Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 1.2

Bab 1 - Di Area yang Dibingkai oleh Warna Merah Muda Pucat




“Sepertinya ada kejadian besar, lho.”


Kalau Mizusaki berkata begitu, biasanya yang dimaksud hanyalah kejadian sepele.


“Sepertinya merepotkan. Ayo cepat pulang.”


Aku mengganti sepatu dan keluar dari pintu masuk. Pelajaran sudah selesai, tinggal pulang saja.


“Hei, hei, jangan pulang dulu. Salahku, oke? Kamu masih marah soal tadi siang?”


“Aku tidak marah hanya karena hal seperti itu. Tapi itu cukup tidak sopan terhadap Iwama-san.”


“Yah, benar juga. Aku gagal total. Begitu dia memanggilku ‘Mizusaki-kun’, isi kepalaku langsung mekar jadi warna sakura.”


“Bukannya otakmu memang sudah berwarna sakura dari awal?”


“Ya, memang sih, kalau dipikir-pikir, dengan sel otak yang putih dan hemoglobin yang merah, otak itu kelihatannya mendekati warna merah muda pucat.”


Benar-benar, ia ini pria yang pandai berargumen di hal-hal yang tidak penting.


“Renungkan perbuatanmu.”


“Tenang saja. Aku sudah minta maaf dengan baik-baik, bilang aku minta maaf karena sempat sok akrab dan mengganggu.”


Kelihatannya ia benar-benar menyesal, dan itu melegakan. Mizusaki memang tipe yang, sebagai konsekuensi dari kemampuan komunikasinya, kadang bertindak tanpa perasaan dan kelewat lancang, tapi pada dasarnya ia orang yang cukup baik.


“......Lalu, kejadian besar yang kau maksud itu apa?”


Saat aku bertanya, Mizusaki tiba-tiba berhenti. Senyum lebarnya mengarah padaku.


“Di bukit belakang sana, ada dua pohon sakura.”


“Bukit belakang?”


Aku menoleh ke belakang. Di balik gedung sekolah, terlihat hutan di dataran yang sedikit lebih tinggi.


Kota Tsunagai menghadap Samudra Pasifik di sisi selatan, dan di tiga sisi lainnya dikelilingi pegunungan. Semakin ke utara dari laut, ketinggiannya perlahan meningkat. SMA Tsunagai kami berada di bagian utara kota. Gerbang sekolah menghadap laut di selatan, dan di belakang gedung sekolah, melewati lapangan, terbentang pegunungan.


“Iya, bukit belakang itu. Dari sini memang tidak terlihat, tapi pokoknya ada dua pohon sakura. Tumbuh berdampingan dan katanya disebut ‘sakura pasangan suami istri’. Tempatnya super populer.”


“Baguslah.”


“Bagus, kan? Dan katanya, sakura itu sekarang lagi di puncak mekarnya.”


Oh, jadi maksudnya mengajak melihatnya.


“Berarti jenis yang cukup terlambat mekar, ya.”


“Iya. Dan sakura itu punya legenda—legenda yang sangat menarik.”


Aku mengangguk, menyuruhnya melanjutkan.


“Katanya, dua pohon sakura itu saat mekar akan membentuk tanda hati yang indah. Dan pasangan pria-wanita yang melihatnya—konon pasti akan bersatu.”


“Terbatas pada pria dan wanita? Di zaman Reiwa begini?”


Saat aku menyela dengan candaan, Mizusaki memiringkan kepala dengan ekspresi agak serius.


“Hmm, itu hanya kiasan bahasa saja. Menurutku sih, tidak harus pria dan wanita. Intinya, cinta yang berakhir bahagia.”


“Jadi, kau ingin melihat sakura itu bersamaku.”


“Ya, kurang lebih begitu.”


Mendapat jawaban yang terdengar begitu gembira, aku sengaja menyelipkan sedikit jeda.


“......Apa itu boleh kuanggap sebagai sebuah pengakuan?”


“Bo......bukan begitu......kau itu memang sahabat pentingku, tapi......b-bukan berarti aku memikirkanmu dengan cara seperti itu.”


Dengan begitu, kami pun memutuskan pergi ke bukit belakang.


