Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 1.3
Bab 1 - Di Area yang Dibingkai oleh Warna Merah Muda Pucat
Tujuan hari ini adalah bunga sakura. Kami pun kembali melanjutkan langkah di jalur gunung.
“Izuta-kun dulu anak klub kimia, kan? Kimia banget.”
“......Iya, sih.”
“Kamu juga belajar soal tumbuhan? Cerita tentang katakuri tadi rasanya lebih ke biologi daripada kimia......dan kamu kelihatan sangat paham. Spesimen daun tekan juga rasanya bukan sesuatu yang dibuat di klub kimia.”
“Ah......ya, begitulah. Ada macam-macam alasannya.”
Saat aku mengelaknya seadanya, Iwama tersenyum lembut ke arahku.
“Kamu suka tumbuhan, ya.”
“Bukan suka sih......lebih ke mengagumi.”
“Mengagumi tumbuhan?”
“Iya. Karena tumbuhan itu lurus.”
Tln: disini dia bilang "まっすぐ/massugu" yang mana bisa artinya lurus, jujur, terang-terangan/blak-blakan
Melihat Iwama sedikit memiringkan kepala, aku sadar ucapanku kurang jelas.
"Tumbuhan selalu menjalani hidupnya dengan lurus, sesuai dengan dirinya sendiri. Itulah yang kukagumi."
Iwama menatapku dengan wajah sedikit terkejut, lalu segera kembali tersenyum seolah menutupi perasaannya.
“......Hidup tanpa ragu memang sedikit membuat iri, ya.”
“Kan.”
Kami sudah berjalan cukup jauh. Saat menoleh ke belakang, atap gedung sekolah tampak jauh di bawah.
Ketika Iwama berhenti, aku mengangkat kepala dan melihat sepasang pria dan wanita turun sambil bercakap-cakap akrab. Iwama menepi untuk memberi jalan. Aku pun menirunya.
“Padahal capek-capek naik, malah mengecewakan.”
“Ya mau bagaimana lagi. Musim dingin ini anginnya memang kencang.”
Kedua orang yang berpapasan sambil berkata demikian tampaknya adalah kakak kelas. Penampilan mereka mencolok, dan dari jarak kedekatan mereka, kelihatannya sepasang kekasih. Setelah melirik kami berdua, mereka tersenyum sambil melambaikan tangan.
Karena Iwama menundukkan kepala, aku pun membalas dengan sedikit membungkuk. Itu alasan yang pas untuk mengalihkan pandanganku.
Karena kami berpapasan dengan pasangan tadi, aku sempat khawatir Iwaima akan mengira sakura tujuan kami adalah tempat semacam itu, tapi sepertinya kekhawatiranku tidak perlu.
Iwama tetap berjalan di depan dengan sikap yang sama seperti sebelumnya.
Gunung itu sunyi. Menurut Mizusaki, seharusnya ini adalah “spot super populer”, tapi sama sekali tidak ada orang lain.
Kami sudah naik cukup jauh, tapi satu-satunya orang yang kami temui hanyalah pasangan kakak kelas tadi.
“Ah, yang itu bukan!”
Iwama menunjuk ke arah ujung tikungan.
Saat aku menyusulnya, terlihat warna merah muda pucat sakura di depan sana.
Di sekelilingnya, dedaunan hijau muda tampak seperti lukisan cat air, namun hanya di sana bunga sakura bermekaran dengan warna mencolok, seolah cat minyak diteteskan di atas kanvas.
Pas sedang mekar sepenuhnya.
Semakin mendekat, terdengar kicauan ceria “ciap-ciap”.
Jika diperhatikan lebih saksama, banyak burung gereja hinggap di pohon sakura.
Mereka dengan polos menggigiti bunga dari pangkalnya, hanya mengisap madunya lalu membuang bunganya ke tanah.
Dengan cara makan seperti ini, burung gereja tidak membantu penyerbukan, sehingga perilaku ini kadang disebut pencurian nektar.
Bagi pohon sakura, mereka adalah tamu yang seratus persen merugikan tanpa satu pun manfaat.
“Bunga-bunga yang berguguran jadi berantakan, ya.”
“Tapi burung gereja itu lucu, jadi rasanya bisa dimaafkan, ya.”
“Begitu......?”
Kami berhenti begitu saja di depan pohon sakura.
Di pepohonan sekitar pun, banyak burung gereja berkumpul.
Iwama menatap pemandangan itu dengan penuh rasa sayang.
“Aku merasa burung gereja itu makhluk yang dirancang langsung oleh Tuhan.”
Tiba-tiba, dengan nada yang tidak terdengar seperti bercanda, dia mengatakan sesuatu yang aneh.
“Tubuhnya kecil dan membulat, matanya bulat sempurna, dan yang paling penting—bintik hitam di pipinya!”
“Pasti Tuhan menciptakannya sambil berpikir ingin membuat makhluk yang luar biasa lucu.”
Saat aku terdiam keheranan, Iwama buru-buru melambaikan kedua tangannya di depan dada.
“Tentu saja cuma bercanda......sekarang zamannya neo-Darwinisme, kan.”
Sambil berkata begitu, Iwama menghadap ke arah sakura.
Keraguan yang berputar-putar di dalam diriku berubah menjadi keyakinan.
Neo-Darwinisme adalah teori evolusi modern yang memperkuat konsep seleksi alam Darwin dengan pengetahuan baru.
Jika dia hanya murid teladan, belajar lebih dulu mungkin masih masuk akal, tapi jika bisa menyelipkan topik seperti ini begitu saja dalam obrolan sehari-hari, ceritanya berbeda.
Sepertinya dia bukan sekadar murid teladan biasa.
Iwama jelas bukan tipe yang sekadar ikut-ikutan—bagaimanapun dilihat, dia benar-benar serius.
