Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 2.4


Bab 2 - Sebuah Persamaan Yang Terlalu Indah




Setelah keluar dari ruang biologi, kami terdiam cukup lama.


Klub kimia yang terlalu ramai, dan klub biologi yang nyaris punah. Karena tidak mungkin memaksa siswa untuk ikut klub, wajar jika klub yang populer berkembang sementara yang tidak diminati menghilang. Meski begitu, aku tetap tak bisa menahan rasa pedih.


“Waktu hampir habis, tapi mau mampir juga ke klub fisika?”


Janji tetaplah janji. Kami mengangguk menanggapi kata-kata Mikage.


Ruang fisika tempat klub fisika mengadakan penyambutan anggota baru katanya berada di lantai tiga. Saat kami menaiki tangga, mungkin menyadari ekspresi kami yang kurang bersemangat, Mikage tersenyum seolah menenangkan.


“Tenang saja. Tidak seperti perempuan itu, kakakku yang membelikan onigiri itu orangnya sangat baik.”


Kakak Mikage yang membelikan onigiri itu katanya adalah ketua klub fisika. Menurut Mikage, ia juga ketua OSIS, peringkat dua seangkatan, sangat atletis, baik hati, suka matematika, dan pria paling tampan di dunia.


Namun, kekhawatiran kami bukan soal itu.


Begitu aku membuka pintu ruang fisika, kekhawatiran itu langsung masuk ke dalam pandanganku.


Sosok yang menjadi kekhawatiran itu pun menyadari keberadaanku dan menyeringai dengan senyum menyebalkan.


“Yo, pecundang menyedihkan.”

Tln: di teks aslinya itu "負け犬/make inu" yang kalo secara harfiah artinya anjing yang kalah(?), tapi kalo aku liat di kamus itu ada pecundang yang sedih; anjing yang kalah dalam pertarungan (dengan ekor di antara kedua kakinya); wanita lajang (tanpa anak) di atas usia 30 tahun, jadi kurasa yang paling cocok pecundang menyedihkan


Yang menyapaku adalah Tomare, alumni SMP yang sama. Bertubuh tinggi dan berotot, dengan wajah tajam yang rapi. Rambut panjangnya dicat cokelat terang, jauh lebih terang dari rambut Mizusaki. Penampilannya seperti seorang berandalan.


Dia memanggilku pecundang hanya karena pada ujian sekolah terakhir di SMP, dia menang dariku dengan selisih tiga poin saja. Aku muak dengan keburukannya yang terus mengungkit hasil lama itu, tapi karena memang aku kalah, aku tak bisa membantah.


“Ada apa, Delta? Anak-anak lemah angka seperti kalian mau apa di ruang fisika?”


“Lemah angka” berarti lemah dalam matematika. Ia hanya besar kepala karena sedikit jago berhitung.


Klub fisika memang tidak seramai klub kimia, tapi tetap ramai. Meski begitu, Tomare berdiri tepat di dekat pintu masuk, menyilangkan tangan seolah hendak menghalangi Mizusaki dan aku.


Hubungan kami benar-benar buruk—benar-benar seperti anjing dan monyet. Karena sudah jelas Tomare akan masuk klub fisika, Mizusaki dan aku sebenarnya ingin menjauhinya. Aku dan ia berada di klub yang sama lebih mustahil daripada anjing dan monyet berhasil kawin silang.


“Tidak apa-apa. Tomare-kun, mereka berdua aku yang mengundang!”


Aku terselamatkan oleh suara yang datang dari seberang kelas.


Yang menghampiri kami adalah seorang senior yang terlihat ramah. Rambut hitamnya pendek dan berdiri rapi, memberi kesan pemuda atletis yang segar. Sepertinya sering tersenyum, hingga kerutan tampak di sudut matanya. Sama seperti saat bertemu Hongo-senpai, ada rasa seperti pernah melihatnya di suatu tempat.


Saat sampai di dekat kami, senior itu dengan sangat alami mengelus kepala Mikage.


“Aya-chan, terima kasih atas tugas plus one hari ini. Kalian bertiga, ke sini.”


