Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 4.3


Bab 4 - Aku Yang Asli, Yang pernah Mengagumi Sosok Yang Palsu Itu




Sebagai acuan latihan mandiri, aku menggunakan catatan yang ditulis kakak.


Dengan ujung jari, aku memantulkan bola dengan cepat ke kiri dan kanan, melatih sensasi jari-jariku dalam menguasai bola.


Aku memutar bola mengelilingi tubuh, menggambarkan lingkaran, atau mengayunkannya membentuk angka delapan di antara kaki......latihan handling yang sederhana namun melelahkan itu kulakukan diam-diam secara terus-menerus.


Jeritan tubuh yang sama sekali berbeda dari belajar.


Awalnya, nyeri otot membuat bangun pagi saja terasa menyiksa, namun setelah terus menyentuh bola pinjaman kakak selama sekitar seminggu, rasa lelah dan sakit itu mulai disertai kepuasan yang menyenangkan.


“Di hari terakhir liburan musim panas, kosongkan jadwalmu. Aku akan memanggil Hirose ke lapangan basket biasa, lalu di sana kita berdua akan main satu lawan satu.”


Setelah latihan berdua, kakak mengusulkan itu dengan wajah puas diri.


“Aku sama sekali tak percaya diri bisa menang......jangan-jangan kakak cuma ingin jadi pusat perhatian?”


“Tenang saja. Aku akan mengalah secara alami, jadi kamu tinggal pamerkan permainan sekeren mungkin. Cocok untuk menutup hari terakhir liburan musim panas.”


“Padahal otakmu payah, tapi soal pengaturan seperti ini kamu pintar juga.”


“Bukankah aku sutradara yang berkelas?”


“Sikap sok santai seperti itu juga......sangat kubenci.”


“Sebenarnya, aku tak berniat kalah darimu. Jadi berusahalah sebaik mungkin, sampai suatu hari nanti kamu bisa membalas kakak yang kamu benci ini dengan kemampuanmu sendiri.”


Diremehkan oleh rival cinta juga terasa menyakitkan, tapi jika kakak mengerahkan kemampuan sepenuhnya, itu hanya akan menjadi panggung tunggalnya.......meski menyisakan rasa frustrasi, aku tak punya pilihan selain menerimanya.


Begitu jalan mundur tertutup, aku pun memusatkan diri tanpa ragu.


Waktu membuka buku soal dan buku pelajaran berkurang drastis, bahkan di sekolah aku justru menelaah buku aturan basket dengan saksama.


Aku meminta izin menggunakan komputer di ruang audiovisual sekolah dasar, lalu menonton rekaman pertandingan di situs video untuk mempelajari pergerakan para pemain.


Perasaan cinta mengalahkan ujian masu, ditambah lagi hasrat untuk menyaingi kakak.


Hari demi hari, sensasi menggenggam pena menjauh, sementara bola yang kasar justru semakin menyatu dengan telapak tanganku.


Setiap kali aku bertindak demi meraih masa depan yang kubayangkan sendiri, hidup yang dulu seperti boneka kini terasa dipenuhi kepuasan hingga seolah terlukis ulang.


Hari-hari yang kuisi dengan membayangkan senyum Haru-senpai─bersinar dengan warna yang begitu kaya.




Namun, kehidupan yang dijalani dengan menipu diri sendiri tak mungkin semanis itu selamanya.


Nilai ujian simulasi di bimbel turun drastis dibandingkan sebelumnya, dan di lingkungan di mana ayah selalu memantau prestasi, hanya tinggal menunggu waktu sebelum semuanya tak bisa lagi disembunyikan.


“Bukan hanya stagnan, nilai-nilaimu malah tampak menurun.”


“Maaf......”


“Dengan kondisi seperti ini, kau pikir bisa lulus ujian masuk? Apa yang sudah kau lakukan selama ini?”


“Maaf......ini karena ketidakmampuanku.”


Ayah menyusun lembar jawabanku di atas meja, menyampaikan kekecewaannya dengan cara yang berputar-putar.


“Jangan mengecewakanku lebih jauh.”


