Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 3.3
Bab 3 - Pohon Kamper Tak Pernah Berkisah
Saat kami menyusuri jalan menuju kuil, deretan sakura membentang di kiri dan kanan. Kini semuanya telah menjadi sakura berdaun. Padahal saat mekar penuh, orang-orang berkerumun begitu banyak, tapi sekarang tak ada lagi yang meliriknya. Kami pun langsung menuju aula pemujaan.
Kami bertiga berjajar, membungkuk dua kali, bertepuk tangan dua kali, lalu membungkuk sekali lagi. Aku berdoa agar hari ini berakhir dengan tenang.
Iwama di sampingku masih terlihat berdoa dengan sungguh-sungguh bahkan setelah aku selesai memberi hormat terakhir. Aku sempat penasaran apa yang dia pikirkan, tapi segera menggeleng kecil untuk menahan rasa ingin tahu itu.
Selesai berdoa, saat kami berjalan sambil memikirkan mau ke mana selanjutnya, tanpa sadar kami sampai di dekat tempat gantungan ema. Aku tak melewatkan momen ketika Iwama menatap ke sana dan membeku sesaat.
“Ayo lihat peta itu!”
Mungkin dia ingin menjauh secepat mungkin dari ema, Iwama menunjuk papan besar di depan.
Kami pun tak keberatan dan mengikutinya.
Peta itu adalah peta panduan kawasan Kuil Hachiman. Dengan judul seperti “Hutan Pohon Raksasa Penuh Sejarah”, di dalamnya juga tergambar Cedar Menteri Kanan dan Cedar Menteri Kiri (tunggulnya). Bahkan usia Cemara Menteri Kanan dicantumkan dengan teliti.
“Selain cedar, ternyata ada ginkgo dan pohon kamper juga.”
Di peta itu, selain Cedar Menteri Kanan berusia 800 tahun, dua pohon raksasa lainnya juga ditonjolkan.
Salah satunya adalah “Ginkgo Pelindung” yang berada di dalam area kuil.
Dan satu lagi adalah “Kamper Besar” yang terletak agak ke luar, dengan usia 1200 tahun.
“Hm? Ini......”
Iwama sedang menatap bagian ilustrasi pohon ginkgo.
“Ada apa?”
“Usia pohon ginkgonya, mungkin salah ya?”
Saat kuperhatikan, di bawah gambar ginkgo ada stiker hijau dengan warna yang sama seperti latar belakang. Bentuknya persegi panjang mendatar. Karena pada Cedar Menteri Kanan dan Kamper Besar usia pohon ditulis di posisi yang sama, masuk akal jika usia ginkgo memang sengaja ditutupi.
“Mungkin begitu. Karena salah, jadi ditutup pakai stiker.”
“Benarkah? Kalau sudah tahu itu salah, bukannya lebih masuk akal kalau diperbaiki dengan usia yang benar, bukan ditutupi?”
Itu pendapat yang sangat masuk akal, terutama datang dari Kannabi.
“Iya ya. Kalau begitu, kenapa......?”
Iwama menoleh cepat ke arahku.
“Menurutmu kenapa? Bisa jelaskan, secara ilmiah!”
“Secara ilmiah?”
“Deru-chan, kamu kan cukup paham soal tumbuhan.”
“Ya, lumayan. Tapi sampai tahu apa yang dipikirkan orang kuil, itu di luar—”
Melihat mata Iwama yang berbinar penuh antusias, kata-kataku terhenti begitu saja. Aku buru-buru mencari kata lain.
“Yah, memikirkannya sedikit mungkin juga menarik. Pohon ginkgonya juga dekat. Kita lihat yang aslinya dulu.”
Ginkgo Pelindung dikenal sebagai pohon raksasa terkenal bahkan di Tsunagai karena wujudnya yang megah. Kulit batangnya berwarna terang, menggembung dan tak rata, sementara cabang-cabang setebal batang pohon pinggir jalan menjulang banyak seolah menopang langit.
Hal yang paling khas adalah bagian pangkalnya. Di sana terbuka lubang besar yang cukup untuk dimasuki satu orang. Karena kini dipagari, lubang itu tak bisa dimasuki, tapi konon dulu ada seseorang yang bersembunyi di sana untuk melindungi diri, sehingga pohon ini disebut Ginkgo Pelindung.
