Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 2.3

Bab 2 - Kolam Renang Musim Panas, Baju Renang, dan Gedung Olahraga




Alur ini benar-benar di luar dugaan.


Setelah masing-masing mampir ke rumah, menyiapkan barang yang diperlukan lalu berkumpul lagi pukul sepuluh pagi......aku, dalam pakaian renang, berdiri kaku di pinggir kolam taman tepi laut.


Beton yang menyerap sinar matahari yang terik jauh di atas kepala membakar telapak kakiku, sampai rasanya aku bisa memahami bagaimana perasaan bahan makanan yang dipanggang di atas pelat besi.


Area kolam taman tepi pantai yang dikelilingi pagar itu tampak kusam; fasilitasnya tak bisa dibilang bagus, karat dan penuaan terlihat jelas.


Lagipula, di sini hanya ada kolam standar dua puluh lima meter dan kolam anak kecil.


Ketika pemandangan saat aku datang ke sini sekali waktu SD muncul kembali, dan nostalgia serta rasa manis yang getir memenuhi kepalaku......


"Maaf! Aku butuh waktu lebih lama buat pakai sunblock!"


Aku menoleh ke arah suara segar itu.


Di kolam renang kota yang terlalu sederhana ini—turunlah seorang malaikat dalam baju renang.


Bikini yang membingkai kulit putih segarnya terlihat sehat namun memancarkan pesona dan kilau yang lembut, sebuah keseimbangan yang indah.


Meski sudah lama pensiun dari klub, garis tubuhnya masih seindah masa aktifnya.


Tinggi yang semampai, otot pinggul dan pahanya......terlalu menggoda bagi siswa SMA yang sehat jasmani rohani.


Orang ini, tumbuh terlalu baik.


Sosok Haru-senpai yang penuh perkembangan, terutama lengkungan dadanya, jauh melampaui bayangan dirinya dalam baju renang sekolah yang kulihat saat SD.


"Natsume-kun."


"Ya?"


Senpai yang mendekat begitu saja itu tiba-tiba menyorongkan wajahnya ke arahku.


Aroma wanginya menyentuh hidungku, dan detak jantungku yang tersulut berdentam ribut.


"Mesum."


Bisikannya itu membuatku mengembuskan napas panas yang tak tertahan.


"Tolong berhenti melihat tubuh senpai seperti mau menjilatnya."


"Itu fitnah. Aku tidak melihat apa-apa."


"Tatapan mesumnya anak laki-laki itu mudah banget dibaca perempuan, tahu? Ingat baik-baik."


Haru-senpai menatapku tajam dengan pandangan lembap yang penuh tekanan.


Pikiran jorok khas remaja lelaki terbongkar habis......jujur saja, ini sangat memalukan.


"Hehe......waktu pertama kali aku bawa kamu ke sini, kita juga membicarakan hal yang mirip, kan?"


Haru-senpai menampilkan senyum geli seolah teringat sesuatu.


"......Kalau dipikir-pikir, rasanya memang begitu. Sejak SD pun aku sepertinya tidak berkembang ya."


"Hmm, jadi dari dulu Natsume-kun suka banget sama gadis pakai baju renang ya. Padahal Haru Onee-san ini tidak merasa membesarkan junior seperti itu......sedih deh, sungguh."


"Bukan, bukannya siapa saja oke! Aku cuma bersemangat karena itu Haru-senpai yang pakai baju renang!"


"Hei! Apa yang kamu bilang sih! Dilihat dengan tatapan begitu membuatku bingung, maksudnya......Aah, dasar junior mesum!"


"Soalnya penampilan Haru-senpai pakai baju renang itu memikat. Lagi pula, salah sendiri sekarang jauh lebih berkembang dibanding masa pakai seragam renang sekolah!"


"B-Bukannya aku tumbuh karena mau! Dan cara bilang 'masa seragam renang sekolah' itu kedengarannya terlalu vulgar!"


"Tolong jangan salah paham, bukannya aku tidak suka masa seragam renang itu!? Aku juga ingin lihat Haru-senpai pakai seragam renang sekolah!"


