Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 3.2


Bab 3 - Pohon Kamper Tak Pernah Berkisah




Karena tepat waktu makan siang, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu.


Sejak Iwama datang, aku sudah punya firasat buruk, dan ternyata Mizusaki memang sejak awal tidak dipanggil.


“Hari ini rencananya aku mau jalan-jalan di Tsunagai bareng Rei, tapi kami berdua bukan orang sini, jadi sekalian saja kami sepakat minta orang lokal untuk memandu.”


Entah kenapa, Kannabi memutuskan untuk memanggilku. Dia memang tidak berbohong, tapi mengajakku tanpa memberi tahu informasi penting bahwa Iwama juga akan datang. Aku pun terjebak sepenuhnya oleh rencananya, salah mengira ini sebagai pertemuan anggota klub biologi, dan akhirnya terseret ke acara jalan-jalan dua perempuan satu laki-laki.


Mizusaki juga tinggal di dekat sini, dan sebenarnya bisa dipanggil sekarang juga, tapi kalau aku menghubunginya sekarang, aku bisa membayangkan masa depan di mana aku akan diejek dengan “Dasar Delta, tanpaku kau bahkan tidak bisa ngobrol normal dengan gadis!” lalu ditolak dengan alasan “tidak enak mengganggu situasi dua bunga di kedua tangan”.


Bukan seperti insiden sakura, tapi aku bertekad untuk tetap mengandalkan diri sendiri dan melewati hari ini dengan damai, apa pun yang terjadi.


“Ada tempat udon yang aku rekomendasikan. Kalau tidak ada alergi, bagaimana kalau ke sana?”


“Udon! Kedengarannya enak!”


Melihat reaksi Iwama, Kannabi ikut mengangguk.


“Aku juga kebetulan sedang ingin makan gandum sampai mati.”


Serius?


Baru kemarin aku pertama kali benar-benar berbicara dengannya, dan aku masih belum bisa menangkap karakter Kannabi. Tapi entah kenapa, saat bersama Iwama, kemampuan komunikasinya tampak meningkat. Percakapan berjalan cukup lancar. Meski begitu, aku tetap tak tahu apa yang sedang dia pikirkan—termasuk alasan kenapa hanya aku yang dipanggil sebagai pemandu.


Saat berjalan menuju kedai udon, aku memutuskan untuk sejenak menyimak percakapan kedua gadis itu.


“Rei biasanya turun di stasiun sebelah, kan? Rumahmu juga dekat dari sana?”


“Iya. Di Samizu, kota sebelah. Tapi aku ini tipe ultimate indoor, jadi sebenarnya jarang ke arah sini.”


Ultimate indoor benar-benar pilihan kata yang unik.


Kannabiberbicara dengan sangat normal saat berhadapan dengan Iwama. Aku sering melihat mereka mengobrol di kelas, dan mengingat mereka sampai pergi bersama di hari libur, mungkin hubungan mereka sudah cukup akrab.


Di hadapan Iwama si ketua kelas, Kannabi mengenakan aura yang menolak orang lain. Keduanya benar-benar bertolak belakang, tapi mungkin mereka punya hobi yang sama. Atau—mungkin saja Iwama hanya merasa perlu memperhatikan Kannabi, yang tampaknya sulit punya teman.


“Rio tinggal di daerah mana?”

“Aku di Ebiwakagawa. Kelihatannya dekat tapi sebenarnya jauh, aku juga jarang ke sini sampai SMP.”


Kota Ebiwakagawa adalah yang paling urban di wilayah ini. Stasiun Ebiwakagawa merupakan ujung timur jalur kereta yang melewati Tsunagai, dengan banyak pusat perbelanjaan besar berjajar di depannya. Jika warga Tsunagai ingin belanja besar, mereka biasanya menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit ke Ebiwakagawa.


Mengetahui bahwa Iwama bukan siswa dari luar prefektur, aku merasa lega dalam hati.


