Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 2.2
Bab 2 - Sebuah Persamaan Yang Terlalu Indah
Alasan mengapa waktu pembukaan kegiatan penyambutan anggota baru ditetapkan secara ketat menjadi jelas ketika pelajaran pagi selesai, perwalian singkat pun berakhir, dan jam dinding kelas tepat menunjuk pukul satu.
Dari speaker di atas jam terdengar bunyi statis singkat, seolah seseorang baru saja menyalakan sakelarnya.
『Diberitahukan bahwa hari Senin, 15 April, pukul 13.00 tepat. Kegiatan penyambutan anggota baru kini resmi dibuka. Kami mohon agar kalian semua menjaga ketertiban dan melakukan kegiatan perekrutan yang bersih dan benar──』
Bersamaan dengan siaran sekolah yang aneh itu, terdengar suara langkah kaki kasar dan berisik dari lantai atas. Kelas kami, siswa tahun pertama, berada di lantai dua; tahun kedua di lantai tiga; dan tahun ketiga di lantai empat. Para kakak kelas mulai bergerak serentak.
Dari suara langkah kaki yang seakan menembus langit-langit itu, sama sekali tidak terasa nuansa “tertib, bersih, dan benar” sedikit pun.
“Hei, Delta, kau tidak merasa ini bakal gawat?”
Sambil mengatakan itu, Mizusaki—yang duduk di bangku Iwama dan hendak membuka bekalnya—bergegas mengikat kembali kain pembungkus yang hampir dibukanya. Iwama mungkin sudah bergabung dengan teman dari kelas lain. Dia sudah tidak ada di kelas.
“Bunyinya seperti kebun binatang yang kandangnya dibuka.”
Aku pun memasukkan kotak bekalku ke dalam tas. Aku menilai lebih baik bersiap agar bisa kabur kapan saja.
Dan penilaian kami terbukti tepat.
Suara arak-arakan hewan itu mendekat bagai tsunami, dan dalam sekejap mencapai kelas 1-C.
“Permisi!”
Mungkin saja aku salah dengar, tapi suara berat seorang siswa laki-laki yang kemungkinan besar berteriak “permisi” itu menggema dari lorong.
Tepat di belakang Mizusaki, pintu geser dibuka dengan tenaga yang nyaris merusaknya. Tanpa jeda, pintu di bagian depan kelas pun ikut terbuka. Meski berdiri karena merasakan bahaya terhadap nyawa kami, semuanya sudah terlambat—tak ada jalan kabur bagi kami.
“Siapa yang mau olahraga! Ada yang mau berkeringat segar main rugby?!”
“Sebentar lagi klub musik tiup akan mengadakan konser! Yang tertarik, silakan ke ruang audiovisual!”
“Klub riset kue sedang mengadakan acara cicip-cicip! Yang mau makan kuki enak, ikut kami!”
Para kakak kelas menerobos masuk ke kelas sambil berteriak seenaknya. Lalu mereka mengelilingi para siswa tahun pertama yang tak berdaya layaknya surfaktan, dan mulai melakukan perekrutan yang brutal.
“Hei, hei, hei, ini sudah seperti Namahage saja.”
Ungkapan Mizusaki cukup akurat. Rasanya bahkan ada penyihir dari rumah permen yang ikut bercampur. Begitu kau termakan bujukannya dan memakan kukinya, tamat—kau tidak akan dilepas sebelum menulis formulir pendaftaran klub.
“Mizusaki, kita kabur.”
“Siap!”
Kami saling memberi isyarat mata dan menyampirkan tas ke bahu.
Untungnya kami duduk dekat pintu keluar. Area dekat dinding menjadi titik buta bagi para kakak kelas yang berlarian masuk ke kelas. Di sela momen singkat ketika arus mereka terputus, kami meloloskan diri dengan mulus.
Namun──
“Tunggu dulu, bercanda, kan......?”
Mizusaki berhenti melangkah. Pemandangan yang terlihat dari balik bahunya membuatku pun terpana.
Lorong dipenuhi oleh para kakak kelas. Bukan hanya berseragam sekolah, ada juga yang mengenakan pakaian bela diri dan seragam olahraga. Para predator dengan warna-warni mencolok.
