Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 1.1
Bab 1 - Di Area yang Dibingkai oleh Warna Merah Muda Pucat
Benar-benar, musim semi adalah musim yang membuat segalanya terasa melayang.
Dari dunia yang sepanjang musim dingin mengering dan berwarna cokelat, tiba-tiba saja muncul semburan hijau segar, dan di mana-mana bunga mulai bermekaran satu per satu. Seolah-olah vitalitas bumi yang selama ini ditekan oleh embun beku, tak sanggup lagi menahan diri begitu menyadari hembusan angin utara mulai melemah.
Yang paling tak sabar menyambut musim ini tentu saja adalah plum.
Saat masih berjalan sambil meringkuk menahan dingin, terkadang angin membawa aroma pekat seolah ada pameran parfum sedang berlangsung. Itu tanda bunga plum sedang mekar. Baru setelah menyadari warna merah atau putih di ujung-ujung cabangnya, aku tersadar, ah, rupanya sudah musim seperti ini lagi—sebuah kebiasaan tahunan yang tak pernah berubah.
Bersamaan dengan aroma plum, hidungku pun mulai terasa gatal. Pohon cedar.
Setelah perang, demi pemulihan negara, permintaan kayu melonjak drastis, dan pemerintah menanam cedar dalam jumlah yang konyol atas nama kebijakan penghijauan. Akibat perbuatan para pendahulu itulah yang kini kami tanggung. Bunga jantan cedar yang bermekaran di seluruh Jepang menebarkan serbuk sari kuning seperti asap, seolah sengaja menyerang mata dan hidung manusia. Sementara hidung meler dan bersin tak henti-henti, bunga plum pun sudah keburu berguguran.
Dan kemudian, tibalah sang bintang utama.
Tak perlu diragukan lagi, puncak dari musim semi adalah bunga sakura.
Adakah jenis tanaman lain yang mampu membuat seluruh Jepang begitu bersuka ria? Sakura yang mulai mekar berurutan dari selatan dan bahkan dilaporkan setiap hari oleh ramalan cuaca adalah varietas bernama Someiyoshino, yang dikembangkan pada zaman Edo. Someiyoshino diperbanyak melalui cangkok dan stek dari satu individu, sehingga semuanya adalah klon—ibarat tubuh-tubuh pecahan yang sama. Karena seluruh pohon memiliki gen yang identik, mereka pun mekar serempak di tempat yang sama.
Begitu bunga berwarna merah muda pucat itu mekar sekaligus, mulailah pesta hanami. Orang-orang berbondong-bondong ke taman sekitar, anak-anak menyantap sakuramochi, sementara orang dewasa menenggak bir tanpa henti. Lebih dari seratus tempat terkenal bunga sakura di Jepang dipenuhi lautan manusia.
Di wilayah Kantō, setelah mengalami semua itu barulah bulan April benar-benar datang.
Akibatnya, aku yang tak punya stamina ini pun sudah kelelahan setengah mati. Tak ada lagi tenaga untuk ikut bersukacita dalam hangatnya suasana musim semi. Paling-paling aku hanya mampu menatap kelopak sakura yang menumpuk dan menguning kecokelatan di pinggir jalan, sambil terus mengisap hidung yang meler karena serbuk sari cedar yang masih merajalela.
Bahkan jika aku adalah siswa SMA tahun pertama yang katanya sedang melangkah tepat ke tengah masa muda yang didambakan banyak orang, kenyataannya tetap saja tak ada bedanya.
“Pagi, Delta! Pagi yang luar biasa, ya!”
Dipanggil dengan suara yang terlampau ceria, aku menghela napas sebelum menoleh ke belakang.
Seorang pria yang sudah kukenal tampak melambaikan tangan lebar-lebar sambil menyeringai.
Aku mengangkat tangan sedikit sebagai balasan, lalu kembali menghadap ke depan. Saat aku memperlambat langkah, ia berjalan sejajar di sampingku dengan wajah yang benar-benar tampak menikmati pagi terbaik dalam hidupnya.
Mizusaki Ryūichi. Katanya, setiap hari ia terus memperbarui rekor kebahagiaannya sendiri, dan karena itu selalu menyapaku dengan gaya seperti ini. Sejalan dengan kepribadiannya yang ceria, ia juga punya aura santai dan agak sembrono.
“Hei, ini baru hari kedua kehidupan SMA, tapi auramu sudah muram saja.”