Begitu keluar dari gerbang sekolah, di balik deretan pohon ginkgo yang menurun terlihat pusat kota. Lebih jauh lagi di baliknya terbentang laut. Matahari yang cerah membuat ombak berkilau-kilau. Hari ini sebenarnya ada ramalan cuaca akan memburuk, tapi sepertinya masih akan bertahan untuk sementara.


Kami tidak menuruni jalan berpohon itu, melainkan masuk ke jalan samping yang menuju bagian belakang sekolah. Jalannya sempit, tapi sudah diaspal. Karena area sekolah dikelilingi pegunungan, jalan ini mungkin digunakan saat membawa sesuatu ke arah lapangan.


“Tapi mencurigakan, kan. Katanya siapa pun yang melihat pasti akan bersatu—kalau dicari sedikit saja, rasanya gampang menemukan contoh yang bertentangan.”


Menanggapi perkataanku, Mizusaki melambaikan telunjuknya sambil berkata “tsk tsk”.


“Ya sih, memang kata ‘pasti’ mungkin berlebihan. Tapi katanya selama sembilan belas tahun ini, tiap tahun selalu ada satu pasangan yang berhasil. Keren, kan?”


“Cerita mencurigakan begitu, dengar dari siapa?”


“Dari senior yang bisa dipercaya. Pokoknya, keajaiban sembilan belas tahun itu adalah fakta yang sah.”


“......Itu hanya soal probabilitas, kan. Kalau tiap tahun banyak pasangan melihat sakura terkenal itu, wajar saja kalau satu pasangan berhasil. Lagipula, kalau hubungan mereka sudah cukup dekat sampai mau melihat sakura dengan legenda begitu, tanpa bantuan kekuatan sakura pun, cinta mereka sepertinya akan terwujud sendiri.”


“Benar-benar deh, pria yang terlalu logis itu tidak populer.”


Setelah sedikit mengangkat bahu, Mizusaki menatapku sambil tersenyum licik.


“Nah, soal peristiwa besar itu masih ada lanjutannya.”


“Begitu ya.”


“Begitulah.”


Entah karena ingin memberi efek dramatis, Mizusaki menghembuskan napas pelan dan memberi jeda.


“Menurut senior itu, sebenarnya tahun ini tidak ada satu pun orang yang melihat tanda berbentuk hati itu.”


“......Kenapa?”


“Ya, itu juga yang membuat penasaran. Katanya bentuknya sudah rusak, dan bahkan kalau mau bersikap sopan pun, sudah tidak terlihat seperti hati lagi.”


“Sayang sekali.”


Pasangan yang dengan harapan cinta terwujud sengaja masuk ke bukit belakang, namun tidak bisa melihat bentuk hati itu. Kalau dibayangkan, rasanya menyedihkan. Mereka pasti merasa seolah-olah jalan cinta mereka justru dihalangi.


Dibandingkan tidak berharap sejak awal, dikhianati oleh harapan jauh lebih menyakitkan.


“Yah, seribu cerita kalah oleh satu penglihatan. Pokoknya ayo kita lihat langsung. Kelihatannya menarik, kan?”


“Ya.”


Mengikuti Mizusaki yang terus melangkah maju, aku menurut dengan patuh.


Kami berjalan menyusuri pagar hingga tiba di belakang gudang olahraga atau semacamnya. Di sana jalan menjadi lebih lebar, bahkan ada bangku plastik yang diletakkan. Mungkin ini tempat para anggota klub olahraga beristirahat. Tampaknya jarang digunakan, karena kaleng baja berkarat dan bola keras yang penuh lumpur menggelinding di sudut-sudutnya.


“Seharusnya dari sekitar sini kita masuk ke gunungnya.”


Sambil berkata begitu, Mizusaki memandang sekeliling dengan satu putaran penuh.


Lalu tiba-tiba, ia berbalik menghadapku.


“Oh. Waduh.”


Cara bicaranya terdengar dibuat-buat.


“Maaf, hari ini aku benar-benar punya urusan yang tidak bisa ditinggalin. Besok lagi ya.”


“Hah?”