Dua pohon yamazakura yang besar berdiri di sisi lembah lereng gunung, seolah saling bersandar satu sama lain.
Jalur pendakian mendekati sakura sampai jarak tertentu, lalu berbelok memutar sambil tetap menjaga jarak.
Bentuk menyerupai mata babi—atau mungkin hati—belum terlihat.
Kami pun melanjutkan perjalanan.
Namun, tepat setelah belokan, jalan itu langsung buntu.
“Wah, gawat......”
Sebuah pohon tumbang yang sangat besar.
Di dekat sakura, pohon besar jenis konara patah dari pangkalnya dan tergeletak berat menutup jalan.
Dilihat dari kondisi tanah di pangkalnya, sepertinya belum lama sejak pohon itu tumbang.
Musim dingin ini anginnya memang kencang.
Pasti pohon itu tumbang saat musim dingin.
Pita berpola garis hitam dan kuning dililitkan melingkar pada batang pohon tumbang itu.
Kami berhenti melangkah.
Sepertinya kami tak bisa maju lebih jauh tanpa memanjatnya.
Meski tampaknya masih bisa dipanjat dengan susah payah, adanya pita itu mungkin menandakan area terlarang.
“Jalan buntu, ya.”
“Tapi lihat! Sepertinya sakuranya dilihat dari sana.”
Iwama menunjuk ke sisi jalur pendakian.
Dari jalan menuju arah sakura, terdapat sebuah panggung kayu yang cukup untuk dua orang berdiri berdampingan.
Dan yang mengejutkan, seluruh bentuknya menyerupai hati.
Pada panggung itu terpasang sesuatu yang tampak seperti papan penjelasan.
Namun mungkin karena telah melewati waktu yang sangat lama,
Permukaannya tertutup lumut kerak berwarna abu-abu, hingga tulisannya tak terbaca sama sekali.
Saat aku mengeriknya dengan dahan yang jatuh, akhirnya huruf-huruf itu muncul.
Isinya berbunyi—“Panggung Pengamatan Sakura”.
Di bawah tulisan itu, ada penjelasan tambahan.
Sayangi tanaman! Jangan keluar dari jalur pendakian, silakan melihat sakura dari atas sini ♡
Tahun ajaran Heisei 16, para alumni
Sepertinya ini adalah karya kelulusan.
Kalau dilihat dengan pikiran itu, memang pembuatannya terasa kasar.
Mungkin dibuat oleh siswa kelas tiga SMA dua puluh tahun lalu dengan memotong dan merakit kayu sendiri.
Dari serat kayunya, bahan itu tampaknya berasal dari pohon berdaun lebar, dan tetap utuh meski telah melewati waktu panjang.
Kemungkinan besar itu kayu pohon kastanye.
Kayu yang keras dan kaya tanin ini sulit membusuk bahkan di tempat lembap, dan telah lama digunakan untuk pondasi bangunan maupun bantalan rel kereta.
Iwama membaca penjelasan panggung pengamatan itu—atau mungkin melihat simbol hati di akhir kalimat—lalu naik ke atas panggung dan memandang sakura.
“Pemandangannya bagus! Dari sini, memang sakuranya kelihatan paling indah.”
Di belakang Iwama yang tampak terharu, aku tetap berdiri diam di jalur pendakian.
“Eh? Izuta-kun, sini juga! Memang agak kotor, tapi ternyata kokoh, lho!”
Iwama mengajakku dengan polos, tapi bukan itu masalahnya.
Panggung berbentuk hati ini jelas-jelas dibuat untuk pasangan.
“Ada apa?”
Iwama memiringkan kepalanya.
Aku tentu saja tak mungkin menolak dengan alasan seperti, “Ya, naik ke atas hati berdua dengan seorang gadis itu agak memalukan,” jadi aku memasang wajah seolah tak peduli dan berdiri di samping Iwama.
Perancangnya pasti seorang ahli strategi.
Ukuran panggung pengamatan itu terlihat pas untuk dua orang berdiri berdampingan, tapi saat benar-benar dinaiki terasa sempit, sampai-sampai bahu kami bisa saling bersentuhan hanya dengan sedikit gerakan.
Aku berusaha sebisa mungkin tak menyadarinya dan memandang sakura.
Panggung ini ditempatkan sedikit lebih dekat ke sakura dibanding jalur pendakian.
Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, dua pohon yamazakura yang sedang mekar penuh tampak menutupi pandangan dengan pas.
Tanpa sadar, napasku tertahan.
Seolah seluruh dunia telah menjadi musim semi.
“Begitu ya......indah.”
Kelopak berwarna merah muda pucat yang lebih pekat daripada someiyoshino terangkat oleh hembusan angin kecil dan berjatuhan ke arah kami.
Burung-burung gereja yang ramai mencuri nektar menjatuhkan bunga satu per satu ke tanah.
Tanah di sekeliling bukan hanya dipenuhi kelopak sakura, tetapi juga bunga-bunga katakuri.
Panggung pengamatan di luar jalur pendakian ini barangkali juga berfungsi agar katakuri tidak terinjak oleh para pengunjung.
Di bukit belakang yang hijaunya belum pekat, tempat ini mungkin adalah ruang paling berwarna.
“Hm......”
Namun, Iwama tampak belum sepenuhnya puas.
“......Hei, yang mana ya yang disebut inome itu? Katanya harusnya terlihat pola yang membawa kebahagiaan, kan?”
“Kalau dipikir-pikir, memang ada cerita begitu.”
Aku mengatakannya sambil berpura-pura tak tertarik.
“Izuta-kun, kamu tahu seperti apa pola inome itu?”
“Hmm, entahlah......”
Aku berharap percakapan ini berakhir samar-samar saja, tapi kenyataannya tidak begitu.
Iwama mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari tahu.
