Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 2.1


Bab 2 - Sebuah Persamaan Yang Terlalu Indah




“Mizusaki-kun, terima kasih untuk kemarin! Berkatmu, aku benar-benar bisa melihat Inome dari bunga sakura!”


Keesokan pagi setelah melihat sakura, karena Iwama langsung melaporkannya terlebih dahulu, usahaku untuk menyimpannya sebagai rahasia langsung gagal total.


“Syukurlah! Kalau begitu, setahun ke depan Iwama-san aman.”


Sambil berkata begitu dengan gaya sok keren, Mizusaki menatapku sambil menyeringai.


Aku berpura-pura tidak tahu. Lagipula, Iwama tidak mengatakan bahwa dia melihatnya bersamaku.


“Ini, fotonya......”


Menyadari Iwama hendak menunjukkan ponselnya pada Mizusaki, aku refleks menekan dahiku dengan kepalan tangan.


“Eh, ada dua tangan di foto ini, memangnya Iwama-san punya tiga lengan?”


“Bukan, yang ini tangan Izuta-kun.”


Masih ada waktu sebelum jam pertama dimulai. Aku berdiri untuk pergi ke toilet.


Setelah mencuci tangan dengan teliti dan menatap kosong pemandangan mendung di luar jendela, aku kembali ke kelas dan mendapati Mizusaki sudah duduk di tempatnya. Begitu melihatku di pintu, ia langsung memberi isyarat jempol sambil tersenyum lebar.


Benar-benar tidak tahu malu. Padahal ialah yang mendekatkan aku dan Iwama, tapi masih berani berbicara dengan wajah seolah ia tak ada hubungannya sama sekali. Mentalnya memang hebat.


Aku duduk sambil berusaha tidak menatap wajah Iwama. Sayangnya, pelajaran belum juga dimulai.


“Izuta-kun......”


Mendengar suara kecil yang memanggilku, aku menoleh ke kursi belakang. Mau tak mau, aku harus menatap wajah Iwama.


Pipi Iwama tampak sedikit memerah. Bukan karena malu, melainkan karena rasa bersalah yang membuatnya canggung. Astaga.


“Um, maaf ya. Aku benar-benar tidak tahu sama sekali......”


Sambil berpikir bahwa seharusnya dia tidak perlu tahu, aku mengutuk Mizusaki dalam hati. Melihat keadaan Iwama, pasti Mizusaki sudah menceritakan legenda tentang terkabulnya cinta itu.


“Sebenarnya sakura itu juga punya cerita yang dikaitkan dengan percintaan......dan aku mengajak Izuta-kun tanpa tahu apa-apa soal itu......kalau dipikir-pikir, panggungnya juga jelas berbentuk hati......”


Tanpa dipikir pun itu memang berbentuk hati, tapi kemarin kami menyebutnya sebagai Inome.


“T......Tidak apa-apa, jangan dipikirkan.”


Aku berkata sambil berusaha setenang mungkin. Sebenarnya, aku memang hampir sepenuhnya tenang. Guncangan seperti yang dirasakan Iwama sekarang sudah lebih dulu kulewati semalam.


Aku tak pantas mengejek orang lain soal pikiran yang dipenuhi warna sakura.


Semalam, penyesalanku berkecamuk hebat—bahwa aku tak perlu terlalu menunjukkan sisi pecinta tanaman, atau bahwa memberikan katakuri yang hampir seperti sampah adalah kesalahan—sampai aku kurang tidur, tak kalah riuh dari badai di luar.


Namun tetap saja, aku menjawab dengan suara yang datar.


“Pengalaman itu menarik, pemandangannya juga indah, dan aku benar-benar berterima kasih pada Iwama-san.”


“Benarkah? Kalau begitu......aku lega sih......”


Melihat wajah Iwama yang seolah dipenuhi campuran rasa malu dan rasa bersalah, aku pun berkata.


“Tak peduli siapa bilang apa, tidak perlu dipikirkan. Legenda itu pada akhirnya cuma kata-kata orang lain.”


“......Iya. Mungkin, begitu ya.”


Aku menyadari bahwa entah kenapa Iwama tersendat dalam ucapannya.


Cara bicaranya terdengar seperti ingin mengiyakan, tapi menahan diri karena alasan yang nyaris spiritual.


