Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 2.5
Bab 2 - Sebuah Persamaan Yang Terlalu Indah
Kami berdua—dua orang laki-laki—datang ke kafe bergaya ini tentu karena kupon gratis, tapi lebih dari itu karena kami ingin berdiskusi di tempat yang tenang.
“Jadi, ada klub yang lolos seleksi kacamata Tuan Delta?”
“Hentikan cara ngomong itu. Memang sih aku pakai kacamata.”
Sambil minum kopi, aku berpikir.
“......Dari tiga yang kita lihat hari ini, menurutku klub biologi yang paling bagus.”
Begitu aku mengatakannya, Mizusaki pun mengangguk dengan ekspresi lega.
“Sependapat. Merawat makhluk hidup memang kelihatannya repot, tapi kalau bisa meneliti dengan tenang, itu nggak buruk......Lagipula Delta itu paham soal tanaman. Aku sendiri juga sangat terbuka untuk mencoba hal baru.”
“Ngomong-ngomong, menurutmu bagaimana klub kimia? Hobimu kan lebih ke kimia daripada biologi.”
“Hm......”
Mizusaki menyilangkan lengannya dan mengerang pelan.
“Tidak buruk sih. Peralatannya kelihatan lengkap, kunjungan ke pabrik atau gua kapur juga tampaknya cukup seru, dan Hongō-senpai itu imut banget.”
“Jadi tipemu yang begitu, ya.”
“Ya begitulah. Aku kan dasarnya orang yang negatif. Jadi kupikir, orang yang ceria seperti itu juga bagus.”
Aku sama sekali tidak menganggap Mizusaki itu orang yang negatif, tapi inti pembahasannya bukan di situ.
“Tapi tetap saja......bagaimana ya, rasanya anggotanya kebanyakan, dan suasananya tidak cocok buatku.”
“Aku juga setuju.”
Kami memang mengaburkannya dengan kata “suasana”, tapi sebenarnya ada banyak hal kecil yang menusuk perasaan kami dan membuat tidak nyaman.
Ketua klub yang memamerkan sulap membuat teh barley menjadi bening, menyuruh kami menebak triknya, padahal dia sama sekali tidak mengira kami bisa menjawab dengan benar.
Brosur asal-asalan yang diberikan sambil berkata, “Isinya bagus, coba dibaca.”
Dan sikap asal-asalan sampai hampir lupa menjelaskan kegiatan klub kepada kami yang datang karena tertarik pada kimia.
Untukku yang sudah menaruh harapan karena ini klub kimia SMA Tsunagai, jujur saja itu mengecewakan.
Saking kesalnya, aku sampai ingin mereka bilang saja kalau memang sengaja ingin menjauhkan kami.
Ya, sengaja──
Tiba-tiba ada sesuatu dalam pikiranku sendiri yang terasa mengganjal.
Sengaja?
Seketika, sebuah hipotesis mulai terbentuk dengan jelas.
Saat kuingat kembali, aku merasa potongan-potongan itu saling terpasang dengan sempurna.
Oh, begitu—dengan hipotesis ini, semua kejanggalan bisa dijelaskan.
“......Mizusaki, boleh aku bilang sesuatu yang gila?”
“Ah tentu saja. Pernyataan gilamu itu selalu aku sambut dengan senang hati, Delta.”
Aku menata ulang pikiranku sekali lagi, lalu berkata.
“Bagaimana kalau urusan klub fisika dan klub kimia itu, semuanya sudah diatur sejak awal?”
Mikage-senpai mengajak kami yang jelas-jelas tidak akan masuk klub fisika—itu disengaja.
Hongō-senpai memperlakukan kami yang tertarik pada klub kimia dengan asal-asalan—itu juga disengaja.
Bukankah itu semua dilakukan demi mencapai satu tujuan tersembunyi tertentu?
“Coba pikirkan. Kalau hanya kau dan aku, kita pasti tidak akan terpikir mengunjungi klub biologi yang sepi begitu. Klub fisika hanyalah alasan. Mikage sebenarnya ingin membawa kita melihat-lihat klub biologi. Dan karena akan merepotkan kalau kita masuk klub kimia, Hongō-senpai bersikap sedemikian rupa agar kita merasa tidak nyaman.”
Mizusaki terdiam beberapa saat sambil menahan puding di dalam mulutnya, seolah sedang berpikir.
Setelah menelannya, ia berkata.