“Oh! Kalian kelihatan kuat! Mau masuk klub renang?”
Tanpa alasan yang jelas, para pria dengan kacamata renang di dahi langsung menyerbu. Padahal masih musim semi, semuanya sudah terbakar matahari hingga kecokelatan, kulit mereka berkilau mengilap.
“Ah, aku sebenarnya tidak bisa berenang......”
Saat Mizusaki mengarang alasan asal-asalan untuk kabur, seorang perempuan tiba-tiba muncul dari belakang para pria itu.
“Tenang, tenang! Aku juga mulai dari tidak bisa berenang, kok!”
“Pemula juga sangat kami sambut. Malah bukankah lebih baik bisa berenang selagi masih SMA?”
Entah mereka punya manual atau tidak, alasan-alasan yang dilontarkan dengan cepat tersusun rapi dan dengan pasti menutup jalan kabur. Kami pun terkepung dan terus didesak hingga ke tepi dinding.
Dalam situasi seperti ini, aku tak tahu cara melawan. Mizusaki yang cerewet berusaha melawan semampunya.
“Aku dan ia ini bukan tipe anak klub olahraga, kami ingin hidup tenang tanpa kompetisi.”
“Bukan hanya ada renang kompetitif, lho. Sebenarnya ada juga yang tampil sinkron di festival budaya, atau menghabiskan masa muda di sana tanpa ikut lomba renang!”
“S-Sinkron......?”
Bahkan Mizusaki yang biasanya santai itu kini terlihat kewalahan.
Para anggota klub renang yang kulitnya terbakar matahari semuanya tersenyum terlalu ramah untuk ditolak dengan kasar. Karena dikepung secara fisik, bahkan mundur sambil menunduk pun tak bisa dilakukan. Ini benar-benar jalan buntu.
Karena ribet, sempat terlintas pikiran untuk berpura-pura melihat-lihat sebentar lalu kabur. Tapi kemungkinan besar itulah tujuan mereka. Kalau mereka bisa bergerak selincah ini di lorong, maka di tempat tujuan pasti sudah dipasang jebakan berlapis-lapis.
“Ah, um, kami ini sebenarnya punya kondisi tubuh yang kalau kena air akan mengembang puluhan kali lipat.”
Mizusaki akhirnya mulai bicara omong kosong. Komentar “memangnya kau ini polimer superabsorben?” kusimpan saja dalam hati.
“Oh, keren tuh. Kelihatannya berguna! Sini dong!”
Balasan dari klub renang juga tak masuk akal, tapi satu hal jelas, apa pun yang kami katakan, mereka tak berniat melepaskan kami.
Di sekeliling, terlihat banyak korban lain yang bernasib sama. Beberapa di antaranya digiring pergi dengan wajah pasrah. Aku tak merasa aku atau Mizusaki punya daya juang lebih besar dari mereka.
Namun.
Saat kami hampir setengah menyerah, dia datang.
Seperti sihir. Dia menerobos lorong yang dipadati kakak kelas tanpa berhenti sedetik pun. Dengan gerakan seolah membelai, dia menyingkirkan siku anggota klub renang yang bertubuh besar, lalu berdiri tepat di depan kami.
“Delta-kun, Mizusaki-kun. Ada waktu sebentar?”
Suara rendah yang terdengar jelas tanpa peduli hiruk-pikuk itu membuat Mizusaki, aku, dan para anggota klub renang sama-sama membeku.
Itu adalah teman sekelas kami, Mikage Aya.
Menurut penilaian Mizusaki, jika Iwama-san adalah matahari, maka Mikage-san adalah bulan.
Aku bisa memahami maksudnya. Seorang gadis bertubuh tinggi dengan kesan dewasa. Meski memancarkan aura tenang, mata sipitnya menyimpan keindahan yang tegas dan berwibawa. Menurut Mizusaki, dia adalah “cool beauty”.
Rambut hitam panjangnya yang halus diikat menjadi satu di sekitar tengkuk, memberinya kesan setengah samurai wanita. Mudah membayangkan dirinya mencabut katana Jepang dan menebas para penjahat satu per satu.