“......Sudah ketemu?”
Saat kutanya, Iwama menatap layar sejenak lalu mengangguk.
“Iya. Inome itu ditulis dengan kanji ‘mata babi hutan’, dan katanya berarti pola yang mirip hati.”
“Oh, begitu. Jadi itu sebabnya panggung pengamatan ini juga berbentuk hati.”
“Oh, iya juga, mungkin begitu!”
Aktingku memang buruk, tapi Iwama yang polos tampaknya sama sekali tidak meragukan kepura-puraanku.
Iwama mengalihkan pandangannya dari layar ponsel kembali ke arah sakura.
“Tapi aneh ya, aku tidak begitu melihat bentuk yang mirip inome......mungkin celah besar di antara dua pohon itu yang dimaksud?”
Sepasang sakura itu masing-masing mengembangkan dahan yang sedang mekar penuh, memenuhi pandangan dengan warna merah muda pucat.
Di antara keduanya terdapat sebuah celah besar, memperlihatkan langit biru seolah terpotong.
Namun bentuknya adalah segitiga terbalik yang terdistorsi.
Bagaimanapun ditafsirkan, itu bukanlah bentuk yang bisa disebut hati—tidak, bahkan inome pun bukan.
“Menyebut ini sebagai inome rasanya agak dipaksakan, ya.”
“Iya, benar juga......”
Suara yang terdengar lebih murung dari yang kuduga membuatku menoleh ke arah Iwama.
Mungkin ini hanya ulah iseng yang kejam dari pohon sakura.
Namun, di wajah Iwama tampak seolah ada bayangan tipis yang jatuh.
Oh, begitu.
Berbeda denganku yang sama sekali tidak berharap apa-apa, Iwama ternyata menantikan pola pembawa kebahagiaan itu.
——Masa SMA harus dimulai dengan keberuntungan yang bagus, kan!
Aku teringat kata-kata Iwama sebelum kami masuk ke gunung.
Siswi teladan yang polos itu mendengar rumor menarik, dan meski hanya setingkat takhayul, dia mendaki bukit belakang demi mencari kebahagiaan.
Namun, kebahagiaan seperti itu ternyata tidak ada.
Mizusaki pernah berkata.
Entah inome atau hati, tahun ini tak seorang pun berhasil melihatnya.
Pasti semuanya sudah lenyap.
Bajingan itu telah melakukan dosa yang tak main-main.
Hanya demi menggodaku, ia melibatkan Iwama dan membuat gadis itu mengejar kebahagiaan yang tak bisa digenggam.
Dibandingkan tidak berharap sejak awal, dikhianati oleh harapan jauh lebih menyakitkan.
Aku mencari kata-kata, berusaha entah bagaimana untuk menyemangatinya.
“Musim dingin ini anginnya kencang. Mungkin dahan-dahannya patah, dan ha—maksudku inome-nya juga rusak. Lihat, bahkan ada pohon yang tumbang.”
Aku menunjuk pohon tumbang yang menghalangi jalan di depan.
“Tapi......pohon tumbangnya tidak mengenai sakura, kan?”
Seperti yang dikatakan Iwaia, posisi pohon tumbang itu memang tidak tampak akan bersentuhan dengan kedua sakura.
“Bisa saja ada kemungkinan dahan sakura patah karena angin. Itu memang hal yang tak bisa dihindari.”
Iwama masih menopang dagunya dengan tangan, menatap sakura itu tanpa berkedip.
“Benarkah begitu? Kita belum tahu. Soalnya belum ditemukan jejak dahan yang patah.”
“Ah, iya......”
Tanpa sadar, suara kebingungan lolos dari mulutku.
Ada sesuatu yang terasa janggal. Tatapan mata Iwama jauh lebih serius daripada sebelumnya.
Bukan lagi profil gadis ceria yang datang ke bukit belakang demi melihat sakura pembawa kebahagiaan, melainkan profil seorang peneliti yang sangat kukenal.
“......Ah! Maaf!”
Tiba-tiba Iwama kembali ke ekspresi semula dan menoleh ke arahku.
“Lupakan saja! Aku punya kebiasaan buruk—kalau ada hal yang tidak kupahami, aku langsung jadi terlalu serius......Lagipula, kalau cuacanya berubah nanti repot. Kita pulang, yuk!”
Senyumnya memang cerah, tetapi aku menyadari bahwa sifatnya berbeda dari “lihat kan senyum itu” yang biasa.
Setidaknya untuk saat ini, itu bukan senyum yang muncul dari hati.
Cuaca sepertinya masih akan bertahan. Meski aku tak bisa membantu meraih kebahagiaan, menemani sampai dia merasa puas rasanya bukanlah hal yang pantas dihukum.
“Tidak, bukankah lebih baik kita memeriksa hal-hal yang bisa diuji di sini sebelum pulang? Aku juga tidak punya urusan lain setelah ini. Menurut Mizusaki, sampai tahun lalu, selama sembilan belas tahun, pola inome pada sakura itu selalu terlihat. Kalau tahun ini tiba-tiba tak terlihat, pasti ada alasannya.”
Ada jeda singkat, seolah-olah dia sedang mencoba membaca niatku yang sebenarnya.
“......Kamu mau menyelidikinya bersama?”
“Iya. Kalau soal kajian tentang tumbuhan, mungkin aku bisa membantu sedikit.”
“Benarkah......?”
Dia terus saja memastikan. Tapi kalau hanya mengecek apakah ada dahan yang patah atau tidak, seharusnya tak memakan banyak waktu. Aku pun mengangguk.
Di wajah Iwama, “lihat kan senyum itu” kembali merekah seketika.
“Terima kasih! Kalau begitu, ayo kita uji......secara ilmiah!”
Aku sedikit terkejut dengan kata-kata yang tiba-tiba meluncur itu.
