Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 5.1

Bab 5 - Kami Sebenarnya Tidak Pernah Cocok Sejak Lama





Beberapa hari setelah hari aku bertemu dengan ilusi yang meniru kakakku.


Sejak itu, aku belum bertemu lagi dengan Haru-senpai yang kembali ke Tokyo untuk fokus pada ujian akhir semester kuliahnya.


Unggahan media sosialnya kini dipenuhi keluhan tentang kehidupan kampus dan ujian, dan dia tak lagi mengunggah pemandangan Kisarazu......justru itu membuat kecemasanku bertambah.


Ini sudah tak bisa dianggap sebagai kekhawatiran yang berlebihan.


Di tengah perwalian pertengahan Juli yang terus diselimuti panas melelahkan, aku berulang kali membaca pesan di aplikasi ponselku, menggulirnya dengan jari telunjuk sambil terus memusingkan kepala.


Itu adalah percakapan saat kami mencocokkan jadwal dan menentukan hari untuk pergi bersama.


Tanggalnya awal Agustus, setelah ujian Senpai selesai.


Mungkin saja, pada kencan pertama di hari itu, sesuatu akan terjadi.


Jika cinta tak terbalasku ditolak, maka saat itu──


Tidak, ini buruk......pikiranku kusut dan kemampuanku berpikir benar-benar tumpul.


Hari ini sekolahku mulai ujian akhir semester.


Karena berbagai kejadian yang bertumpuk, belajar ujian tak berjalan lancar, dan hari pertama ujian pun berakhir hambar dengan motivasi serendah pertandingan yang sudah menyerah.


Bisa pulang sejak siang memang menyenangkan, tapi bahkan jika langsung pulang, rasanya aku tak akan bisa fokus belajar untuk hari-hari berikutnya.


Aku mengubah arah langkah yang semula menuju gerbang sekolah dan iseng mengintip ke gedung olahraga......namun yang ada hanyalah ruang kosong yang luas dan pengap.


“Ya, tentu saja tidak ada......”


Selama masa ujian, kegiatan klub diliburkan, dan pada hari dimana sekolah berakhir pada siang hari, bahkan tak ada jam istirahat makan siang.


Aku lelah terus berpikir sendirian, dan sempat berharap bisa berbincang sedikit dengan junior terdekat......


“Wiii~ kerja baguuuuuuuuuuuuuuuus!”


Godaan super malas yang cukup untuk meniup pergi pikiran beratku datang bersama hentakan mendadak dari belakang.


Sepertinya dia mendekat dari belakang tanpa suara, lalu melompat menabrak punggungku.


“‘Wii~ kerja bagus’ apaan. Kaya bapak-bapak.”


“Hah~? Kalau begitu, bagaimana caranya memuji nak muda supaya senang, nih~?”


“Kalau junior, bilangnya ‘Terima kasih atas kerja kerasnya, Natsume-senpai! Hari ini juga keren!’ begitu.”


“Hahaha, bercandamu keterlaluan. Aku tidak punya waktu buat meladeni khayalan memalukan bocah puber. Cepat pulang sana, jilat permenmu itu~”


Sialan, ingin rasanya meninju wajah mengejek yang menyebalkan itu.


“Haruskah aku lapor polisi bilang diserang tanuki liar?”


“Tanuki liar? Ini siswi SMP liar, tahu?”


“Siswi SMP liar itu bisa ditangkap?”


“Mau menangkapku segala~ mau apa, hah? Dasar mesum ya, anak muda~”


“Aku ingin masak jadi hidangan daging buruan.”


“Enyah kau, bocah sial♪”


Kalau dipanggil bocah sial sambil tersenyum oleh anak SMP yang polos, rasanya mau nangis ya.


Identitas si iblis kecil yang energik itu adalah Umika.


Karena tak ada orang di sekitar, berbicara dengan Umika pun tidak mencolok.


Memanfaatkan fakta bahwa hanya mereka yang dilanda musim aneh ini yang bisa melihatnya, sepertinya dia sudah jadi pelaku penyusupan ilegal langganan.


“Obrolan pemanasanku tadi berkenan?”


“Jangan-jangan......itu caramu sendiri buat perhatian?”


“Entahlah. Mungkin aku sempat berharap perasaanmu jadi sedikit lebih positif.”


“Setidaknya, rasanya bodoh untuk terus merisaukan semuanya.”


“Kalau begitu, syukurlah.”


Semakin mengenal Umika, semakin aku bingung dengan jarak di antara kami.