“Dari dulu aku berpikir, Ebiwakagawa itu nama tempat yang aneh, ya?”


Kannabi tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.


“Ini laut atau sungai, tua atau muda—aku ingin semuanya diperjelas.”

Tln: jadi, kanji di Ebiwakagawa itu "海老若川" yang mana "海/umi" itu artinya laut, "川/kawa" itu sungai, "老/oiru" itu tua dan "若/wakai" itu muda


Saat aku bertanya-tanya bagaimana reaksi Iwama ketika nama kota tempat tinggalnya disebut aneh,


“Iya, kan! Aku juga sudah lama kepikiran!”


Dia justru menyetujuinya sepenuh tenaga.


“Aku sempat mengecek sejarah kota di perpustakaan, dan asal-usul nama tempatnya tercantum di sana. Katanya, awalnya ada sungai bernama Wakagawa, tapi untuk membedakannya dari sungai Akagawa yang berada di dekatnya, namanya diubah. Di Wakagawa dulu banyak udang galah, dan itu jadi hasil khas daerah ini. Waktu diteliti langsung, ternyata sampai sekarang pun masih bisa ditangkap banyak, misalnya di celah-celah tetrapod di muara sungai......”

Tln: tetrapod, beton yang buat mecah gelombang atau ombak kalo di laut


Setelah berkata sejauh itu, Iwama tiba-tiba terdiam seolah menyadari sesuatu, lalu Kannabi menimpalinya.


“Menarik. Lain kali, bagaimana kalau kita pergi mencari udang itu?”


Iwama tersenyum dengan wajah gembira.


“Aku bantu! Kalau mau memancing, umpannya bisa pakai sosis ikan juga—”


Sejak saat itu hingga kami tiba di kedai udon, pembicaraan mereka pun ramai membahas cara menangkap udang galah.


Ngomong-ngomong, katanya udang yang ditangkap paling enak jika digoreng polos.


Beberapa saat berjalan ke arah utara dari stasiun, terdapat pusat pertokoan yang memanjang sejajar dengan garis pantai. Dibandingkan area depan stasiun, tempat ini terasa lebih ditujukan untuk wisatawan, dengan pengunjung yang cenderung lebih muda.


Kedai udon “Jinroku” yang berada di gang belakang itu memiliki nuansa restoran tersembunyi yang terkenal. Meski begitu, yang tersembunyi hanyalah kesannya saja, karena tempat ini sering dimuat di buku panduan dan hampir selalu ramai.


Meski semua meja sudah terisi, kami masih bisa duduk bertiga berdampingan di kursi bar.


Urutan duduk dari arah dalam toko adalah aku, Iwama, lalu Kannabi. Dari balik meja bar, terlihat seorang pria paruh baya yang tampaknya pemilik toko, dengan cekatan menyajikan hidangan. Di bagian belakang dapur, air mendidih terus mengepulkan uap.


“Ciri khas tempat ini adalah mi buatan tangan yang tebal dan kenyal. Kalau disajikan dingin, teksturnya paling terasa, dan menu andalannya adalah udon daging miso dingin.”


Mendengar penjelasanku, Iwama dan Kannabi mengangguk mengerti. Aku dan Iwama memesan udon daging miso dingin, sementara Kannabi memesan udon kari.


“Aroma rempahnya, sudah membimbingku ke pilihan itu.”


Ujar Kannabi, seolah sedang memberi pembelaan.


“Kalau ke kedai udon atau soba, kadang tiba-tiba tercium aroma kari, kan? Walau kelihatannya enak, kalau mulut sedang ingin makanan Jepang, biasanya jadi ragu untuk memesannya. Tapi karena kali ini Delta yang membawaku ke sini, aku tidak perlu tersiksa dilema itu. Jadi, terima kasih.”