Karena nomor absens, tempat duduknya berada tepat di depan Mizusaki, jadi kami sudah beberapa kali punya kesempatan berbincang. Itulah sebabnya dia memanggilku “Delta-kun”.
Pernah juga saat kami berdiskusi tentang persamaan Michaelis–Menten, dia ikut bergabung ke dalam percakapan. Sepertinya dia penyuka matematika.
Tln: persamaan yang digunain buat menggambarkan laju reaksi enzimatik berdasarkan konsentrasi subtrat dan enzim, lebih ke biokimia daripada matematika, soalnya enzim
Ngomong-ngomong, baik Mizusaki maupun aku sama-sama lemah dalam matematika.
Setelah menyelamatkan kami dari cengkeraman para anggota klub renang, Mikage dengan lincah melewati lorong yang dikuasai para kakak kelas dan mengantar kami hingga ke gedung sains yang sepi.
Tekniknya sulit dipercaya, tapi setelah diamati dengan saksama, rahasianya pun terlihat. Dia menghitung jalur yang harus ditempuh dari pergerakan orang-orang di sekitarnya secara seketika, lalu dengan menambahkan tenaga seminimal mungkin, dia mengendalikan arus dan menciptakan ruang bagi tubuhnya sendiri untuk masuk. Dalam hal memanfaatkan tenaga lawan untuk menggerakkan lawan, caranya mirip aikido.
Aku dan Mizusaki hanya perlu mengikuti jalur yang telah dilewati Mikage.
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Di lantai dua gedung sains terdapat ruang istirahat yang rapi. Dinding dan lantainya dilapisi papan kayu, dengan meja dan kursi kayu yang tertata. Karena lantai dua gedung sains juga terhubung ke gedung olahraga, tempat ini mungkin menjadi area istirahat bagi para siswa yang beraktivitas di sana.
Kami diajak oleh Mikage untuk makan siang di sana.
Meski tadi berkata “punya waktu sebentar?”, tampaknya Mikage sebenarnya tidak punya keperluan khusus. Dia hanya berpura-pura ada urusan demi menyelamatkan kami dari klub renang.
Kami sangat berterima kasih, tapi tetap tersisa pertanyaan mengapa dia mau melakukan sejauh itu.
“Wah, Mikage-san, serius makasih banget. Tidak kusangka akan diserang kappa di lorong. Kamu benar-benar menyelamatkan nyawa kami.”
Menanggapi ucapan terima kasih Mizusaki, Mikage hanya membalas dengan senyum tipis yang tenang.
Dia bukan tipe yang banyak bicara. Tanpa sepatah kata pun, dia membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan kantong plastik minimarket. Bayangan tentang katakuri hampir terlintas kembali, dan aku segera mengalihkan pandangan.
Mikage membuka kotak karton teh dingin tanpa gula, memasukkan sedotan, lalu meneguknya dengan lahap. Cara minumnya terasa menyegarkan untuk dilihat. Kami pun masing-masing membuka bekal kami.
Aku membawa bekal tomat ceri seperti biasa. Mizusaki membawa nasi nori dalam wadah besar, sekitar sembilan puluh persen isinya adalah nasi putih. Katanya, “pada akhirnya karbohidrat itu yang paling membuat puas.” Sepertinya buatan ibunya.
Yang dikeluarkan Mikage dari kantong plastik adalah sushi dalam kemasan. Isinya tuna mayo. Mungkin ini pertama kalinya aku melihat seseorang membeli ini, bukan onigiri, untuk makan siang.
“Tapi serius, antusias para kakak kelas itu gila banget, ya.”
Mizusaki berkata sambil masih menyuapkan bekal nasi nori ke mulutnya. Telan dulu baru bicara.
“Daripada dibilang antusias, bukannya itu lebih mirip rasa lapar atau haus?”
Mikage mengangguk menanggapi pengamatanku.
“Katanya sejak tahun lalu pembatasan kegiatan sudah dicabut, dan klub-klub akhirnya kembali berfungsi normal. Sepertinya semua sedang mati-matian merekrut anggota. Menambah anggota itu penting untuk menghidupkan klub.”
Dia berbicara dengan nada datar, tanpa menunjukkan emosi.