“Karena aku jalan di tempat teduh.”
Sinar matahari pagi yang bersinar terang akan terhalang oleh rumah-rumah jika berjalan di sisi timur jalan. Padahal sudah cukup hangat, dan jika blazer terkena sinar matahari langsung, suhu pasti akan melampaui batas nyaman. Berjalan di tempat teduh adalah keputusan yang sangat rasional.
“Masuk akal juga sih. Tapi tahu tidak, pagi ini aku keberatan kalau sahabatku jalan di tempat teduh.”
Mizusaki melangkahi garis putih dan bergeser ke sisi jalan raya, lalu melompat ke area yang terkena matahari.
Aku hendak berkata, “Berbahaya, kembali ke sini,” tapi tiba-tiba menyadari alasan di balik tindakannya.
Auranya terasa berbeda—ia mengecat rambutnya. Entah warna cokelat kemerahan atau cokelat gelap, begitu samar hingga jika berada di tempat teduh, perubahan dari warna aslinya pun hampir tak terlihat.
Menyadari tatapanku, Mizusaki memiringkan wajahnya dengan gaya sok keren.
“Bagaimana, ada yang kau sadari?”
“Sedikit botak, ya?”
“Hm. Bukan botak. Ini dicat. Ini yang namanya debut SMA yang itu.”
Berbeda dengan SMP kami dulu, SMA Tsunagai tidak punya peraturan soal warna rambut. Meski begitu, berani-beraninya ia mengecat rambut tepat sehari setelah upacara masuk sekolah, itu butuh nyali. Namun, karena warnanya sangat kalem, justru terasa seperti ciri khas Mizusaki yang tak pernah bisa sepenuhnya tampil mencolok.
“Debut SMA-mu patut dipuji, tapi mengecat rambut itu ribet, kan. Rambut hitam tumbuh sekitar satu sentimeter tiap bulan.”
“Kamu tidak paham, ya. Ribet juga tidak apa-apa. Ini ibarat setetes air yang dibawa burung kolibri untuk memadamkan kebakaran hutan. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan demi jadi populer.”
“Jangan pakai kisah indah burung kolibri dari Amerika Selatan untuk tujuan jelek begitu.”
“Jelek apanya, itu tuduhan yang keterlaluan. Anak SMA cowok ingin populer itu sama saja dengan burung merak jantan memamerkan ekornya yang indah. Lihat, kalau pakai gaya Delta, itu namanya ‘hukum alam’. Lagipula bahan dasarmu juga bagus, tinggal lebih peduli penampilan saja.”
Benar-benar bocah yang sok tahu kalau sudah bicara soal hukum alam.
“Terserah kau mau jadi merak yang mencolok, tapi aku cukup mengincar jadi gagak saja.”
“Hah, gagak? Kenapa pula repot-repot pilih burung yang begitu biasa?”
“Karena gagak itu pintar.”
“Oh begitu. Maksudnya fokus belajar, ya. Dasar siswa jenius, beda kelas memang!”
Mizusaki menerima omong kosong itu dengan wajah senang. Kami sudah berteman sejak SD. Sebagian besar perdebatan kami hanya seperti sandiwara kecil, dan reaksi satu sama lain hampir selalu bisa ditebak.
Jika Mizusaki yang mengecat rambutnya adalah burung merak, maka aku adalah gagak hitam legam.
Aku tidak peduli bagaimana orang lain memandangku. Mizusaki suka berjalan di tempat yang mencolok dan terang, sementara aku lebih menyukai bayangan yang tenang. Mizusaki memakai wax rambut, sedangkan aku cukup membasahi rambut acak-acakan sedikit saja. Mizusaki katanya rajin latihan otot, tapi aku menyukai tubuhku yang agak kurus. Mizusaki menyuruhku pakai lensa kontak, namun sejak SMP aku tetap setia dengan kacamata.
Justru karena berbeda sejauh ini, kami bisa merasa nyaman bersama.
Mungkin akhirnya merasa sungkan berjalan di luar garis putih, Mizusaki pun kembali ke tempat teduh.
“......Ngomong-ngomong, Delta, ada hal yang sangat penting mau kubicarakan.”
Kalau lelaki ini sudah bicara seperti itu, biasanya yang menyusul hanyalah omong kosong.
“Apa.”
“Ada gadis bernama Iwama-san, kan.”
“Ya, yang duduk di belakangku.”
“Heh, kan? Jadi kau memang ingat, ya.”