"Tidak ada yang salah paham! Dan lagi, sudah jadi mahasiswa mana mungkin aku pakai seragam renang sekolah!"


Pertukaran tak ada gunanya antara junior yang terus ngotot berapi-api dan senior yang memerah malu.


Anak-anak kecil yang bermain di kolam anak menunjuk kami sambil bilang, "pasangan suami-istri yang akur~", membuat kami sadar diri dan buru-buru memasang topeng tenang.


"Kouhai-kun, aku bukan datang ke sini untuk memamerkan baju renang baruku, tahu?"


"Bukan baju renangnya, tapi penampilan pakai baju renang yang mau dipamerkan, kan?"


"Bukan. Dan tolong batasi kelakuan mesumunya, ya?"


"Baik."


"Kita datang untuk berenang, mengerti?"


"Ya, kita datang untuk berenang."


"Baguslah kalau sudah mengerti. Sekarang pemanasan sebelum berenang~ mulai!"


Kami mulai melakukan gerakan mirip senam radio tanpa musik.


Maafkan lelaki rendah ini yang tanpa sadar mencuri-curi pandang pada Haru-senpai yang tekun meregangkan dan menekuk tubuhnya.


Karena orang yang kusukai sedang memperlihatkan sebagian besar kulit indahnya, sebagai laki-laki aku jadi sangat terlalu sadar.


"Hentai-kun."


"Ah......tolong panggil saja Kouhai-kun..."


Karena dimarahi dengan tatapan dingin, aku pun menghentikan pandangan nakalku.


"Namun tetap saja, kenapa tiba-tiba......"



"Maksudnya kenapa aku mengajakmu ke sini?"


Sepertinya dia bisa membaca pertanyaanku, dan sambil berjongkok-berdiri, dia menyambung perkataannya.


"Kolam ini katanya akan ditutup setelah musim panas tahun ini. Makanya aku ingin main ke sini untuk terakhir kalinya."


"Begitu ya......"


"Begitulah. Aku senang bisa datang sekali lagi bersamamu."


Aku memang jarang punya kesempatan datang ke kolam renang, tapi membayangkan kenangan bermain dengan senpai ini hilang membuatku merasa sedikit sedih.


Mungkin perasaan senpai saat di Pantai Egawa waktu itu juga mirip seperti sekarang.


Setelah selesai pemanasan, senpai perlahan menurunkan badannya, merentangkan kaki kanan yang indah ke permukaan air, menyatukan badan bagian bawah dengan air kolam.


Aku menirunya sebisaku. Dengan kaki yang sedikit gemetar karena rasa takut, aku memaksakan satu langkah dan turun dari pinggir kolam ke air.


Aku menurunkan tubuh bagian bawah ke air perlahan, sampai tak ada cipratan.


"Oke, ayo adu kemampuan antara senior dan junior."


Haru-senpai tampak penuh semangat untuk berenang, tapi ekspresiku pasti tampak muram.


"Haru-senpai."


"Hmm?"


"Aku, tidak bisa berenang."


"Oh iya, benar juga! Kamu waktu SD juga bilang hal yang sama."


Haru-senpai tersenyum kecut seolah baru mengingatnya.


"Kelas renangmu dulu hampir selalu hanya ikut menonton, kan?"


"Waktu SD itu karena kebijakan keluarga......karena aku tidak latihan renang sejak kecil, sampai sekarang aku lemah dalam renang. Bukan hanya renangnya, air itu sendiri masih agak menakutkan untukku."


Aku bukan punya trauma soal renang, tapi karena dulu merasa renang tak dibutuhkan dalam hidupku, dunia itu terasa seperti wilayah asing bagiku.


"Kalau begitu, ayo kita buat kamu bisa berenang."


"Hah?"


"Mumpung ada kesempatan, biar aku yang mengajarimu, ya?"


"Eh......?"


Dibilang ‘ya?’ dengan senyum seperti itu......