Di musim semi, daun-daun muda ginkgo yang masih kecil berwarna kuning-hijau cerah dan berkilauan diterpa cahaya matahari.
“Yang ini juga besar ya! Kalau soal ketebalan, mungkin malah lebih hebat dari Cedar Menteri Kanan.”
Langkah Iwama langsung menuju papan penjelasan, lalu dia berseru, “Ah!”
“Ada yang kamu temukan?”
“Belum......tapi ini.”
Aku pun ikut melihat papan penjelasannya.
Ginkgo Pelindung
Monumen Alam yang Ditetapkan Negara
Keliling batang: 9,8 m
Tinggi pohon: 23 m
“Lihat, yang ini juga—usia pohonnya ditutupi belakangan.”
Di sini, selembar papan resin tipis berwarna serupa dengan batang pohon ditempelkan menggunakan semacam perekat. Dari pengerjaannya yang rapi dan tampaknya menghabiskan biaya, jelas ini bukan ulah iseng seseorang, melainkan tindakan pihak pengelola.
“Benar-benar upaya penutupan yang menyeluruh.”
Benarkah begitu?
“Mungkin memang salah, jadi dihapus saja. Bisa jadi mereka merasa tak perlu repot menuliskan ulang, jadi cukup ditutupi.”
“Entahlah......dengan ukuran semegah ini, usia seribu tahun pun rasanya masuk akal......Kalau mengusung tema ‘hutan pohon raksasa yang sarat sejarah’, seharusnya mereka menuliskan usia yang benar.”
Seperti kata Iwama, pohon sebesar ini—bahkan sampai bisa dimasuki manusia—memang terasa sarat sejarah.
Namun, ada satu kesalahan dalam pernyataannya.
“Memang megah, tapi sebenarnya usianya belum sampai seribu tahun.”
Iwama membelalakkan mata. “Eh, serius?” Aku mengangguk.
“Kamu tahu kalau ginkgo itu sebenarnya spesies pendatang? Keluarga ginkgo dulu berkembang pesat pada zaman Jura, saat dinosaurus berjaya. Setelah melewati zaman es, mereka nyaris punah, dan hanya satu spesies ginkgo yang bertahan hidup di wilayah barat daya Tiongkok yang beriklim hangat.”
“Aku pernah dengar. Mereka disebut fosil hidup, kan?”
“Benar. Fosil hidup itu mulai menyebar di Tiongkok sekitar abad ke-11. Bibitnya masuk dan menetap di Jepang kira-kira tujuh ratus tahun lalu. Memang ada banyak ginkgo di Jepang yang disebut berusia seribu tahun, tapi tak satu pun yang dibuktikan secara ilmiah—semuanya hanya perhitungan berdasarkan legenda.”
“Begitu......berarti usia maksimalnya sekitar tujuh ratus tahun......”
Iwama mulai menghitung ukuran papan resin itu, menyesuaikannya dengan jumlah karakter di baris lain.
Delapan karakter. Artinya, kemungkinan tertulis “Usia: sekitar ■■■ tahun”. Tidak ada yang janggal.
Lalu Iwama mengalihkan pandangannya ke penjelasan kecil yang tertulis rinci.
“Katanya, karena ada legenda tentang seorang anak yang bersembunyi di sini untuk melindungi diri dari tengu, pohon ini disebut Ginkgo Pelindung. Mungkin kalau kita menelusuri legenda itu, kita bisa menemukan petunjuk tentang usianya.”
Pembicaraan berkembang lancar, dan kami pun berpindah ke museum kecil yang ada di kompleks Kuil Hachiman.
Meski disebut museum, tempat itu hanyalah ruang kecil satu lantai yang bisa dimasuki gratis. Di balik kaca besar di sepanjang dinding, berbagai benda terkait Kuil Hachiman dipajang rapi. Aku sendiri baru pertama kali masuk ke sana.
Yang pertama menarik perhatianku adalah penampang pohon raksasa yang dipajang dengan disandarkan ke dinding. Mungkin karena terlalu besar, irisan melingkarnya dipotong lagi menjadi dua, membentuk setengah lingkaran.