Mizusaki tersenyum menyeringai.
Dibilang ingat atau tidak, nomor absen kami hanya selisih satu, tempat duduk saat upacara masuk sekolah bersebelahan, dan di kelas pun duduk depan-belakang, jadi mau tak mau wajah dan namanya pasti teringat.
Iwama Rio. Seorang siswi dengan kuncir kuda rapi yang terlihat jelas seperti murid teladan.
Hanya dengan melihat wajahnya, hanya dari kesan pertama saja, sudah terasa jelas bahwa dia hidup di dunia yang berbeda dariku. Dia adalah sosok yang cerah dan menawan, layaknya bunga sakura yang tak kalah indah dari namanya sendiri.
Tln: Kanji namanya itu "理桜/Rio" yang mana 桜 itu kanji untuk sakura
“Lalu, memangnya kenapa dengan Iwama?”
“Yah, dia imut banget, kan!”
“......Jadi ‘hal yang sangat penting’ itu cuma soal itu?”
“Hei hei, kau berpikir begitu, kan? Tuh, kalian sempat ngobrol juga. Lihat tidak senyumnya itu.”
Memang benar, penampilan Iwama bisa dibilang menarik secara objektif. Raut wajah yang tegas, alis melengkung yang memberi kesan cerdas, dan senyum yang terlampau menyilaukan.
“Memang, dia tipe yang sering tersenyum.”
“Kan? Bukan hanya penampilannya, dari gerak-geriknya juga kelihatan didikan yang bagus, cara bicaranya lancar dan tegas, benar-benar seperti murid teladan yang berjalan memakai baju.”
“Kalau murid teladan jalan tanpa baju, itu baru masalah.”
“Cowok yang terlalu rewel itu tidak akan populer. Jadi, setuju kalau dia kelihatan seperti murid teladan?”
“Ya, aku juga merasa dia tipe seperti itu.”
Sampai rasanya mustahil membayangkan nilainya jelek, begitulah Iwama tampak seperti murid teladan sejati. Pasti dia akan mendapatkan kepercayaan dari teman sekelas dan guru. Hampir bisa dipastikan dia terpilih sebagai ketua kelas. Mungkin dia juga jago olahraga, dan akan jadi rebutan klub-klub olahraga.
Bagaimanapun juga, dia adalah “sakura”. Iwama Rio, murid teladan yang memanggul nama sakura.
Seperti bunga sakura yang setiap musim semi selalu menjadi pusat perhatian semua orang.
“Terus, Delta, aku membuat penemuan yang benar-benar jenius.”
Mizusaki menatapku dengan pandangan penuh makna.
“Penemuan jenius?”
“Ya. Bayangkan saja, kesamaan ajaib antara kau dan Iwama-san. Penasaran, kan?”
Sebenarnya aku tidak terlalu ingin tahu, tapi sepertinya Mizusaki ingin sekali bercerita. Aku mengangguk kecil menyuruhnya lanjut.
“Pertama, ingat dulu asal-usul marga ‘Delta’ itu.”
“Padahal marga asliku Izuta, sih.”
Tln: Kanji nama keluarganya itu "出田/Izuta" yang mana kanji 出 bisa dibaca deru, jadinya deruta/delta
“Delta” adalah julukan yang berasal dari suatu insiden saat SMP. Tidak ada latar belakang sejarah seperti leluhurku pernah tinggal di Delta atau semacamnya. Namun tampaknya Mizusaki ingin menyebarkan salah baca ini juga di SMA, dan sungguh, aku ingin ia berhenti.
Tln: Delta, intinya daerah daratan di muara sungai yang kebentuk dari endapan material sedimen yang dibawa aliran sungai.
“Ah, soal detail kecil lupakan saja. Sekarang soal Iwama-san.”
Seolah membidik efek dramatis, Mizusaki sengaja memberi jeda sejenak.
“…Coba baca kanji ‘Iwama’ itu dengan bacaan campuran.”
Tln: Kanji bisa dibaca kun dan on
Iwama──iwa, ma──gan, ma──Gamma.
“Tuh, kan? Iya, kan?”
Mizusaki tampak puas, seperti seseorang yang baru saja menemukan cara menjawab soal pembuktian matematika hanya dalam tiga baris.
“Kau Delta, dia Gamma. Alfa, Beta, Gamma, Delta......bukan cuma nomor absen yang bersebelahan, dalam huruf Yunani pun berurutan. Luar biasa, kan?”
