Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 4.2
Bab 4 - Aku Yang Asli, Yang pernah Mengagumi Sosok Yang Palsu Itu
Sejak hari itu, aku berhenti pergi ke tempat-tempat di mana aku mungkin bisa bertemu Haru-senpai.
Setelah melarikan diri dengan menyedihkan dari hadapan kakakku dan kembali ke liburan musim panas yang sepi, sisa-sisa penyesalan itu kembali menyala setelah dua minggu yang jauh dari rangsangan dan kegembiraan.
Kehausan itu mulai menggerogoti jalur pikiranku yang seharusnya hanya digunakan untuk mengerjakan soal-soal ujian masuk SMP.
Apa yang sedang Haru-senpai lakukan sekarang ya?
Karena telah mengenal hari-hari manis-pahit bersamanya, aku tak bisa begitu saja kembali ke hidup seorang diri.
Jika keadaan setengah-setengah ini terus berlanjut, bukan hanya cinta, belajarku pun akan hancur.
Hari ini saja. Hanya satu hari.
Aku yang sedang belajar di kamar menutup kumpulan soal ujian dan menyelinap keluar dari rumah yang kosong selain diriku.
Kota pelabuhan saat senja, masih diselimuti panas yang membandel.
Aku mencari Haru-senpai yang bersinar di musim ketika matahari belum tenggelam meski hari telah sore.
Meski hubungan kami hanya seperti kakak-adik yang bermain bersama selama beberapa hari di satu musim panas, kalau bisa bertemu lagi aku ingin mengucapkan salam perpisahan dengan benar.
Kalau aku bisa melihat senyumannya sekali lagi, itu saja sudah cukup.
Aku bisa melupakan cinta pertamaku dengan indah.
“Natsume-kun......?”
Di taman tepi laut dengan kolam renang umum yang penuh kenangan manis—tepat di dekat laut yang dipandangi jembatan penyeberangan merah—kami bertemu kembali.
“Sudah sekitar dua minggu ya? Sejak hari itu......meskipun aku mampir ke toserba sepulang latihan, kamu tidak pernah muncul.”
“Maaf......”
“Aku sempat berpikir jangan-jangan aku melakukan sesuatu yang membuatmu membenciku......kalau begitu, aku ingin minta maaf.”
“Tidak, bukan begitu! Karena urusan keluarga......Senpai sama sekali tidak bersalah.”
“Begitu ya, ternyata hanya perasaanku saja. Maaf ya, aku jadi terlalu khawatir!”
“Apa Senpai mencariku......?”
“Berpisah begitu saja rasanya terlalu tidak enak, kan. Aku pikir kalau aku sering berada di sekitar tempat yang pernah kita datangi bersama, mungkin suatu saat kita bisa bertemu lagi, jadi aku kadang mampir ke sini!”
Dengan hati seorang anak pun, dadaku terasa penuh.
Ada seseorang yang mengkhawatirkanku meski aku menghilang secara egois, dan masih ingin bertemu denganku sekali lagi.
Fakta itu terasa begitu membahagiakan sampai sulit dipercaya.
“Mulai sekarang jangan menghilang seenaknya, ya? Janji dengan kakak, oke!”
Hari-hari ketika dia bersikap seperti kakak dan mengelus kepalaku—aku memang sangat menyukainya.
Bagi dirinya mungkin ini hanya seperti mencari adik yang tersesat, tapi bagiku… rasanya terlalu membahagiakan sampai hampir membuatku menangis.
Padahal aku berniat melupakannya sepenuhnya, namun aku justru kembali dipaksa menyadari perasaanku.
Ah, orang inilah—tanpa keraguan—cinta pertamaku.
“Hari itu, alasan kenapa kamu kabur......ada hubungannya dengan kakakmu, ya?”
“Hah......?”
“Seitarou-senpai itu kakakmu, kan?”
Kebingungan karena disergap tiba-tiba membuatku ragu untuk menjawab.
Aku tidak pernah memberitahu Haru-senpai bahwa kami bersaudara, dan dua minggu lalu pun seharusnya tidak ada cara baginya untuk mengetahuinya.
“Seitarou-senpai ingin bertemu.”