“Secara ilmiah?”
“Iya. Aku ingin mencari tahu dengan benar—secara ilmiah—kenapa pola inome yang seharusnya terlihat selama ini, tiba-tiba tidak terlihat tahun ini.”
Menyebutnya “ilmiah” hanya untuk mengungkap misteri kecil di sekitar kami terasa agak berlebihan.
Iwaima sudah berubah drastis—sampai rasanya tak berlebihan jika menyebutnya sebagai perubahan form.
Tln: kek form kamen rider gitu
Entah karena terlalu condong ke depan, atau karena hanya melihat ke depan saja—yang jelas, ada semacam gairah yang meluap, tak bisa sepenuhnya dibendung oleh kerangka “siswi teladan”.
Kupikir dia orang yang menarik.
Dari sela-sela percakapan pun terlihat jelas—Iwama memang sangat menyukai sains. Sebagai seseorang yang setidaknya pernah berada di dunia sains, menemani pencariannya pun tidak terdengar buruk.
“Baik. Kalau begitu, pertama-tama kita cek apakah ada dahan yang patah. Dari sini tidak kelihatan jelas. Kita dekati pohon sakuranya.”
“Iya!......Tapi kita harus hati-hati jangan sampai menginjak bunga.”
Mendengar itu, aku menunduk melihat tanah. Bunga katakuri bermekaran merata di sepanjang jalur pendakian. Mungkin karena sinar matahari yang cukup, begitu keluar dari jalur, mustahil bergerak tanpa menginjaknya.
“Apa tidak ada jalan untuk mendekati pohon sakura tanpa menginjak bunga?”
Sambil berkata begitu, Iwama langsung mulai meneliti sekitar. Jalur pendakian berputar mengelilingi dua pohon sakura dengan jarak tertentu, dan sejauh yang bisa kulihat, hampir seluruh area dipenuhi katakuri.
“Ah, Izuta-kun! Kalau lewat balik batang tumbang itu, sepertinya kita bisa lewat!”
Dipanggil olehnya, aku mengintip ke balik batang tumbang itu. Memang ada bagian yang sama sekali tidak ditumbuhi katakuri, dan jika lewat sana, kami bisa mendekati sakura sampai batas tertentu.
“Tapi di batang tumbang ini ada pita larangan masuk—”
“Tidak tertulis ‘dilarang masuk’, kok. Cuma garis-garis kuning dan hitam saja!”
Ucapan berbahaya itu membuatku tercengang. Rasa ingin tahu Iwama jelas bukan main-main. Namun, seandainya lawan bicaraku bukan dia, mungkin aku pun akan memakai logika yang sama.
“......Tidak berbahaya?”
“Tidak apa-apa! Izuta-kun, bisa tolong pegangkan ini sebentar?”
Sambil berkata begitu, dia menyerahkan tas sekolahnya kepadaku, lalu dengan wajah seolah itu hal wajar, meraih batang tumbang itu.
Dengan lincah dia menggerakkan tubuhnya, menghindari dahan-dahan, lalu menjejakkan kaki di batang pohon itu.
“Tunggu, itu berbahaya.”
Iwama menghentikan gerakannya dan menoleh dengan ekspresi heran.
“Eh? Tapi kelihatannya dahannya juga kokoh......”
“Bukan itu maksudnya......itu, bagaimana ya.”
Karena sulit mengatakannya, aku sempat memotong ucapanku, tapi karena sudah terlanjur mulai, aku tak bisa mengaburkannya begitu saja.
“......Lihat, roknya.”
Aku melangkah mundur satu langkah dan mengalihkan pandangan saat menunjukkannya. Jika Iwama melangkah satu langkah lagi, hampir pasti itu akan masuk ke dalam bidang pandanganku.
“Ah......”
Iwama buru-buru turun kembali dari batang tumbang itu.
“Maaf ya! Aku terlalu asyik sampai tidak sadar. Aduh, sebenarnya aku sempat ragu, tapi mungkin memang lebih baik aku pakai celana panjang.”
Sebenarnya, ini bisa selesai hanya dengan aku membelakangi arah itu, tapi mungkin karena Iwama juga punya harga diri sebagai seorang gadis, rencana menyeberangi batang tumbang itu pun dibatalkan. Setelah menerima kembali tas sekolahnya dariku, dia membuka resletingnya dengan telinga yang masih memerah.
“Ngomong-ngomong, aku bawa teropong. Mungkin bisa dipakai.”
Sambil berkata begitu, dia mengeluarkan teropong lipat yang ringkas.
Persiapannya terlalu matang.
“Kenapa kamu bawa teropong ke mana-mana?”
“Kadang pas berangkat sekolah gitu, tiba-tiba ingin lihat burung, kan.”
“......Begitu ya?”
Mungkin karena insiden rok tadi, Iwama terdengar sedikit gugup dan terbata-bata.
“Ehm, ini dibelikan ayahku sebagai hadiah masuk sekolah.”
Dia memperlihatkan teropong dengan bodi hijau tua yang indah kepadaku. Swarovski. Entah Iwama sendiri menyadarinya atau tidak, tapi itu jelas barang yang sangat mahal.
Beragam pertanyaan berkelebat di kepalaku—orang macam apa ayahnya itu, apakah membawa benda seperti ini ke sekolah benar-benar boleh, apakah dia sungguh mengamati burung saat berangkat sekolah. Namun sekarang bukan saatnya memikirkan hal sepele, yang penting adalah fokus memecahkan masalah.
“Sepuluh kali pembesaran, ya. Kalau melihat sakura dengan itu, kondisi dahannya seharusnya bisa dicek dari sini.”
“Iya, ayo kita coba.”
Iwama mengintip ke dalam teropong dan dengan gerakan yang sudah terbiasa, menyesuaikan fokusnya.