“Itu benar-benar luar biasa.”
“Jangan memuji tanpa perasaan begitu dong. Ini pasti pertanda takdir! Bahkan kalau mau kau pakai sebagai pembuka obrolan, aku sama sekali tidak keberatan.”
“Kenapa perlu pembuka obrolan segala?”
“Apa yang kau katakan, jelas buat jadi lebih dekatlah.”
Kulihat, Mizusaki kembali berjalan nyaman di bawah matahari di sisi jalan. Rambutnya yang berwarna seperti larutan ferisianida besi(III), diterangi cahaya musim semi yang cerah, sangat cocok dengannya. Entah ia kolibri atau merak, yang jelas ia tampak menikmati semuanya.
“Aku tidak akan mendekatinya. Kau tahu sendiri karakterku.”
Mizusaki menoleh ke arahku sambil tersenyum kelewat ceria.
“Mana tahu. Namanya takdir, kadang suka melancarkan lelucon kejam yang terasa seperti mempermainkan kita.”
“Aku bilang aku tidak berniat mendekatinya. Apa pun yang dilakukan takdir, itu tidak akan berubah.”
“Jangan mengatakan hal yang menyedihkan. Kalian ini setidaknya teman sekelas, harusnya bisa akrab.”
“Kami beda tipe. Bagaimanapun dilihat, dia orang dengan cara hidup yang berbeda dariku.”
“Tapi coba dipikirkan dulu.”
Tanpa terlalu memedulikan ucapanku, Mizusaki mengangkat telunjuknya tegak.
“Syaratnya sudah terlalu sempurna. Tempat dudukmu dan Iwama-san ada di baris paling pinggir dekat lorong. Dan Iwama-san duduk paling belakang. Artinya, saat duduk, dia hanya bisa ngobrol dengan orang di kiri atau di depannya. Jadi, menurutmu siapa yang duduk di depan Iwama-san?”
“Dipikirkan bagaimanapun, itu aku.”
Tempat duduk setelah masuk sekolah ditentukan berdasarkan nomor absen. Di kelasku banyak sekali orang yang namanya diawali “A”, seperti Aizawa atau Aresada, sehingga aku dan Iwama berada di baris lorong dengan nomor absen paling awal, tepat di bagian paling belakang.
“Kan? Dan pasti di kelas-kelas lain juga, karena nomor absen, kau dan Iwama-san akan selalu dekat.”
Seperti saat ia memaksakan jembatan keledai buatannya sendiri untuk menghafal tabel periodik, Mizusaki terus menekan tanpa kenal mundur. Sampai-sampai aku ingin curiga jangan-jangan ada maksud tersembunyi di balik semua ini.
“......Harus terus berada di dekatku, itu terdengar kasihan.”
“Apa yang kau katakan. Dekat Delta itu bukan tempat yang tidak nyaman, tahu!”
“Senang mendengarnya, tapi yang bisa berpikir begitu cuma kau saja.”
Mizusaki tertawa dengan ceria.
“Mungkin juga!”
Tentu saja aku bukan orang yang membawa dampak buruk bagi sekitar. Namun aku juga bukan orang yang aktif di mata luar. Bukan tipe yang supel. Bukan orang yang berjalan di bawah matahari.
Dengan kata lain, aku ini orang bayangan—kalau disebut terus terang, seorang inkya.
Tln: 陰キャ/inkya, apa yak, npc atau orang yang suram atau semacamnya mungkin
Dalam situasi di mana satu-satunya lawan bicara hanya orang di depan atau di kiri, kalau orang di depannya cuma si penyendiri yang tugasnya mengoper kertas ke belakang, Iwama pasti akan merasa kesepian.
Dilihat darimana pun, dia adalah tipe yang bergaul dengan orang lain dan berjalan di bawah matahari—bukan orang dari sisi gelap sepertiku.
Di balik deretan pohon ginkgo yang membentuk tanjakan landai, tampak gerbang SMA Tsunagai. Gerbang kuno dari tumpukan batu itu memancarkan wibawa khas sekolah unggulan nomor satu di prefektur ini.
Pohon-pohon ginkgo itu menumbuhkan tunas hijau kekuningan muda, dan di bawah langit biru, seluruh batang dan daunnya berkilau diterpa cahaya pagi.
Hari ini cuacanya cerah, tapi ramalan mengatakan sore nanti cuaca akan memburuk, dan malamnya badai akan datang.