Haruskah aku membencinya sebagai pengganggu, atau bolehkah mengandalkannya sebagai sekutu?


“Bukan hanya Haru nee-san, nak Natsume juga sudah berjumpa dengan ilusi, kan?”


Seakan berkata ‘bermain-mainnya sampai di sini saja’, Umika menurunkan nada suaranya.


“Ya......aku melihat ilusi yang menggoyangkan pemandangan itu dengan jelas. Bukan sekadar perasaan atau salah lihat.”


“Ketika ilusi terlihat semakin pekat dan jelas, itu sudah tergolong tahap akhir......tanda bahwa akhir musim sudah dekat. Baik Haru nee-san maupun nak Natsume.”


“Entah kenapa......aku memang sudah punya firasat begitu.”


“Kencan berikutnya adalah kesempatan terbaik untuk menyatakan perasaan. Sebaliknya, itu juga akan menjadi peluang terakhir untuk menggerakkan cinta tak terbalas yang mandek.”


“Jika pengakuanku ditolak oleh Kak Haru-senpai, dan dia malah mengejar ilusi kakakku......”


“Begitu dia menggenggam tangan yang diulurkan oleh ilusi orang yang telah meninggal, Haru nee-san akan mati dengan sendirinya.”


Kata-kata keras yang diucapkan Umika berubah menjadi duri, membelit dan menangkap hatiku yang rapuh.


“Ngomong-ngomong, kamu sudah memikirkan rencana kencannya belum?”


“Jujur saja, ini kencan pertamaku seumur hidup......Aku memang beberapa kali jalan bareng Haru-senpai atau mampir sepulang sekolah, tapi itu rasanya seperti kakak-adik yang rukun.”


“Ya, sudah kuduga sih. Demi bocah polos nan murni ini, Umika-chan akan mengajarkan spot masa muda versi sudut pandang gadis deh~”


Wajah mengejeknya membuatku kesal, tapi sepertinya bisa jadi referensi, jadi aku tak bisa benar-benar marah.


“Belanja di Kisarazu Sogo pintu barat~, makan siang di kaiten sushi Yamato~, nonton film di Movieland Jalan Fujimi atau Kisarazu Toei~, lalu bowling, biliar, tenis meja, dan arcade di Kisarazu Central! Penutup kencannya main lempar tangkap bola di rerumputan Pantai Egawa! Kalau aku sih akan senang dengan rencana kencan seperti ini!”


“Aku bodoh karena serius mendengarkannya.”


“Pokoknya wajib kamu jadikan referensi, bocah sialan♪”


“Isinya tempat yang tidak kupahami, mana bisa jadi referensi, Tanuki-chan.”


“Bukan tanuki tapi lumba-lumba......ya terserah deh! Pokoknya patuhi saja nasihat Tanuki-chan Penolong ini~♪”


Didorong punggungnya oleh Umika si Tanuki-chan Penolong, aku melangkah beberapa meter dari depan gedung olahraga menuju gerbang sekolah.


“Aku doakan keberuntunganmu. Semangat, anak muda!”


Saat aku menoleh sekilas, sosok Umika sudah menghilang.




Sebentar lagi tengah hari. Mungkin suhu sudah mendekati tiga puluh derajat.


Setelah berpisah dengan Umika di sekolah, berjalan sedikit saja di kota sudah membuat kemeja lembap, dan kaus dalam tampak samar tembus di bawah langit musim panas yang biru.


Jembatan Fujimi di Sungai Yanagawa yang berada di rute pulang masuk ke pandanganku, dan mataku bertemu langsung dengan seorang siswi berseragam yang berdiri di sisi pagar jembatan.


“......Pulangnya cepat sekali ya, Natsume-senpai.”


Dengan sikap tenang, yang memanggil namaku adalah Touri, adik kelas setahun di bawahku.


“Lagi masa ujian, kita sama-sama pulang cepat kan. Jangan-jangan kamu menungguku?”


“......Aku hanya sedikit khawatir apakah Senpai akan langsung belajar atau malah mampir ke mana-mana.”


“Harusnya kamu lebih mengkhawatirkan ujianmu sendiri daripada ujian orang lain.”


“......Tak perlu khawatir. Kurasa nilaiku lebih baik dibanding Senpai tahun lalu.”


Adik kelas yang terlalu perhatian itu memang termasuk jajaran teratas di tahun kedua.


Touri berjalan sejajar di sampingku, melangkah ke arah yang sama.