“Yah, tapi......Memang sih, kalau begitu semua kejanggalan jadi masuk akal. Tapi kenapa ketua klub fisika dan ketua klub kimia sampai sejauh itu demi klub biologi yang hampir mati begitu?”
“Justru karena hampir mati. Kalau tahun ini tidak ada anggota baru, klub biologi akan dibubarkan.”
“Tapi itu kan bukan urusan klub fisika atau kimia......?”
“Ada petunjuk soal itu. Gantungan kuncinya. Kamu lihat, kan, yang dari cloisonné itu.”
“Oh, yang katanya milik ‘best couple’, yang berpasangan itu. i dan π, kan.”
Jadi kamu juga mengira begitu. Tapi bagaimana kalau itu salah?
“Bagaimana kalau itu bukan sepasang, tapi satu set berisi tiga?”
“Hah? Kenapa?”
Aku mengambil selembar serbet kertas dan menuliskan sebuah persamaan di atasnya dengan bolpoin.
“Ini. Persamaan Euler. Rumus yang sempat disinggung Mikage-senpai juga.”
Jika dituliskan, hasilnya sederhana. Mikage bilang itu terkenal, dan Mikage-senpai bahkan menyebutnya indah. Memang, bahwa sebuah persamaan yang hanya terdiri dari tiga simbol bisa menghasilkan nilai sesederhana ini adalah sesuatu yang patut dicatat.
“Apa ini? Aku tidak mengerti artinya.”
“Aku juga tidak tahu makna pastinya. Tapi ini tertulis di majalah matematika yang dibaca Mikage. Waktu pulang tadi, Mikage sempat menjelaskannya, kan. Tentang basis logaritma natural dipangkatkan dengan hasil kali satuan imajiner dan pi, dan seterusnya itu.”
“Oh iya, sekarang aku ingat, dia memang bilang sesuatu.”
“Itu saling berhubungan. Persamaan ini dan gantungan cloisonné itu.”
Di atas serbet kertas, di sisi kiri tanda sama dengan, ada tiga simbol. π dan i—dan satu lagi.
“Kalau membandingkan cloisonné itu dengan persamaan ini......π milik Hongō-senpai adalah konstanta pi. i yang punya Mikage-senpai adalah satuan imajiner. Lalu muncul pertanyaan: di mana yang tersisa, basis logaritma natural e, berada?”
Aku tidak pandai matematika dan juga tidak menyukainya, tapi karena itu konsep yang diperlukan untuk membaca makalah ekologi, aku pernah mempelajarinya dengan setengah terpaksa.
Basis e itu adalah konstanta yang juga disebut bilangan Napier, sebuah bilangan irasional khusus dengan sifat-sifat yang memudahkan dalam menangani eksponen dan logaritma.
“Dan kamu bilang itu dimiliki orang dari klub biologi?”
“Begitulah. Kalau tiga orang itu cukup akrab sampai membuat gantungan kunci yang serasi, masuk akal kalau mereka ingin membantu klub biologi.”
“Kalau begitu memang masuk akal, tapi......Itu tetap cuma asumsi, kan? Lagipula kita bahkan belum pernah bertemu orang dari klub biologi.”
Setelah berkata sejauh itu, Mizusaki tiba-tiba membelalakkan mata.
“Tunggu dulu, Delta. Aku pernah lihat gantungan e itu.”
Mizusaki sangat pandai mengingat hal-hal yang pernah ia lihat.
Dengan wajah bersemangat, ia mengutak-atik ponselnya, lalu—
“Ketemu!”
Ia berseru keras, lalu menurunkan suaranya karena sadar dengan sekitar.
“Lihat ini! Foto ini!”
Di layar ponsel Mizusaki terpampang foto kelompok para anggota yang kami lihat di ruang biologi.
Itu adalah foto yang ditampilkan paling atas di halaman pengenalan klub.
Ngomong-ngomong, Tokumura-sensei pernah bilang bahwa foto-foto album juga diunggah ke situs web.
“Orang ini, kan, ketua klub sekarang, Karato.”
Mizusaki memperbesar gambar seorang siswi berkacamata dengan rambut acak-acakan.
Dari sakunya—
“Itu e.”
Aku hampir saja ikut berseru keras tanpa sadar.
Yang menggantung santai dari saku itu adalah gantungan cloisonné berlatar hitam dengan huruf “e” hijau pucat.