“Aku pasti akan menebusnya! Aku akan membelikan tomat ceri satu dus, jadi maaf ya. Dah!”


Mizusaki memejamkan satu mata, menyatukan kedua tangan di depan wajahnya, lalu kabur dengan cepat. Parahnya lagi, ia lari ke arah yang berlawanan dari jalan kami datang.


Jika benar ingin cepat pulang, rute terpendek seharusnya kembali lewat jalan semula—jadi kenapa? Dengan pikiran itu aku menoleh ke belakang, ke arah kami datang──dan aku pun menyadari alasan kenapa Mizusaki tiba-tiba menghilang.


Dan alasan itu juga cukup menjelaskan mengapa Mizusaki lari ke arah sebaliknya.


Dari seberang jalan, “alasan itu” berjalan sendirian mendekat.


──Itu adalah Iwama Rio.


“Eh, Delta-kun, kenapa kamu ada di tempat seperti ini?”


Iwama membawa tas sekolah. Sepertinya dia sedang dalam perjalanan pulang. Dia berhenti tepat di depanku.


"Aku agak dipaksa ke sini......oh ya, kamu tidak perlu memaksakan diri memanggilku Delta.”


“Oh begitu? Kalau begitu, Izuta-kun.”


Itu jauh lebih baik. Panggilan “Delta-kun” tidak terlalu membuatku senang.


“Kalau Iwama-san sendiri, kenapa ada di sini?”


“Aku? Sebenarnya aku dengar cerita yang kelihatannya menarik, jadi aku datang untuk mengeceknya.”


Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang sangat tidak beres.


“......Cerita yang menarik itu maksudnya?”


“Katanya di bukit belakang ini ada sakura terkenal yang bisa membuat orang bahagia kalau melihatnya. Hanya saat musim masuk sekolah saja, muncul pola penolak bala yang disebut inome! Aku benar-benar penasaran, jadi datang untuk melihatnya.”


Begitu rupanya. Sedikit demi sedikit, situasinya mulai kupahami.


Bahkan tanpa menjadi detektif ulung pun, aku bisa menebak bahwa situasi ini bukan tercipta secara kebetulan.


“......Itu jangan-jangan cerita yang kamu dengar dari Mizusaki?”


“Iya! Aku juga tidak begitu paham, tapi katanya itu sebagai permintaan maaf, lalu dia cerita soal inome.”


Bajingan itu......


“Izuta-kun juga, jangan-jangan dengar dari Mizusaki-kun lalu datang ke sini?”


“......Yah, entah dibilang dengar atau lebih tepatnya diseret ke sini.”


Ngomong-ngomong, inome pada dasarnya adalah simbol berbentuk hati. Entah itu legenda tentang cinta yang terwujud atau jimat penolak bala, aku tidak tahu mana yang benar, tapi Mizusaki jelas dengan lihai mengubah ceritanya tergantung lawan bicara, lalu mempertemukanku dengan Iwama di sini. Benar-benar seperti penipu yang bahkan sisa kotoran kukunya saja rasanya sudah licik.


“Eh, tapi Mizusaki-kun ke mana?”


"Katanya ada urusan, lalu pulang."


Meninggalkanku di sini.


“Oh begitu......padahal Mizusaki-kun kelihatannya juga tertarik dengan inome. Kasihan ya.”


Kalau hari ini dia tertarik pada sesuatu, targetnya pasti hanya satu, apa yang akan terjadi jika ia mempertemukanku dengan Iwama. Sambil memikirkan itu, aku mulai merasa ada yang janggal dengan ucapan Iwama.


“......Kasihan? Mizusaki?”


“Iya. Soalnya malam ini katanya tekanan udara rendah besar akan datang dan cuacanya akan sangat buruk. Bunga-bunganya yang susah payah mekar juga kelihatannya akan rontok semua.”


"Begitu ya, kalau melewatkan hari ini berarti tidak ada kesempatan lagi."


Sampai di titik ini, entah kenapa—benar-benar entah kenapa—aku sudah memprediksi perkembangan yang sangat tidak menguntungkan. Yang lebih parah, tampaknya Mizusaki tidak menceritakan soal legenda cinta kepada Iwama. Bagi Iwama, sakura di bukit belakang ini hanyalah tempat terkenal pembawa keberuntungan.