Sambil dielus kepalanya, Mikage menampilkan senyum paling kaya ekspresi yang pernah kulihat—senyum seperti kucing.


“Jadi memang seperti itu ya......”


Gumaman Mizusaki itu tidak sampai ke telinga mereka, dan kami pun berpindah ke kursi dekat jendela.


“Mikage Akifumi. Panggil saja aku Aki dengan santai.”


Ketua klub fisika sekaligus kakak Mikage Aya yang membelikan onigiri itu memperkenalkan dirinya dengan santai.


Kami duduk dengan perasaan agak canggung dan memperkenalkan diri dengan suara lirih, lalu ia tersenyum lembut ke arah kami.


“Kalian tidak terlalu tertarik pada fisika, kan? Aku sudah dengar dari Tomare-kun.”


Jadi sudah ketahuan rupanya. Mizusaki menggaruk kepalanya dengan wajah meminta maaf.


“Bukan tidak tertarik sih, lebih ke agak kurang bisa......kami lebih ke kimia atau biologi.”


“Tidak apa-apa. Tidak perlu dipikirkan. Baik fisika maupun matematika, selama tahu cara menggunakannya sebagai alat, itu sudah cukup sebagai pengetahuan umum. Tidak semua manusia perlu memahami keindahan persamaan Euler.”


Sebagai ketua klub fisika, ketua OSIS, peringkat dua seangkatan, dan kakak Mikage Aya, aku sempat membayangkan sosok luar biasa yang mengintimidasi—ternyata ia orang yang sangat baik.


“Mungkin kalian sudah mendengar berbagai cerita dari Tomare dan kawan-kawan, tapi jangan terlalu dipikirkan. Mereka memang suka sekali menjelek-jelekkan kami.”


Sambil berkata begitu, aku melirik ke arah pintu masuk. Terlihat Tomare bersama dua orang yang biasa bersamanya, menatap ke arah kami sambil tertawa licik dan saling melontarkan lelucon.


“Tentu saja. Aku rasa aku sudah cukup tahu hubungan kalian sebelumnya.”


“......Sebelumnya?”


Mizusaki bertanya balik. Wajar saja, karena ini jelas pertemuan pertama kami dengan Mikage-senpai.


“Aku mengenal Tomare-kun sejak festival budaya tahun lalu dan sejak itu kami berteman di LINE. Ia penyuka fisika, dan di SMP Tsunagai ia adalah bakat unggul yang bersaing di puncak denganmu, Delta-kun. Tak mungkin aku tidak merekrutnya ke klub kami. Aku sudah mengincarnya sejak tahun lalu. Dari ia aku juga mendengar berbagai rumor tentang kalian, jadi aku mengundang kalian ke penyambutan ini.”


Mengincar anggota sejak sejauh itu, berarti Mikage-senpai benar-benar serius.


Namun......setelah mendengar ceritanya, aku merasa ada rasa pahit memenuhi mulutku.


“Aku tidak pernah bersaing dengan Tomare. Ia saja yang selalu mencari gara-gara.”


“Sudahlah, jangan bilang begitu. Aku tahu sebenarnya kalian akrab.”


Saat aku ragu mencari kata untuk membantah, Mikage-senpai mengedipkan mata dan berbisik.


“Ngomong-ngomong, untuk nilai ujian masuk, di antara siswa sains dari dalam prefektur, Delta-kun seharusnya peringkat satu. Banggalah. Tomare-kun juga hampir saja, sih.”


Artinya, pada ujian terakhir aku menang atas Tomare—aku hampir merasa lega, lalu tersadar.


“......Bagaimana mungkin senpai tahu hal seperti itu?”


Seharusnya tidak ada yang tahu. Bahkan aku sendiri tidak diberi tahu nilai ujian masukku.


“Soalnya aku ketua OSIS.”


Itu bukan penjelasan. Mata Mizusaki membulat.


“Kalau ketua OSIS, memang bisa melihat hasil ujian masuk......?”


“Aku tidak akan menjelaskannya secara gamblang, tapi—”


Dengan senyum lembut, ia mengangkat telunjuk dan merendahkan suaranya.