“Dengan siapa......?”
“Denganmu, Natsume-kun.”
Ia ingin bertemu denganku?
Si palsu yang terus bertindak egois, melakukan apa yang hanya ia inginkan, dan sebagai gantinya menjadi penyebab hancurnya keluargaku—pria paling menyebalkan yang meninggalkanku sendirian—sekarang ingin bertemu denganku?
“Kurasa hari ini pun ia masih ada di tempat yang sama seperti dua minggu lalu.”
“Lalu......apa yang harus kulakukan?”
“Selebihnya terserah kamu, Natsume-kun. Kalau kamu tidak ingin bertemu, pulang saja juga tidak apa-apa.”
Aku tak bisa berkata apa-apa, dan sambil membawa konflik batin yang rumit, aku mulai melangkah perlahan.
“Ini bukan perpisahan, kan? Aku masih ingat janjiku untuk membawamu ke laut.”
Aku tidak tahu apa yang seharusnya kulakukan.
Karena selama ini aku selalu mengikuti kehendak ayahku, aku tidak memiliki keyakinan untuk mempertahankan kehendakku sendiri.
Jika aku tahu bagaimana perasaannya terhadap Haru-senpai, apakah aku tidak perlu menyerah?
Apakah ia akan menunjukkan masa depan yang ingin kutuju?
Aku melangkah menuju lapangan basket di tepi laut.
Ruang senja yang dipenuhi bunyi bola membentur papan ring, bola jatuh memantul, dan suara dribel itu—sedikit saja—beraroma masa muda.
Entah karena keisengan Tuhan, bola yang memantul dari ring menggelinding ke arahku.
Saat aku memungut bola sambil sedikit membungkuk......aku berhadapan langsung dengan kakakku yang mengejar bola itu.
“Makasih sudah mengambilkan bolanya.”
Entah ia tahu aku adiknya atau tidak, kakakku mengangkat kedua tangannya di depan dada.
Gerakan yang berarti, “operkan kembali.”
Aku yang sama sekali awam soal olahraga sempat terpaku beberapa detik, lalu mendorong bola itu dengan canggung dari kedua tanganku.
Operan pertamaku seumur hidup mendarat tepat di dada kakakku, dan rasanya sedikit menyegarkan.
“Operannya lumayan bagus juga, Natsume.”
Aku tidak salah dengar.
Namaku meluncur begitu saja dari mulut kakakku.
“Kakak......”
Karena ayah melarangku berbicara dengan kakak, rasanya sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali kami bercakap dengan layak seperti ini.
Saat kecil, ketika hubungan orang tua kami masih baik, kami hanyalah kakak-adik biasa yang bisa berbincang setiap hari.
Kini, dengan ganjalan yang ada di antara kami, sedikit saja aku lengah membuka mulut, kebencianku padanya bisa tumpah sebagai makian.
“Kamu membenciku, kan, Natsume? Makanya tidak mau ketemu.”
“Tidak......”
“Hah? Jadi kamu tidak membenciku?”
“......Ini bukan sekadar benci. Aku sangat membencimu.”
Saat aku menatapnya dengan tajam, kakakku menunduk dan mengangguk kecil tanpa membantah.
“Begitulah seharusnya adikku.”
Lalu ia tersenyum dengan makna tersembunyi.
“Karena aku, suasana rumah jadi kacau, dan ekspektasi berlebihan ayah tertuju ke kamu sampai membuatmu hidup terkurung. Wajar kalau kamu membenciku—aku memang tidak punya satu pun alasan untuk disukai.”
“Kalaupun kamu minta maaf sekarang......sudah terlambat.”
“Tidak, aku memang tidak berniat minta maaf. Pilihanku untuk menjadi ‘palsu’ yang bebas bukanlah sebuah kesalahan.”
“Hanya untuk melontarkan sindiran seperti itu......kamu ingin bertemu denganku?”
“Ya, kira-kira begitu. Aku hanya ingin bilang kalau kakakmu ini hidup dengan bahagia.”
Orang ini mungkin memang jenius dalam menggosok sarafku berlawanan arah.
