Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 2.1
Bab 2 - Kolam Renang Musim Panas, Baju Renang, dan Gedung Olahraga
“Kau jangan menjadi ‘yang palsu’.” Itu adalah kalimat yang sering dikatakan ayahku.
Ketika aku masuk SD, suasana keluarga sudah benar-benar membeku, orang tuaku bahkan tidak saling bertukar pandang, apalagi berbicara.
Ibu bersikap bebas dan menghargai kemauan anak. Ayah ingin mendidik anak sesuai idealnya sendiri.
Mereka berdua begitu bertolak belakang hingga terasa aneh bahwa mereka bisa menikah, tapi mungkin setelah kami lahir, roda hubungan mereka perlahan berhenti selaras.
Yang membuat hubungan orang tuaku yang sudah goyah itu retak semakin dalam adalah ketika kakakku, lima tahun lebih tua dariku, meminta untuk bermain basket di SMP daerah.
Sejak lama kakakku mengabaikan pelajaran, pergi bermain dengan teman, dan terus bersitegang dengan ayah.
Pertengkaran orang tua soal pola pendidikan tidak pernah berhenti, dan kakak yang benci campur tangan berlebihan semakin melawan ayah.
“Aku bukan boneka ayah. Hal yang ingin kulakukan akan kutentukan sendiri.”
Kakak dan ayah memasuki keadaan perang dingin, dan hubungan orang tua–anak secara praktis hilang.
Akibat itu, harapan ayah yang terdistorsi terhadapku semakin meningkat, aku dilarang keluar selain untuk sekolah, dan hanya berbicara dengan ibu atau kakak saja membuatku dimarahi.
“Karena mereka bukan keluarga lagi, jangan berurusan dengan mereka,” katanya.
Ibu dan kakak tetap mencoba berbicara padaku, tapi karena takut pada ayah, aku sering memilih bungkam dan mengurung diri di kamar, terpaksa menenggelamkan diri dalam belajar.
Karena dengan begitu, rasanya suara pertengkaran keluarga di ruang keluarga terdengar lebih jauh.
Suatu hari, ibu dan kakak tidak pernah kembali ke rumah.
Sebelum mereka berpisah rumah, ibu menggenggam tanganku sambil meneteskan beberapa butir air mata.
“Natsume, maaf......Aku tidak bisa bersikap seperti seorang ibu......benar-benar maaf......”
Dia meminta maaf berulang kali lalu menutup pintu.
Aku tidak diajak pergi bersama mereka. Ayah terus mengatakan bahwa yang menghancurkan keluarga dan memisahkan aku dari ibu adalah kakak yang egois......dan meski masih kecil, hatiku dipenuhi kemarahan.
“Seitarou bukan anakku lagi. Hanya kau, Natsume, yang asli.”
Sejak hari ayah mengatakan itu, akulah yang menjadi ‘asli’, sementara kakakku menjadi ‘palsu’.
Lima tahun setelahnya......hidupku selalu sendiri.
Lingkungan yang sepenuhnya menyingkirkan hiburan. Meski musim panas yang memanggang kulit jadi kecoklatan, seorang anak kelas enam SD yang introvert sepertiku duduk di meja dalam kamar ber-AC.
Aku percaya itu adalah hal yang wajar. Aku berusaha keras meyakinkan diri bahwa bukan hanya keluargaku, tapi keluarga lain pun hidup dalam kondisi seperti ini.
Teman sekelas membuat janji untuk bermain, tapi mereka tidak pernah mengajakku, aku tahu itu.
“Tidak perlu berteman. Kalau punya waktu luang, gunakan untuk belajar.”
Jika aku mencoba berinteraksi dengan seseorang, ayah mendatangi rumah mereka dan menyampaikan teguran keras kepada orang tua mereka.
“Mulai sekarang, jangan biarkan putra Anda berhubungan dengan anak saya,” begitu katanya.
Aku dipaksa absen dari kemping sekolah, dan pamflet yang dibuat teman sekelas pun dibuang.
Bagi teman-teman sekelas, aku hanyalah sumber masalah, dan saat mereka membentuk kelompok, aku selalu berada di posisi sedikit terpisah.
Padahal Shirahama Natsume seharusnya ‘yang asli’, tapi untuk apa aku ada di dunia ini?
Pernah suatu kali saat ayah tidak ada di rumah, aku mengumpulkan uang receh dan kabur keluar rumah.
Melihat anak-anak seumurku membeli es krim membuatku iri, mungkin itulah yang membuatku tergoda.
Saat berkeliaran di Kisarazu waktu senja, gerimis awal musim panas membasahi kulit dan meredakan panas tubuhku.
Anak kelas enam SD sepertiku sama sekali tak membayangkannya.
Bahwa aku akan bertemu seseorang......yang kelak akan kusukai.