“Di sekolah ini, siswa yang unggul diberi kekuasaan dan kewenangan sebesar itu.”


Di hadapanku yang tertegun, Mikage-senpai merentangkan kedua tangannya.


“Selamat datang di sekolah unggulan tempat para monster bersemayam.”




Aku sempat mengira tak ada yang menarik di ruang fisika, tapi Mikage-senpai membawa kami ke sebuah meja panjang dengan akuarium kaca selebar sekitar lima puluh sentimeter. Di dalamnya terisi cairan putih hingga kira-kira setengahnya.


“Itu campuran air dan tepung pati dengan perbandingan volume dua banding tiga. Ia menunjukkan sifat menarik yang disebut dilatansi.”


Aku pernah mendengar istilah itu entah di mana. Kalau dipikir-pikir, Iwama pernah mengucapkannya di bukit belakang. Dengan skala sebesar ini, masuk akal jika mereka memakai tiga kilogram tepung pati.


Mengenakan sarung tangan plastik tipis, senpai menyendok cairan putih dari dalam akuarium.


Cairan itu mengeras seperti adonan saat digenggam kuat. Namun tak lama kemudian, seolah ketegangannya terlepas, ia kembali mencair perlahan.


“Kalian juga coba saja.Kalian bisa menghabiskan waktu satu jam hanya dengan menyentuhnya.”


Aku dan Mizusaki juga mengenakan sarung tangan plastik lalu memasukkan tangan ke dalam akuarium. Sensasinya aneh. Jika diberi tekanan, ia mengeras seperti tanah liat, tapi saat disentuh perlahan, ia mengalir seperti air.


“Ooh......”


“Wah, keren! Apa ini!”


Dulu sekali aku pernah bermain slime, tapi ini berkali-kali lipat lebih menarik. Perilaku slime masih bisa diprediksi, sementara gerakan fluida ini benar-benar bertentangan dengan intuisi. Saat aku tenggelam dalam permainan tanpa berpikir, rasanya usia mentalku turun lima atau enam tahun.

Tln: mungkin udah ada yang tau, ini fluida non-newtonian. Singkatnya, newton itu merumuskan hukum untuk fluida, jadi saat keadaan begini fluidanya itu harusnya begini, tapi ada fluida yang ngga ngikutin hukum newton ini, makanya disebut non-newtonian


Saat kami sibuk bersenang-senang, senpai membawa beberapa alat. Yang pertama adalah sebuah bola besar dari kuningan.


“Coba lepaskan tangan kalian dari akuarium. Ada yang bisa menebak apa yang terjadi jika bola logam hampir lima ratus gram ini dijatuhkan ke dalamnya?”


Seolah terbiasa mengadakan pertunjukan eksperimen untuk anak-anak, Mikage-senpai bertanya dengan nada ramah seperti kakak baik hati. Aku menjawab tanpa pikir panjang.


“Bukankah dasar akuariumnya akan pecah?”


“Kalau begitu, mari kita coba.”


Senpai mengangkat bola kuningan ke depan dada lalu menjatuhkannya dari ketinggian yang lebih tinggi dari perkiraanku ke dalam akuarium. Napasku tertahan. Jika benda itu jatuh ke tangan, pasti akan menyebabkan patah tulang parah.


Bola itu jatuh dengan keras—namun, ia memantul kecil di permukaan putih dengan suara cipratan, lalu berhenti begitu saja. Setelah itu, barulah ia perlahan tenggelam ke dalam cairan.


Aku dan Mizusaki bertepuk tangan dengan kagum.


“Fenomena ini juga terjadi di tempat yang dekat dengan kita, seperti pasir pantai yang basah. Singkatnya, selama gaya diberikan perlahan, ia bertindak seperti cairan, tapi saat gaya diberikan secara tiba-tiba, resistansi antarpartikelnya meningkat dan ia berperilaku seperti benda padat. Jika diratakan tipis di kolam yang luas, bahkan bisa dipakai untuk berlari di atas permukaannya.”


Tanpa jeda, senpai mengambil sedikit fluida itu dengan wadah plastik kecil.