Rasa kesalku sudah melampaui batas, membengkak menjadi kebencian yang ingin kuhantamkan langsung ke wajahnya.
“Kudengar kamu main bareng Hirose waktu liburan musim panas. Anak kecil yang kabur waktu itu......itu kamu, kan, Natsume?”
“Jadi kamu sadar itu aku......”
“Sudah lima tahun kita tidak bertemu, jadi aku tidak yakin—kupikir mungkin orang lain yang mirip denganmu, makanya tidak kusapa. Tapi caramu terang-terangan menghindari tatapanku itu terasa begitu familiar.”
Entah harus disebut sudut pandang khas kakak, atau karena ia mengenalku—itu kalimat yang hanya bisa ia ucapkan.
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Karena pengaruh ayah, aku membenci kakak, sampai meski tinggal serumah pun aku tak pernah menatapnya.
“Akhir-akhir ini Hirose kelihatan kurang bersemangat. Waktu kutanya pelan-pelan, katanya ia terus kepikiran soal kamu yang tiba-tiba kabur dan berhenti datang.”
Akhirnya ganjalan itu masuk akal—kenapa Haru-senpai tahu hubungan kami.
Saat itulah kakak mendengar namaku, dan mungkin menceritakan urusan keluarga kami.
“Kamu suka sama Hirose, kan?”
“Eh—ah......bukan......suka itu......dia seperti kakak perempuan yang mau main denganku......pokoknya bukan suka!”
“Reaksimu gampang banget dibaca. Mukamu merah padam, tuh.”
Aku yang tak bisa menyembunyikan kegugupan jadi panik, sementara kakak tertawa ringan. Amarah yang tadi mendidih pun berubah menjadi hangat yang nyaman begitu wajah Haru-senpai terlintas di benakku.
“Bagian mana dari Hirose yang kamu suka? Coba ceritakan.”
“......Tidak mau. Aku tidak mau cerita ke orang sepertimu.”
“Cih, membosankan. Kita saudara, tidak perlu malu-malu.”
Sekarang ia sok jadi kakak—itu justru membuatku kesal.
Namun......orang yang menarik hati Haru-senpai adalah pria seperti ini, dan aku tak bisa menyangkal bahwa rasa iri terhadap “yang palsu” yang hidup bebas ini mulai tumbuh.
“Aku sangat membencimu......sekaligus iri sampai menyakitkan. Aku juga ingin......menunjukkan sisi kerenku pada Haru-senpai! Aku ingin......menghabiskan lebih banyak waktu bermain bersamanya!”
Perasaan jujur yang selama ini kutekan pun meluap dari tenggorokanku.
Dengan air mata yang jatuh memalukan, aku menumpahkan hasrat yang tak lagi bisa kutahan.
“Kenapa kamu boleh berada di sisi orang itu, sementara aku tidak......!? Padahal aku yang lebih......”
—Menyukainya. Sudah pasti, aku.
“Kakak......sebenarnya apa yang kakak pikirkan tentang Haru-senpai?”
“Sebagai junior, aku menyukainya dan bersamanya itu menyenangkan, tapi kalau ditanya secara romantis itu berbeda.”
“Benarkah......?”
“Buatmu Hirose mungkin terlihat dewasa, tapi dari sudut pandangku dia masih anak kecil yang sampai belum lama ini masih SD. Lagipula sekarang aku lebih ingin jago basket daripada memikirkan cinta.”
Kakak yang empat tahun lebih tua dari Haru-senpai itu menyatakannya tanpa sedikit pun ragu.
“Tapi kalau kamu mundur dengan menyedihkan begitu, kamu tidak keberatan kan kalau aku mulai menyukai Hirose?”
“Itu......”
“Ayah itu tak mungkin mengizinkan cinta, dan dalam hidupmu yang seperti boneka kendali itu, perasaan cintamu pada Hirose hanya jadi beban. Kalau kamu tak berniat berbuat apa-apa, lupakan saja dia—”
“......Tidak mau!!”
Aku memotong kata-kata kakak yang terus menghantamku dengan logika dingin, lalu berteriak menolak.