Saat istirahat makan siang, Mizusaki menghilang entah ke mana dengan alasan “mengintai kelas lain”. Tanpa alasan untuk ikut, aku membuka kotak bekal di bangkuku. Bekal yang kuisi sendiri dengan penuh perhatian—meski setengah isinya hanyalah tomat ceri.
Ngomong-ngomong, menurutku tomat ceri adalah salah satu titik puncak yang dicapai dalam sejarah pertanian.
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Di balik kulit tipisnya tersimpan keajaiban alam dan kebijaksanaan manusia. Keseimbangan antara asam yang segar dan manis yang tak membosankan. Kulitnya mudah menolak air sehingga gampang dicuci, tapi tetap mudah dimakan. Ukurannya sekali suap, tak perlu pisau, tangan pun tak kotor. Dibeli di kios langsung dari petani pun harganya terjangkau. Berkat berkembangnya hidroponik dan rumah kaca, tomat ini bisa dinikmati sepanjang tahun.
Sambil menggigit satu butir dengan bunyi 'puchi', pikiranku melayang pada informasi genetik yang teranyam di dalam selnya. Nenek moyangnya yang tumbuh liar di Pegunungan Andes, hanya menghasilkan buah kecil. Rasanya pasti masam dan getir. Lalu manusia membudidayakannya, memperbaikinya sedikit demi sedikit sesuai selera mereka dari generasi ke generasi. Sejarah evolusi makhluk hidup yang amat panjang dan sejarah kerja keras manusia yang tak kalah lama, semuanya terukir di tiap butir ini. Simfoni yang dimainkannya! Tanaman yang bermandikan matahari menggunakan energi dari sistem canggih bernama fotosintesis, mengerahkan tak terhitung gen, melewati proses yang membuat kepala pening, lalu menciptakan beragam zat. Dan hasilnya adalah keseimbangan rasa dan aroma yang sempurna di atas lidah. Mustahil bagi manusia untuk meniru mekanisme ini dari nol. Kalau bukan keajaiban, lalu apa namanya?
“Kamu suka tomat ceri?”
Suara itu tiba-tiba menyapaku, membuatku terkejut dan menoleh ke bangku belakang.
Iwama Rio menatapku dengan mata besarnya yang membulat. Aku segera menundukkan pandangan.
“Ah, iya......lumayan.”
Merasa jawabanku terdengar bodoh, aku buru-buru menambahkan,
“......Apa aku kelihatan sangat menikmatinya?”
Baru setelah mengatakannya aku sadar—dari sudut pandang Iwama, yang terlihat dariku seharusnya hanya punggung dan belakang kepala. Aku benar-benar baru saja mengucapkan hal bodoh.
“Tidak. Soalnya jumlahnya banyak banget. Aku mungkin baru pertama kali lihat orang yang bekalnya diisi tomat ceri sebanyak ini.”
Dengan jari yang sedikit kecokelatan karena matahari, Iwama menunjuk mejaku.
Dari kotak bekal dua tingkat itu, satu sisinya penuh dengan tomat ceri. Sementara di sisi lainnya, nasi putih berbumbu furikake umejiso dan sisa lauk diisi rapat tanpa celah.
“Soalnya tomat ceri itu enak.”
Mendengar jawabanku yang entah bisa disebut alasan atau tidak, Iwama tersenyum secerah bunga yang mekar.
Meminjam kata-kata Mizusaki, “lihat kan senyum itu”.
“Iya! Enak, kan, tomat ceri.”
Hanya karena ucapannya mengulang hal yang sama, entah kenapa rasanya seperti seluruh keberadaanku diterima apa adanya. Kemampuan menguasai hati orang yang benar-benar menakutkan.
“Tapi, makan sebanyak itu tidak membuat bosan? Aku sempat berpikir kamu habis bertengkar sama orang tua.”
Sepertinya Iwama mengira orang tuaku sengaja mengisi bekal ini dengan tomat ceri sebagai pelampiasan. Tapi itu salah. Sama sekali bukan begitu.
“Tidak, aku memang makan sebanyak ini karena suka. Bahkan segini pun masih kurang.”
Aku yakin bisa bicara panjang lebar selama hampir satu jam tentang simfoni tomat ceri, tapi kutahan diri. Sebagai gantinya, aku memperlihatkan kotak bekal berisi tomat ceri itu pada Iwama. Meski beberapa sudah kumakan, sisanya masih tersusun rapat tanpa celah, tak bergerak seperti potongan puzzle.