Cedar Menteri Kiri—akhir dari pohon raksasa yang pernah disambar petir. Pada lingkaran tahunnya diberi tanda, dan di sebelahnya ditempelkan grafik yang digunakan untuk penanggalan karbon. Penjelasan panjang lebar memaparkan bagaimana usia pohon itu diukur. Rupanya, usia semua pohon raksasa di Kuil Hachiman ini telah diteliti secara ilmiah.
Aku membacanya sekilas, dan ketika sampai di baris terakhir, aku menghela napas.
“Ayo. Sepertinya di sana ada gambar tentang Ginkgo Pelindung.”
Namun sepertinya aku tidak sepintar Iwama saat mengalihkan perhatian di depan papan ema tadi.
“Hei, Deru-chan......Profesor Izuta ini, jangan-jangan......”
Iwama menanyakannya begitu saja. Aku tak punya pilihan selain menjawab.
“......Itu ayahku.”
“Jadi benar ya!”
Di baris terakhir penjelasan tertulis nama ayahku. Sepertinya dialah yang meneliti pohon-pohon raksasa di kuil ini. Kalau dipikir-pikir, dulu sekali saat aku bertanya tentang Cedar Menteri Kiri, ayah sempat memberi isyarat samar tentang hal itu.
Sebenarnya aku tak ingin membicarakannya, tapi kalau aku menghindar di sini, bisa-bisa mereka mengira aku punya semacam kompleks. Dengan berat hati, aku pun mulai menjelaskan.
“Ayahku peneliti ekologi tumbuhan. Waktu kecil aku diajari banyak hal, jadi aku juga tahu sedikit soal tumbuhan. Tapi tentu saja, masih jauh dibandingkan beliau.”
Aku menambahkan kalimat yang sebenarnya tak perlu. Namun wajah Iwama justru tampak tulus terkesan.
“Pantas saja kamu tahu banyak soal katakuri!”
“Begitulah......”
Ingin menjauh dari topik tentang ayah, aku melangkah lebih dulu. Mereka berdua mengikutiku.
Di balik pajangan tembikar dan porselen yang katanya ditemukan di area kuil, terdapat sebuah ilustrasi yang menggambarkan tengu.
Sepertinya karya dari awal zaman Kamakura. Karena usianya yang sangat tua, yang asli disimpan di museum prefektur, dan yang dipajang di sini hanyalah replika. Meski tidak terlalu realistis, garis-garis halus dan warna-warna lembut di atas kertas tua itu membentuk sebuah adegan.
Dari atas awan yang digambar dengan garis-garis sederhana, seorang pria menyeramkan berparuh menatap ke bawah. Tampaknya itu adalah area kuil ini. Di dekat sebuah hokora kecil berdiri pohon besar dengan lubang di batangnya. Rimbunnya daun hijau digambarkan samar seperti awan. Di dalam lubang itu, seorang anak kecil memeluk kepalanya.
Judulnya tertulis “Serangan Tengu”. Aku membaca penjelasannya.
Penggambaran tengu berhidung panjang baru menyebar sejak akhir zaman Muromachi. Sebelumnya, tengu umumnya digambarkan berparuh. Ilustrasi ini menggambarkan seorang anak yang bersembunyi di lubang pohon raksasa untuk lolos dari hukuman tengu, dan menunjukkan bahwa sejak zaman Kamakura, Kuil Hachiman ini telah dikenal sebagai hutan pohon-pohon raksasa.
Di sebelahnya dipajang catatan perjalanan dari zaman Edo. Yang ini tampaknya asli, tetapi karena ditulis dengan aksara cursive lama, hampir tak bisa dibaca. Aku pun bergantung pada penjelasannya.
Pada zaman Edo pun, Kuil Hachiman ini dikenal dan dicintai sebagai hutan pohon raksasa. Dalam buku harian seorang pedagang yang berkunjung, tercatat legenda tentang seorang anak yang bersembunyi di balik pohon ginkgo untuk melindungi diri dari tengu—legenda Ginkgo Pelindung.
Ah, begitu rupanya.
Dari informasi yang kami peroleh sejauh ini, aku sudah memahami garis besar fakta yang terjadi.
Alasan mengapa usia pohon ginkgo disembunyikan pun menjadi jelas jika semua yang kami lihat disusun kembali.