Memang, aku juga pernah mencium aromanya dan berpikir udon kari pasti enak, tapi belum pernah benar-benar memesannya. Ceritanya terasa bisa dipahami sekaligus tidak, namun aku jadi mengerti bahwa teman sekelas misterius ini ternyata cukup logis dalam mempertimbangkan pilihannya. Dan dia lebih pandai bicara dari yang kukira. Aku juga merasa dia memanggilku “Delta” begitu saja, tapi yah, aku putuskan untuk tidak memikirkan hal kecil seperti itu.


“Syukurlah.”


Untuk sementara, aku membalasnya dengan jawaban aman.


Aroma kari semakin pekat. Di seberang meja konter, roux dituangkan ke dalam mangkuk. Ketika kaldu ditambahkan, uap hangat yang memadukan aroma Jepang dan rangsangan rempah mengalir keluar. Seperti yang dikatakan Kannabi, aromanya membuat orang tanpa sadar berpikir, ah, ingin memakannya. Namun jika mengingat rasa udon daging miso dingin, hal itu terasa sepele.


Mi hangat ditata ke dalam mangkuk udon kari, sementara mi yang dikencangkan dengan air ditata ke dalam mangkuk udon daging miso dingin. Sang pemilik dengan cekatan menambahkan daging babi dari wadah plastik. Mizuna, wortel cincang, dan wakame.


“Ini, maaf sudah menunggu!”


Tiga mangkuk udon selesai bersamaan, diletakkan di atas nampan, lalu disodorkan ke hadapan kami. Begitu menerimanya, berat yang mantap langsung terasa di lenganku.


“Wah, kelihatannya enak!”


Iwama mengeluarkan seruan kecil penuh kegembiraan.


Mi putih setebal jari tampak kasar khas buatan tangan, mencuat di beberapa bagian dari kuah miso wijen yang tidak terlalu penuh seperti akar pohon. Hijau pucat mizuna, jingga wortel, dan hijau tua wakame berpadu cerah menggugah selera.


“Selamat makan.”


Kami bertiga menyatukan tangan.


Aku pertama-tama menaburkan daun bawang dari piring terpisah ke atas udon, lalu melumuri daging babi dengan jahe. Tidak melarutkannya ke dalam kuah sejak awal, melainkan menyebarkan jahe sedikit demi sedikit seiring makan—itulah kuncinya.


Suapan pertama.


Di kedai ini, mi tidak bisa diseruput. Bukan soal etika, melainkan karena secara fisik mustahil. Mi super tebal ini bahkan membuat jari lelah hanya dengan mengangkatnya menggunakan sumpit. Saat masuk ke mulut, elastisitasnya selalu mengejutkan. Ini bukan mi yang diseruput, melainkan mi yang dikunyah perlahan.


Saat mi dikunyah penuh, kuah miso manis beraroma wijen merangsang selera baik melalui lidah maupun penciuman. Setiap rahang bergerak mengunyah, aroma gandum pun terus mengejar tanpa kalah.


“Mmm—!”


Dari intonasinya saja sudah jelas itu berarti “enak!”. Iwama memejamkan mata rapat-rapat, dan hanya dari ekspresinya saja maknanya sudah nyata. Setelah mengunyah mi perlahan, dia kembali membuka mulut.



“Enak ya! Rasa dan teksturnya, ini pertama kali aku merasakannya!”


“Jarang bisa makan yang seperti ini di tempat lain.”


Aku dan Iwama pun menuju suapan kedua. Sementara itu, Kannabi berusaha keras meniup-niup mi agar dingin.


Pada suapan kedua, daging babi dicampurkan. Daging perut babi yang direbus lalu didinginkan itu, lemaknya meleleh ringan di dalam mulut dan menyebarkan rasa manis. Aroma jahe menopangnya. Tak mungkin kuah miso tidak cocok dengan ini.


Jika diperhatikan, Kannabi masih meniup-niup mi dan belum mendapatkan suapan pertamanya.


“Ada apa?”


Mungkin menyadari tatapanku, mata hitam Kannabi melirik tajam ke arahku.


