ya.”


Menjijikkan!?


“......Ngomong-ngomong, itu hanya bercanda, kok.”


“Iya, kan. Junior yang aku kenal tidak akan bilang hal seperti itu.”


Tatapan Haru-senpai yang meremehkan seolah-olah jengah itu terasa menyakitkan......


“Selama itu sesuatu yang bisa kulakukan, aku akan menuruti permintaan senpai.”


“Baik. Aku tidak akan membuat permintaan mesum, dan kamu juga tidak boleh meminta hal mesum. Setuju, kan?”


“Siap.”


“Jawabannya kecil sekali, ya?”


“Iya.”


Haru-senpai yang mengernyitkan alis dengan imut—meski bergaya seperti mahasiswi kota, sebenarnya dia polos sekali.


Hal seperti itu sebenarnya sangat menggelitik hati junior laki-laki......tapi bukan itu, kami malah masuk ke alur tak terduga, bermain beach flags.


Kami berdua berbaring sekitar sepuluh meter dari botol plastik, lalu menyetel timer ponsel agar berbunyi sepuluh detik kemudian.


Setelah itu, saat timer berbunyi, kami tinggal bangun dan berlari lurus menuju botol.


Siapa yang lebih dulu meraih botol itulah pemenangnya. Aturannya sederhana dan jelas.


Kami menunggu beberapa detik itu sambil tengkurap, dengan hanya suara ombak yang mengalir.


—Bunyi elektronik timer menembus suara ombak.


Hampir bersamaan. Kami berdua bangkit sambil berputar, dan pandangan kami terkunci pada botol plastik.


Kaki terperangkap oleh pasir yang lembut, aku tak bisa menjejak tanah dengan baik.


Pada satu-dua langkah pertama, telapak kakiku gagal mencengkeram pasir, dan dengan tubuh condong ke depan aku hanya bisa mulai berlari dengan canggung.


Akselerasi awal tepat setelah bangkit terlambat kurang dari satu detik. Dalam lari jarak pendek, itu menjadi perbedaan fatal, dan Haru-senpai sedikit lebih unggul.


Aku pun tak mau kalah, mengejar sambil mengayunkan paha yang kurang olahraga.


Kami berlari sejajar sambil sama-sama mengulurkan tangan kanan sepenuh tenaga. Karena tak mau mengalah, kami kehilangan keseimbangan dan terjatuh di dekat botol.


......Tanah berpasir menyerap benturan, rasa sakitnya hampir tak terasa.


Namun, di perutku yang tak terlindungi saat telentang, ada “berat yang terasa nyaman”.


“Haru-senpai......ini agak berat.”


“Tidak sopan. Mengatakan ‘berat’ ke perempuan itu pantangan, tahu.”


Haru-senpai menindihku dalam posisi seperti tengkurap, menyandarkan tubuhnya padaku.


“Kamu melindungiku yang hampir jatuh, kan? Natsume-kun baik sekali.”


“Memang impianku hanya jadi alas Haru-senpai.”


“Bagaimana rasanya jadi alasku?”


“Sangat lembut, dan harum......”


“Syukurlah, impianmu terkabul.”


“......Bercanda, kok? Maksudku, lembut dan harumnya itu memang benar.”


“Hentai-kun.”


“Tolong panggil aku ‘Kouhai-kun’ saja......”


Kami saling bercanda. Tanpa bangkit, entah kenapa kami tetap bertumpuk sambil berbicara pelan dalam ruang yang aneh.


Bukan hanya beratnya, suhu tubuh dan sentuhan Haru-senpai pun terasa langsung.


“Aku bisa mendengar......detak jantungmu, Natsume-kun.”


Haru-senpai menempelkan telinganya ke dadaku dan membisikkannya dengan suara lembut.


“Mungkin......jantungku sedang berdebar.”


“Iya, benar juga, detak jantungmu cepat sekali. Mungkin karena habis lari sekuat tenaga?”


Aku tak bisa mengatakan bahwa itu karena kamu yang sangat dekat.


Detak jantung yang bercampur antara senang dan gugup terdengar oleh Senpai, dan itu entah kenapa terasa sangat memalukan.


Tak juga mereda.


Bahkan saat ini pun tubuhku memanas, darah panas mengalir hingga ke ujung tangan dan kaki.


Di mata orang lain, apakah kami sekarang akan dikira sepasang kekasih?


Kalau dianggap serasi, aku pasti sangat senang.


“Omong-omong, aku yang menang.”


Haru-senpai mengangkat botol plastik sambil tetap berbaring.


“Penyebab kekalahanmu adalah kebaikan hatimu yang tak bisa fokus pada pertandingan. Karena kamu lebih mengutamakan keselamatanku daripada kemenanganmu sendiri.”


“Aku memang tidak cocok dengan persaingan......sejak dulu selalu kalah. Tak ada satu pun hal di mana aku lebih unggul dari orang lain.”


“Tapi ada orang yang terselamatkan oleh kebaikanmu. Dan itu adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia bernama Shirahama Natsume.”


Karena dia menegaskan dengan nada menasihati, aku jadi ingin semakin bergantung.


Karena ada orang yang membutuhkan diriku, aku ingin melakukan sesuatu demi orang itu.


“Kalau jujur......aku juga tak ingin baju Haru-senpai kotor oleh pasir.”


“Hah? Waktu SMP dulu kamu tidak sepeduli itu, kan.”


“Hari ini......entahlah, aku memang sedang ingin begitu.”


Karena hari ini, setidaknya bagiku, adalah kencan.


Setidaknya bagiku, aku sedang merasa seperti kekasih, jadi aku tak ingin pakaian yang kau kenakan untuk kencan ini menjadi kotor. Itu saja.


“Kamu mungkin jenius dalam membuat gadis jadi tidak berdaya.”


“Kalau aku ada di dekatmu, kamu jadi tidak berdaya?”


“Soalnya aku jadi ingin bergantung. Kalau kebaikanmu ada begitu dekat, aku mungkin akan jadi bergantung. Aku pasti ingin terus dimanja dan memanfaatkanmu......karena itu, aku mengakui kamu sebagai jenius perusak gadis.”


“Itu bukan gelar yang terlalu membanggakan, sih.”


“Kalau dipikir sebaliknya, artinya kamu nyaman. Anggap saja itu pujian.”


Senpai yang tetap menjaga keceriaannya itu seolah berbicara kepadaku, atau mungkin pada dirinya sendiri.


“Ngomong-ngomong, yang kalah harus menuruti satu permintaan, kan?”


“Minuman apa yang harus aku belikan?”


“Janjinya untuk menuruti permintaan, kan?”


Aku mencoba berpura-pura bodoh, tapi dia menekankannya dengan sangat jelas sampai tak bisa mengelak.


“Baiklah, kita putuskan sebelum pulang dari pantai.”


“Tolong yang ringan saja......”


Senyum iblis kecil Haru-senpai itu mengerikan.


Saat sisa kehangatan tubuh Haru-senpai masih tertinggal di perutku, dia mengulurkan tangannya.


“Anak yang mau ujian yang kurang olahraga sudah kelelahan?”


“Mana mungkin. Serunya baru dimulai.”


“Bagus. Ayo main lebih banyak lagi, Kouhai-kun!”


Aku menggenggam tangannya dan berusaha berdiri, tapi Haru-senpai tak sanggup menopang berat badanku, dan kami berdua terhuyung lalu jatuh terduduk bersama......sambil tertawa polos.


Ini benar-benar terasa seperti kencan—itulah perasaan sepihak yang kurasakan.


Aku mengecap momen itu dalam-dalam di hatiku.

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 5.3"