Namun aku tidak tahu bahwa sekolah ini memiliki situasi seperti itu. Bahkan Mizusaki yang biasanya paling update pun mengangguk tanda paham.
“Begitu ya. Cara mereka menyerbu itu kupikir seperti kappa atau hewan karnivora......jadi maksudnya mereka sedang menimbun energi sebelum musim kawin, ya. Kalau tidak ada Mikage-san, kami benar-bener sudah dimakan.”
Perumpamaannya tetap sulit dipahami seperti biasa. Mikage kembali hanya membalas dengan senyum tipis sambil mengunyah sushi gulungnya.
Meski begitu, aku sempat berpikir bahwa Mizusaki terlalu berusaha mengarahkan pembicaraan ke arah berterima kasih pada Mikage—tepat saat itu, Mizusaki menepukkan tangannya.
“Oh iya! Hei, Mikage-san, sekalian karena kita sudah ditolong, bagaimana kalau kita keliling lihat-lihat acara penyambutan bareng?”
Jadi begitu rupanya. Baik dengan Iwama maupun Mikage, saat berhadapan dengan perempuan, Mizusaki menunjukkan tingkat keaktifan yang sulit dipahami.
Kupikir dia akan merasa terganggu, tapi justru dia mengangguk seolah-olah sudah menunggu ajakan itu.
“Tentu saja. Aku memang sedang merasa bosan sendirian.”
Dia tidak terlihat seperti tipe yang memikirkan hal-hal semacam itu, tapi ini juga bukan hal yang buruk. Dengan kelincahan Mikage yang mampu menembus lorong neraka itu, serangan tak diinginkan dari para kakak kelas sepertinya juga bisa dihindari.
“Baik! Mikage-san, kamu sudah kepikiran mau lihat klub yang mana?”
“Aku fisika. Sebenarnya aku tertarik pada matematika, tapi kudengar klub matematika sudah lama diserap ke klub fisika.”
“Klub fisika, ya......ya, oke juga, kan, Delta! Ayo coba lihat! Pas banget, kami juga kepikiran mau melihat klub-klub sains.”
Baik Mizusaki maupun aku punya berbagai pengalaman di SMP yang membuat kami tidak suka fisika, tapi kalau sekadar melihat-lihat klub fisika, rasanya tak masalah. Aku pun mengangguk.
“Kalian tetap tertarik ke klub kimia, kan?”
Kami memang sudah memberitahu Mikage bahwa kami mantan anggota klub kimia. Mizusaki menelan ludah, meneguk nasi putih dalam jumlah besar yang sedang dikunyahnya.
“Ya, itu memang salah satu kandidat. Tapi tanpa lihat langsung, tidak bisa bilang apa-apa.”
Mizusaki menoleh ke arahku.
“Hari ini kita lihat-lihat dulu macam-macam, lalu pikirkan klub mana yang cocok buat kita.”
“Iya.”
Ada satu hal yang mengganjal pikiranku.
“Mikage-san, jangan-jangan kamu punya saudara di sekolah ini?”
Setelah memakan gigitan terakhir sushi gulung tuna mayo-nya, Mikage menatapku dengan wajah penuh minat.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
Fakta bahwa dia tidak menyangkalnya berarti dugaanku tidak sepenuhnya meleset.
“Kamu menyelamatkan kami dari para kakak kelas tanpa ada keuntungan apa pun untuk dirimu. Aku sempat memikirkan alasannya.”
“Alasannya? Ya karena kita teman sekelas, kan. Kita juga pernah diskusi soal reaksi enzim.”
“Benarkah hanya itu?”
Memang benar kami pernah sedikit mengobrol tentang laju reaksi enzim. Tapi hanya karena dua teman sekelas laki-laki hampir diseret ke klub renang, apakah gadis pendiam ini akan repot-repot menerobos kerumunan untuk menolong? Pasti ada alasan lain.
Saat mulai memikirkannya, aku menemukan satu petunjuk.
“Kamu tahu banyak soal klub di sekolah ini. Tentang pembatasan kegiatan yang dicabut tahun lalu, juga tentang klub matematika yang diserap ke klub fisika—hal-hal yang biasanya tidak diketahui siswa baru. Tapi kalau kamu punya saudara atau kenalan kakak kelas di sini, semuanya masuk akal.”