Aku berteduh di minimarket dekat stasiun. Bingung memilih antara jus atau es krim, setelah lama berkeliaran, akhirnya aku mengambil Pino, es krim yang pernah kumakan bersama ibu, dan membawanya ke kasir.
Saat hendak membayar......aku sadar di tengah menghitung recehku.
Receh yang kukumpulkan tidak cukup, sebuah es krim pun tidak bisa kubeli.
Es krim yang sudah lebih dari lima tahun tidak kumakan......aku begitu kecewa hingga rasanya kalau mengedip sedikit saja aku akan menangis. Saat aku mengembalikan es itu ke dalam freezer, seseorang yang tak kukenal berdiri di sampingku.
Seorang perempuan dengan seragam SMP.
Penampilannya dewasa, rambut hitam panjangnya bergoyang berkilau. Dia lebih tinggi dariku, kulitnya kecoklatan karena matahari, sehat, dan aroma deodoran yang segar menggelitik hidungku.
Gadis SMP yang tampak dewasa itu mengambil Pino yang tadi kukembalikan, lalu mengambil sekaleng minuman dari rak, dan langsung menuju kasir.
Aku yang hanyalah orang asing baginya tidak memikirkannya. Saat pintu otomatis minimarket terbuka dan aku melangkah hendak kembali menyatu dengan malam—pada detik itu──
“Hei, kamu, anak muda di sana.”
Aku dipanggil tiba-tiba.
Yang berdiri di belakangku adalah gadis SMP tadi.
“Nih, ini kiriman kecil dariku!”
Dia mengulurkan kantong plastik minimarket di tangan kanannya, tersenyum ceria padaku.
"Aku......tidak membawa banya uang. Jadi......um......"
"Uang tidak perlu. Ini traktiran kakak♪"
"U-Uhm......baik......"
Karena kemampuan komunikasiku sangat buruk, aku bingung dan tak bisa meneruskan percakapan dengan lancar.
Aku bahkan tak bisa menatap langsung, dan suara yang berhasil kuperas pun terdengar tidak jelas.
Siswi SMP itu mengambil kaleng minumannya dari kantong plastik, lalu menggenggamkan pegangan kantong—yang masih berisi satu minuman dan es krim Pino—ke jariku dengan lembut.
"T-Te......makas......"
Walau aku menggumamkan kata terima kasih, suara hujan yang bising menelannya.
Aspal basah memantulkan cahaya mobil dengan kilau aneh, dan lampu jalan yang mulai menyala menerangi bayang-bayang hujan secara samar.
"Waa, hujannya makin deras......"
Sambil mengeluh, siswi SMP itu menarik payung plastik dari rak payung di minimarket dan membukanya.
"Kamu bawa payung?"
Aku menggeleng kecil.
"Kalau begitu, biar kakak antar kamu sampai rumah."
"T-Tidak......! Aku......tidak apa-apa......!"
"Hah? Hujannya parah loh? Tidak perlu sungkan."
Siswi SMP itu mengangkat payung ke arah langit malam. Hujan yang tadinya menghantam tanah kini terhalang plastik bening dan berubah menjadi bunyi yang seperti berloncatan.
Sisi kanan siswi SMP yang memegang payung itu sengaja dikosongkan.
Dengan sedikit sungkan aku berdiri di sisi kanannya, dan kami berdua melangkah bersama di bawah satu payung.
Saat benar-benar berdiri berdampingan, perbedaan tinggi kami cukup mencolok.
Di SD pun anak perempuan biasanya lebih tinggi, jadi aku memang masih dalam masa tumbuh.
"E-Ehm......"
"Hm? Ada apa?"
Aku mencoba bicara sambil berjalan, tapi hanya bertemu pandang dengannya saja membuatku gugup.
"K-Kenapa......um......membelikanku......es krim dan minuman itu......?"
"Kalau ada anak SD di depan mata yang tidak bisa beli camilan, rasanya pengin sok jadi senior dan traktir. Kadang aku dibilangi suka terlalu ikut campur sih."
"Nanti aku tidak akan......diminta bayar mahal atau......diajak masuk agama aneh......kan?"
"Aku keliatan mencurigakan? Aku ini cuma siswi kelas satu SMP, tahu?"
"Eh......kelas satu......SMP?"
"Ya, benar."
Dia mengiyakan dengan mudah. Aku terkejut mengetahui usianya hanya berbeda setahun dariku.
"Kenapa reaksimu seperti ragu begitu? Aku kelihatan setua itu......?"
"T-Tidak......! Maksudku......kamu terlihat dewasa, jadi kupikir kelas tiga SMP......"
"Dewasa? Ehehe, serius? Anak SD zaman sekarang pintar memuji ya~"
Sepertinya dia senang dipuji, senyum manisnya sampai terasa menyilaukan.