Dengan pikiran yang dipenuhi gangguan berupa basket dan cinta, mustahil menyerap pelajaran tingkat tinggi; karena waktu persiapan dan pengulangan pun kugantikan dengan latihan mandiri, penurunan akademik menjadi konsekuensi yang tak terelakkan—sebanding dengan meningkatnya kemampuan handling.


Setelah ayah pergi, lenganku gemetar sambil menggenggam erat lembar jawaban dengan nilai yang memalukan itu.


Keadaan setengah-setengah ini......tak bisa kulanjutkan lagi.


Aku benar-benar merasakan bahwa pilihan yang akan menentukan sisa hidupku telah mendekat tepat di depan mata.




Hari terakhir liburan musim panas.


Biasanya hari ini tak lebih dari hari biasa, tapi kali ini ada sebuah peristiwa penting.


Pertarungan melawan kakak. Meski ia terang-terangan berkata akan menahan diri, jauh di dalam hati aku tetap kesal pada sikapnya yang terlalu santai.


Aku menunggu saat ayah pergi bekerja, lalu meninggalkan rumah kosong itu dengan niat menerkam tenggorokan kakak yang lengah.


“Kukira dipanggil mendadak untuk hal penting, ternyata tetap basket ya. Dari lokasi janjian di lapangan terbuka saja sudah ketahuan kalau ini tidak punya makna tersembunyi.”


Saat tiba di lapangan basket yang biasa, Haru-senpai dan kakak sudah menunggu.


Haru-senpai yang tak diberi penjelasan apa pun tampak sedikit kesal, mengenakan atasan tanpa lengan yang terasa segar dipadukan dengan rok lipit. Berbeda dari sepulang latihan, kali ini dia juga berdandan ringan dengan riasan natural.


“Basket bahkan di hari terakhir liburan......aku tidak masalah karena lagi tidak ada kegiatan, tapi Seitarou-senpai tidak punya rencana kencan gitu?”


“Hari ini ada pertengkaran kakak-adik yang aku tidak boleh kalah.”


“Lagi-lagi mengatakan hal yang tidak jelas, senpai ini......”


“Hirose, kamu jadi saksi pertengkaran saudara, ya? Pastikan lihat sampai akhir.”


“Tolong kembalikan waktu yang kupakai buat mikir dan berdandan.”


“Aku sama sekali tidak minta kamu berdandan, lho.”


“Kalau diajak dengan cara mencurigakan, ya wajar dong berdandan. Itu normalnya gadis, kan?”


“Aku tidak mengerti sama sekali. Bukannya kamu lebih cocok pakai seragam atau jersey?”


“Karena bicaramu begitu terus makanya tidak punya pacar, kan?”


Aku hanya mengamati pertukaran kata yang akrab seperti pertengkaran pasangan suami-istri, sambil diam-diam merasa iri.


Untuk memastikan apakah aku punya hak mengubah keadaan, yang hanya bisa menatap dua orang yang serasi sampai terasa aneh kalau mereka bukan sepasang kekasih—


“Kak, ayo bertanding.”


Sambil membawa bola basket, aku melangkah maju dan berdiri di tengah lapangan.


“Haru-senpai, tolong lihat pertengkaran saudara kami. Aku akan mengalahkan kakakku.”


“Aku belum sepenuhnya paham situasinya sih......tapi oke! Aku akan melihatmu.”


“Hirose, perhatikan Natsume. Lihat bagaimana ia dihajar habis-habisan oleh kakaknya yang hebat.”


Aku berhadapan langsung dengan kakak yang melemparkan provokasi bernada tantangan.


Ini bukan niat jahat. Ia sedang mencoba membangkitkan semangatku.


Tak ada pengganggu dalam pertarungan saudara ini.


Setidaknya, kami berdua pasti berpikir demikian.



“Aku yakin sudah kukatakan, jangan mengecewakanku lebih jauh lagi.”



Pria yang turun dari mobil mewah buatan luar negeri yang terparkir tak jauh itu adalah seorang lelaki paruh baya dengan kerutan dalam di antara alisnya......ayah bagiku dan kakakku.


“Ayah......kenapa Ayah ada di sini......?”