“Keren! Ini struktur pengisian dengan kerapatan maksimum!”
Kata-kata yang sama sekali tak kuduga meluncur dari mulut Iwama, membuatku kebingungan.
Seolah menyadari perubahan ekspresiku, Iwama buru-buru mengibaskan kedua tangannya.
“Ah! Aku bilang hal aneh ya! Maaf, maksudku hanya mau bilang isinya tertata efisien.”
“Tidak, bukan berarti itu aneh—”
“Berarti, Izuta-kun membuat bekalnya sendiri ya.”
Meski merasakan sedikit kejanggalan dari pergantian topik yang terlalu mendadak, aku memilih mengangguk saja.
“Bukan sampai bisa dibilang membuat sih.”
Sebagian besar cuma mengisi. Dengan tomat ceri.
“Keren ya! Aku, —dibuatkan sama ma—ibu.”
Padahal tidak ada percakapan yang aneh, tapi dia terlihat seperti sedang terburu-buru mengganti topik.
Tangan Iwama bergerak ringan, membuka bekalnya dan memperlihatkannya padaku. Lauk-pauk yang tersusun seimbang, nasi putih dengan satu buah umeboshi kecil di atasnya. Cara dia dengan begitu alami menunjukkan isi bekalnya kepada seorang pria yang nyaris baru pertama kali dia ajak bicara—entah karena kurang waspada, atau karena memang baik hati—membuatku berspekulasi bahwa dia pasti dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan baik.
Ngomong-ngomong, tadi dia hampir saja bilang “mama”, ya.
Saat kulihat ujung jari yang memegang kotak bekalnya, kukunya terpotong rapi. Apa dia berlatih bela diri atau renang, ya.
......Tidak boleh, aku tanpa sadar malah mengamatinya. Aku lanjutkan percakapan agar terdengar alami.
“Tidak masalah kalau dibuatkan, kan. Orang tuaku dua-duanya kerja di Tokyo, paginya berangkat cepat. Jadi aku menyiapkan sendiri.”
“Eh! Begitu ya! Ibuku kerja di rumah, jadi aku selalu manja. Sekarang sudah SMA sih, mungkin lain kali aku coba buat sendiri.”
Sambil bicara, Iwama mengeluarkan sumpit berlapis pernis.
Orang yang bekerja di rumah itu, sebenarnya apa ya. Programmer, desainer, penulis......kalau rumahnya juga jadi tempat usaha, mungkin masih ada kemungkinan lain. Tapi kalau rumahnya tersambung dengan toko, biasanya tidak dibilang bekerja di rumah. Les privat di rumah sendiri mungkin saja, tapi......
Aku melihat Iwama sedikit memiringkan kepalanya. Aku mengalihkan pandangan dan memasukkan tomat ceri ke mulut. Aku ikut memakan tangkainya, tapi tak mungkin mengeluarkannya lagi, jadi kutelan saja. Aroma khas tangkai tomat yang seperti herba samar-samar menggelitik rongga hidung.
Apa yang sedang kulakukan. Padahal aku tidak tertarik, tapi malah mencoba mengorek-ngorek latar belakang keluarga Iwama. Benar-benar menjijikkan.
Iwama mengambil nasi putih sedikit demi sedikit dengan penggunaan sumpit yang rapi, lalu memasukkannya ke mulut. Cara dia mengunyah perlahan tapi sungguh-sungguh, dipadu dengan kuncir kudanya yang bergoyang kecil, entah kenapa mengingatkanku pada kelinci atau hewan pengerat.
Pengikat ponytail-nya, baik kemarin maupun hari ini sama, karet rambut hitam polos tanpa hiasan.
Mungkin memang hanya perasaanku saja.
“Izuta-kun, kamu sudah menentukan ikut klub apa?”
Iwama sendiri yang mengangkat topik baru. Aku menggeser badan di atas kursi dan duduk agak menyamping.
“Soal klub......belum. Kupikir mau coba ikut dulu baru memutuskan.”
“Begitu ya. Iya juga ya. Aku juga masih bingung.”
Sesuai dugaan—atau lebih tepatnya harapan—Mizusaki, aku akhirnya berbincang dengan Iwama secara alami.
Ngomong-ngomong, di kiri Iwama duduk seorang cowok yang tampak bandel. Ia sedang pergi entah ke mana bersama teman-temannya.