“Aku......ingin keseharian di mana aku bisa bermain bersama Haru-senpai!! Aku ingin jadi pria keren dan membuatnya menoleh padaku!!”
Dan aku menelanjangi semua perasaan yang selama ini kupendam.
“Seperti kakak......aku juga ingin menjadi ‘yang palsu’ itu!!”
Keegoisan kekanak-kanakan seorang siswa kelas enam SD.
Cinta pertama yang akhirnya tumbuh dalam diriku yang selama ini menekan diri sendiri, menolak hidup sebagai boneka kendali.
“Akhirnya kamu bisa mengatakannya juga. Perasaanmu sendiri.”
Saat itu, kakak tersenyum tipis.
Setelah bertahun-tahun, ia kembali menatapku dengan pandangan seorang kakak yang menjaga adiknya.
“Selama liburan musim panas, latihan klub selesai siang hari, jadi mulai besok sore ikutlah latihan mandiriku.”
“......Kenapa? Aku tak berniat ikut hal sepele seperti itu.”
“Kalau kamu bisa main basket, kamu bisa jadi partner latihan Hirose. Dengan alasan interaksi lewat basket, mungkin kalian bisa membangun hubungan yang lebih dekat.”
“Aku yang tak pernah bersentuhan dengan olahraga, main basket......sekarang jelas mustahil, kan.”
“Hal begitu mana bisa tahu kalau belum dicoba?”
Sikap kakak yang melontarkan ide asal-asalan dengan seenaknya itu justru makin membuatku kesal.
“......Aku tak ingin berbicara lagi. Ini hanya buang-buang waktu.”
Dengan rasa muak, aku melontarkan kata-kata pedas sambil hendak berbalik pergi, namun—
“Begitulah caramu—lari terus dan kembali ke hidupmu yang payah itu. Bukankah itu lebih mudah buatmu?”
“......Berisik.”
“Kamu tak pernah berpikir sendiri, tak pernah bergerak atas kehendakmu sendiri. Tapi tetap saja mengeluh tanpa henti tentang lingkungan yang diberikan padamu, itulah dirimu sekarang, bukan?”
Diam. Gara-gara siapa aku jadi seperti ini.
Kau tak punya hak untuk mengatakannya. Tak ada hak bagimu menolak hidupku.
Provokasi kakak yang tanpa ampun itu membuat isi perutku mendidih oleh amarah.
“Kamu lari karena takut, kan? Baik di basket maupun cinta, karena kamu akan kalah dariku yang paling kamu benci.”
“Jangan seenaknya memutuskan kalau aku tak bisa mengalahkanmu......!!”
“Jangan membuatku tertawa. Kamu bahkan belum naik ke arena—ini sudah jadi kemenangan tanpa tanding buatku.”
Kata-katanya tepat mengena sasaran, dan aku tak mampu membantah.
Karena memang benar—aku menginginkan hari-hari bersama Haru-senpai, tapi tak mampu mengerahkan keberanian untuk menghancurkan keadaan sekarang.
“Tapi tahu tidak......kalau kamu berusaha membalikkan keadaan, mungkin setidaknya sedikit kemungkinan akan tumbuh.”
Ritme emosiku terganggu secara aneh.
Karena saat ia tiba-tiba bersikap seperti kakak, ujung kemarahanku yang seharusnya tajam malah tumpul.
“Yang palsu” yang kuidolakan adalah sang ace klub basket.
Jika Haru-senpai tertarik pada wajah kakak saat bermain basket dan dinamika dirinya di lapangan, maka aku ingin mengejarnya—meski harus meniru.
Bagaimanapun juga kami saudara sedarah. Bentuk wajah dan tubuh kami mirip.
Tinggal apakah aku bisa berpikir sendiri, memutuskan dengan kehendakku, dan melangkah dengan kakiku sendiri.
“Aku akan memanfaatkan kakak yang paling kubenci ini—terpaksa.”
Meski itu pernyataan tekad yang sarat sindiran, kakak tak menunjukkan sedikit pun rasa tidak senang.
“Begitukah adikku. Mari akhiri akting anak baikmu—cukup sampai hari ini.”