Kuil Tsunagai Hachimangū, sambil berusaha untuk tidak berbohong, ternyata menyimpan satu rahasia.
“......Deru-chan, ini aneh, kan?”
“Ya, memang aneh.”
“Benarkah......? Yang aneh itu, bagian mana?”
Kepada Kannabi yang tampak bingung, Iwama mulai menjelaskan.
“Soalnya, kalau ginkgo baru masuk ke Jepang sekitar tujuh ratus tahun yang lalu......aneh kalau sudah ada ginkgo raksasa pada awal zaman Kamakura.”
“......Zaman Kamakura itu kira-kira kapan, ya?”
“Dari tahun 1185 sampai 1333. Kalau awalnya, kira-kira delapan ratus tahun yang lalu.”
Iwama yang langsung menjawab hingga ke tahun-tahunnya memang luar biasa.
“Begitu ya......berarti, sekalipun ada selisih besar antara angka tujuh ratus dan delapan ratus, tetap tidak masuk akal kalau delapan ratus tahun lalu sudah ada ginkgo yang tumbuh sebesar itu sampai orang bisa bersembunyi di dalamnya.”
“Orang yang menulis penjelasan ini pasti sudah menyadari hal itu. Kalau dibaca dengan teliti, akan terlihat jelas. Tidak ada satu pun bagian yang mengatakan bahwa pada zaman Kamakura ada anak yang bersembunyi di lubang pohon ginkgo.”
“Hah, serius? Tapi—”
Kannabi membaca ulang dan membelalakkan matanya.
“Benar juga. Dalam penjelasan gambar itu, huruf ‘i’ dari kata ginkgo pun tidak ada.”
Tln: bahasa jepunya itu "イチョウ/ichou"
“Dengan ini, alasan mengapa usia ginkgo disembunyikan seharusnya sudah jelas. Itu bukan untuk menutupi usia yang salah, melainkan untuk menyembunyikan usia yang benar.”
Setelah meluangkan waktu sejenak untuk berpikir, Iwama membuka mulutnya dengan hati-hati.
“Kalau kita menumpuk hal-hal yang bisa dipastikan, hasilnya seperti ini. Pada awal zaman Kamakura, di Hachimangū ini sudah ada pohon raksasa berlubang besar, dan berdasarkan itu lukisan ‘Serangan Tengu’ dibuat. Pohon itu bukan ginkgo. Namun pada zaman Edo, ada ginkgo raksasa berlubang. Orang-orang zaman Edo keliru mengira bahwa pohon dalam legenda tempat anak itu bersembunyi dari tengu adalah ginkgo.”
“Singkatnya, setelah pohon ginkgo tumbuh besar, latar legenda itu tanpa disadari tergantikan menjadi ginkgo. Bahkan diberi nama ‘Ginkgo Pelindung’, dan pada zaman Edo hal itu pun mengakar.”
Sesuatu yang sudah terlanjur dikenal sebagai tempat terkenal menjadi sulit untuk disangkal begitu saja.
“Jika usia pohonnya ditulis apa adanya, orang akan menyadari, ‘Bukankah pada zaman ketika lukisan tengu itu dibuat, pohon ginkgo ini belum ada?’ Mungkin memang pernah ada yang menunjukkannya. Karena itulah, demi mengaburkan hal tersebut, usia ginkgo yang sebenarnya terpaksa disembunyikan.”
“......Tapi kalau begitu, pohon raksasa yang digambarkan dalam ‘Serangan Tengu’ itu sebenarnya apa?”
Mendengar pertanyaan Iwama, aku teringat satu kemungkinan.
“Pohon kamper besar itu, yang ada di arah gunung. Usianya tertulis seribu dua ratus tahun. Bahkan delapan ratus tahun lalu pun, usianya sudah sekitar empat ratus tahun. Tidak aneh jika saat itu sudah menjadi pohon raksasa berlubang.”
Kannabi mengerutkan alisnya.
“Pohon kamper besar itu masih ada, kan? Lalu kenapa ceritanya bisa tergantikan menjadi ginkgo, ya?”
Itu pertanyaan yang sangat wajar. Kenapa bisa begitu, ya.
Tepat pada saat itu, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari belakang.
“Pantas saja kulihat kalian berdiskusi dengan begitu serius. Rupanya soal Ginkgo Pelindung, ya.”