“Kamu sendiri, Iwama-san, sudah kepikiran mau masuk klub apa?”
Sebagai sopan santun, aku mengembalikan pertanyaan yang sama, dan Iwama pun bergumam, “Hmm.”
“Hmm, ibuku bilang sebaiknya aku masuk klub olahraga, tapi aku sendiri tidak terlalu jago olahraga......”
Itu jelas kerendahan hati. Iwama memang agak tinggi, tapi bukan tipe rapuh. Dari rangka tubuhnya saja, dia terlihat seperti bisa menguasai olahraga apa pun.
“Kalau di SMP? Kamu ikut klub apa?”
Saat kutanya begitu, Iwama terlihat sedikit ragu, padahal mulutnya tidak sedang berisi apa pun.
“Ehm, klubnya agak aneh. Izuta-kun, mungkin kamu akan ketawa kalau dengar.”
“Aku tidak akan menertawakannya.”
Kalau misalnya klub penelitian petak umpet atau klub nona bangsawan sih......mungkin aku akan tertawa.
“Beneran?”
Sambil bersiap kalau-kalau ini klub yang aneh, aku tetap mengangguk.
Iwama membuka mulutnya sedikit, tampak agak sungkan.
“Aku......sebenarnya dulu anggota klub sains. Itu lho, menumbuhkan kristal tawas, mengamati bintang, melakukan survei vegetasi......tapi bukan yang terlalu serius, cuma anak yang ikut buat senang-senang.”
Soal boleh tidaknya jadi tim santai itu urusan lain, tapi aku sama sekali tidak melihat bagian mana yang lucu.
“Oh ya? Sebenarnya aku juga—”
Aku hampir mengatakan bahwa aku juga dari klub kimia, lalu menyadari ada yang janggal.
Kristal tawas masih masuk akal, tapi klub kimia tidak mungkin mengamati bintang.
Survei vegetasi juga terasa cukup mencurigakan.
“Maksudmu klub sains, yang science?”
“Iya! Klub sains, yang pakai kanji ‘science’!”
Tln: Yang Iwama maksud itu "科学/kagaku" yang artinya sains, sedangkan Delta awalnya ngira "化学/kagaku" yang artinya kimia
Sains dan kimia—maknanya mirip dan pengucapannya sama, jadi kadang kesalahpahaman seperti ini memang terjadi.
“Menurutku itu sama sekali bukan klub yang aneh. Soalnya aku juga dulu di klub sains. Tapi yang kimia—klub kimia. Klub kimia berbahaya.”
“Eeh—, serius?”
Dia bereaksi dengan suara keras, lalu buru-buru menutup mulutnya.
Namun aku tidak melewatkan kilau sungguhan di mata hitamnya—bukan sekadar basa-basi.
Karena dia sedikit mencondongkan tubuh ke arahku, mungkin lampu neon memantul karena sudutnya.
Iwama mengucapkan kata berikutnya dengan suara yang sedikit direndahkan.
“Memang sih, Izuta-kun kelihatannya cocok pakai jas lab.”
Itu pertama kalinya ada yang mengatakan hal seperti itu padaku.
Kedengarannya seperti pujian, tapi mungkin bukan itu maksudnya.
Lebih tepatnya, itu mungkin cara halus untuk bilang “kelihatan anak indoor banget.”
Aku pikir, membuat apa pun terdengar seperti pujian memang keahlian murid teladan ini.
“Memang aku cukup sering memakainya. Klubnya tiga kali seminggu, dan setengah kegiatannya eksperimen.”
“Misalnya? Eksperimen apa?”
“Kalau yang menarik......reaksi luminol, misalnya. Iwama-san tahu?”
“Iya! Reaksi yang dipakai dalam forensik, yang menyala kalau ada darah, kan?”
Seperti yang diduga dari mantan klub sains. Cepat nyambung, sangat membantu.
“Benar. Menariknya, darah bisa terdeteksi meski sangat sedikit. Kami sampai membuat permainan penyelidikan—ada yang berperan sebagai pelaku yang menghilangkan bukti, dan ada yang jadi tim forensik pencari bukti. Hasilnya, sesuai dugaan, tim forensik menang telak. Dari situ kami benar-benar memahami betapa hebatnya reaksi katalitik.”