“Nah, dengan fluida dilatant ini masih ada hal menarik lainnya yang bisa dilakukan. Alat yang dipakai adalah ini.”


Dari saku blazernya, ia mengeluarkan sebuah mesin putih berbentuk seperti boneka kokeshi.


“Ini alat pijat elektrik.”


Di sebelahku, Mizusaki bergerak kaget sampai menimbulkan suara.


“D-Di SMA ada benda seperti ini!?”

Tln: sebenernya apa yang dipikirkan anak muda ini🤣


Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu terkejut. Senpai sendiri terlihat biasa saja.


“Ini perlengkapan resmi yang dibeli dengan dana klub. Lagipula, apa salahnya dengan alat medis ini?”


Setelah mengatakannya, entah kenapa senpai tersenyum jahil.


“Nah, Mizusaki-kun, menurutmu apa yang akan terjadi jika fluida dilatant ini diberi getaran dengan alat ini?”


“Eh, apa ya......rasanya apa pun yang aku katakan akan jadi lelucon mesum yang keterlaluan.”


Mizusaki melirik Mikage dengan tatapan penuh makna. Senpai tertawa lepas.


“Mari kita coba langsung.”


Senpai ini memang pandai menarik perhatian orang. Aku jadi tak sabar ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Senpai menempelkan alat pijat ke dasar wadah dan menyalakan saklarnya. Terdengar suara seperti getaran ponsel yang diperbesar, lalu perubahan yang jelas muncul pada fluida itu.


Pemandangan itu seperti tentakel yang merayap keluar dari neraka.


Di dalam wadah, fluida itu menari liar. Ia menipis dan menjulur ke atas, mengangkat ujungnya lalu roboh dan meleleh. Bukan sekadar melawan intuisi, bahkan tampak seperti sedang menggunakan sihir.


“Seperti makhluk hidup......”


Mendengar ucapanku, senpai mengangguk puas lalu mematikan saklar. Fluida itu segera menjadi tenang.


“Getaran pada dasarnya adalah rangkaian benturan kecil yang berkelanjutan. Dengan mengulang proses mengeras dan melunak secara lokal, muncullah perilaku aneh seperti ini.”


Senpai mengarahkan alat pijat elektrik itu ke arah Mizusaki dan aku.


“Mumpung ada, kalian berdua mau membantu sedikit untuk pengambilan gambar?”


“Pengambilan gambar?”


“Iya. Aku ingin merekam video tentakel ini, tapi kebetulan kekurangan orang.”


“Tapi kelihatannya anggota klubnya banyak......”


“Itu dia, entah kenapa tak ada yang mau menyentuh alat pijat ini.”


Setelah berbagai percakapan seperti itu, akhirnya kami yang harus melakukan demonstrasi. Mizusaki memegang wadah dengan kuat menggunakan kedua tangan, sementara aku menempelkan alat pijat dari bawah. Saklar dinyalakan.


Demonstrasinya sukses dengan sempurna. Mikage-senpai yang merekam video dengan ponselnya juga membuat tanda OK dengan jarinya.


“Kalau begitu terakhir, senyum ya—oke, pose!”


Klik. Pada akhirnya kami bahkan difoto.


“Tenang saja. Jangan khawatir. Aku tidak akan menyalahgunakannya.”


Aku tidak tahu bisa disalahgunakan untuk apa, tapi ia tetap merasa perlu mengatakan itu.




Waktu pulang sekolah sudah mendekat. Sambil memegang alat pijat elektrik dengan satu tangan, Mikage-senpai menjelaskan tentang kegiatan klub dengan cepat. Meski disebut klub, yang ia jelaskan bukan hanya fisika, melainkan klub-klub sains secara keseluruhan.


“Di SMA Tsunagai ini, yang terkenal dengan pendidikan sains dan matematika, dulu pernah ada lima klub sains. Klub fisika, kimia, biologi, geosains, dan matematika. Kelimanya bersama-sama disebut ‘Fakultas Sains’.”


“Fakultas sains? Padahal ini SMA.”