Dengan wajah proporsional yang jelas tampak populer, ia tersenyum lembut dan mencoba mengusap kepalaku seperti kakak pada umumnya......tapi aku menggeleng pelan, menolak keakraban itu.
Aku tak ingin disamakan denganmu.
Aku hanya ingin berjuang meski dengan cara yang canggung agar masa depan di mana Haru-senpai yang kusukai dan dirimu yang kubenci bersatu itu bisa kuubah.
“Kalau ketahuan ayah bakal merepotkan, jadi kamu sebaiknya pulang sekarang, Natsume. Soal Hirose, nanti aku bilang seadanya.”
Seolah berkata urusannya sudah selesai, kakak melemparkan bola ke udara.
Ia segera membelakangiku dan kembali melanjutkan latihan tembakan, mengandalkan cahaya jingga senja.
“Kakak......”
“Hm? Ada apa?”
“Ini hanya andaikan saja, tapi kalau Haru-senpai pacaran dengan orang lain......apa yang kakak pikirkan?”
“Siapa pun yang disukai Hirose, itu tak ada hubungannya denganku yang bukan pacarnya atau apa pun.”
Ia mengatakannya dengan datar, terus menembak lalu mengambil bola.
“Ya, begitulah—”
Namun, dengan sudut bibir terangkat seolah senang, kakak berkata begini.
“Kalau junior yang kusayangi itu......bisa menyukaimu, Natsume, mungkin aku akan merasa senang.”
Bola yang melukis parabola sempurna menembus ring dan menggoyangkan jaring.
Mulai hari berikutnya, dua kali seminggu selama enam puluh menit di sore hari menjadi waktu kami berlatih bersama, dan aku diajari dasar-dasar basket di lapangan tepi laut.
Passing, dribble, tembakan, pertahanan......ia menjelaskan semuanya dengan teliti dari nol untuk adik pemula, bahkan memperagakan tekniknya langsung di depanku.
“Kamu sekarang mirip sekali dengan Hirose saat baru masuk klub, jadi lambat laun pasti akan berkembang.”
“Haru-senpai juga awalnya payah......?”
“Dia baru mulai basket sejak April tahun ini. Mau kulihatkan video Hirose yang kuambil saat latihan tambahan untuk mengecek form-nya?”
“Rahasiakan dari dia ya,” bisik kakak sambil memutar video di ponselnya.
『—Aduh, Senpai! Jangan ambil bagian yang kelihatan jelek dong~!』
Yang tampak malu-malu itu adalah Haru-senpai dengan seragam latihan, polos dan segar.
Saat dribble dia tak sengaja menendang bola dengan ujung kaki, atau melepaskan tembakan lemah dengan form yang canggung hingga sama sekali tak mencapai ring.
“Kalau lagi latihan klub......rambut Haru-senpai jadi model ponytail ya.”
“Jangan bengong di situ, bodoh.”
Tanpa sadar aku terpana pada Haru-senpai yang mengibaskan ponytail-nya, hingga kakak menghela napas putus asa melihatku.
“Ini menu latihan mandiri yang bisa kamu lakukan di rumah. Lakukan diam-diam saja.”
Saat hendak pulang, kakak menyodorkan sebuah buku catatan kecil.
Di dalamnya tertulis rapat berbagai metode latihan lengkap dengan ilustrasi penjelasan.
“......Kakak sengaja menuliskannya untukku?”
“Mana mungkin. Itu yang kutulis waktu mengawasi latihan tambahan Hirose. Dia sudah tak membutuhkannya, jadi kuberikan ke kamu.”
Kupikir, bagi Haru-senpai, kakak adalah senior yang terlalu ideal.
Seperti aku yang menumbuhkan perasaan cinta bercampur rasa hormat pada Haru-senpai, tak aneh jika Haru-senpai pun......lambat laun mengagumi kakak yang begitu peduli pada juniornya.
“Kakak jago basket, tapi gambarmu jelek.”
“Berisik. Hirose juga bilang hal yang sama.”
Diusir oleh kakak yang tampak canggung, aku pun segera menempuh jalan pulang.
Rasa gengsi menghalangiku, hingga aku tak bisa mengucapkan terima kasih dengan jujur.

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 4.2"