Aku berperan sebagai tim forensik. Meskipun Mizusaki yang berperan sebagai pelaku menggunakan segala cara yang bisa ia pikirkan untuk menghapus noda darah, di hadapan kekuatan kimia semua itu tidak ada artinya. Ekspresi frustrasi di wajah Mizusaki saat itu masih kuingat sampai sekarang.
Saat aku sadar, Iwama sedang menatapku dengan mulut sedikit terbuka, terdiam melongo.
—Tidak baik, aku kebablasan bicara.
Kalau aku melakukan ini di depan orang biasa, hampir selalu memicu reaksi seperti itu. Bahkan saat aku membicarakan simfoni tomat ceri, Mizusaki saja sampai tersenyum kecut.
“Maaf, anggap saja angin lalu.”
Saat aku berkata begitu, Iwama tersentak lalu menggelengkan kepala.
“Ah, bukan, bukan begitu—”
Namun apa yang dia maksud dengan “bukan begitu” akhirnya tidak pernah kutahu.
“Wah wah, Delta, kau benar-benar tidak boleh lengah. Pria cakap memang gerakannya cepat, ya!”
Mizusaki datang dan duduk di sebelah Iwama dengan senyum lebar. Aku sempat berpikir untuk membunuhnya.
“Ah, um......Mizusaki-kun!”
Iwama mengangkat alisnya dan menjawab dengan senyum ramah.
Kalau hanya siswa di bangku depan masih bisa dimengerti, tapi dia mengingat nama Mizusaki yang duduk hampir di sisi seberang kelas—dia memang murid teladan yang berjalan sambil mengenakan baju. Kelas 1-C berisi empat puluh orang, dan kami baru bertemu kemarin.
Tln: mungkin itu semacam idiom tapi aku gatau artinya
Mizusaki pun tampak terkejut karena dipanggil namanya, sampai membeku di depan Iwama. Jarang sekali melihat pria ini benar-benar membeku bukan karena akting.
“…Oh. Hebat ya, Iwama-san, kamu sudah mengingat nama teman sekelas.”
“Sedikit-sedikit sih. Tapi Mizusaki-kun juga mengingat namaku, kan.”
“Yah, soalnya kamu kan Iwama-san yang tersohor itu?”
Sambil berkata begitu, Mizusaki kembali ke senyum menyeringai khasnya dan menatap aku serta Iwama. Warna rambutnya yang dicat tipis terlihat hampir hitam di bawah pencahayaan kelas.
“Eh? Aku seterkenal itu?”
“Sudah pasti dong. Kalau di tengah kerumunan orang yang tak terhitung jumlahnya tiba-tiba ada satu pohon sakura yang cantik bermekaran seperti ini, siapa pun pasti akan memperhatikannya. Iya kan, Delta?”
Jangan tanya aku.
Sebagai penegasan bahwa aku tidak berniat mengiyakan, aku menyumpal mulut dengan tomat ceri.
Melihat aku tidak menjawab, Iwama tersenyum kecil lalu bertanya pada Mizusaki.
“Um, Mizusaki-kun......Delta itu apa?”
Dia pintar mengalihkan pembicaraan. Mungkin dengan cara seperti inilah dia sudah berkali-kali menghindari pria-pria genit di masa lalu.
Namun sialnya, topik ini justru sesuatu yang pasti membuat pria ini senang.
“Oh! Pertanyaan bagus. Delta itu nama asli Izuta Shou yang ada di sini.”
“Eh? Delta itu nama aslinya......?”
Meski jelas-jelas tahu itu bohong, Iwama bertanya dengan tulus tanpa sedikit pun nada menyindir.
“Ya. Izuta itu cuma semacam nama postum. Waktu SMP semua orang memanggilnya Delta. Kamu juga panggil saja Delta, Iwama-san.”
Tln: Postumus adalah praenomen Latin, atau nama pribadi, yang paling umum selama abad-abad awal Republik Romawi. Nama ini melahirkan gens patronimik Postumia, dan kemudian menjadi cognomen, atau nama keluarga yang umum. Bentuk femininnya adalah Postuma.
“Jangan sembarangan membunuh orang.”
Dasar, omong kosong meluncur begitu saja......
Sementara itu, bel pun berbunyi.
Saat aku buru-buru menghabiskan sisa bekal, jam istirahat siang pun berakhir.

Post a Comment for "Yotte, Hatsukoi wa Shoumei Sareta. -Delta to Gamma no Rigakubu Note [LN] J1 Bab 1.1"