Itu adalah pria tua yang tadi duduk di meja resepsionis. Ia memandang kami dengan senyum ramah.
“Ini hanya dugaanku, tapi mungkin karena pohon ginkgo lebih mencolok. Saat musim gugur, daunnya berubah kuning dengan indah, dan ditanam di tempat yang mudah terlihat, bukan? Sebaliknya, pohon kamper itu cenderung terkesan sederhana. Mungkin hanya sedikit orang yang repot-repot mendaki jalan gunung hanya untuk melihatnya.”
Tanpa sadar, desahan napas keluar. Ya, aku memang sudah menduga alasannya kurang lebih seperti itu.
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Tokoh utama sebuah legenda tentu lebih cocok diisi oleh pohon yang hidup di tempat terang dan tampak indah.
Sakura. Ginkgo. Maple juga begitu. Di dunia ini, yang diagungkan adalah hal-hal yang berada di bawah cahaya matahari.
Orang tidak berkumpul di tempat yang teduh.
Meski banyak orang rela mendaki gunung demi melihat bunga sakura, hampir tak ada yang mau pergi hanya untuk melihat pohon kamper.
Aku sebenarnya bilang tidak masalah, tapi Iwama dengan penuh semangat bersikeras ingin melihat pohon kamper besar itu. Aku mencoba menakut-nakuti Kannabi yang ikut setuju dengan berkata, “Pendakiannya lumayan berat, lho,” tapi dia malah menjawab, “Kalau hanya segitu tidak masalah. Kamu kira aku ini siapa?” dan akhirnya kami pun menempuh jalan gunung.
Aku benar-benar tak tahu Kannabi ini sebenarnya siapa. Tapi bukankah dia tipe ultimate indoor?
Sambil berjalan di jalan tanah yang sempit, aku menyadari bahwa ini adalah kali kedua aku mendaki jalan gunung bersama Iwama.
Yang pertama, untuk melihat sakura di tempat terkenal.
Dan kali ini, untuk melihat pohon kamper yang telah ditinggalkan oleh legenda.
Dari sekian banyak kemungkinan, harus dua hal ini—rasanya sungguh ironis.
“Ah, bunga ini.”
Di tengah jalan, Iwama berhenti. Pada semak rendah di tepi jalan, bunga-bunga merah muda pucat bermekaran dengan liar.
“Itu rhododendron!”
Tanpa perlu aku katakan, Iwama langsung mengidentifikasinya.
Rhododendron adalah semak yang terutama tumbuh di daerah pegunungan. Daunnya yang ramping dan mengilap tetap rimbun sepanjang tahun, dan sebagai kerabat azalea, ia mekar dengan indah dari musim semi hingga musim panas. Tanaman ini juga populer sebagai varietas hortikultura, sehingga bisa dijumpai di berbagai tempat tanpa perlu mendaki gunung. Fakta bahwa ia tumbuh di tempat dengan ketinggian rendah seperti ini kemungkinan karena ditanam oleh manusia.
“Hei, Deru-chan, menurutmu bagaimana soal bahasa bunga?”
Ditanya tiba-tiba, aku pun berpikir. Bahasa bunga. Aku tahu konsepnya, tapi belum pernah benar-benar mempelajarinya.
“......Sejujurnya, aku tidak terlalu tertarik.”
Iwama pun mengangguk.
“Aku juga awalnya berpikir begitu. Bahasa bunga itu kan tidak ilmiah, atau semacam itu.”
“K-Kalau begitu......sekarang berbeda, ya......?”
Kannabi ikut masuk ke dalam percakapan sambil terengah-engah.
Mungkin alasan Iwama berhenti di depan rhododendron adalah karena dia memikirkan kondisi fisik Kannabi.
Sampai menyadari Kannabi terengah-engah, aku sama sekali tidak menangkap kemungkinan itu.
Itu adalah kebaikan yang halus dan tidak mencolok.
“Misalnya, salah satu bahasa bunga rhododendron itu ‘kewaspadaan’......aku sempat bertanya-tanya kenapa bunga yang secantik ini punya makna begitu, ternyata karena ia mekar di pegunungan tinggi. Artinya, kalau mau memetiknya ada bahaya yang menyertai, jadi harus berhati-hati.”