“Betul, Delta-kun. Itu artinya dulu skalanya begitu besar sampai—meskipun terkesan lancang—bisa menyebut diri sebagai fakultas. Secara istilah sih lebih tepat ‘klub sains’, bukan ‘fakultas sains’, tapi ya begitu.”


Mikage-senpai mengangkat lima jarinya, lalu menekuknya satu per satu.


“Klub matematika digabungkan ke klub fisika karena kekurangan anggota. Klub geosains berubah menjadi klub astronomi, lalu akhirnya juga diserap ke klub fisika. Sekarang hanya tersisa fisika, kimia, dan biologi, tapi sebutan ‘Fakultas Sains’ masih dipakai karena praktis. Bahkan ada acara bernama orientasi Fakultas Sains setiap bulan Juni.”


Salah satu dari tiga jari yang tersisa tampak sedikit tertekuk.


“Tadi kami sempat melihat klub biologi......”


Saat aku menelan kembali kata-kata yang hendak kuucapkan, senpai mengangguk dengan ekspresi sedih.


“Ya. Kalau tahun ini tidak ada anggota baru, klub biologi kemungkinan akan dibubarkan. Kalian juga sudah merasakannya, kan. Di zaman seperti ini, perebutan anggota sangatlah sengit. Terutama di fakultas sains, yang diperebutkan adalah siswa berprestasi. Karena para senior tanpa sungkan saling menarik murid baru, klub biologi kalah dalam persaingan.”


Ia menghela napas, lalu melanjutkan.


“Aku tidak akan memaksa kalian masuk klub fisika. Kalau kalian berkenan, tolong pertimbangkan juga klub biologi.”


Mikage-senpai menahan kantuk sambil meregangkan tubuh, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.


“Eh?”


Yang menyadari sesuatu adalah Mizusaki. Ia sedang menatap gantungan di ponsel senpai.


Tak lama kemudian aku pun menyadarinya. Sebuah cloisonné buatan tangan. Di atas dasar hitam, tertulis "i" dengan warna biru muda.


Aku langsung tahu bahwa itu berpasangan dengan milik Hongō-senpai dari klub kimia.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Sambil memperhatikan pandangan Mikage, Mizusaki menurunkan suaranya dan bertanya pada senpai.


“Ngomong-ngomong, Senpai, sebenarnya hubunganmu dengan Hongō-senpai dari klub kimia itu apa?”


Mizusaki mungkin bermaksud menjadikannya pembicaraan rahasia, tapi senpai menjawab dengan suara lantang dan tanpa ragu.


“Ah. Nagisa itu pacarku. Kalian sudah ketemu, kan? Imut, kan?”


“Oh— begitu ya.”


“Kami mesranya kebangetan. Sampai-sampai dijuluki pasangan terbaik di SMA Tsunagai.”


Sambil terkekeh, ia memperlihatkan layar ponselnya kepada kami.


Di depan langit yang dibingkai bunga sakura berbentuk hati, mereka berdua tersenyum sambil saling merapatkan pipi.


“Kamu tahu pohon sakura pasangan suami-istri di belakang gunung? Tahun lalu aku menyatakan perasaan di sana.”


Barulah saat itu aku teringat.


Pasangan kakak kelas yang berpapasan dengan Iwama dan aku saat mendaki jalan gunung minggu lalu.


Mungkin itu memang Mikage-senpai dan Hongō-senpai.


Itulah sebabnya wajah mereka berdua terasa familier.


Namun dibandingkan itu, ada hal lain yang jauh lebih perlu kami khawatirkan.


Menghadapi senyuman senpai yang penuh kebahagiaan, aku melirik adik perempuannya, Mikage, dengan hati-hati.


Tanpa ekspresi, sama seperti biasanya.


Namun entah kenapa terasa seolah hawa dingin yang mengerikan memancar dari seluruh tubuhnya.


Wajah tanpa ekspresinya bahkan memberi kesan seperti topeng noh.


Sejak dia menyebut Hongō-senpai sebagai “rubah betina”, aku sudah bisa menebaknya—dan tampaknya Mizusaki benar-benar menginjak ranjau itu.


Dengan gerakan mekanis seperti robot yang dibuat sempurna, Mikage membuka tasnya dan mengeluarkan majalah matematika tanpa mengubah ekspresi.