Haru-senpai mengembangkan senyum bak bunda suci dan mengulurkan kedua tangan, membuat hatiku goyah. Kalau masih SD beda cerita, tapi aku ini sudah kelas tiga SMA. Masa aku harus diajari secara detail oleh mahasiswi yang hanya satu tahun lebih tua dariku......tidak boleh! Harga diriku sebagai lelaki delapan belas tahun! Pride-ku!


"Apa aku terlalu memperlakukanmu seperti anak-anak? Latihan dasar saja mungkin bisa kamu lakukan sendiri ya."


"Hah!? Um! Itu......aku......!"


Saat Haru-senpai menurunkan kedua tangannya, rasa kesalku mengembang.


Keinginanku untuk terlihat dewasa ditimpa oleh suara hatiku sendiri, dan akhirnya tak bisa kutahan lagi.


"......Aku benar-benar pemula total, jadi aku tidak bisa melakukannya sendiri."


"Kalau begitu, mau latihan bareng Haru Onee-san yang rajin mengurus ini?"


"Kalau senpai sampai bilang begitu terpaksa deh~ kalau memang senpai ingin mengajarkanku~"


"Aku batal mengajari."


"Bohong, bohong. Tolong bantu aku, Haru-senpai, kumohon."


"Bagus kalau jujur. Itu baru Kouhai-kun yang manis."


Haru-senpai kembali mengulurkan kedua tangannya, terlihat begitu menyilaukan mataku.


Meskipun malu, aku menundukkan pandangan......lalu menjabat tangannya dengan canggung.


"Sekarang sudah tidak takut?"


"......Aku sudah tidak takut lagi."


"Syukurlah!"


Aku benar-benar sederhana seperti orang bodoh.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Selama Haru-senpai ada di dekatku, rasa takutku pada air bisa kulupakan sejenak.


Kulitnya yang basah dan hangat tersampaikan ke tanganku, dan kelembutannya terasa nyaman.


Bahkan hanya bisa menyentuh tangan Haru-senpai secara legal saja rasanya sudah seperti hadiah tingkat tertinggi bagiku.


"Pegangan yang kuat pada tanganku, ya. Lalu......tendang airnya!"


Aku mengangkat badan bagian bawah, sejajar dengan permukaan air, lalu menggerakkan kaki bergantian ke atas dan ke bawah, memukul permukaan air dengan keras.


Seorang siswa SMA yang bolos sekolah sedang latihan tendangan air di kolam renang umum......situasi macam apa ini?


Diperlakukan seperti anak SD, aku merasa kembali ke masa kecil, diajari tendangan air oleh kakak yang kuidolakan......


Kalau teman sekelas atau Touri sampai tahu,  ini bukan level memalukan lagi.


Meski terasa penuh rasa bersalah......aku tidak bisa menolak! Aku tak bisa melawan ketenangan yang luar biasa ini!


“Aku tidak akan melepaskan tanganmu, jadi tidak perlu takut. Pelan-pelan saja, pelan-pelan tidak apa-apa kok.”


“Seperti ini......ya?”


“Iya, iya, bagus bagus! Kamu hebat ya, Natsume-kun!”


Haru-senpai berbicara padaku seperti sedang menenangkan anak kecil.


Setiap kali telingaku menangkap suara penyembuh yang seolah hanya untukku itu, dadaku berdebar, dan aku hampir saja memperlihatkan ekspresi bodoh yang memalukan.


“Natsume-kun, kamu benar-benar mendengarkan sarannya tidak?”


“Dengar kok.”


“Benarkah? Dari tadi wajahmu aneh, tahu?”


“Ini wajah orang yang sedang mati-matian berenang.”


Daripada sebagai saran, aku mendengarkannya sebagai suara penenang.


Tanganku ditarik dengan lembut, dan dengan gerakan kaki yang canggung aku maju sedikit demi sedikit, tapi karena tepat di depan mataku ada dada Haru-senpai, rasa gugupku tidak bisa berhenti.


Aku merasa bisa mati karena serangan jantung akibat terlalu bahagia. Bukankah mati karena bahagia itu justru yang paling hebat?