Setidaknya, jelas bahwa dalam benak Iwama, bunga sakura kemarin telah menjadi topik yang sulit disentuh.


“Pelajaran pertama apa, ya?”


Aku bertanya hanya untuk mengalihkan pembicaraan.


“Perwalian. Penentuan pengurus kelas.”


Mungkin karena lega tak perlu membahas soal sakura, Iwama kembali menampilkan senyum biasanya.


Memang, bagi kami berdua, obrolan ringan tanpa makna khusus seperti ini jauh lebih pantas dibanding percakapan semacam “sakura kemarin indah ya” atau “ingin ke sana lagi”.


“Penentuan pengurus, ya. Aku sama sekali belum memikirkan mau jadi pengurus apa.”


“Eh, begitu?”


“Yah, sisa apa pun tak masalah. Kalau Iwama-san sendiri?”


“Aku? Hmm, aku juga masih ragu mau bagaimana—”


Aku merasa heran, tapi sebelum sempat mengatakannya, wali kelas masuk.


Begitu perwalian benar-benar dimulai, Iwama hampir tanpa ragu mencalonkan diri sebagai ketua kelas.


Di kelas yang selama beberapa detik awal tak satu pun mengajukan diri, ketika terdengar suara “Ya!” dari belakang, ada perasaan seperti, “ya, sudah pasti begitu.”


Iwama terpilih sebagai ketua kelas dengan tepuk tangan bulat.


Meminjam ungkapan Mizusaki, dia seperti “ketua kelas yang berjalan mengenakan pakaian”. Hasil yang sudah sepantasnya.


Untuk ketua kelas satunya lagi, seorang pria berwajah tampan yang terlihat seperti pemain sepak bola ikut mencalonkan diri, dan karena tak ada pesaing lain, ia pun terpilih secara bulat.


Sejak saat itu, menggantikan wali kelas, ia dan Iwama berdiri di podium dan memimpin penentuan pengurus.


Tetap saja, rasanya Iwama lebih cocok berada di atas podium daripada duduk di kursi dekat pintu kelas.


Sambil menatap papan tulis dengan kosong, akhirnya aku diputuskan tanpa jabatan apa pun.


Aku sempat berpikir akan mengajukan diri jika ada posisi yang tak diminati siapa pun, tapi layaknya sekolah unggulan, semua posisi terisi oleh sukarelawan.


Penentuan pengurus selesai tanpa hambatan, dan seluruh kelas bertepuk tangan.


Seolah menanggapi suasana, sinar matahari yang masuk menerangi nama-nama yang tertulis di papan tulis.


Di seberang meja guru, Iwama menyipitkan mata, tampak silau.




“Hei, Delta. Kau kelihatan agak kesepian.”


Saat istirahat siang keesokan harinya, Mizusaki menjatuhkan diri dan duduk di kursi Iwama. Lalu ia mulai membuka bekalnya di sana.


“Pengintaian ke kelas lain sudah selesai?”


“Yah, semua enam kelas, sudah aku cek sekilas. Perlu aku perkenalkan gadis-gadis imutnya?”


“Selama ada kau, itu sudah lebih dari cukup.”


“Ah, bisa saja.”


Sambil bertanya-tanya kenapa harus kesepian sampai melakukan percakapan seperti ini, aku mengambil tomat ceri, lalu menyadari bahwa Mizusaki sedang menatap ke arah depan kelas.


Pemilik dari kursi yang sekarang diduduki Mizusaki sedang makan bekal bersama seorang siswi bermarga langka bernama Kannabi.


Nomor absennya tepat setelah Iwama, jadi dia duduk di barisan paling depan kelas.


Akhir-akhir ini, Iwama dan Kannabi semakin sering terlihat bersama.


Kannabi adalah gadis berbadan kecil yang diselimuti aura gelap yang membuat orang lain sulit mendekat.


Sejak pertama masuk sekolah, dia selalu tampak sendirian.


Mungkin Iwama merasa tidak boleh membiarkannya seperti itu dan mulai memperhatikannya.


“Ya, memang pada akhirnya gadis ya berkumpul sama gadis juga. Mau bagaimana lagi.”


Mizusaki mengeluh, seolah sudah menyimpulkan sendiri segalanya.