“Ehm, coba aku lihat......eh? Hm......”
Setelah mencari beberapa saat, Iwama menurunkan teropongnya dan menyodorkannya kepadaku.
“Aku tidak bisa melihat ada yang patah. Izuta-kun, coba kamu lihat juga.”
“......Ah, aku tidak perlu.”
Mengintip teropong yang barusan dipakai oleh siswi sekelas terasa, entah kenapa, sedikit canggung bagiku.
“Kemungkinan terlewat jadi lebih kecil, ayolah!”
Sepertinya dia memang berniat meneliti dengan cukup teliti. Karena tak ada alasan kuat untuk menolak sejauh itu, aku menerima teropong tersebut. Setelah menaikkan kacamataku ke dahi, aku pun mengintip.
“......Luar biasa ya. Dengan ukuran sekecil ini, bisa kelihatan sejernih ini.”
Bukan untuk menutupi rasa malu, tapi entah kenapa, kesan tentang teropong itulah yang pertama kali terucap.
“Kan! Walaupun kecil tapi terang, dan di dalam hutan pun kelihatan jelas.”
Pembicaraan sempat melenceng. Aku kembali mengamati dengan saksama cabang-cabang sakura tempat burung gereja bermain. Memang tak terlihat bekas kerusakan besar pada cabang-cabang itu.
“Kamu benar, Iwama-san. Sepertinya memang bukan karena patah.”
“Kalau begitu, kenapa jadi bukan bentuk inome lagi, ya? Mungkin tahun lalu cabangnya tumbuh terlalu panjang?”
Aku mencoba memikirkannya sebentar. Menurutku kemungkinan itu kecil.
“Tidak. Sakura berbunga pada cabang yang tumbuh di tahun sebelumnya. Bagian yang berbunga tidak ada yang terlalu panjang. Pada pohon sebesar ini, cabang ujungnya tidak akan tiba-tiba memanjang dan mengubah bentuk keseluruhan. Bahkan kalaupun tumbuh, rasanya tidak mungkin sampai mengubah bentuk inome secara keseluruhan.”
“Hee......kamu tahu sampai sedetail itu!”
Mungkin itu pengetahuan yang agak terlalu maniak.
Aku mengucapkan terima kasih singkat lalu mengembalikan teropongnya. Iwama segera menggunakannya lagi untuk melihat sakura. Sambil menurunkan kembali kacamataku, entah kenapa aku merasakan rasa gatal aneh di sekitar mata—bukan karena serbuk sari cedar.
“Hm......bukan karena patah, bukan juga karena tumbuh berlebihan......”
Iwama menurunkan teropongnya dan bergumam.
“Kalau begitu, kenapa bentuk inome itu jadi tidak kelihatan?”
Mengapa bentuk area yang dibingkai oleh warna merah muda pucat itu berubah?
Sambil diterpa hujan kelopak bunga, sambil mendengar kicau burung gereja, aku berpikir.
Dan kemudian—
“Begitu ya......mungkin aku tahu alasannya.”
Saat itu, Iwama menoleh ke arahku dengan kecepatan luar biasa.
“Alasan kenapa inome itu tidak terlihat lagi?”
“Iya. Dan juga bagaimana caranya agar bentuk hati itu bisa terlihat dengan jelas. Kalau meminjam kata-katamu, kurasa ini bisa dijelaskan secara cukup ilmiah.”
“Hati?”
“Maaf. Maksudku inome. Bukan hati.”
Itu hal yang penting.
“Jadi, kenapa?”
Ditanya begitu oleh Iwama, aku menunjuk ke tanah—bukan ke langit tempat kelopak bunga menari.
“Petunjuknya bukan di sakura. Tapi di katakuri.”
Mendengar cara bicaraku yang berputar-putar, Iwama membelalakkan matanya karena terkejut.
“Eh? Maksudnya bagaimana?”
“Cabang sakura tidak patah, juga tidak tumbuh berlebihan. Kalau bentuk pohonnya tidak berubah, lalu apa yang berubah?”
Iwama tampak belum menangkap maksudnya. Aku pun melanjutkan.
“Yang berubah adalah sisi kita—yang melihat sakura.”
Keheningan sesaat.
“......Eh, maksudnya posisi kita melihatnya berbeda?”
“Ya. Itu satu-satunya kemungkinan. Kalau posisi berdiri berbeda, bentuk yang terlihat juga pasti berubah.”
“Tapi kalau begitu, bagaimana dengan panggung pengamatan sakura ini......”
“Tahun ini, posisi panggung pengamatan ini berubah. Dan yang memberi tahu kita posisi yang benar adalah—”
Sekali lagi aku menunjuk katakuri yang bermekaran di sekitar panggung pengamatan.
“Katakuri.”
Iwama masih belum sepenuhnya menyadari maksudnya. Aku pun melanjutkan.
“Katakuri adalah spring ephemeral. Untuk bisa berbunga, ia harus melakukan fotosintesis hanya di awal musim semi selama sekitar delapan tahun dan menyimpan nutrisi. Tapi bagaimana kalau ada panggung pengamatan di atasnya?”
Iwama pun tampak menyadarinya, pipinya sedikit memerah karena antusias.
“Kalau ada panggung di atasnya, mereka tidak bisa terkena sinar matahari, jadi tidak bisa berfotosintesis!”
“Iya. Inome yang dilukis oleh sakura itu terlihat setiap tahun selama sembilan belas tahun hingga tahun lalu. Selama itu, panggung pengamatan berada di posisi yang benar. Artinya, di posisi asli panggung itu, katakuri tidak mungkin bisa berbunga tahun ini.”
“Keren, ilmiah sekali!”
Sepertinya Iwama benar-benar menyukai kata ilmiah.