Anak-anak di pinggir kolam menertawakanku, berkata, “Kakak itu, sudah dewasa tapi seperti anak kecil, tidak keren,” tapi aku akan menikmati momen bak mimpi ini sampai puas.


Ini lebih seperti kakak perempuan dan adik laki-laki daripada pasangan kekasih.


Bagi Haru-senpai mungkin tak ada bedanya dengan mengurus adik sendiri, tapi bagiku yang terus sadar akan keberadaannya, rasa meluap itu memenuhi kepalaku.


Penampilan, suara, tingkahnya......semuanya menggelitik kepekaan remaja dengan kejam, membuat detak jantungku terus meninggi dan sama sekali tak mau tenang, hingga suhu air kolam saja tak mampu mendinginkan panas di tubuhku.


“Dari tadi wajahmu merah, tahu? Jangan-jangan kamu malu?”


“......Aku sudah kelas tiga SMA, jadi situasi ini benar-benar memalukan.”


“Waktu pertama kali bertemu kamu seperti adik kecil, tapi tahu-tahu sudah jadi orang dewasa sok gaya yang peduli penampilan. Untuk sekarang saja, tidak apa-apa kok kalau kamu pura-pura kembali jadi anak SD?”


“Maksudnya kita jadi hubungan onee-shota......!?”


“Bukan itu maksudnya. Sepertinya kamu berpikir aneh-aneh, jadi ucapanku barusan aku tarik kembali ya.”


“Padahal Haru-senpai yang membuatku berharap.”


“Aku tidak membuatmu berharap. Kamu sendiri yang salah karena salah paham mesum.”


Sambil diselingi lelucon receh antara kami, tangaku ditarik dan berenang santai di kolam......andai saja waktu penuh kebahagiaan yang terasa meleleh ini bisa berlangsung selamanya.


“Benar-benar deh......junior yang selalu butuh diurus ya.”


Aku ingin terus diurus seperti ini, sambil diberi senyum masam, berapa pun usiaku nanti.


Hanya dengan terus bergandengan tangan, dan Haru-senpai ada di hadapanku seperti ini—


Bagiku, ini memperbarui musim panas masa lalu secara besar-besaran, dan menjadikan tahun ini musim panas terbaik.


Setelah berlatih satu lawan satu selama sekitar satu setengah jam, ketika waktu tengah hari mulai mendekat,


“Baiklah, Natsume-kun, tunjukkan hasil latihan hari ini.”


Haru-senpai yang berdiri sekitar lima meter jauhnya mengangkat tangan kanannya, memancarkan aura “berenanglah sampai ke sini”. Bukan dua puluh lima meter, bukan juga sepuluh meter......hanya lima meter saja.


Ini bukti bahwa Haru-senpai memanjakanku, dan karena hanya kami berdua, aku bisa bergantung padanya tanpa sungkan.


“Kalau aku bisa berenang sampai ke tempat Haru-senpai, tolong beri aku hadiah.”


“Hah? Kamu tidak mikir yang aneh-aneh, kan?”


“Aku sangat serius. Aku ini tipe orang yang bisa berusaha keras kalau ada hadiah.”


“Hmm, mungkin ada benarnya juga.”


Ah, baik sekali. Sepertinya dia benar-benar memikirkan hadiahnya dengan serius.


“Baiklah. Kalau itu bisa membuatmu berusaha.”


“Haru-senpai benar-benar orang yang terlalu baik, ya.”


“Aku tidak baik pada semua orang, tahu? Ini karena permintaan Kouhai-kun yang imut.”


Dia adalah tipe orang yang selalu, tanpa gagal, membuat perasaanku berdebar.


“Kalau begitu......aku mulai!”


Aku menempelkan wajah ke air, mengayunkan kedua tangan, lalu menendang dasar kolam. Sambil mengibaskan kedua kaki dengan sekuat tenaga, aku berusaha berenang dan maju ke depan.


Pandangan buram tanpa kacamata renang, dan suara air berisik akibat kedua kakiku mengaduk permukaan air.