“Kamu tidak tahan panas?”


“Udon kari berbeda dari udon lain karena viskositas kuahnya tinggi, jadi sulit mendingin. Karena tidak mudah menguap, panas laten juga tidak mudah terlepas, dan karena konveksi sulit terjadi, perpindahan panas pun terhambat.”

Tln: panas laten itu panas yang dibutuhin buat mengubah wujud suatu zat tanpa ngubah suhunya, terus ada yang kebalikannya yaitu panas sensibel, panas yang dibutuhin untuk menaikkan suhu suatu zat tanpa mengubah wujudnya


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Penjelasannya yang terlalu teoritis justru membuatku sedikit terkesan.


“Begitu ya. Santai saja.”


Tanpa perlu aku katakan, Kannabi kembali meniup-niup mi.


Sementara itu, setelah menambah satu suapan lagi, perhatian Iwama tampaknya beralih ke pelengkap di atas nampan.


“Eh, ini jangan-jangan......”


Sambil berkata begitu, dia mengangkat piring kecil. Itu adalah ohitashi yang disajikan sebagai layanan tambahan.


Di nampan masing-masing dari kami bertiga terdapat hidangan yang sama. Daun hijau dan batang putih yang direbus tampak lembap dan ditata rapi, namun jika diperhatikan lebih saksama, di antaranya tercampur kelopak bunga biru keunguan. Sayuran liar, mungkin? Karena diperas, bentuk daunnya tidak jelas, sehingga sulit dikenali dengan cepat.


“Itu ohitashi katakuri.”


Sepertinya memperhatikan reaksi Iwama, sang pemilik menjelaskannya dengan senyum ramah.


Begitu mendengar kata katakuri, kenangan tentang kantong plastik yang tak terhindarkan langsung terlintas, dan aku berusaha keras mengibaskannya dari kepalaku. Sebaliknya, mata Iwama justru berbinar.


“Seperti yang kuduga! Karena ada bunganya, aku sempat berpikir mungkin saja itu. Jadi selain rimpangnya, bagian lain juga bisa dimakan ya.”


“Iya. Dari bunga sampai akar, semuanya bisa dimakan. Tapi kalau kebanyakan, bisa menyebabkan diare.”


Setelah dikatakan demikian oleh pemilik, aku dan Iwama mencoba mencicipi ohitashi itu. Teksturnya lembut dan sedikit kenyal, dengan aroma musim semi khas sayuran liar serta rasa manis samar yang terasa dari balik kaldu.


“Enak! Sama sekali tidak punya rasa aneh!”


Karena Iwama bereaksi dengan ekspresi yang begitu hidup sampai mewakili bagianku juga, aku cukup mengangguk saja.


Meski begitu, mengagumkan juga bahwa Iwama bisa langsung tahu itu katakuri meskipun bunganya sudah berubah warna.


“Kalau direbus, kelopaknya berubah warna ya. Dari merah muda jadi ungu.”


“Ya! Bahkan kalau dikeringkan dengan hati-hati pun jadi agak keunguan. Mungkin antosianin ya?”

Tln: Antosianin, pigmen flavonoid yang larut dalam air, salah satu senyawa alami yang memberikan warna merah, ungu, dan biru pada buah dan sayuran.


Kantong plastik itu kembali beterbangan di dalam benakku.


Namun dari cara bicara Iwama, sepertinya dia memang pernah mengeringkan bunga katakuri sungguhan. Kalau begitu, berarti katakuri itu mungkin—


Tidak, hentikan. Untuk apa menyelidiki hal seperti itu. Memikirkannya saja sia-sia.


Aku mengembalikan topik pembicaraan ke ohitashi.


“Kalau dijadikan hidangan cuka, mungkin warnanya kembali jadi merah muda. Karena jadi asam.”


“Iya juga! Ayo nanti kita coba.”


Sang pemilik memandangi percakapan kami dengan wajah senang.