“Di sekitar sini, yang penuh dengan katakuri bermekaran, ada satu titik saja yang entah kenapa tidak ditumbuhi katakuri, kan? Kalau kita berdiri di sana, hipotesis ini bisa diuji.”
“Di seberang pohon tumbang itu......!”
Iwama bergerak seolah tak sabar lagi. Aku mengikutinya. Saat mengintip ke balik pohon tumbang, di sisi jalur pendakian terlihat sebuah area yang sama sekali tak diwarnai merah muda pucat katakuri.
Alasan Iwama sengaja hendak menyeberangi pohon tumbang adalah karena dia ingin mendekati pohon sakura dari wilayah tanpa bunga itu.
Kemungkinan besar, inilah posisi asli panggung pengamatan. Artinya, kalau aku tidak menahannya tadi, Iwama pasti sudah menemukan inome itu.
Dengan niat bertanggung jawab, aku lebih dulu memanjat pohon tumbang itu.
Lalu aku mengulurkan tangan pada Iwama.
“Kalau begini, rokmu tidak perlu dikhawatirkan, kan?”
“Makasih!”
Iwama menggenggam tanganku tanpa ragu. Sensasi sentuhan itu membuat lenganku menegang sejenak.
Kami menyeberangi pohon tumbang itu bersama. Tangan kami pun segera terlepas.
Iwama langsung berdiri di area yang dibingkai oleh merah muda pucat itu dan menatap sakura.
“Hei, Izuta-kun, luar biasa! Inome-nya cantik sekali!”
Aku pun berdiri di samping Iwama dan mengarahkan pandanganku ke arah yang dia tunjuk.
Seketika, hatiku terenggut.
Dua pohon sakura berdiri berdampingan layaknya sepasang suami istri, cabang-cabang berhias bunga merah muda pucat saling bertumpuk.
Di antara mereka terbentang langit biru tanpa satu pun awan, terpotong sempurna oleh sakura membentuk siluet hati.
“......Ternyata memang di sinilah posisi yang benar.”
Iwama bergumam pelan. Aku mengangguk.
“Mungkin karena ada pohon tumbang dan dianggap berbahaya, seseorang yang kurang peka memindahkan panggung pengamatan itu.”
Pasti itu dilakukan demi keselamatan para siswa yang datang melihat sakura. Agar tak perlu menyeberangi pohon tumbang, panggung itu dipindahkan ke sisi depan selama musim dingin. Namun ketika musim semi tiba, sedikit pergeseran posisi itu membuat hati sakura tak lagi terlihat.
Iwama merapatkan kedua tangannya di depan dada, bahkan matanya tampak berkaca-kaca.
“Keren! Bisa memperhatikan katakuri—ini kehebatan Izuta-kun, ya!”
Iwama mengepalkan tangan kanannya dan mengulurkannya ke arahku. Aku pun menggenggam tangan kananku dengan ragu, lalu menepukkannya ringan ke kepalan itu.
“Kamu juga hebat, Iwama. Kalau sendirian, aku pasti takkan terpikir untuk menyeberangi pohon tumbang itu. Mungkin aku juga tak akan memeriksa apakah cabangnya patah.”
“Begitu? Kalau begitu, kehebatan kita berdua.”
Sambil tersenyum, Iwama berbalik menghadap sakura dan merapatkan kedua tangannya. DIa memejamkan mata, seolah sedang memanjatkan doa—entah permohonan apa.
Sambil menatap sakura, aku pun berharap agar kehidupan SMA gadis yang polos ini menjadi sesuatu yang baik.
“Terima kasih sudah menemaniku.”
Saat dia mengucapkan terima kasih lagi, aku jadi bingung harus bereaksi bagaimana.
“Ah, bukan apa-apa......aku juga menikmatinya. Kalau dipikir-pikir sampai tuntas, ternyata misterinya bisa terpecahkan seperti ini.”
“Kemenangan sains, ya!”
Ungkapan itu memang terdengar berlebihan, tapi rasanya tidak sepenuhnya salah.
Jika ada tugas atau pertanyaan, pertama-tama kita mengamati objeknya, lalu mengerahkan seluruh pengetahuan yang telah dipelajari untuk menyaring kemungkinan secara objektif. Dari sana kita membangun hipotesis dan mengujinya. Meski berbeda skala dan rentang dengan penelitian sesungguhnya, pencarian inome kali ini tetap bisa disebut sebagai kegiatan ilmiah sampai batas tertentu.
“Ungkapan yang sangat khas mantan anggota klub sains.”
Angin sepoi-sepoi berhembus, membungkus kami dengan kelopak sakura. Iwama berkata dengan nada riang.
“Aku benar-benar suka sains. Dengan menggunakan kebijaksanaan yang dikumpulkan orang-orang dari seluruh dunia, kita bisa menghadapi misteri di sekitar kita. Berdiri di bahu raksasa dan memandang kota tempat kita tinggal. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu, kan?”
Tln: dia beneran bilang "巨人の肩に乗って/kyojin no kata ni notte" yang artinya berdiri/naik di bahu raksasa/orang besar. Tapi mungkin ini idiom yang punya arti berbeda
Aku merenungkan kata-kata Iwama. Dari bahu raksasa, melihat tempat kita tinggal—menarik.
Seperti yang diharapkan dari SMA Tsunagai. Tak pernah terbayang akan ada teman sekelas dengan cara pandang seunik ini.
Merasa beruntung bisa bertemu orang seperti itu di awal masuk sekolah, aku mendapati dadaku berdebar dengan sendirinya.
“......Sudut pandang seperti itu belum pernah kupikirkan.”
“Begitu? Tapi Izuta-kun juga kelihatan suka sains, lho.”