Dan yang lebih buruk lagi, Iwama sudah tahu bahwa aku juga datang untuk melihat sakura itu.


Dengan alur seperti ini, Iwama akan──


“Kalau begitu sekalian saja, Izuta-kun, mau lihat bareng?”


Dengan wajah ceria, Iwama menampilkan senyum khasnya—“lihat kan senyum itu” yang itu.


“Uh......”


“Eh, kamu tadinya mau pulang?”


“Tidak juga, bukan begitu......”


“Kalau begitu ayo! Masa SMA harus dimulai dengan keberuntungan yang bagus, kan!”


Masa SMA, dimulai dengan keberuntungan baik......ya.


Sulit untuk menolak. Atau lebih tepatnya, tidak ada alasan untuk menolak. Mengungkit soal legenda cinta lalu berkata “kalau hanya berdua jadi canggung” jelas bukan sesuatu yang bisa kukatakan.


Semuanya berjalan persis seperti yang diinginkan Mizusaki. Ia pasti sedang membayangkan apa yang akan terjadi jika orang bayangan sepertiku disinari cahaya matahari secerah ini, dan entah di mana, ia pasti menikmatinya dengan penuh antusias.


Aku berpikir.


Kalau seperti itu—bukankah ini justru kesempatan untuk membuktikan bahwa memang tidak terjadi apa-apa?


Aku hanya perlu menunjukkan padanya bahwa cara hidupku tidak akan goyah hanya karena hal seperti ini.


“Ya, benar juga. Kalau sudah sejauh ini, mari kita lihat saja.”


“Iya! Ayo kita cari, sakura pembawa kebahagiaan!”


Begitu berkata, Iwama langsung masuk ke jalan setapak gunung seolah tak sabar. Tidak ada papan penunjuk arah, tapi juga tidak terlihat jalan lain yang menuju ke atas gunung. Mungkin memang ini jalannya.


Karena canggung, aku berjalan sedikit di belakang Iwama. Hutan ini terang. Di bawah kaki, biji ek dari tahun lalu berserakan. Hutan di bukit belakang ini adalah hutan gugur berdaun lebar, terutama pohon kunugi dan konara—para “produsen” biji ek itu.


Karena daunnya gugur di musim gugur, disebut pohon gugur. Karena daunnya lebar dan datar, disebut pohon berdaun lebar. Hutan ini dipenuhi oleh jenis pohon seperti itu.


Sebenarnya, wilayah beriklim hangat seperti ini seharusnya dipenuhi hutan pohon berdaun lebar hijau abadi yang tetap rimbun di musim dingin. Namun karena manusia sering masuk ke gunung dan menebang pohon, kini pohon gugur berdaun lebar yang tumbuh cepat menjadi lebih dominan.


Dan hutan pohon gugur itu terang.


Di musim dingin, ketika daun benar-benar gugur, cahaya matahari bisa mencapai tanah. Di musim tunas baru ini, daun hijau pucat menghiasi ranting secara jarang, dan saat menatap ke atas, rasanya seperti sedang melihat kaca patri.


Sakura juga merupakan pohon gugur. Bintang yang bersinar di hutan terang—si populer yang hidup di bawah matahari.


“Hei, Izuta-kun!”


Iwama berhenti dan menoleh ke belakang.


“Banyak sekali katakuri yang mekar. Jarang ya. Apa di gunung ini memang banyak?”


Tanah yang masih didominasi warna cokelat. Di sana-sini, bunga merah muda pucat keunguan tumbuh berkelompok. Kelopak panjangnya melengkung ke belakang saat mekar, indah seperti kincir angin kecil.


“Iya. Katakuri memang banyak tumbuh di hutan pohon gugur seperti ini.”


Karena nama tumbuhan disebutkan, mulutku bergerak begitu saja secara refleks.


Ini pertanda buruk. Aku buru-buru menutup mulut. Aku sepenuhnya sadar bahwa kalau sudah mulai bicara, aku akan panjang lebar. Di depan orang yang belum akrab, aku biasanya sangat berhati-hati untuk menahan diri.