“Kalau musim seperti sekarang, biasanya tumbuh di hutan campuran. Mungkin sebagian besar sudah mekar, tapi saat masih kuncup itulah yang paling enak dimakan. Supaya tahun depan bisa tumbuh lagi, sebaiknya akarnya dibiarkan sebanyak mungkin.”


Setelah memberi saran itu saja, dia membelakangi kami dan mulai meniriskan air dari udon yang baru direbus.


“Soalnya mereka menimbun nutrisi di bawah tanah, dan butuh delapan tahun sampai bunganya mekar. Rasa akarnya memang membuat penasaran, tapi memang sebaiknya jangan diambil berlebihan. Aku juga tidak mau sakit perut.”


Sepertinya keputusan untuk pergi memetiknya sudah bulat.


Kannabi, yang akhirnya selesai menyantap suapan pertamanya setelah mendinginkannya, mengalihkan pandangan ke arah Iwama.


“Rio, kamu tahu banyak ya.”


“Aku diajari Deru-chan.”


“Soal katakuri?”


Aku sempat melihat ekspresi Iwama menegang sesaat.


“I......Iya! Waktu itu kebetulan sedang ngobrol soal tepung katakuri di kelas, kan?”


“A......Ah. Yang itu ya, waktu sedang bahas soal Daira entah apa itu.”


Sebenarnya tidak ada yang mencurigakan, tapi mungkin agar fakta bahwa kami pernah pergi berdua ke tempat terkenal di bukit belakang—yang konon membawa keberuntungan cinta—tidak ketahuan, Iwama ikut berhati-hati. Aku pun menyesuaikan ceritanya.


Namun aku tidak yakin aktingku cukup meyakinkan. Tatapan tajam Kannabi tertuju padaku, dan meski tak melakukan kesalahan apa pun, punggungku terasa dingin.


“Hm, menarik.”


“......Apanya.”


Karena ucapan Kannabi sulit ditebak maksudnya, nada bicaraku tanpa sadar terdengar waspada.


“Melihat ohitashi lalu langsung terpikir soal antosianin itu jarang, kan.”


Benarkah?


“Ah, iya juga ya. Maaf, sudah bicara hal aneh waktu makan......”


“Kenapa kamu minta maaf, Rio? Itu pujian.”


Mengatakannya dengan wajah tenang, namun entah karena suapan keduanya terlalu panas, Kannabi langsung meneguk air dengan mata berkaca-kaca.




Sambil menikmati rasa puas dari mi tebal itu, kami pun terlebih dahulu menuju Kuil Tsunagai Hachimangū.


Kami berjalan menyusuri pusat perbelanjaan yang ramai. Di sepanjang trotoar lebar yang terpisah oleh jalan bus, berderet berbagai toko—dari kedai tahu tua hingga kafe bergaya modern. Orang asing yang sesekali terlihat mungkin para wisatawan. Bahkan bagiku yang tinggal di sini, berjalan saja sudah terasa menyenangkan. Cocok sekali untuk pencernaan setelah makan.


Setelah berjalan cukup jauh, deretan toko pun terputus, dan sebuah gerbang torii batu besar yang menghadap ke selatan muncul menjulang di hadapan kami.


Kuil Hachiman yang bersejarah ini memiliki area yang sangat luas, membentang dari dekat kawasan pertokoan hingga ke lereng gunung yang rimbun oleh pepohonan hijau. Luasnya saja sudah cukup untuk dijadikan rute jalan santai. Beragam jenis pohon ditanam di sini, mulai dari sakura, dan area kuil yang setengah menyerupai taman itu dipenuhi oleh banyak kuil cabang dan kuil kecil.


Begitu melewati gerbang torii, terbentang jalan pemujaan yang diapit pepohonan.


“Pohonnya besar sekali ya!”


Iwama berkata sambil menatap pohon cedar raksasa. Pohon itu menjulang jauh lebih tinggi dibandingkan cedar di sekitarnya, dan di sekeliling batangnya tergantung shide.