Entah dia memang tidak peka atau sengaja, senpai melangkah mendekat ke arah adiknya dengan senyum lebar.


“Hei, hei, Aya-chan, bukan tempatnya latihan soal di sini.”


Lalu ia menempelkan alat pijat elektrik ke leher Mikage dan menyalakannya.


“Hya......!”


Mikage bereaksi kaget sambil mengeluarkan suara imut yang sama sekali tak terbayangkan dari sikapnya sehari-hari.


Majalah matematika terlepas dari tangannya dan terjatuh ke depan diriku.


“S-Senpai! Itu adik kandungmu sendiri, tahu!”


Mizusaki tetap dengan energinya yang biasa.


Kupikir itu hanya jarak akrab yang wajar antara kakak dan adik, tapi memangnya kenapa tidak boleh memakai alat pijat elektrik pada adik kandung?


Saat aku mengalihkan pandangan kembali, majalah matematika itu terbuka di atas meja menghadap ke arahku.


Sebuah persamaan singkat dilingkari dengan stabilo oranye.


Karena hanya berupa simbol, aku tak benar-benar mengerti maknanya, tetapi angka “1” yang ditambahkan di sisi kiri diberi lingkaran tebal dengan pulpen hitam, seolah sangat ditekankan.


Sebelum aku sempat memahami artinya, Mikage sudah mengambil kembali majalah itu.


Bel sekolah berbunyi.


Sebentar lagi jam lima.


“Oh, sudah selama ini rupanya.”


Mikage-senpai melirik jam lalu mengeluarkan dompet dan mulai mengobrak-abriknya.


Yang ia keluarkan adalah dua lembar tiket.


“Delta-kun, Mizusaki-kun, terima kasih sudah datang hari ini. Sebagai permintaan maaf karena sudah menahan kalian, anggap saja ini hadiah.”


Itu adalah kupon kopi gratis dari sebuah kedai kopi di dalam kota.


“Berlakunya cuma sampai hari ini. Aku mungkin tidak bisa pergi karena harus beres-beres, jadi kalau mau, pakailah berdua. Tentu saja kalau mau dibuang pun aku tidak akan dendam, jadi terserah kalian.”


Aku memang ingin mengobrol dengan Mizusaki di tempat yang agak tenang. Kami pun menerimanya dengan rasa terima kasih.


Saat melihat ke luar jendela, awan di langit barat tampak sedikit. Hari ini, matahari terbenam pasti akan indah.




Ketika kami bertiga keluar dari ruang fisika, Mikage tiba-tiba menatapku.


“Jika basis logaritma natural dipangkatkan dengan hasil kali konstanta pi dan satuan imajiner, hasilnya tepat menjadi minus satu.”


Aku sempat mengira dia baru saja melafalkan mantra kutukan. Aku pun bertanya balik.


“Hah, maaf......apa tadi?”


“Persamaan Euler yang terkenal itu. Basis logaritma natural dipangkatkan dengan pi kali satuan imajiner hasilnya minus satu. Biasanya sih ditulis dengan menambahkan satu di kedua sisi supaya ruas kanan jadi nol.”


Melihatku tertegun, Mikage tersenyum tipis.


“Kelihatannya kamu penasaran, Delta-kun, jadi kupikir perlu kuberitahu.”


Setelah dia mengatakan itu, barulah aku sadar bahwa dia sedang membicarakan persamaan yang ada di majalah matematika tadi.


“Terima kasih. Ya, memang sedikit penasaran sih.”


Tentu saja bukan isi matematisnya yang benar-benar menarik perhatianku, tapi......


Sambil berjalan menuju pintu masuk, Mikage berkata.


“Terima kasih untuk hari ini. Sudah mau menemani acara penyambutan.”


“Ah, tidak apa-apa! Seru banget kok. Iya kan, Delta?”


“Iya. Jauh lebih menyenangkan dari yang kukira.”


“Benar. Klub fisika memang bukan klub yang cocok buat kita, tapi tetap jauh lebih menarik dibanding diseret ke klub renang. Lagipula, kita jadi tahu cara penggunaan tepung kentang yang tidak terduga juga.”