“Eh, kenapa?”


Iwama malah menatapku dengan penuh ketertarikan.


“Maaf......kalau mulai cerita akan jadi panjang. Jangan dipikirkan.”


“Eh, aku mau dengar! Cerita saja sambil jalan!”


Malah aku yang akhirnya diminta.


Yah, mungkin ini lebih baik daripada diam canggung. Aku memutuskan untuk berbicara sedikit saja.


“Pernah dengar tepung katakuri, kan. Biasanya dipakai untuk memberi kekentalan pada masakan.”


“Iya. Memang jarang kupakai untuk masak, tapi pernah pakai sekitar tiga kilo untuk percobaan dilatansi!”


…………?


Rasanya aku baru saja mendengar pernyataan yang cukup nyeleneh. Memangnya ada eksperimen yang mengharuskan penggunaan tepung katakuri sampai tiga kilogram? Setidaknya, itu terdengar bukan dalam lingkup eksperimen kimia.


“Dilatansi?”


“Ah, maaf ya, aku bilang hal aneh! Jangan dipikirkan.”


Iwama berkata dengan nada entah kenapa terdengar bersalah sambil mendorongku agar melanjutkan. Karena aku sendiri juga tidak benar-benar paham apa itu dilatansi, aku pun meneruskan.


“......Tepung katakuri sekarang kebanyakan dibuat dari kentang, tapi awalnya dibuat dari tanaman katakuri ini. Kalau Iwama-san mungkin sudah tahu.”


“Bahannya itu pati dari akar katakuri, kan. Makanya disebut tepung katakuri.”


“Benar. Katakuri adalah tanaman yang menyimpan pati sebagai nutrisi di bagian batang bawah tanahnya. Selama bertahun-tahun ia perlahan menambah cadangan nutrisinya, dan baru sekitar delapan tahun setelah bijinya berkecambah, akhirnya bunga pertamanya mekar.”


“Delapan tahun......lama juga ya, padahal bunganya kecil.”


Itulah strategi bertahan hidup katakuri.


Di lereng yang menghadap selatan. Di bawah pepohonan dengan tunas muda yang menyilaukan, katakuri bermandikan cahaya matahari, memamerkan kejayaannya yang fana.


Mulutku sudah tidak bisa berhenti berbicara.


“Sinar matahari, pada musim ketika daun-daun pohon belum rimbun, bisa langsung mencapai tanah. Katakuri hanya membentangkan daunnya untuk fotosintesis selama dua atau tiga bulan saja—dari saat udara mulai hangat sampai hijau pepohonan menebal dan tanah menjadi teduh.”


“Hanya dua atau tiga bulan? Memang sih, kalau sudah musim panas, aku tidak pernah lihat......”


“Benar. Nutrisi yang dihasilkan selama itu disimpan di batang bawah tanah. Ketika daun-daun pohon mulai rimbun dan cahaya matahari tak lagi mencapai tanah, katakuri akan mengering, menyisakan batang bawah tanahnya. Karena hidup dengan cara bertumbuh sedikit demi sedikit dalam jangka panjang seperti itu, dibutuhkan waktu bertahun-tahun sampai bunganya mekar. Dari musim panas hingga musim dingin, hidupnya seperti sedang berhibernasi panjang.”


“Begitu ya......makanya hutan pohon gugur ya.”


Iwama menepukkan tangannya, tampak puas mengerti.


“Karena fotosintesis hanya bisa dilakukan saat tanah jadi terang, ketika daun-daun gugur. Kalau di hutan yang daunnya lebat sepanjang tahun, semuanya jadi teduh dan nutrisi tidak bisa disimpan.”


Cepat paham—itu sangat membantu.


Strategi bertahan hidup katakuri hanya bisa terwujud di hutan yang daunnya gugur saat musim dingin.


“Ya. Karena hanya menampakkan diri di permukaan tanah sesaat saja di musim semi, tanaman yang hidup seperti katakuri kadang disebut dengan sebutan seperti ini—”


“Spring ephemeral!”


Karena Iwama lebih dulu mengucapkan jawabannya, aku terkejut.


“Oh, jadi kamu sudah tahu.”