“Heh, kerja bagus. Jadi mereka memang bertiga sahabat dekat, ya.”
Mizusaki bersandar kembali dengan ekspresi puas.
Tiga simbol yang muncul dalam persamaan Euler.
Mereka menjadikannya motif gantungan buatan tangan, dan mengenakannya dengan penuh perhatian.
Ketua klub fisika Mikage-senpai, ketua klub kimia Hongō-senpai, dan ketua klub biologi Karato-senpai—mudah dibayangkan bahwa hubungan ketiganya bukanlah hubungan biasa.
Dan aku juga telah mendengar sebuah pernyataan lain yang menjadi bukti tambahan.
"Faktanya, ada juga ucapan yang menunjukkan bahwa ajakan terhadap kita memang didasarkan pada hubungan ketiga orang itu. Mizusaki, kau ingat tidak, apa yang dikatakan Mikage-senpai?"
Aku pun mengucapkan kembali kata-kata itu.
—Aya-chan, terima kasih atas kerja “plus one”-nya hari ini.
"Menurutmu apa maksudnya?"
"Umm, entahlah, mungkin seperti, ‘terima kasih sudah bekerja ekstra’?"
"Biasanya, kalau mendengar ‘plus one’, orang memang akan berpikir begitu. Tapi ternyata, dalam persamaan Euler, ada juga bentuk penulisan lain yang sedikit dimodifikasi."
Aku menambahkan bentuk persamaan yang telah diubah di bawah rumus yang tertulis di tisu kertas.
"Di majalah yang dibaca Mikage, persamaan ini disorot, dan bagian plus satu-nya dilingkari. Mungkin saja, sambil rapat strategi antar kakak-adik, ada percakapan seperti, ‘kalau begitu Aya-chan adalah angka satu ini’. Saat Mikage-senpai mengucapkan ‘plus one’, itu bisa diartikan bahwa Mikage berada di posisi membantu tiga kakak kelas tersebut."
"Begitu ya, masuk akal."
Mizusaki meneguk kopinya dengan wajah serius, lalu melanjutkan.
"Kita diajak Mikage dengan dalih klub fisika dan datang ke acara penyambutan anggota baru. Lalu, tanpa terasa, kita jadi mengunjungi klub biologi yang seharusnya kita lewati begitu saja. Klub kimia yang tadinya jadi kandidat ditolak dengan sopan. Artinya, kita diarahkan secara halus supaya berpikir bahwa bergabung dengan klub biologi adalah pilihan terbaik."
"Memang masih banyak dugaan di dalamnya. Kalau ingin merekrut anggota untuk klub biologi, kenapa Karato-senpai sendiri tidak ada di sana, itu juga masih jadi pertanyaan. Maksud sebenarnya kenapa kita dipanggil pun, tanpa mendengarnya langsung dari Mikage sendiri—"
Saat sampai di situ, aku menyadari satu kejanggalan lagi.
Apakah semua ini benar-benar terjadi secara kebetulan hari ini? Tidak—
Saat itu, mataku menangkap papan nama pelayan perempuan yang lewat di dekat meja kami, dan meski pikiranku belum rapi, aku memutuskan untuk bertindak dulu.
"Mizusaki, bolehkah aku pindah sebentar ke kursi di sebelahmu?"
Aku menunjuk kursi sofa di sebelah Mizusaki.
"Eh? Ah, ya, tidak apa-apa sih."
"Aku pindahkan barang-barangnya ke sini."
"Terserah."
Aku memindahkan tas Mizusaki ke sisiku dan meletakkannya di samping tasku. Lalu aku duduk di kursi di sebelahnya yang kini kosong.
"Hehe, entah kenapa jadi malu. Rasanya seperti pasangan kekasih."
"......Matahari terbenamnya indah sekali."
"Hati Delta jauh lebih indah."
Setelah bercanda seperti sebuah ritual, aku kembali ke tempat dudukku seolah tidak terjadi apa-apa. Barang-barang Mizusaki tetap dibiarkan di sofa sisi sini.
"Jadi, yang barusan itu apa maksudnya?"
Aku menjawab pertanyaan Mizusaki dengan senyum tanpa kata. Kalau dugaanku salah, itu akan memalukan, jadi untuk saat ini aku memilih tidak mengatakannya.
Lagipula, aku juga belum tahu alasan di balik semua ini.
Sambil menatap matahari yang perlahan tenggelam, aku menyendok sisa pudingku.