"Lalu kamu kelas berapa di SD?"
"Kelas enam......"
"Eh, cuma beda setahun sama aku!? Kupikir kamu kelas tiga SD, makanya aku sok jadi kakak......aduh memalukan."
Pipi merahnya juga memberi pesona berbeda padanya.
"Makan saja, tidak perlu sungkan. Atau mau kakak suapi?"
"A-Aku bisa makan sendiri......"
"Anak SD tidak perlu sungkan begitu. Nih, nih~"
Menjepit gagang payung dengan lengannya hingga kedua tangan bebas, siswi SMP itu menusukkan sepotong Pino ke tusuk kecilnya, lalu menyodorkannya padaku—dengan berkata "aaan".
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Terbawa suasana “ditraktir kakak”, pilihan untuk menolak lenyap, aku meregangkan badan......menggigit es krim itu sambil memejamkan mata.
Esnya meleleh. Manis cokelat yang memenuhi mulut dan aroma vanila membuat syarafku luluh, dan rasa bahagia karena disuapi kakak SMP itu perlahan menghanyutkanku.
"Bagaimana rasanya es krim yang disuapin kakak SMP yang baru kamu temui?"
"......Sangat enak."
"Kan♪"
Dengan senyum bangga, siswi SMP itu menusukkan lagi sepotong Pino dan kali ini memasukkannya ke mulutnya sendiri.
"Haaa......Pino setelah selesai latihan klub memang yang terbaik."
Bibirnya terlepas dari tusuk itu, dan siswi SMP itu mengembuskan napas dengan puas.
Aku belum pernah bermain dengan siapa pun, tidak pernah ikut kegiatan klub, bahkan tidak pernah berlarian di halaman saat istirahat. Buku pelajaran adalah satu-satunya temanku......jadi aku benar-benar iri.
Kehidupan sehari-hari yang begitu penuh miliknya terbayang jelas, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, rasa “iri” itu tumbuh.
"......Kamu terlihat sangat bahagia......aku iri."
Begitu meluapkan perasaan tertekan itu, hatiku terasa semakin tenggelam.
"Kamu......tidak bahagia?"
"......Aku tidak tahu apa itu ‘bahagia’. Kalau hidup normal itu menyenangkan, maka aku bukan orang normal......"
Sial. Mengeluh pada orang ini pun sebenarnya tidak ada gunanya.
Siswi SMP itu terdiam untuk beberapa saat, dan suara hujan yang terus turun terasa makin keras.
"Kalau begitu, ayo buat kenangan musim panas yang menyenangkan denganku."
"Kenangan musim panas…?"
"Hmm, ya. Akan kubawa kamu ke laut yang bisa untuk berenang."
Yang memecah keheningan itu adalah tawaran yang sama sekali tak terduga.
"Selama liburan musim panas nanti, akan kubawa kamu. Aku memang ada latihan klub, tapi cukup banyak hari libur kok."
"A-Aku......harus belajar......jadi tidak bisa......"
"Kenapa tidak bolos diam-diam saja? Kalau perlu, aku bisa bantu kamu belajar."
"Hah......h-hah......?"
Tatapan matanya tidak bisa disebut sekadar bercanda. Meski aku bingung, dadaku diam-diam berdebar dan tubuhku terasa semakin hangat.
"Untuk anak muda polos sepertimu......mulai sekarang aku bisa mengajar banyak hal, tahu?"
Bisikan yang bercampur suara hujan itu menggelitik telingaku, memaksaku mendongak.
"......bercanda. Datang lagi setelah kamu sedikit lebih dewasa."
Aku digoda dengan nakal, dan sedikit merasa kesal.
"K-Kita cuma beda setahun kan......!"
"Pertama-tama, kamu harus melewati tinggi badanku dulu, baru bisa kuakui sebagai orang dewasa."
"......Aku pasti akan melampaui tinggimu."
"Ya ya. Banyak minum susu dan berjuanglah, anak muda."
Sikunya menyenggol pundakku dengan ringan.
Diperlakukan seperti anak kecil membuatku terbawa emosi, tapi rasa frustrasi aneh yang berbeda dari marah......kurasa hari ini pertama kalinya aku merasakannya.
"Masih ada waktu? Kalau kamu mau, mau coba naik......sedikit saja, tangga menuju dewasa?"
Dug. Ajakan yang menggoda itu membuat jantungku melonjak. Aku tak bisa melawan.
"Soalnya ada rumor tempat ini akan tutup, jadi aku ingin puas-puasin main sebelum itu."
Tempat yang kusempatkan mampir bersama kakak cantik yang baru kukenal itu adalah fasilitas hiburan serba-ada di blok 2 Fujimi.