“Begitu, ya......jadi maksudnya ‘bunga di puncak yang tinggi’, ya......”
Tln: "高嶺の花/takane no hana" secara harfiah ya bunga di puncak yang tinggi, tapi ini juga idiom yang artinya sesuatu yang tak bisa dijangkau
Kannabi berkata sambil menatap Iwama dari bawah.
Tolong istirahat saja tanpa berbicara.
Kalau bunga di puncak yang tinggi itu mekar di tempat seperti ini, tentu tak akan ada kesulitan apa pun.
Namun, aku bisa memahami alasan Iwama tertarik pada bahasa bunga.
“Ternyata bahasa bunga juga punya sisi menarik yang cukup berhubungan dengan pengetahuan ilmiah.”
“Iya. Makanya setiap melihat bunga, aku juga mencari tahu bahasa bunganya. Kalau memberi bunga yang dipetik sendiri pada orang lain, repot kan kalau ternyata maknanya aneh.”
Sambil berpikir bahwa mungkin hanya Iwama yang biasa menyiapkan bunga untuk orang lain bukan dari toko bunga, aku juga merasa dia memang benar.
Kalau bunga yang kita berikan karena terlihat indah ternyata memiliki makna “penderitaan turun-temurun”, tentu itu masalah besar.
Setelah napas Kannabi kembali teratur, kami melanjutkan pendakian, dan kurang dari lima menit kemudian kami tiba di pohon kamper besar.
Jalan gunung sepanjang itu berada di tempat teduh, dan bagian bawah pohon kamper besar pun tak terkecuali.
Aku sudah beberapa kali datang ke tempat ini.
Yang paling kuingat adalah saat pertama kali datang.
Kami sekeluarga berempat mengunjungi tempat ini ketika aku masih terlalu kecil untuk yakin apakah aku sudah benar-benar sadar atau belum.
Adikku yang usianya terpaut hampir dua tahun mungkin masih digendong oleh ayah.
Meski itu sudah lama sekali, kata-kata yang diucapkan ayah kepadaku masih kuingat dengan jelas.
—Kau suatu hari akan menjadi seperti ini, Shou.
Di dalam hutan yang remang-remang bahkan di siang hari, kesannya tak berubah dari dulu.
Sakral.
Usia seribu dua ratus tahun itu terasa masuk akal.
Batangnya begitu tebal, seolah-olah bisa menelan sebuah gubuk kecil.
Sosoknya menjulang ke langit seperti raksasa, dan cabang serta daunnya yang melebar bagaikan atap kubah.
Lubang besar di bagian bawah batangnya, yang bahkan diberi gerbang torii, tampak seperti pintu masuk sebuah gua.
Tanpa kata-kata, kami terdiam beberapa saat, tertekan oleh kehadirannya.
Akhirnya, aku menurunkan pandanganku ke papan keterangan.
Pohon Kamper Besar Hachiman
Monumen Alam yang Ditetapkan oleh Prefektur
Usia pohon: sekitar 1.200 tahun
Lingkar batang: 15,5 meter
Tinggi pohon: 26 meter
Lingkar batang 15,5 meter berarti besarnya setara dengan sepuluh orang dewasa yang saling bergandengan tangan untuk mengelilinginya.
Meski cabangnya membentang luas, tingginya pun hampir menyaingi Cedar Menteri Kanan yang menjulang seperti menara.
Tak diragukan lagi, ini pasti pohon terbesar di kawasan ini.
"Satu pohon saja bisa tumbuh sebesar ini, ya......"
Iwama yang sejak tadi menatap hampir lurus ke atas, perlahan menurunkan kepalanya di sampingku.
Mungkin lehernya pegal, sambil memijat bahunya dia tiba-tiba tersadar lalu menunjuk sesuatu.
"Hei, lihat altar kecil ini"
Kami bertiga mendekati sisi pohon kamper itu.
Di sana, sebuah altar batu berdiri sunyi.
Dipenuhi lumut, sebagian runtuh, memberi kesan sangat tua.
Ini pasti altar yang tergambar di samping pohon raksasa dalam lukisan tentang serangan tengu itu.
"Yang digambarkan di sana sepertinya memang pohon kamper ini"
"Dari usia ginkgo yang disembunyikan, sampai bisa mencapai kebenaran seperti ini......"