“Memang, penelitian itu menarik. Tapi itu karena memberi rasa bahwa dengan kekuatan sendiri kita bisa berkontribusi bagi umat manusia. Aku menganggap sains sebagai upaya untuk memperluas kemungkinan umat manusia—atau setidaknya, aku dulu berpikir begitu.”
Setelah menghirup angin musim semi perlahan, aku menambahkan,
“Namun benar juga, melihat sekeliling dari bahu raksasa tidaklah buruk. Buktinya, kita bisa melihat pemandangan seindah ini.”
Iwama mengangguk dengan wajah bahagia.
“Hanya dengan mengubah cara pandang sedikit saja, dunia bisa menjadi seindah ini.”
Penutup yang benar-benar khas siswa teladan. Dari mulutku, kata-kata seperti itu tak akan keluar meski dipaksa.
Tindakan yang kuambil setelah itu terasa begitu mendadak—atau mungkin lebih tepat disebut semacam kecelakaan. Terhanyut oleh suasana musim semi, aku pun terbawa perasaan seperti itu.
“Kalau tidak keberatan, mau membawa ini pulang, Iwama-san?”
Aku mengeluarkan katakuri yang dimasukkan ke dalam kantong plastik dari tas. Sambil menyesal, berpikir bahwa kalau memang akan melakukan hal seperti ini, seharusnya aku menyiapkan kantong yang sedikit lebih layak.
“Eh, boleh?”
“Sebenarnya aku sudah punya spesimen katakuri. Kalau Iwama tertarik, bagaimana kalau mencoba membuat spesimen daun tekan? Bisa dibuat dengan bahan sederhana seperti koran atau kardus.”
Biasanya aku bukan tipe orang yang mengusulkan hal seperti ini kepada gadis yang baru kukenal. Namun, bertemu seseorang seperti Iwama yang benar-benar sefrekuensi atau bisa disebut punya selera yang sama adalah hal yang jarang. Mungkin aku sedikit terbawa suasana.
Katakuri yang masih berlumur tanah, dan kantong plastik yang penuh kerutan. Sebagai hadiah untuk seorang gadis, itu jelas terlalu sederhana—namun Iwama menerimanya dengan wajah gembira.
“Aku akan coba membuatnya, terima kasih!”
Kami juga sudah berhasil melihat hati—atau lebih tepatnya, inome—jadi kami pun memutuskan sudah waktunya turun gunung.
Sebelum meninggalkan lokasi asli dek observasi sakura, Iwama seolah baru teringat sesuatu dan mengeluarkan ponselnya. Dia menyalakan kamera dan mengarahkannya ke sakura.
Terdengar bunyi rana beberapa kali. Namun, sambil tetap memegang ponselnya, Iwama tampak berpikir tentang sesuatu.
“......Ada apa?”
Saat kutanya, Iwaima mengerang pelan dengan raut wajah bingung.
“Memang cantik, tapi dengan ini saja, dari fotonya tidak bisa diketahui kalau ini diambil tahun ini.”
Benar juga, foto-foto dari tahun-tahun sebelumnya pasti sudah beredar luas. Perasaan ingin menjaga nilai kelangkaan karena menemukannya tahun ini bisa kupahami.
“Bagaimana kalau memotret koran pagi hari ini juga?”
Saat kukatakan itu sebagai candaan, Iwama justru menatapku dengan cukup serius.
“Eh, kamu bawa koran?”
“Tidak, aku tidak bawa. Itu cuma bercanda. Maaf.”
“Tidak perlu minta maaf begitu juga......sebenarnya ada cara dengan menampilkan kalender hari ini di ponsel Izuta lalu memotretnya, tapi entah kenapa terasa seperti penculik, dan suasananya jadi rusak.”
Ada benarnya juga.
“Bagaimana kalau selfie saja? Atau aku yang memotret dengan Iwama-san di dalamnya.”
Kupikir itu usulan yang bagus, tapi Iwama sedikit mengernyit lalu menggelengkan kepala.
“Wajahku ini......bukan sesuatu yang sampai-sampai harus difoto segala.”
Ucapan “ah, jangan merendah begitu” kutelan di tenggorokan.
Seperti kata Mizusaki, penampilan Iwama memang luar biasa, tapi terlepas dari itu, perasaan ingin memotret namun tak ingin ikut terfoto adalah sesuatu yang sangat kupahami.
Setelah berpikir sejenak, Iwama mengulurkan tangan yang kosong ke depan kamera ponselnya.
“Apa yang kamu lakukan......?”
“Kupikir mungkin cukup memotret tanganku saja.”
Sepertinya dia memang ingin ada sesuatu yang ikut terekam. Dan benar juga, foto dengan tangan Iwama di dalamnya bukan lagi sekadar foto pemandangan, melainkan sesuatu yang benar-benar unik.
Secara logika, aku masih bisa memahaminya.
Setelah mencoba tanda peace dan jempol ke atas, ekspresinya berubah seolah belum puas.
“Ada apa?”
“Hmm, rasanya tak ada yang benar-benar pas......seperti tidak cocok dengan bentuk inome.”
Aku sama sekali tak punya selera estetika yang bisa dibilang bagus, jadi tak yakin bisa membantu Iwama. Tapi aku tetap mencoba memberi saran seadanya.
“Karena latarnya inome, bagaimana kalau membuat bentuk inome juga dengan tangan? Seperti membuat hati.”
“Oh, begitu!”
Sambil berkata begitu, Iwama membentuk setengah hati dengan satu tangan, lalu menatapku dengan mata penuh harap.
“......?”
Aku kebingungan.
“Karena satu tanganku kepakai, Izuta-kun, bantu aku dong!”
Logika ini tidak bisa kupahami.
“Bukannya ada cara membuat hati dengan ibu jari dan telunjuk? Yang sering dilakukan cewek.”
“Itu namanya finger heart! Ini inome, jadi agak berbeda.”