“Ah, umm, aku sebenarnya tidak benar-benar paham, tapi......waktu membolak-balik buku pelajaran biologi, rasanya pernah melihat kata itu. Kupikir terdengar lucu, sih.”


“Ingatanmu hebat.”


Penjualan buku pelajaran baru saja berlangsung. Aku sendiri bahkan belum membuka satu pun.


Spring ephemeral—makhluk fana musim semi. Penjelasan terjemahannya mungkin tak perlu lagi bagi Iwama.


Di jalur gunung, anak tangga dari gelondongan kayu kecil terus berlanjut. Aku menyadari napasku sendiri mulai memburu, dan mengerti bahwa aku terlalu banyak bicara. Karena larut mengikuti luapan kata-kata, aku bahkan lalai menghirup oksigen yang dibutuhkan untuk berjalan. Dan kepedulian pun ikut terabaikan.


Aku bersikap sok tahu dan memamerkan pengetahuan. Apalagi kepada gadis yang nyaris baru pertama kali kutemui. Mantan anggota klub sains, bahkan tahu istilah seperti struktur paling rapat dan spring ephemeral—meski mengaku hanya penikmat biasa, pengetahuan ilmiahnya pasti cukup luas.


Dan kepada orang seperti itu, aku justru—


Iwama berhenti melangkah.


“......Ada apa?”


“Maaf ya, aku sok tahu......padahal aku tidak terlalu paham bidang ini.”


Wajahnya benar-benar terlihat menyesal. Dia memikirkan hal yang aneh.


“Sok tahu itu berpura-pura tahu tentang sesuatu yang sebenarnya tidak diketahui. Mengatakan bahwa kamu tahu istilah yang memang kamu tahu sama sekali bukan hal yang salah.”


“Benarkah......tapi aku hanya sekilas membaca tentang spring ephemeral di buku pelajaran, dan aku juga belum pernah benar-benar melihat akar katakuri......”


Kebetulan ada dahan patah di dekat situ, jadi aku mengambilnya.


“Kalau begitu, bagian pertama sudah teratasi, dan bagian kedua bisa kita selesaikan begini.”


Aku mengamati tanah di sekitar, lalu menusukkan dahan itu ke tanah yang tampak lunak di dekat katakuri. Setelah mengulanginya beberapa kali, aku menggali katakuri beserta tanahnya. Saat tanah dibersihkan dengan hati-hati, muncullah umbi sisik kecil berwarna putih, yang tampak seperti batang yang sedikit menebal.


Iwama menatap proses pengambilan katakuriku dengan mata terbelalak. Menggali bunga memang mungkin sedikit tidak sopan, tapi karena ini masih area sekolah, kuharap bisa dianggap sebagai kegiatan pembelajaran.


“Ini adalah umbi sisik katakuri—atau batang bawah tanah. Sebenarnya ini bukan akar, melainkan batang, tempat nutrisi disimpan seperti pada kentang.”


Saat aku menyerahkannya, Iwama berkata “terima kasih” sambil menerimanya dengan sangat hati-hati, seperti menyentuh karya kaca. Dia menatap umbi itu dengan penuh ketertarikan, menyentuh dan menjepitnya dengan jari.



“Kecil sekali......”


“Zaman dulu, membuat tepung katakuri pasti harus susah payah.”


Aku mengeluarkan kantong plastik minimarket dari tas dan membentangkannya. Katakuri yang dikembalikan oleh Iwama kumasukkan ke dalamnya, lalu kuikat setelah membiarkan sedikit udara masuk. Iwama mengamati seluruh rangkaian gerakan itu dengan penuh minat.


“Itu mau diapakan?”


“Aku pikir akan kubawa pulang dan kujadikan spesimen daun tekan.”


Spesimen daun tekan, sederhananya, adalah spesimen tanaman yang ditekan seperti bunga kering lalu dikeringkan. Aku sebenarnya sudah punya spesimen katakuri di rumah, jadi boleh saja membuangnya di sini, tapi rasanya tak enak melakukannya di depan Iwama. Kantong plastik itu kusimpan kembali ke tas.

Post a Comment for "Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 1.2"