“Ini kuil yang didirikan pada zaman Kamakura, dan sejak dulu pepohonannya konon sangat dijaga.”


Aku berhenti dan menunjuk papan penjelasan yang dipasang di samping pohon cedar itu.


Monumen Alam yang Ditetapkan Kota

Usia pohon: sekitar 800 tahun

Keliling batang: 6,5 meter

Tinggi pohon: 28 meter


“Namanya aneh. Kalau ada Cedar Menteri Kanan, apa ada juga Cedar Menteri Kiri?”


Kannabi bergumam menunjukannya. Itu pertanyaan yang sama seperti yang pernah kupikirkan saat kecil.


“Ada. Di sisi seberang jalan pemujaan.”


Mendengar penjelasan itu, Iwama dan Kannabi mengangkat pandangan seolah mencari pohon besar lainnya. Penjelasanku tadi agak menyesatkan.


Cedar Menteri Kiri sudah tidak ada. Aku berjalan melintasi jalan pemujaan.


“Ke sini.”


Mereka berdua mengikuti dengan wajah heran, lalu berseru kecil saat menemukan Sang Menteri Kiri.


Cedar Menteri Kiri telah berubah menjadi tunggul yang menyedihkan.


"Katanya pohon itu tersambar petir sekitar waktu kita lahir. Karena dianggap berbahaya, pohon itu ditebang, dan yang tersisa di sini hanyalah tunggulnya."


“Begitu......mungkin karena dia Menteri Kiri, jadi malah kena ya.”


Iwama mengatakan sesuatu yang tak terduga, membuatku memiringkan kepala.


“Itu maksudnya semacam dendam arwah Sugawara no Michizane?”


“Bukan begitu. Bukannya Menteri Kiri itu pangkatnya lebih tinggi daripada Menteri Kanan? Kalau begitu, mungkin pohonnya juga lebih tinggi yang Menteri Kiri.”


“Oh, maksudnya begitu. Petir memang menyambar yang lebih tinggi.”


Jadi itu penjelasan yang ilmiah.


Jika Cedar Menteri Kiri lebih tinggi daripada Cedar Menteri Kanan, maka petir tentu akan lebih mudah menyambar yang Menteri Kiri.


Saat kuperiksa papan penjelasnya, memang tertulis tinggi pohonnya “30 meter”.


“Seperti yang dikatakan Iwama. Yang ini ternyata sekitar dua meter lebih tinggi.”


“Benar juga!”


 岩いわ間まは目を輝かせて立て札を読む.

Iwama wa me o kagayakase te tatesatsu o yomu.

Iwama membaca papan itu dengan mata berbinar.


“Katanya, usia Cemara Menteri Kanan di sana diperkirakan dengan mengacu pada peta bergambar era Muromachi, sambil menganalisis tunggul Cedar Menteri Kiri ini menggunakan metode lingkaran tahun dan penanggalan karbon! Ilmiah sekali!”


Bagian yang menarik perhatiannya justru sangat teknis dan maniak. Tapi dia terlihat senang, dan itu yang terpenting.


“Sepertinya memang sulit meneliti usia pohon secara akurat. Untuk mengambil lingkaran tahun atau sampel karbon, pohon tua yang berharga harus dilukai. Jadi mereka memperkirakan dari gambar era Muromachi bahwa usia kedua pohon hampir sama, lalu memakai usia pohon yang sudah ditebang ini—yang bisa diteliti sebebasnya—untuk Cedar Menteri Kanan.”


“Cerita yang ironis, ya.”


Kannabi berbisik begitu, membuatku menoleh, bertanya-tanya apa yang dia maksud dengan ironi.


“Yang lebih unggul justru disambar petir, lalu yang tidak dipakai digunakan sebagai pembenaran. Persis seperti masyarakat Jepang.”


Tolong jangan tiba-tiba melontarkan kritik sosial yang pedas.

Post a Comment for "Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 3.2"