Awalnya, Mikage memang diminta oleh kakaknya untuk menyelamatkan kami—demi mengarahkan kami ke klub fisika.


Singkatnya, kami hanyalah sasaran empuk.


Namun berkat itu pula, kami terhindar dari penculikan oleh klub renang dan berhasil mengunjungi tiga klub sains—yang disebut “Fakultas Sains”—dengan lancar.


Hari ini adalah situasi win-win.


Meski seharusnya begitu, aku menyadari ada rasa janggal samar yang tertinggal di kepalaku.


Ada sesuatu yang terasa tidak beres.


Sejak awal, kenapa Mikage-senpai sampai menyuruh adiknya untuk mengarahkan kami ke klub fisika?


Senpai sudah berkomunikasi dengan Tomare sejak tahun lalu, dan mengenal kami juga lewat Tomare.



Dari orang yang gemar menyebarkan keburukan kami itu, senpai pasti tahu bahwa baik aku maupun Mizusaki lemah dalam fisika, dan peluang kami masuk klub fisika hampir nol.


Kalau begitu, mengundang kami ke acara penyambutan klub fisika jelas akan sia-sia, bukan?


Kalau begitu, kenapa──


Saat aku memikirkannya, kami sudah sampai di pintu masuk.


Karena jam pulang sekolah sudah dekat, kali ini kami tidak disergap oleh kakak kelas.


Kami mengenakan sepatu, tapi Mikage tidak mengulurkan tangan ke rak sepatu.


“Hm? Mikage-san, kamu tidak pulang?”


“Iya. Sampai Onii-chan selesai beres-beres, aku akan ke ruang OSIS──────”


Mikage tiba-tiba memutus ucapannya. Sunyi. Suhu yang kurasakan jelas turun setidaknya lima derajat.


“......Eh, barusan ada suara ya?”


Menanggapi pertanyaan Mikage yang pura-pura polos itu, Mizusaki dan aku menggeleng keras-keras.


“Eh, apa? Aku sedang memikirkan reaksi substitusi nukleofilik, jadi tidak dengar apa-apa!”


“......Maaf. Aku juga sedang memikirkan reaksi SN2, jadi kelewatan.”


Alasan tak masuk akal yang spontan terlintas di kepala.


Karena aku menyebut kata yang terlintas dari ucapan Mizusaki, entah kenapa kami berdua jadi terlihat seolah saling memahami tanpa kata dan kebetulan memikirkan topik yang sama—namun meski begitu, Mikage tetap mengangguk dengan tenang.


“Begitu ya. Syukurlah. Tadi rasanya aku dengar kata ‘iblis’ atau semacamnya, tapi pasti cuma salah dengar.”

Tln: "鬼/oni" = iblis


Baik Mizusaki maupun aku mengangguk dalam-dalam. Pasti hanya salah dengar. Kami harus menganggapnya begitu.


Kami meninggalkan sekolah seolah-olah sedang melarikan diri.


Sansetsuto adalah kedai kopi yang sering kami kunjungi sejak masih SMP.


Karena cahaya senja bersentuhan dengan hutan, namanya pun “Sunset Yūgure”. Berdiri di dataran tinggi yang menghadap Samudra Pasifik, sesuai namanya, di barat kita bisa melihat matahari terbenam di balik pepohonan, dan di selatan terbentang pemandangan laut.

Tln: permainan kata, kanji sansetsuto itu muncul di kalimat yang ini (Karena cahaya senja bersentuhan dengan hutan, namanya pun “Sunset Yūgure”)


Perpaduan interior yang tenang—terdiri dari jendela lebar yang membingkai pemandangan indah dan kayu berwarna gelap—bahkan sampai dimuat di brosur asosiasi pariwisata.


Banyak wisatawan datang ke sini, tapi harganya masih ramah di kantong, sehingga pelajar SMP dan SMA yang ingin tampil sedikit bergaya seperti kami pun sering mampir.


Begitu pintu dibuka, bel berbunyi nyaring, dan seorang pegawai perempuan memandu kami masuk. Wajah yang sering kulihat. Mungkin dia juga samar-samar mengenali kami,


“Selamat datang.”