“Penurunan prestasimu belakangan ini terlalu mencurigakan. Jadi aku memasang GPS di ranselmu. Tak kusangka kau malah membuang waktu di tempat seperti ini.”


Di layar ponsel yang ditunjukkan ayah, sebuah peta terpampang dengan lokasi keberadaanku ditandai oleh kursor bulat.


“Jangan meremehkan orang dewasa.”


“Ayah......aku! Ini hanya hari ini......tolong, izinkan aku hari ini saja!”


“Alasan akan kudengar setelah kita pulang. Kita pergi sekarang.”


Teriakan putus asa yang dangkal itu lenyap begitu saja, digantikan oleh tangan ayah yang mencengkeram lenganku dengan amarah yang tertahan. Lenganku tertarik hingga terasa nyeri berderit, rasa sakit yang membuat wajahku terdistorsi.


Dengan kekuatan anak sekolah dasar, aku tak mampu melepaskan diri dan hanya bisa diseret menuju mobil.


Apakah aku memang tak pernah punya pilihan?


Seperti narapidana yang ditangkap kembali setelah melarikan diri, aku semakin menjauh dari kebebasan.


“Masih saja egois seperti biasa, dasar orang tua sialan.”


Dihujani kata-kata kasar, ayah tetap mempertahankan tatapan kerasnya, melepaskan tanganku sambil berbalik.


“Sudah lama tak bertemu, dan kau mulai bicara sembarangan rupanya. Bukankah kaulah penyebab hancurnya keluarga ini dengan tindakan egoismu?”


“Kalau dipikir-pikir, benar juga. Mungkin hanya bagian itu saja aku mirip dengan orang tua sialan ini.”


“Jangan sembarangan memanggilku ayah. Aku sudah memutus hubungan orang tua dan anak denganmu.”


“Telingamu juga sudah rusak, ya? Bukan ‘ayah’, tapi ‘orang tua sialan’.”


Ketegangan yang berakar dalam menyelimuti kakak dan ayah, membuat tenggorokanku terasa kering.


“Kalau kau hanya berakhir sebagai pecundang yang menyia-nyiakan hidup, itu masih bisa ditoleransi. Tapi menyeret Natsume bersamamu itu keterlaluan. Kau dan Natsume berbeda. Anakku memiliki masa depan sebagai ‘yang asli’, sedangkan kau hanyalah ‘palsu’ yang kebetulan mirip secara fisik.”


“Hah, kalimat yang itu-itu saja setiap saat. Aku sudah muak mendengarnya, idiot.”


“Seitarou!!”


Tersulut oleh sikap kakak yang penuh duri, ayah maju dengan wajah seperti iblis dan mencengkeram kerah bajunya.


Kenangan itu mendidih kembali.


Dulu......pertengkaran orang tua dan anak yang terjadi di rumah. Pertukaran teriakan yang sudah menjadi keseharian.


“Di situ......apakah ada kehendak Natsume-kun sendiri? Sebagai orang tua......apakah kau menghargainya?”


“Natsume tidak membutuhkan kehendak pribadi. Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi orang yang hanya sebatas bergaul dengan Seitarou tidak berhak mencampuri pendidikanku.”


Ayah menatap rendah Haru-senpai yang tanpa sadar melontarkan protes, menyangkalnya dengan rentetan kata keras.


Sebagai boneka yang dikendalikan, aku hanya bisa terdiam.


Bahkan melindungi seseorang yang tampak akan menangis kapan saja pun......aku tak mampu.


“Hei.”


Namun, aura kakak berubah.


Ia menggenggam pergelangan tangan ayah yang mencengkeramnya, lalu menekannya dengan kekuatan luar biasa.


“Kau boleh merendahkanku sesuka hati......tapi jangan pernah menyangkal kehendak adikku.”


“L-Lepaskan......!”


“Dan satu lagi......jangan sampai kau membuat junior yang paling kusayangi menangis......akan kubunuh kau.”


Perlawanan yang lahir dari amarah yang nyata.


Tak sanggup menahan rasa sakit, ayah melepaskan tangannya sambil menyeringai kesakitan, lalu mundur satu dua langkah.


“Kita pulang!!”


Aku kembali diseret menuju mobil oleh ayah yang menarik tanganku.