Bel pintu berbunyi dan Mikage Aya masuk ke dalam kafe tepat saat aku selesai menghabiskan pudingku.
"Kebetulan yang menarik. Boleh duduk di sini?"
Sambil mengatakan hal yang begitu dibuat-buat, Mikage duduk di sebelah Mizusaki. Dia tidak duduk di sebelahku karena di sana ada dua set barang yang diletakkan bersama. Sebaliknya, di sisi Mizusaki, ada ruang kosong yang tadi sengaja disiapkan untukku.
Karena seorang siswi seangkatan duduk tepat di sebelahnya, Mizusaki tampak malu dan sedikit mengangkat bahunya.
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Tanpa sadar aku tersenyum. Kurasa itu senyum yang cukup jahat.
"Oi, Delta, kenapa—jangan-jangan kamu pindah duduk tadi memang untuk ini?"
Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Kalau harus dibilang, anggap saja ini balasan kecil untuk kejadian waktu Sakura dulu.
Setelah café latte pesanan Mikage tiba, barulah aku masuk ke inti pembicaraan.
"......Ada sesuatu yang harus kami tanyakan padamu, Mikage-san."
"Aku juga merasa, sepertinya memang akan ditanya sesuatu."
Di situ kami pun menceritakan kepada Mikage isi pemikiran yang kami simpulkan dari percakapan tadi.
Keanehan yang kami rasakan di klub kimia dan klub fisika.
Tentang gantungan cloisonné dan persamaan Euler.
Hipotesis bahwa tindakan Mikage sebenarnya bertujuan mengarahkan kami ke klub biologi.
Setelah semuanya selesai kami sampaikan, Mikage perlahan—dan dalam-dalam—menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku."
Mizusaki tampak panik.
"T-Tunggu, Mikage-san, tidak perlu sampai menunduk begitu......"
"Tidak. Ini memang sesuatu yang harus aku minta maaf dengan sungguh-sungguh. Hipotesis kalian berdua benar."
Saat mengangkat kepalanya, Mikage mengeluarkan majalah matematika itu dari tasnya.
"Kalian menyadarinya setelah melihat ini, bukan?"
"......Iya."
"Hebat sekali, Delta-kun. Majalah ini hadiah dari senpai. Aku menerimanya saat mendengar rencana itu."
Dia menyebutnya samar-samar sebagai “senpai”, tapi itu hampir pasti kakaknya sendiri—Mikage-senpai yang membelikan onigiri untuk Mikage Aya. Mungkin ini strategi supaya tidak salah memanggilnya “oniichan” di sekolah, jadi sengaja menggunakan sebutan formal.
Jari-jarinya yang panjang dan ramping membuka halaman tempat persamaan Euler disorot.
"Katanya, persamaan ini diberi tanda. Seperti angka satu yang ditambahkan di sisi kiri, rencana itu akan lengkap jika aku ikut terlibat—begitu kata kakakku, dan mau tak mau aku memutuskan menjadi bagian dari rencana tersebut."
Karena itu adalah permintaan dari kakak yang dia cintai, dia pasti tak sanggup menolaknya. Aku sedikit merasa iba.
"Demi Karato-senpai yang benar-benar kehilangan semangat, kami mencoba mengarahkan kalian berdua ke klub biologi. Kami ingin kalian melihat klub biologi itu sendiri. Aku sungguh minta maaf karena melakukan sesuatu yang pada dasarnya sama saja dengan berbohong."
Sisa terakhir cahaya matahari senja menerangi profil wajah Mikage.
Melihatnya menundukkan kepala, aku berpikir bagaimana harus mengungkapkan perasaanku ini dengan kata-kata.
"Ah, itu tidak sampai bisa disebut kebohongan, kok. Tapi......kalau memang ingin kami masuk klub biologi, bukankah akan lebih baik kalau sejak awal bilang jujur?"
Mendengar ucapanku, Mikage mengangkat wajahnya dan menatapku lurus.
"Karena klub biologi tidak populer dan hampir bubar, kami ingin kalian mempertimbangkan untuk bergabung—begitu?"
Setelah dia mengatakannya begitu, aku memang merasa, benar juga.
Kalau sampai mengatakan hal seperti menyuruh kami menarik undian sial, bisa saja perasaan kami justru menjauh.
Bahkan, pasti sudah menjauh.