“Jangan-jangan, ada perkembangan sesuatu dengan Haru-senpai?”


Saat kami menyeberangi Jembatan Fujimi dan memasuki jalan bata di Jalan Mimachi yang membentang di sepanjang Kuil Yatsurugi Hachimangu, Touri tanpa ampun melemparkan topik sensitif itu.


“Tidak, tidak juga......”


“......Ada ya. Soalnya Senpai itu mudah dibaca.”


Sepertinya kebiasaan saat aku berbohong sudah terbaca olehnya, jadi aku tak bisa sembarangan berbohong pada Touri.


“Ada beberapa perkembangan sih......mungkin.”


“......Aku hanya coba-coba memancing, tapi tidak menyangka beneran ada perkembangan.”


“Itu curang tahu......”


Kena juga. Dengan sikap santainya, dia memancingku dengan perhitungan matang.


“......Natsume-senpai memang jujur ya. Bagian itu, mungkin agak manis.”


“Dibilang ‘manis’ sama adik kelas itu bukannya menyedihkan ya buat seorang senior?”


“......Sekarang baru sadar? Bukannya Senpai memang pengecut menyedihkan dari dulu?”


Sambil menutup mulutnya dan tersenyum, nada suara Touri terdengar seolah sedikit lebih ceria.


“......Lalu, sejauh apa perkembangannya?”


“Kami memutuskan untuk pergi jalan berdua di bulan Agustus.”


“......Bermain berdua dengan Haru-senpai bukan pertama kalinya, kan?”


“Selama ini rasanya seperti senior-junior klub atau kakak-adik yang rukun, tapi kali ini aku mengajaknya dengan niat kencan pertama.”


“......Begitu ya.”


“Aku berniat mengaku pada Haru-senpai.”


Karena sudah lama bersama Touri, aku bisa mengatakannya dengan jujur.


“Touri?”


Touri terdiam beberapa detik, entah kenapa memilih bungkam.


Dia perlahan berhenti, dan aku pun ikut menghentikan langkah.


“......Mari kita adakan rapat strategi.”


“Hah?”


“......Supaya cinta tak terbalas Senpai bisa berbuah, aku akan memberimu saran untuk kencan pertama.”


“Kenapa tiba-tiba begitu?”


“......Yah, karena Senpai tiba-tiba bilang mau mengaku, kan.”


Meski di balik matanya tampak kegelisahan, Touri segera memasang wajah tenang kembali, berjalan ke depan, lalu melirikku dari samping saat melewatiku.


“......Untuk sementara, mari pergi ke tempat di mana kita bisa bicara dengan santai.”


“Bukannya aneh ya, orang yang datang untuk memastikan aku tidak mampir malah mengajak mampir?”


“......Lagipula, belajar sekarang juga tidak akan membuat otak Senpai tiba-tiba membaik drastis.”


Rasanya aku barusan dihina dengan cukup pedas.


Aku memperlebar langkah untuk mengejar Touri yang memimpin dengan langkah cepat.


“......Aku juga sedang ingin menyegarkan pikiran, jadi temani aku sebentar.”


“Ke mana?”


“......Ke mana ya, bagaimana kalau kita makan siang dulu?”


“Memang sudah jam makan siang, aku juga lapar.”


“......Tentu saja traktiran Senpai.”


“Ya, pulang saja.”


“......Sudah lama rasanya ingin makan pork sauté rice.”


“Jangan kira kalau makan sama seniormu pasti ditraktir.”


“......Itu hak istimewa junior.”


Begitu mendengar kata ‘traktir’, seragamku yang refleks mundur dicengkeram Touri dari belakang, membuatku tak bisa kabur.




“......Terima kasih atas makanannya, Senpai.”


“Ya, sama-sama.”


Setelah singgah sebentar ke rumah, kami berboncengan motor menuju rumah makan Tomi dan menikmati pork sauté rice untuk makan siang.


Kenikmatan menyantap nasi putih dengan daging manis-gurih yang pekat dan potongan tebalnya memang memuaskan, tapi aku tetap harus mentraktir dua porsi tanpa ampun.


“......Aku punya rekomendasi tempat kencan. Bagaimana kalau kita survei dulu?”


“Kau ini kelihatannya niat banget buat main-main, ya?”


“......Tidak kok, aku hanya terpaksa menemani sambil menunda belajar ujian.”


Aku memboncengkan Touri yang lebih dulu duduk di jok belakang Rabbit dan melaju menuju tujuan utama.