"Tempat seperti ini......dilarang ayah......"
"Belajar dan aturan rumah itu penting, tapi anak-anak itu harusnya bermain! Hari ini saja tidak apa-apa, ayo bareng aku jadi anak nakal sebentar?"
Tak mungkin aku menolak ajakan penuh pesona seperti itu.
Di gedung yang katanya akan tutup itu, aku merasakan bowling pertama, biliar pertama, arcade pertama, pingpong pertama.
Berbagai pengalaman “pertama” dalam hidup diajarkan oleh siswi SMP itu padaku, dan untuk pertama kalinya aku merasa “senang” dari lubuk hati—kami tertawa dan bermain seperti anak-anak.
Saat bermain pun dia terus memberiku berbagai topik cerita.
Cerita tentang kehidupan SMP, klub, tren terbaru, hingga cinta—semuanya menarik dan terasa begitu segar bagi diriku yang seperti burung dalam sangkar, terputus dari dunia luar. Rasanya aku bisa mendengarnya berjam-jam.
Di gedung hiburan itu, benih cinta pertamaku ditanamkan.
"Rumahku......di sini......"
Waktu bahagia berlalu sekejap saja.
Begitu tiba di rumah tempat aku selalu dikurung, perasaanku hanyalah kecewa.
Aku bahkan terpikir nakal, seandainya aku memperlambat langkah atau memutar jalan, pasti bisa mengobrol lebih lama.
Apa yang bagi dirinya adalah keseharian, bagiku adalah dunia lain.
Petualangan singkat seorang bocah yang menyasar ke dunia lain, akan segera berakhir.
"Sampai jumpa ya, anak muda."
Gadis SMP itu melambaikan tangan kecil sambil memegang payung, dan semakin jauh dia melangkah, bayangnya lenyap ke dalam hujan malam.
Membayangkan mungkin tak akan pernah bertemu lagi membuat rasa kehilangan memenuhi dadaku hingga hampir menjadi air mata.
"Umm......tunggu sebentar!"
Dengan suara paling keras sepanjang hidupku, aku memanggilnya yang sudah agak jauh.
Suaraku yang masih nyaring dan belum pecah itu sampai padanya, dan dia menoleh.
"Bisakah......beri tahu namamu?"
Aku, dengan tulus menginginkannya.
Nama orang yang sok jadi kakak dan suka ikut campur itu.
"Haru. Namaku Hirose Haruru."
"Hirose......san."
"Hmm, kok kaku ya. Di SMP aku belum punya adik kelas dan rasanya sepi, jadi kamu boleh panggil aku 'Haru-senpai', lho?"
Aku agak sungkan memanggil nama depannya begitu saja, tapi kucoba.
"Haru......senpai."
"Ya, bagus! Akhirnya aku punya adik kelas yang lucu juga!"
Kegembiraannya jelas terdengar di suaranya, jadi kuputuskan memanggilnya “Haru-senpai”.
"Namamu siapa?"
"Natsume......"
"Natsume-kun, ya? Oke, aku ingat! Namanya juga sudah takdir pertemuan, kalau ketemu lagi nanti kita main lebih banyak, ya."
Haru-senpai bahkan kembali menghampiri, membungkuk sedikit menyesuaikan tinggi badanku, dan mengusap kepalaku.
Kegembiraan itu tak kunjung reda, dan aku—
"Terima kasih banyak untuk hari ini......!"
Akhirnya bisa kuucapkan. Kata terima kasih yang sejak tadi kupendam.
"Sama-sama. Kapan pun, jangan ragu mengandalkan senpaimu ini."
Dia menunjukkan deretan gigi putihnya tanpa ragu, membalas dengan senyuman yang terasa sangat meyakinkan.
"Apa......kita bisa bertemu lagi?"
"Kita tinggal di kota yang sama, jadi harusnya bisa. Kalau kamu terus mengurung diri di rumah sih pasti tidak akan ketemu. Tapi kalau kamu datang dengan keinginanmu sendiri, aku akan ada."
Setelah melepas tangannya dari kepalaku, senpai benar-benar menghilang ke dalam gelap, payungnya menjauh.
Bahkan suara langkahnya ditelan genangan air, lalu menyatu dengan suara hujan.
Beberapa menit setelah senpai pergi, wajahku masih panas, dan napas yang keluar pun seperti uap.
Mengingat lembutnya sentuhan tangannya yang tadi menyentuh ubun-ubunku, aku makin malu dan tenggelam dalam perasaan yang tak bisa kujelaskan.
Musim panas di kelas enam SD. Ah, akhirnya aku tahu.
Perasaan yang tidak pernah diajarkan di sekolah.
Bahwa ini adalah—satu-satunya, dan tak tergantikan, cinta pertamaku.
******

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 2.1"