Mikage mengangguk seolah mengakuinya. Aku pun melanjutkan.
“Jadi hipotesisku begini. Kamu punya kenalan di klub fisika. Klub fisika juga pasti mati-matian ingin merekrut anggota. Kamu diminta oleh kenalanmu itu untuk membawa seseorang. Karena itu, kamu menyelamatkan kami yang jelas-jelas anak sains—lalu langsung mengarahkan kami ke acara penyambutan klub fisika. Jauh lebih cerdas daripada menyeret orang secara paksa.”
Sesaat keheningan. Lalu, tanpa mengubah ekspresinya, Mikage membuka mulut untuk berbicara.
“Benar.”
Jadi memang begitu. Tidak sering ada orang yang menunjukkan kebaikan tanpa pamrih.
“Persis seperti yang Delta-kun katakan. Oni—”
Mikage tiba-tiba memotong ucapannya dan berdeham seolah tersedak. Oni?
“Onigiriku dibelikan kakakku pagi ini di minimarket. Kakakku itu siswa kelas tiga di sini, ketua klub fisika. Ia tahu penyambutan anggota baru tahun ini akan jadi perebutan sengit, jadi ia memintaku menyelamatkan Delta-kun dan Mizusaki-kun lalu mengarahkan kalian ke klub fisika.”
Pandangan Mizusaki dan aku secara refleks tertuju ke tangan Mikage. Yang hendak dia buka bukanlah onigiri, melainkan sushi gulung kedua—kali ini negitoro.
Dengan senyum seolah tak ada yang aneh, Mikage membuka bungkusnya dengan cekatan, lalu memaksa nasi berbentuk silinder itu ditekuk dan dibulatkan. Dia membungkusnya dengan nori dari kemasan terpisah.
......Begitu rupanya. Memang bisa disebut onigiri. Kami memutuskan untuk berpura-pura tidak melihat apa pun.
“Begitu ya, ini aku yang kalah satu poin, ya.”
Mizusaki berkata dengan nada riang.
“Karena sudah terlanjur, kami akan lihat klub fisika. Tapi soal masuk atau tidak, itu lain cerita. Di SMP kami anak klub kimia, dan kami berencana memilih biologi dan kimia, bukan fisika dan kimia. Fisika agak tidak cocok untuk kami.”
Di SMA ada pemilihan mata pelajaran sains; bagi siswa IPA, biasanya memilih dua dari fisika, kimia, biologi, dan geosains. Pilihan fisika–kimia mendominasi sekitar tiga perempat siswa, tapi pilihan kimia–biologi juga ada sekitar seperempat, dan itulah yang kami pertimbangkan. Sebagai catatan, ada juga segelintir orang dengan selera unik yang memilih fisika–biologi, atau memilih geosains yang sangat tidak populer.
Tln: "地学/chigaku" mengarah ke earth sciences (geology, mineralogy, petrology, geophysics, geochemistry, seismology, dll)
Dengan sedikit rasa sungkan, Mizusaki memastikan pada Mikage.
“Jadi......meskipun kami tidak masuk klub fisika, kamu tidak akan dendam, kan?”
“Tentu saja. Kalau kalian mau datang melihat-lihat, kakakku pasti sudah puas.”
“Baik! Sudah diputuskan! Entah kenapa jadi makin seru!”
Saat aku sibuk mengambil tomat ceri, pembicaraan terus melaju. Mizusaki tampak mabuk kebahagiaan karena akan melihat acara penyambutan bersama gadis cantik. Kalau ia burung merak, pasti ekornya sudah mengembang penuh sekarang.
Setelah menghabiskan onigiri negitoro-nya, Mikage tiba-tiba mengajukan usul.
“Bagaimana kalau kita lihat klub kimia dulu? Harusnya mereka sedang mengadakan penyambutan di ruang kimia setelah belokan itu.”
Maka setelah makan siang, kami pun menuju ruang kimia.
“Kalau sikapku tiba-tiba berubah drastis, tolong jangan kaget.”
Begitu katanya, memberikan peringatan yang terdengar penuh makna tepat sebelum membuka pintu ruang kimia.

Post a Comment for "Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 2.2"