Tempat yang ditunjukkan Touri adalah “Taman Bianglala Kisarapia” yang bersebelahan dengan Outlet Park Kisarazu.


Ciri khasnya adalah bianglala raksasa yang mencolok bahkan dari kejauhan, taman hiburan gratis yang akan menyala penuh warna saat malam tiba.


Aku sudah tahu namanya sejak dibuka beberapa tahun lalu, tapi ini pertama kalinya benar-benar datang.


“......Aku memang ingin sekali main ke sini setidaknya sekali.”


“Sudah kuduga ujung-ujungnya kau sendiri yang ingin main, ya?”


“......Tidak kok, ini juga demi Natsume-senpai.”


Begitu turun dari motor di area parkir, Touri langsung melangkah ringan memasuki Kisarapia.


Bagi Touri yang sibuk dengan klub, jarang ada kesempatan bersantai setelah sekolah, jadi mungkin karena itulah suasana hatinya sedang naik.


“......Senpai, mari bahas rencana kencan sambil naik bianglala.”


“Memangnya harus sekali membicarakannya sambil naik bianglala?”


“......Setidaknya punya pengalaman naik bianglala dengan cewek mungkin akan membantu Senpai memimpin kencan dengan Haru-senpai nanti.”


“Iya juga sih......memang aku tidak punya pengalaman kencan yang layak.”


“......Apa pun itu, yang penting pengalaman dulu. Jadi, tiket bianglalanya dua orang.”


Junior yang licik sekali. Aku mentraktirnya lagi.


Karena masih siang hari di hari kerja, pengunjung sedikit dan hampir tidak ada waktu tunggu.


Kami naik gondola tanpa hambatan dan duduk saling berhadapan, memandangi pemandangan yang perlahan menjauh. Suasana canggung yang menggelitik......memenuhi ruang sempit itu.


Situasinya berbeda dari makan bersama sepulang klub atau mampir ke taman tepi laut, jadi kami berdua tanpa sadar saling menunggu reaksi satu sama lain.


“......Kalau begitu, coba ceritakan kesan pertamamu naik bianglala bersama perempuan.”


“Pemandangan Teluk Tokyo dan Aqualine terlihat indah.”


“......Alasan kenapa Senpai tidak populer benar-benar terkonsentrasi di situ.”


“Kalau begitu, jawaban yang benar itu seperti apa?”


“......Misalnya, ‘dibandingkan pemandangan Teluk Tokyo, kamu yang lebih cantik’, begitu.”


“Kalau aku yang mengatakan itu, apa anak perempuan akan senang?”


“......Begitu kubayangkan, rasanya menjijikkan sampai aku merinding dan gemetar.”


Kejam banget, ini. Rasanya pengin nangis.


“......Sebelum bianglala ini berputar satu kali penuh, mari kembali ke pokok pembicaraan. Karena Senpai berniat menyatakan perasaan, menurutku membangun suasana juga penting. Apa Senpai sudah memikirkan rencana kencannya?”


“Rencana yang diajarkan kenalan anak perempuanku itu alurnya seperti ‘belanja di Kisarazu Sogo pintu barat, makan siang di kaiten sushi Yamato, nonton film di Movieland atau Kisarazu Toei di Jalan Fujimi, main bowling, biliar, tenis meja, dan game center di Kisarazu Central, lalu menutup kencan dengan lempar tangkap bola di rerumputan Pantai Egawa’. Menurutmu bagaimana?”


“......Anak dari mana yang mengajari itu?”


“Si Tanuki-chan yang mengaku dirinya lumba-lumba.”


“......Aku tidak begitu paham apa yang Senpai bicarakan, tapi bukankah semua toko selain Yamato sudah lama tutup? Kisarazu Sogo juga sudah berubah menjadi Sparkle City.”


“Kan. Isinya memang toko-toko yang bahkan tak pernah kudengar.”


“......Lokasi yang dulu bernama Kisarazu Central sekarang sudah jadi tanah kosong. Katanya, taman tepi laut yang biasa itu juga akan dibangun restoran dan kafe baru.”


“Segalanya terus berubah, ya. Wajah kota ini, dan diri kita sendiri.”


Hal-hal yang ada saat kecil perlahan menghilang, sementara yang dulu tak ada kini diciptakan.


Sama seperti cinta. Saat cinta baru dimulai, cinta lama akan memudar dan menghilang.


“......Memang banyak hal yang berubah seiring waktu, tapi ada juga perasaan yang tidak berubah.”