“Aku sendiri sebenarnya tidak kepikiran ingin akrab dengan gadis.”


“Eh, jangan sok kuat begitu. Kau kan hampir berhasil akrab. Bahkan sempat foto berdua diam-diam sama Iwama-san, kan?”


“Tangan doang.”


“Yah, mau bagaimana lagi. Itu memang harus diterima. Antara kutu buku sains seperti kita dan orang populer seperti Iwama-san, dunia yang kita tempati memang beda.”


Dengarkan orang bicara, dong.


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kujelaskan, tapi rasanya jadi merepotkan.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Kalau sampai kukatakan bahwa Iwama sebenarnya sesama penggemar sains—Mizusaki pasti akan memakai logika gamma–delta-nya untuk mulai membahas takdir.


“Pada akhirnya sama saja seperti waktu SMP, kan. Mari kita jalani hidup akrab antarsesama cowok dengan muram.”


Aku mengira Mizusaki akan mengangguk dengan gembira, tapi ia malah menghentikan sumpitnya, tampak tenggelam dalam pikiran.


“Ada apa?”


“Tidak......menurutku sudah waktunya kita mulai memikirkannya dengan serius.”


Dengan nada serius seolah hendak membicarakan perpisahan, Mizusaki berkata demikian. Untuk berjaga-jaga, perlu kujelaskan bahwa kami sama sekali bukan berada dalam hubungan semacam itu. Dan ketika Mizusaki memakai nada serius, biasanya justru saat ia sedang bercanda.


“Memikirkan apa, efek alosterik?”


“Bukan, sekarang bukan soal reaksi enzim. Ini soal yang lebih penting—tentang bagaimana kita menjalani hidup ke depan.”


Tanpa mengendurkan ekspresi seriusnya, Mizusaki melanjutkan.


“Aku tidak keberatan kita berdua sama-sama muram. Tapi bagaimana cara kita bermuram itu, penting, kan?”


Setelah berpikir sejenak, aku memahami maksud Mizusaki.


“Pemilihan klub, ya.”


“Jelas. Kita datang ke SMA Tsunagai, sekolah unggulan nomor satu di prefektur dan juga kuilnya anak IPA. Klub-klub sainsnya juga bukan cuma satu, katanya ada beberapa. Bukankah ini panggung terbaik bagi kita untuk menjalani masa muda yang muram? Kita tidak boleh gagal memilih klub.”


SMA Tsunagai secara tradisional menaruh perhatian besar pada pendidikan sains. Alasan Mizusaki dan aku memilih sekolah ini bukan sekadar karena dekat dari rumah dan tingkat akademiknya bagus, melainkan terutama karena hal itu.


Di sekolah ini, para pejuang yang bercita-cita menekuni bidang sains berkumpul dari seluruh penjuru prefektur.


Pasti Iwama juga begitu. Salah satu dari para pejuang yang berkumpul demi mencari sesama pejuang.


Aku mengibaskan pikiran tentang klub apa yang akan dipilih Iwama dari kepalaku.


“Klub apa saja yang ada?”


“Harusnya ada di situs sekolah......tenang saja, ini sumber primer.”


Mizusaki mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari.


“Kalau yang berbau sains, ada klub fisika, kimia, biologi… lalu klub PC? Tapi klub PC agak beda, kelihatannya lebih ke game, ilustrasi, atau video daripada informatika.”


“Kalau begitu, sepertinya klub kimia dan biologi patut kita cek.”


“Kan. Kalau begitu, kita lakukan minggu depan.”




Dan pada hari Senin minggu berikutnya, setelah selesai mengunjungi semua klub, kami berdua justru sama-sama memiringkan kepala dengan bingung di sebuah kedai kopi yang kami singgahi sepulang sekolah.


“Acara penyambutan hari ini, bukankah agak aneh?”


Aku pun mengangguk menanggapi pengamatan Mizusaki. Ada beberapa hal yang terasa janggal.


Untuk menentukan klub mana yang akan kami masuki, menghilangkan rasa ganjil yang muncul itu adalah hal yang mutlak perlu.


Kegiatan klub adalah sesuatu yang bisa menguasai sebagian besar kehidupan SMA di luar belajar. Kami harus menilai dengan mata kami sendiri yang jernih, klub mana yang benar-benar cocok untuk kami.