Mengajak kami ke klub yang hampir runtuh pasti terasa tidak sopan; “klub biologi? Tidak, terima kasih”; kami akan memilih mencari klub yang lebih pantas bagi diri kami sendiri—aku dan Mizusaki memang tipe orang yang akan berpikir seperti itu.
Jadi berpura-pura merekrut ke klub fisika sambil diam-diam memperlihatkan klub biologi juga bukanlah pemikiran yang sepenuhnya tak bisa dimengerti.
Meski begitu, ini benar-benar seperti surat cinta yang sangat bertele-tele.
"Tapi ya......justru aku sedikit senang, sih."
Mizusaki berkata dengan lembut.
"Rasanya sih, kami benar-benar bisa merasakan keseriusannya. Kalau sampai sejauh itu mereka ingin kami masuk klub biologi, entah kenapa aku jadi berpikir, mungkin tidak apa-apa kalau kami masuk."
Mikage menggelengkan kepalanya perlahan.
"Jangan memikirkan aku. Aku sangat menyesal telah melakukan rencana seperti ini. Aku ingin kalian tetap masuk ke klub yang benar-benar kalian inginkan."
Beberapa saat keheningan berlalu. Aku meneguk sisa terakhir kopiku.
Setelah meletakkan cangkir, aku bertatapan mata dengan Mizusaki. Sepertinya kami memikirkan hal yang sama.
"Aku akan masuk klub biologi."
"Iya. Sudah diputuskan."
Aku menoleh ke arah Mikage yang mengatupkan bibirnya erat.
"Ini bukan karena kami berbaik hati padamu, Mikage-san. Kami sendiri yang ingin melakukannya, dan ini keputusan yang kami ambil secara sadar."
"......Syukurlah."
Dengan senyum lega seolah tenaganya terlepas, Mikage menenggak café latte yang tampak masih panas itu tanpa ragu.
Setelah berpisah dengan Mikage yang pulangnya ke arah berlawanan, kami pun berjalan pulang. Meski sudah musim semi, angin malam yang bertiup dari laut masih terasa dingin. Pepohonan gelap bergoyang berisik.
Aku masih terus memikirkan, dalam diam, makna di balik tindakan pelayan kafe itu.
Tampaknya kejadian itu juga meninggalkan rasa janggal di benak Mizusaki.
"Hei, Delta, soal tempat duduk itu—bagaimana caranya kau bisa memprediksi?"
Ia menanyakannya. Yang ia maksud adalah soal bagaimana Mikage akhirnya duduk di sebelah Mizusaki.
Sebagai antisipasi, aku memang memindahkan tas Mizusaki ke sebelahku dengan mempertimbangkan kemungkinan Mikage datang.
Untuk membalas dendam kecil—dengan membuat Mizusaki duduk bersebelahan dengan seorang gadis, sebagai balasan atas kejadian waktu Sakura.
"Bukankah kau sendiri yang menyadarinya, Mizusaki? Biasanya kita selalu diarahkan ke meja dua orang, tapi hari ini entah kenapa meja empat orang. Saat memikirkan alasannya, aku sempat berpikir, mungkin saja......"
"Mungkin saja apa?"
"Kalau memang ada alasan kenapa pelayan yang biasanya mengantar ke meja dua orang malah mengantar kami ke meja empat orang, salah satu kemungkinannya adalah mereka sudah mengantisipasi keberadaan satu orang lagi."
"Satu orang lagi—apa maksudnya pelayan itu bisa melihat orang ketiga!?"
"Bukan begitu, maksudnya dia mempertimbangkan kemungkinan ada satu orang lagi yang akan bergabung belakangan."
Ada jeda sejenak untuk berpikir.
"Tapi tetap saja aneh, kan. Kita sama sekali tidak bilang Mikage-san akan datang belakangan, bahkan aku sendiri tidak membayangkannya."
"Di name tag pelayan perempuan itu tertulis ‘MIKAGE’."
"Hah......?"
"Orang itu pasti kerabat Mikage atau Mikage-senpai. Mungkin dia mendapat kabar dari salah satu dari mereka bahwa akan ada satu orang lagi datang setelah kami."
"Tunggu dulu, itu terlalu......lagipula, bagaimana Mikage-san tahu kami akan pergi ke Sansetsuto—"
Mizusaki terdiam di tengah kalimatnya.
"Benar. Kita datang ke Sansetsuto karena mendapat kupon kopi gratis yang berlaku sampai hari ini dari Mikage-senpai. Wajar saja kalau dia bisa menebak kita akan datang hari ini."