Sambil tersenyum, dia mengantar kami ke tempat duduk. Kursi sofa untuk empat orang di dekat jendela. Matahari senja menggantung rendah di langit barat; sebentar lagi pasti terlihat saat ia tenggelam ke hutan di tepi laut.


“Eh......”


Sambil mengelap tangan dengan handuk basah, Mizusaki bergumam.


“Ada apa?”


“Bukan apa-apa sih, tapi biasanya kita selalu diarahkan ke kursi dua orang, kan? Kenapa hari ini malah yang empat orang ya?”


Kalau dipikir-pikir memang benar. Kursi ini biasanya hanya kami pakai saat datang bersama keluarga.


Di dalam tidak penuh, tapi kursi yang tersisa memang sedikit. Tepat di sebelah ada kursi dua orang yang kosong, jadi secara logis seharusnya kami diarahkan ke sana. Seharusnya begitu.


“Mungkin cuma keisengan pegawainya.”


“Ya, mungkin saja.”


Aku mengeluarkan kupon yang tadi kami terima. Kupon kopi gratis satu gelas yang berlaku sampai hari ini. Jenis kopinya bebas.


Mizusaki membuka menu di atas meja.


“Kata mereka, Spring Blend itu rekomendasinya. Delta mau pesan apa?”


“Kalau begitu, itu saja.”


“Mau tambah kue atau semacamnya? Walaupun gratis, rasanya aneh kalau sama sekali tidak bayar apa-apa, kan.”


“Benar juga. Kita pesan puding saja.”


“Oke.”


Akhirnya kami berdua memesan set Spring Blend dan puding.


Puding adalah hidangan penutup termurah, dan set dengan kopi dikenai tambahan tiga ratus yen dari harga kopi.


Menurut aturan yang tertulis di kupon gratis itu, dalam kasus ini set bisa dipesan hanya dengan tiga ratus yen.


Pudingnya buatan sendiri, tapi sepertinya sudah disiapkan sebelumnya.


Set itu pun diantar tanpa perlu menunggu lama.


Spring Blend disajikan dalam cangkir berwarna merah muda sakura dengan tepian emas.


Begitu menyeruput sedikit, terasa keasaman ringan yang mengingatkan pada aprikot serta aroma floral yang mewah (setidaknya begitu tertulis di menu), dan semuanya terasa menyenangkan.


Puding yang dipanggang agak keras itu memiliki rasa manis pekat seperti biasa, dan sangat cocok dengan kopi.


“Entah kenapa.” kata Mizusaki sambil menatap laut di bawah sana.


“Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan baik sih......tapi orientasi hari ini agak aneh, kan?”


“Iya.”


Aku mengangguk setuju, lalu meneguk Spring Blend sekali lagi.


“Mikage-senpai seharusnya tahu bahwa kita tidak akan masuk klub fisika, tapi ia tetap menyuruh adiknya memanggil kita ke acara orientasi. Dan tanpa benar-benar merekrut, ia hanya memperlihatkan eksperimen lalu membiarkan kita pulang. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa ia melakukan semua itu.”


“Iya. Dan Hongō-senpai juga aneh, kan. Bukan hanya tidak berniat merekrut......ini kan masanya perebutan anggota? Kalau dia tahu kita mantan anggota klub kimia, seharusnya dia bisa lebih giat merekrut, tapi kesannya malah asal-asalan.”


“Dia bahkan memberi laporan yang kualitasnya jelek.”


Aku mengeluarkannya dari tas, lalu membolak-baliknya sekali lagi.


Bahasa Jepangnya tidak alami, dan penjelasan reaksi kimianya seperti hasil copy-paste.


Bukan sekadar kualitasnya buruk, tapi lebih mirip pekerjaan asal jadi.


“Yah, tapi ya sudahlah. Mungkin Mikage-senpai hanya ingin bertemu kita, dan mungkin Hongō-senpai juga sedang capek. Mari kita bahas pelan-pelan klub mana yang paling cocok buat kita.”

Post a Comment for "Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 2.4"