Pertengkaran singkat antar saudara itu, juga cinta pertamaku—semuanya berakhir sampai di sini.


Pada diriku yang telah pasrah begitu, kakak meninggalkan kata-kata ini.


“Pertandingan ini kita tunda dulu,” katanya.


Seolah masih akan ada kesempatan berikutnya, ia tersenyum dengan wajah penuh wibawa seorang kakak.




Aku yang dibawa pulang dikurung di kamar sendiri dan dilarang keluar sama sekali.


Sendirian, seperti biasanya.


Tak mungkin ada kejadian yang mengguncang perasaanku; hari-hari ini hanya berlalu begitu saja.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Kamar yang hanya berisi barang-barang seperlunya itu nyaris tanpa suara, sunyi sampai terasa mengerikan.


Seharusnya hatiku tak tergerak oleh apa pun, dan tak merasakan apa pun.


“Aku ingin bertemu dengan Haru-senpai......”


Yang terpantul di jendela kamarku adalah pemandangan kota yang terselubung malam.


Aku tak pernah menyangka harapan kecil yang terucap sambil menatapnya itu akan sampai ke mana pun.


“Yo! Baru beberapa jam ya, Natsume.”


“......!?”


Refleks aku menutup mulut, menelan jeritan yang hampir saja keluar.


Mataku bertemu dengan kakak yang tiba-tiba menjulurkan wajah dari luar balkon lantai dua, membuat kakiku hampir lemas.


“Yeeey, Santa musim panas.”


......Begitulah sang penyusup ilegal menyebut dirinya, dengan tubuh bagian atas mengenakan kaus santai, helm, dan kacamata motor.


Bagaimanapun dilihat, ia sama sekali bukan Santa, nuansa musim panas sekalipun tidak ada.


“Pokoknya buka jendelanya dulu. Jangan sampai orang tua sialan itu sadar.”


“I-Iya......!”


Ayah ada di lantai satu.


Kami saling berbicara dengan suara sekecil mungkin, lalu aku membuka jendela dengan perlahan.


“Ini lantai dua, tapi bagaimana caranya......?”


“Aku juga pernah tinggal di rumah ini. Mana mungkin aku tidak tahu tempat menyimpan tangganya?”


Kakak tampaknya meminjam tanpa izin tangga panjang yang ada di gudang halaman, menyandarkannya ke balkon, lalu memanjat naik secara diam-diam.


“Mulai sekarang, Natsume ingin bagaimana?”


“Hah......?”


“Kalau itu yang kau inginkan, aku akan membawamu pergi dari sini sekarang juga. Kita bisa tinggal bersama di tempat Ibu, dan kau hidup sebebas yang kau mau, Natsume.”


Itu bukan lelucon, di bawah langit malam, mata kakak yang berdiri di atas tangga itu sungguh serius.


“Memangnya kau tidak menginginkan hidup dengan Hirose di sisimu?”


Kalimat ajakan itu pengecut, tapi sekaligus yang paling ampuh.


Karena—tekadku sudah bulat.


“Aku mau. Aku ingin bersekolah di SMP yang sama dengan Haru-senpai......dan menjalani masa muda yang sama.”


“Baik, sudah diputuskan. Cepat bersiap.”


Aku memasukkan barang-barang pribadiku seperlunya ke dalam ransel, lalu turun ke halaman menggunakan tangga.


Kakak yang sudah turun lebih dulu menaiki motor yang diparkir di depan rumah, dan aku yang dipanggil ikut naik ke jok belakang dengan tergesa-gesa.


“Seitarou, Natsume! Apa yang kalian lakukan!”


Mungkin karena rangkaian suara tadi, ayah akhirnya menyadarinya dan menemukan kami saat keluar dari pintu depan.


“Rabi-chan, ini bukan saatnya kelihatan tua! Cepat bangun!”


Terlepas dari panggilan ‘Rabi-chan’ itu, kakak menginjak pedal starter berkali-kali.


Saat mesin akhirnya menyala, suara mesin yang ringan menggema di sekitar yang sebelumnya sunyi.


“Kalau sampai jatuh bakal sakit, ya! Pegangan yang kuat!”


“Iya!”