Napas Kannabi masih terdengar agak terengah-engah.
Sudah kuduga.
Namun, aku setuju dengan apa yang dia katakan.
Dari keganjilan kecil yang mungkin akan kulewatkan begitu saja, kami justru berhasil menyingkap kebenaran legenda yang berubah selama delapan ratus tahun──
Kami terdiam sejenak, menatap sosok pohon raksasa itu.
Saat angin bertiup, cabang-cabang di ketinggian bergemerisik, dan daun merah kecokelatan yang mengilap berjatuhan satu per satu.
Salah satu daun itu menampar wajah Kannabi.
"Ubeh!"
Setelah bereaksi aneh, Kannabi memungut daun yang masih menempel di wajahnya.
"Rontok daun, di musim ini......?"
Saat melihat ke bawah, tanah di sekeliling kami dipenuhi daun kamper yang gugur.
"Pohon kamper adalah pohon berdaun lebar hijau abadi. Karena tetap berfotosintesis di musim dingin, daunnya ada sepanjang tahun, dan saat musim semi ia menumbuhkan tunas baru sambil menjatuhkan daun lama. Jadi, sekarang memang masa gugurnya daun."
"Heeh. Aku tidak tahu. Menjatuhkan daun justru saat musim bunga, apa ia pembangkang ya?"
"Mungkin."
Seolah menanggapi, angin kembali berembus dan daun-daun kering pun menari jatuh.
Pohon kamper yang tampak kesepian di kedalaman hutan saat musim semi sangat kontras dengan sakura yang menebar badai bunga di bukit belakang sekolah.
"Tapi......justru karena itu pohon kamper kuat. Membuang daun tua di musim semi saat tunas baru muncul adalah strategi untuk mengoptimalkan fotosintesis. Karena tetap berdaun di musim dingin, ia tidak kalah bersaing di hutan yang gelap. Ia tumbuh perlahan di tempat yang tak mencolok, dan pada akhirnya menjadi pohon raksasa seperti ini."
Ada konsep yang disebut pohon penyuka matahari dan pohon penyuka teduh.
Pohon penyuka matahari adalah pohon yang hanya bisa tumbuh di tempat terang.
Banyak pohon gugur seperti sakura dan ginkgo termasuk dalam kelompok ini.
Mereka tumbuh cepat dengan menyerap banyak sinar matahari, merebut hak cahaya lebih dulu.
Sebaliknya, pohon penyuka teduh adalah pohon yang dapat tumbuh di tempat teduh.
Banyak pohon hijau abadi seperti kamper termasuk dalam kelompok ini.
Mereka tumbuh perlahan di hutan gelap dan mencapai kematangan di usia senja.
Tentu saja, bukan berarti salah satunya lebih unggul.
Yang berbeda hanyalah strategi bertahan hidupnya.
Karena itulah, pada pohon kamper yang disingkirkan oleh legenda itu, aku merasa harus mengatakan sesuatu.
"......Kaum yang hidup di bayangan pun punya strategi bertahan hidupnya sendiri"
Apakah itu terdengar seperti alasan belaka.
Apakah Iwama menyadari mengapa aku mengatakan hal seperti itu.
Jelas sekali, itu ucapan yang tak perlu.
Pembelaan diri yang jelek, diproyeksikan pada tumbuhan, yang sebenarnya tak perlu diucapkan.
Namun, membela diri dengan canggung di hadapan sakura yang terlampau menyilaukan ini pun mungkin memang cara hidup yang sangat khas bagi mereka yang hidup di bayangan.
"Aku jadi kagum."
Iwama bergumam pelan.
Suaranya nyaris seperti desahan yang tak sengaja terlepas.
Sambil menatap daun-daun yang berjatuhan, Iwama perlahan membuka mulut.
"Berjuang diam-diam di tengah gunung seperti ini lalu menjadi penguasa hutan──memang dunia cenderung memuja sakura di tempat terkenal, tapi aku justru lebih menyukai pohon yang membentangkan cabangnya di dalam hutan seperti ini."
Setelah menarik napas dalam-dalam dengan ekspresi lega, ia menambahkan.
"......Entah kenapa, rasanya seperti tidak sedang berbohong pada diri sendiri."

Post a Comment for "Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 3.3"