“Aku juga tidak pernah berubah, tapi aku tak punya keberanian untuk mencoba berubah. Meski tubuhku tumbuh dewasa......aku terus menekan perasaan dan mempertahankan keadaan sekarang.”


Aku tak bisa membaca perasaan Touri, tapi cintaku yang tak terbalas ini tak pernah berubah.


Meski cinta pertama yang gagal lalu berlanjut ke cinta baru adalah bentuk cinta yang umum, aku—tetap terikat pada cinta pertamaku.


“Tapi......aku tak lagi diizinkan memalingkan diri dari cinta pertamaku. Aku harus mulai melangkah.”


“Jadi, Natsume-senpai......akan menyatakan perasaan?”


“Iya. Aku akan menyelesaikan pertengkaran saudara yang tertunda itu.”


Gondola yang naik melingkar mendekati puncak, dan Touri yang menghela napas panjang mengalihkan pandangannya ke arah Teluk Tokyo, seolah tenggelam dalam pikiran.


“......Menurutku, Senpai tak perlu memaksakan diri membuat rencana yang berlebihan. Jadilah Natsume-senpai seperti biasanya saja.”


“Kalau begitu, bukankah jaraknya akan tetap seperti ke junior atau adik sendiri?”


“......Bukankah itu justru ciri khas Natsume-senpai? Pasti ada ekspresi yang hanya dia tunjukkan kepada junior yang disayanginya. Itu adalah perasaan istimewa yang tidak bisa ditarik keluar oleh kakakmu.”


Touri menatapku lurus dan memberi dorongan yang menenangkan.


“......Belanja baju di outlet park, memanggang hidangan laut di Ikiki-tei, lalu mengakhiri semuanya dengan menyatakan perasaan di Tanjung Futtsu......bukankah kencan sederhana seperti itu lebih terasa khas anak sekolah dan indah?”


“Boleh tidak kalau aku meniru rencana itu persis?”


“......Silakan, sesuka Senpai. Anggap saja ini balasan karena sudah mentraktir makan siang dan biaya bianglala.”


Sungguh keberadaan yang sangat berharga.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Berkat berbicara dengan junior yang paling dekat dan bisa diandalkan, rasa kesal yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana akhirnya menghilang.


“Ini......aku berikan untuk Senpai.”



Tiba-tiba Touri mengeluarkan sesuatu dari saku roknya dan menggenggamkannya ke tanganku.


Sebuah jimat yang disulam dengan tulisan “doa kemenangan pasti”.


Jahitannya agak kasar, dan jika diperhatikan dengan saksama bentuknya sedikit miring......jelas ini adalah jimat buatan tangan, seperti yang biasanya dibuat manajer untuk dibagikan kepada anggota sebelum pertandingan.


“Padahal aku sudah bukan anggota klub lagi.”


“......Bahannya kebetulan tersisa, jadi sekalian saja kubuatkan untuk Senpai. Ini jimat yang berisi harapan agar Natsume-senpai bisa mengalahkan kakaknya, jadi tolong simpan baik-baik.”


“Terima kasih, Touri......akan kujaga baik-baik. Setidaknya untuk cinta pertamaku ini, aku akan menang melawan kakakku.”


“......Sama-sama. Aku......mendoakan agar cinta pertama Senpai benar-benar mulai bergerak.”


Mungkin karena sama-sama merasa malu, kami saling melirik lalu mengalihkan pandangan. Situasi sempat membeku beberapa saat, namun tepat sebelum gondola menyelesaikan satu putaran, Touri lah yang memecah keheningan.


“......Tolong jangan datang ke Kisarapia bersama Haru-senpai.”


“Kenapa?”


Saat kutanya alasannya, Touri berdiri, dan tepat ketika gondola tiba di tanah—


“......Karena aku tidak ingin kenangan bahwa Senpai pertama kali datang ke sini bersamaku tertimpa dalam sekejap.”


Dengan suara lirih yang hampir menghilang, Touri meninggalkan kata-kata itu dan turun dari gondola lebih dulu.


Ekspresi Touri yang tampak seolah akan menangis kapan saja tak mau hilang dari kepalaku, membuatku tak mampu melanjutkan percakapan.


“......Sudah waktunya kita pulang, ya, Senpai.”


Tak lama lagi, liburan musim panas akan dimulai.


Akhir dari sebuah musim—yang menjadi titik percabangan antara melangkah maju meski canggung, atau kehilangan cinta pertama untuk selamanya.

    ******

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 5.1"