Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 2.6 Interlude
Interlude 1 - Cerasus × yedoensis ‘Somei-yoshino’
Menurutku, bunga sakura seharusnya mekar dengan bangga.
Karena ia memikul harapan sebesar itu.
Kota itu sesak, mungkin yang terpadat sepanjang tahun. Bahkan saat Golden Week atau liburan musim panas pun belum tentu seramai ini. Mengejutkan rasanya mengetahui bahwa pada masa sakura mekar penuh seperti ini, orang-orang sampai datang dari luar prefektur.
Ini libur musim semi. Aku tinggal di kota ini. Seharusnya aku bisa memilih hari kerja yang lebih sepi. Namun, aku justru harus keluar pada siang hari Minggu yang jelas-jelas akan ramai, semata-mata karena keegoisan adikku.
“Kalau banyak orang, rasanya lebih seperti festival dan lebih seru, kan?”
Apakah itu menyenangkan atau tidak hanyalah perbedaan nilai. Karena itu, aku tak bisa membantahnya.
Ayah memberiku tiga lembar uang seribu yen sambil berkata, “Pergilah dengan Shou,” lalu orang tuaku langsung pergi bekerja. Jadilah aku datang menikmati hanami hanya berdua dengan adikku.
Kami datang untuk melihat bunga sakura yang mekar penuh, seakan memenuhi seluruh musim semi.
Aku tidak pandai menghadapi kerumunan. Awalnya enggan, namun begitu benar-benar keluar ke kota, pemandangannya sungguh indah.
Deretan pohon sakura di tanggul Sungai Tsunagawa yang mengalir ke Samudra Pasifik berjejer rapi, mewarnai sekeliling dengan merah muda pucat seperti cat air yang disapukan ke langit. Hanya dengan angin sepoi saja, kelopak yang beterbangan tak terhitung puluhan ribu. Jika anginnya lebih kencang, mungkin jumlahnya mencapai ratusan juta.
Jalan yang membentang dari Jembatan Hachiman menyeberangi Sungai Tsunagawa menuju pusat kota diberi nama Jalan Sakura. Pohon sakura ditanam begitu padat di kiri dan kanan hingga membentuk terowongan bunga yang menutupi langit. Terowongan itulah yang menuntun langkah orang-orang di sepanjang sungai menuju Kuil Tsunagai Hachiman.
Katanya, orang-orang kaya pada era Taishō menanamnya seolah berlomba. Di halaman luas Kuil Hachiman, deretan Someiyoshino yang megah membentangkan cabangnya dengan anggun. Semua usaha menembus kerumunan terasa terbayar. Sakura membuatku berpikir begitu.
Karena sudah datang ke kuil, rasanya tak pantas hanya melihat sakura lalu pulang. Aku dan adikku mengantre di barisan panjang menuju aula pemujaan. Mengantisipasi waktu tunggu ini, adikku mulai melahap sakura dōmyōji yang kubeli sebelumnya dengan mulut penuh. Bunga kalah oleh makanan. Padahal dia sendiri yang memilih keramaian, namun membenci mengantre—dan sakura mochi berhasil membuatnya tenang. Persis seperti yang kuharapkan.
Saat itulah, suara seorang pria dari depan menarik perhatianku.
“Kita juga harus mengucapkan terima kasih dengan benar atas kelulusan ke SMA Tsunagai.”
“Tentu saja!”
Sepertinya, calon teman seangkatanku di SMA berada sedikit di depan dalam antrean.
“Tentu saja!”
Yang menjawab adalah suara seorang gadis yang ceria. Mungkin itu putri pria tersebut. Aku menduga, pemilik suara itu adalah gadis berponi ekor kuda yang terlihat melewati bahu orang di depanku. Di kiri dan kanannya tampak sosok yang mungkin orang tuanya.
Karena keramaian, aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Namun, pada ikat rambut yang mengikat rambutnya di bagian belakang kepala yang tinggi, terpasang hiasan khas berbentuk sakura. Bahannya kain, dibuat dengan teknik tsumami-zaiku sehingga tampak tiga dimensi. Warna sakura sering kali menjadi pink murahan ketika dijadikan produk, tetapi sakura miliknya berbeda. Warnanya lembut dan anggun, seakan memancarkan rasa hormat pada alam.
Gadis sakura itu segera menghilang kembali ke dalam kerumunan.
Aku menerima satu potong terakhir sakura dōmyōji dari adikku, menyatakan ketidakpuasan karena itu sudah setengah dimakan, menikmati aroma segar dari daun sakura asin yang menghadirkan musim semi, lalu menyelesaikan doa kami.
Saat berjalan kembali di jalan kuil, aku sekali lagi menemukan sakura tsumami-zaiku itu.
Yang terlihat lagi-lagi hanya bagian belakang kepalanya. Dia menghadap meja panjang yang disiapkan khusus untuk menulis ema, tampak fokus mengerjakan sesuatu. Wajahnya pun tak terlihat, namun kesungguhannya terasa.
“Hei, mau coba menulis ema?”
Sambil memberi alasan seperti itu pada adikku, aku menyelinap melalui kerumunan menuju meja panjang. Hanya sedikit rasa penasaran. Apa yang diharapkan gadis calon teman seangkatanku itu di musim sakura?
“Hah? Tidak usah. Perlu bayar dan ribet.”
Memaksakan diri menulis ema bukanlah gaya karakterku. Ya sudahlah, pikirku, lalu mengubah arah.
Gadis sakura itu tampaknya telah selesai menulis doanya dan mulai bergerak dari meja panjang menuju tempat menggantung ema. Aku melirik sekilas, lalu seketika merasa malu. Meski ema memang ditulis untuk dilihat, mengintip doa orang lain adalah kebiasaan yang sangat buruk—apalagi doa seorang gadis.
Aku segera mengalihkan pandangan—namun meski begitu, doanya yang sempat tertangkap mata terukir di retina seperti kilatan cahaya yang kuat. Hanya satu kalimat, tetapi isinya berbeda dari segala hal yang kubayangkan.
Tulisan yang indah, mencerminkan kecerdasan. Justru karena itulah, kejanggalan isinya terasa semakin kuat.
Semoga aku bisa menjalani semuanya dengan baik di SMA.

Post a Comment for "Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 2.6 Interlude"