"Tapi bagaimana pelayannya bisa mengenali kita? Kita tidak memperkenalkan diri saat masuk."
"Kita difoto, kan. Saat eksperimen dilatansi."
"Ah......"
Hari ini Mikage-senpai memang mengambil foto kami berdua. Ia bisa saja mengirimkannya ke pelayan sambil berkata, “Kalau dua anak ini datang, Aya-chan juga akan bergabung, jadi tolong arahkan ke meja empat orang.”
Langit sudah sepenuhnya gelap. Jalan pulang diterangi lampu jalan putih yang berjajar.
"Secara logika aku paham itu mungkin, tapi......kenapa mereka sampai melakukan hal seperti itu?"
"Benar. Masalahnya adalah, kenapa mereka melakukannya."
Aku terus memikirkannya. Fakta bahwa pelayan bernama Mikage mengarahkan kami ke meja empat orang sebagai persiapan kedatangan Mikage Aya bisa dengan mudah disimpulkan. Namun motif di balik semua itu masih gelap.
Apa sebenarnya yang ingin dicapai dengan membuat Mikage minum kopi bersama kami?
Rasanya seperti meraba-raba jalan menembus semak gelap.
Tergantung pada jawabannya, kejadian hari ini bisa saja terbalik sepenuhnya.
Setelah berjalan sambil merapikan pikiran, aku mengutarakan satu teori.
"Teka-teki hari ini terlalu rapi, ya?"
"Maksudmu?"
Aku mengangkat jari telunjuk.
"Apa kau tidak merasa petunjuknya terlalu lengkap dan pas? Gantungan para senpai—apa itu kebetulan semuanya ditunjukkan sedemikian rupa agar kita menyadarinya?"
Aku menghitung poin kedua dengan jariku.
"Selain itu, majalah matematika dengan persamaan yang menyiratkan keberadaan ‘satu lagi’ juga begitu. Karena Mikage-senpai menempelkan alat pijat listrik ke Mikage, majalah itu terlempar tepat ke hadapanku. Di sana tercetak persamaan yang pas menjadi petunjuk, dan hanya bagian itu yang sengaja disorot. Apa hal seperti itu bisa terjadi kebetulan?"
Petunjuk-petunjuk itu memang disajikan—seperti obat kumur dan vitamin C yang diletakkan begitu saja di atas meja.
"Hei, jadi bahkan sandiwara konyol itu juga sudah diatur?"
"Dan yang ketiga, yang paling penting, adalah keberadaan seseorang yang menjamin pemecahan teka-teki kita. Tanpa ada yang membenarkan, semua itu hanyalah dugaan dan khayalan kita. Tapi saat Mikage datang ke Sansetsuto dan mengakuinya, kita bisa yakin bahwa itu memang kenyataan."
Dan kemudian—
"Itulah sebabnya kita akhirnya menerima perasaan para senpai dan memutuskan masuk klub biologi."
Sambil menatap tiga jari yang kuangkat, Mizusaki terdiam tak bisa berkata-kata.
"Bahkan kesempatan bagi Mikage untuk mengakui rencananya pun mungkin telah dipersiapkan secara cermat melalui kupon gratis, pelayan, dan meja empat orang. Artinya, semua informasi yang kita butuhkan untuk meyakini adanya rekayasa perekrutan klub sudah disediakan dengan lengkap. Teka-teki ini terlalu indah."
"Jadi yang sudah diatur itu bukan hanya sampai kami keluar sekolah......tapi sampai kita memecahkan teka-teki di Sansetsuto dan mencocokkan jawabannya bersama Mikage-san?"
"Bukan tidak mungkin berpikir seperti itu. Ini memang masih sebatas dugaan, tapi ada kemungkinan bahwa semuanya—dari kita menalar, menemukan kebenaran, Mikage mengaku, sampai kita berpikir ‘kalau sudah sejauh ini, kita akan masuk klub biologi’—semuanya telah diperhitungkan."
"Tidak mungkin......itu sudah keterlaluan. Terlalu menyeramkan. Kau kebanyakan mikir, Delta."
"......Mungkin benar."
Aku ingin percaya begitu.
Karena kalau ada manusia yang bisa menghitung sampai ke isi hati orang lain, dia pasti bukan manusia biasa—melainkan monster.
Akhir Bab 2

Post a Comment for "Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 2.5"