Bahkan dalam kondisi penglihatan dan pendengaran hampir terhalang, aku tetap bisa tahu.


Dibandingkan saat mulai, posisiku hampir tidak berubah. Penyebabnya sederhana, aku mengerahkan tenaga secara sia-sia, membuat bentuk renangku jadi berantakan.


Walaupun sadar aku hanya maju sekitar satu meter, demi mendapatkan hadiah aku terus menggerakkan kakiku naik turun dengan sekuat tenaga.


......


......Hah? Kedua tangan yang kuulurkan ke arah depan tiba-tiba dibungkus sesuatu, dan aku merasakan kehangatan.


Seseorang ada tepat di depanku.


“Natsume-kun, kerja bagus.”


Aku berhenti berenang dan refleks mengangkat wajah, lalu mendapati Haru-senpai di titik akhir menyambutku.


“Aku......rasanya tidak maju sampai lima meter.”


“Tapi kamu benar-benar berenang sampai ke tempatku, kan?”


“Ya, memang benar.”


Rasanya tidak masuk akal, atau lebih tepatnya terasa aneh.


Meski pandanganku buram, aku masih bisa tahu apakah aku maju atau tidak.


Aku hampir tidak berenang sama sekali......berarti Senpai-lah yang mendekat ke arahku.


“Kalau terlalu memanjakan juniormu......nanti ia jadi manusia yang lebih payah, lho.”


“Mungkin hobiku memang memanjakan Natsume-kun.”


“Aku senang sih......tapi selera hobinya buruk.”


“Eh? Biarkan aku tetap jadi kakak perempuan yang baik selamanya dong.”


Dia mengajarkanku perasaan yang lebih manis daripada permen mana pun.


Karena dia memanjakanku, aku jadi semakin tidak berguna.


Perasaan itu sungguh nyaman. Aku ingin terus tenggelam di dalamnya selamanya.


“Kamu sudah berusaha dengan baik. Memang pantas jadi junior kebanggaanku.”


Lalu, seakan memberi pukulan penutup, dia mengelus kepalaku.


Aku yang lemah terhadap serangan mendadak langsung merasa pipiku panas, dan arah tatapan mataku tak bisa fokus.


Ini benar-benar “pembunuh junior”. Senpai yang seperti ini pasti membuat siapa pun jatuh cinta.


“Nanti pas pulang aku traktir es krim di toserba ya. Itu hadiahnya!”


“Tidak......itu saja masih kurang.”


“Wh? Natsume-kun maunya apa?”


“Satu kali lagi......tolong elus kepalaku.”


Karena aku orangnya serakah, aku ingin merasakan kenikmatan tadi sekali lagi.


Haru-senpai sempat terlihat bengong, tapi kemudian meletakkan tangannya di puncak kepalaku.


“Junior lucuku, kamu sudah berusaha dengan sangat baik.”


Setiap kali kepalaku diusap, kenikmatan itu berubah jadi rasa kesemutan yang menjalar ke seluruh tubuh.


Kamu berada pada jarak yang bisa kuraih dengan mudah jika aku mengulurkan tangan.


Di mata yang lembut itu, bayanganku terpantul.


Aku jatuh cinta sekali lagi pada sosok bernama Hirose Haru, dan tanpa sadar mencampurkan perasaan cintaku yang membara ke dalam helaan napas.




Di toserba yang kami singgahi setelah dari kolam, aku ditraktir Pino, dan kami masing-masing makan tiga buah.


Karena Haru-senpai bertanya, “Seperti dulu, mau aku suapi?” aku sempat membuka mulut ke arah es krim yang ditusuk dengan stik olehnya......tapi ya, aku juga sudah bukan anak SD lagi.


Dengan susah payah menjaga kewarasan! Dengan perasaan berat yang memilukan! Aku menolak disuapi!


Karena aku hanya menatap wajah Haru-senpai yang memakan Pino dengan dingin, rasa es krimnya sendiri jadi tak penting sama sekali.

    ******

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 2.3"