Untuk menjelaskan kejadian ini dengan cukup jelas, perlu meninjau kembali apa yang terjadi pada hari itu secara menyeluruh.


Pertama-tama, mari kita mulai dengan percakapan yang terjadi pagi hari itu──




Hari Senin, saat aku tiba di sekolah, aku menyadari bahwa kelas dipenuhi suasana yang sedikit berbeda dari biasanya. Ada kegelisahan samar yang berdesir di udara.


“Hari ini hari dibukanya penyambutan anggota baru. Semua orang membicarakan klub.”


Sebelum jam pelajaran pertama dimulai, Iwama yang baru kembali dari arah Kannabi memberitahuku alasannya.


“Shinkan” adalah singkatan dari kegiatan penyambutan murid baru. Ada juga teori bahwa itu ditulis sebagai “新勧” dengan makna perekrutan murid baru, tapi intinya adalah kegiatan di mana semua klub secara serentak merekrut anggota baru.

Tln: yang pertama itu "新歓/shinkan", yang kedua itu "新勧/shinkan"


“Pantas saja suasananya terasa riang.”


Aku teringat bahwa hari ini pelajaran hanya sampai siang. Kupikir bekal tidak perlu, tetapi semalam Mizusaki mengirim pesan, “Sore kita tentukan klub! Bawa bekal ya.”


Tunggu dulu. Rasanya ada kata yang terdengar agak aneh.


“......Hari pembukaan? Ada aturannya?”


“Entah kenapa mirip Beaujolais Nouveau ya. Aku juga baru dengar tadi, katanya sesuai peraturan sekolah, sampai jam satu siang hari ini belum boleh melakukan penyambutan.”


Sesaat aku sempat mengira Iwama kembali menggunakan istilah akademis yang tak kukenal, tapi ternyata tidak—itu hanya soal anggur yang tanggal peredarannya ditentukan oleh hukum Prancis.


“Kenapa ada aturan seperti itu?”


“Entahlah......Izuta-kun, kamu sudah menentukan klub mana yang akan kamu lihat?”


“Untuk sementara, aku ingin melihat klub-klub sains. Klub kimia, klub biologi. Kalau kamu, Iwama-san?”


“Aku berpikir untuk mencoba klub basket! Aku diajak temanku dari SMP.”


Karena dia mengatakannya dengan wajah yang begitu bersemangat, aku sempat berpikir mungkin ingatanku yang keliru. Bukankah Iwama dulu anggota klub sains di SMP, dan bukankah dia cukup menyukai sains sampai tanpa sengaja cocok mengobrol denganku?


Setelah bingung bagaimana mengungkapkan keraguanku, aku pun membuka mulut dengan ragu-ragu.


“Klub sainsnya di hari lain?”


Tercipta jeda sesaat.


“......Bagaimana ya, aku belum memutuskan.”


“Kalau begitu, berarti kamu tidak terlalu mempertimbangkan klub budaya?”


“Tidak juga, aku tentu tertarik dengan klub sains, tapi klub olahraga juga rasanya sayang untuk dilewatkan......masa muda yang dihabiskan dengan serius berolahraga kelihatannya seru, kan!”


Cara bicaranya agak samar. Namun, mungkin saja Iwama punya keadaannya sendiri. Jika dia memang ingin fokus pada olahraga, maka di sekolah ini, merangkap dengan klub sains pasti akan sulit.


Setelah memikirkannya, aku menyadari kesombonganku sendiri. Apa pun klub yang dipilih Iwama seharusnya tidak ada hubungannya denganku.


“Olahraga, ya......memang, itu terasa Iwama-san sekali.”


Kata-kata yang bahkan tidak kusadari terucap keluar dari mulutku. Mungkin itu semacam ritual bodoh untuk meyakinkan diri sendiri bahwa “aku dan dia adalah penghuni dunia yang berbeda, dengan minat dan kecocokan yang tak sama.”


Namun, mengatakan bahwa itu Iwama sekali rasanya memang tepat. Klub basket, misalnya, terlihat sangat cocok untuk siswi teladan yang ceria dan aktif seperti dirinya.


Iwama tidak menjawab. Aku menjadikan alasan mengambil buku pelajaran sebagai dalih untuk kembali menghadap ke depan.

Post a Comment for "Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 2.1"