Aku berpegangan erat pada punggung kakak yang memacu motor itu.


Kami berhasil menghindari ayah yang mengejar sampai halaman, meninggalkannya di jalan malam yang pengap dan panas.


“Anak yang kau kurung itu akan kubawa pergi. Sampai jumpa, orang tua sialan!”


Sambil melontarkan candaan, kakak melambaikan tangannya ringan.


Aku menolehkan tubuh bagian atas saja, menatap sosok ayah yang perlahan menjauh dan semakin mengecil.


“Ayah, maaf! Aku ingin......mencoba menjalani hidupku dengan caraku sendiri! Jadi, aku akan kabur dari rumah sebentar saja!”


Aku tak tahu apakah suaraku sampai, tapi ayah......mulut Ayah terkatup rapat.


Di balik ekspresi seolah telah menyerah itu, tampak sekilas kesepian yang samar.


Di wajah Ayah yang berdiri terpaku dalam diam, kurasa dua perasaan itu bercampur menjadi satu.


Begitulah, aku melakukan pelarian dari rumah untuk pertama kalinya.


Sambil bertanya dalam benakku yang masih kekanak-kanakan, apakah suatu hari aku akan kembali ke sini.




Angin malam bulan Agustus yang menerpa dengan kecepatan sekitar lima puluh kilometer per jam adalah sensasi yang belum pernah kurasakan.


Angin dari depan mendinginkan badanku yang memanas karena ketidakbiasaan kabur dari rumah.


“Kakak......kenapa Kakak begitu memedulikanku?”


Dengan kegembiraan yang masih belum reda di hatiku, aku memberanikan diri mengajukan pertanyaan terbesar itu.


“Ya jelas karena kau adikku.”


“Karena lima tahun tak ada kabar, aku sempat mengira Kakak sudah melupakanku......”


“Bahkan setelah orang tua kita berpisah, aku tak pernah sekalipun melupakanmu. Hanya saja, aku yang sudah memutus hubungan dengan Ayah selalu ragu mendekatimu. Aku takut Ayah akan meledak seperti kali ini, dan kau yang akan terluka.”


Kakak tidak meninggalkanku lalu melarikan diri.


Dengan menjauhkan diri, ia berusaha setidaknya menjaga kedamaian adiknya, sebagai orang yang merasa telah menghancurkan keluarga.


“Tapi......saat kau menemukan jalan yang ingin kau tempuh dengan kehendakmu sendiri, aku sudah memutuskan akan mendukungmu sebagai kakakmu. Karena itu......aku benar-benar senang saat mendengar ceritamu dari Hirose.”


“......Senang?”


“Tentu saja senang. Adik yang dulu hanya menuruti Ayah, tak punya teman, dan cuma belajar, kini tanpa kusadari sudah menemukan orang yang disukainya dan bisa menikmati hidup.”


“Tapi, orang yang dia sukai bukan aku......”


Aku ragu untuk merangkai kata-kata selanjutnya.


Mengatakannya di tempat seperti ini jelas melanggar aturan.


“Aku akan masuk SMP yang sama dengan Haru-senpai dan serius bermain basket. Suatu hari, saat aku sudah melampaui Kakak, aku ingin menyatakan perasaanku padanya dengan sungguh-sungguh!”


“Menarik. Sampai saat itu, hasil pertandingan kakak-adik kita tunda dulu. Kalau kau sudah yakin bisa mengalahkanku, datang dan tantang aku!”


“Aku serius, lho. Akan kubuat Kakak malu di depan Haru-senpai!”


“Entah mirip siapa, tapi mulutmu memang jago. Yang akan kalah telak dan nangis itu kau, Natsume!”


Saling beradu kata, motor berboncengan itu melaju kencang menembus jalan malam kampung halaman.


Sebagai rival cinta, ia menjengkelkan dan kubenci—tapi bolehkah aku mengagumi punggungnya saat mengendarai motor itu?


Aku ingin menjadi seperti Kakak.


Suatu hari nanti, menjadi tiruan yang keren.


Langit penuh bintang di musim panas yang kutatap sambil memikirkan itu terasa sebagai yang paling indah di dunia.

    ******

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 4.3"