“Oh......begitu ya......?”
Memang benar, finger heart disebut hati oleh orang-orang, jadi terlihat sebagai hati. Meski bentuknya sama, itu tak bisa menjadi inome karena konsep “hati” tidak berlaku padanya.
Di sisi lain, untuk membuat inome dengan cara Iwama, dibutuhkan dua tangan. Iwama sedang memegang ponsel. Jadi satu tangan kurang. Sampai di situ aku masih bisa memahaminya.
Tapi apakah dia benar-benar akan meminta kekurangan tangan itu padaku?
Tapi kalau Iwama tidak merasa keberatan, mungkin aku saja yang terlalu memikirkan. Ini bukan hati, melainkan inome—bentuk yang konon membawa keberuntungan.
Aku berdiri di sampingnya dan mencoba menyatukan tanganku dengan tangan Iwama yang terulur.
Namun jantungku berdegup hebat tak karuan. Aku bisa merasakan telingaku memanas. Keringat pun mengalir.
Pada akhirnya, aku segera menarik kembali tanganku.
“......?”
“Kalau sesama perempuan sih mungkin masih tidak apa-apa, tapi......”
Aku mengatakannya dengan samar agar tidak dikira terlalu sadar atau canggung.
Sepertinya Iwama akhirnya menyadari, pipinya sedikit memerah dan matanya membulat.
“Ah......maaf ya! Aku terlalu sok akrab, ya!”
“Tidak, itu bukan sesuatu yang perlu dimintai maaf. Aku cuma menyarankan bentuk lain saja.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita berdua pose peace saja?”
Logika ini sama sekali tidak kupahami.
“......Kalau peace, satu saja bukankah sudah cukup?”
Menanggapi usulku, Iwama menggeleng pelan.
“Aku sadar. Alasan aku ingin memasukkan tangan ke foto ini adalah karena aku ingin menangkap keunikan momen saat ini.”
“Keunikan…?”
Itu istilah yang hanya pernah kudengar dalam matematika.
“Iya. Karena aku ingin merekam fakta bahwa aku menemukan pemandangan indah ini bersama Izuta-kun, rasanya sayang kalau hanya pemandangannya saja tanpa kita berdua ikut terekam......”
Penjelasan itu memang logis dan tak terbantahkan.
Yah, kalau cuma peace seharusnya tak masalah. Aku juga tak punya alasan untuk menolak, jadi aku berdiri di samping Iwama, membuat tanda peace tanpa semangat, lalu mengulurkannya ke depan kamera ponselnya.
“Sedikit lebih dekat lagi!”
Iwama melangkah satu langkah mendekat. Bahu kami hampir bersentuhan. Jantungku kembali berdegup kencang.
Memikirkan para pria yang mungkin telah ia jatuhkan tanpa sadar, aku menangkupkan tangan dalam hati.
Klik—Iwama menekan tombol rana.
Di depan langit biru berbentuk hati yang dibingkai sakura merah muda pucat, dua tanda peace yang tampak agak gelap karena cahaya belakang berjajar berdampingan, membentuk huruf W.
“Ya, bagus. Terima kasih!”
Iwama tampak puas dengan hasilnya.
Setelah itu, karena matahari mulai condong, kami pun turun gunung dengan langkah cepat. Saat kembali ke gerbang sekolah, hari sudah menjelang sore.
“Oh iya. Izuta-kun, beri aku kontakmu.”
Saat kami menuruni jalan berderet pohon menuju kota, Iwama mengusulkannya.
“Aku akan mengirim foto yang tadi.”
“Ah......terima kasih.”
Dan begitulah, aku dan Iwama saling bertukar LINE.
Begitu deretan pohon berakhir, jalan pun bercabang. Rumahku berada di dalam kota dan harus belok kiri dari jalan itu, sedangkan Iwama yang berangkat sekolah naik kereta tampaknya akan terus berjalan ke arah stasiun.
Kami pun berpisah menuju jalan pulang masing-masing.
Awan hujan yang berkembang di atas laut menjulurkan lengan gelapnya ke arah matahari senja.
“Wah, hujannya deras banget!”
Malam hari, saat aku melihat ke luar karena suara adikku, pemandangannya seperti badai.
Sambil mendengar suara hujan deras menghantam jendela dan gemuruh angin, sebelum tidur aku kembali memandangi foto yang dikirim Iwama. Kemajuan teknologi sungguh luar biasa. Meski hanya kamera ponsel kecil, kontras sakura dan langitnya tajam dan cemerlang.
Di bagian depan, tangan Iwama dan tanganku berjajar. Entah karena diedit setelah pemotretan atau tidak, kegelapan akibat cahaya belakang hampir tak terasa.
Satu tanda peace penuh percaya diri dengan dada membusung, dan satu lagi tanda peace lesu dengan punggung membungkuk.
Aku bahkan merasa kagum, bahwa hanya dari tangan saja perbedaan kepribadian bisa terlihat sejauh itu.
Badai tak juga reda. Sakura yang tadi mekar sempurna mungkin kini telah rontok tanpa ampun.
Aku tiba-tiba berpikir.
Mungkin saja—
Aku dan Iwama mungkin telah menjadi satu-satunya pasangan pria dan wanita yang melihat hati itu tahun ini.
Jika memang begitu, dengan asumsi takhayul konyol itu benar, ini jadi masalah.
Sakura di bukit belakang yang katanya telah mengabulkan cinta setiap tahun selama sembilan belas tahun.
Apakah rekor dua puluh tahun berturut-turut itu akan tercapai atau tidak, kini bergantung pada aku dan Iwama.
Aku memutuskan fakta bahwa hati itu terlihat dengan jelas harus menjadi rahasia mutlak dari Mizusaki.
Akhir Bab 1

Post a Comment for "Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 1.3"