Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 4.1

Bab 4 - Aku Yang Asli, Yang pernah Mengagumi Sosok Yang Palsu Itu





Enam tahun lalu, sejak hari aku yang seorang siswa sekolah dasar bertemu Haru-senpai, hubungan rahasia kami pun dimulai.


Pagi liburan musim panas, pukul sembilan. Tempat janjian kami bukan toserba yang biasanya......melainkan di depan patung tanuki terbalik, Kinuta-kun, di pintu barat Stasiun Kisarazu.


“Hari ini kolam renang......kolam renang pertamaku bersama Haru-senpai......”


Bahkan laut pun nyaris belum pernah kukunjungi apalagi kolam renang, dan demi diriku yang seperti itu, dialah yang mengusulkan bermain air.


Ini juga pertama kalinya aku diam-diam keluar tanpa sepengetahuan ayah, dan fakta bahwa orang yang mengajakku ke kolam renang umum adalah seorang perempuan yang lebih tua membuat rasa gugup dan antusiasmeku semakin memuncak.


“Maaf ya, membuatmu menunggu.”


Yang membuat bahuku bergetar adalah suara lembut yang meresap sampai ke gendang telinga.


Gaun panjang yang memperlihatkan bahunya dengan berani memancarkan pesona feminin yang sejuk, sementara kaki telanjang yang mengintip dari balik ujung gaun mengenakan sandal musim panas yang modis.


Di atas bahu kecokelatan karena matahari, tampak satu garis kulit putih......mungkin bekas baju renang. Aura sensual itu membuat detak jantungku bertambah cepat.


“Apa jangan-jangan......off-shoulder ini tidak cocok ya......?”


Dengan raut cemas, Haru-senpai menutupi bahunya sendiri dan wajahnya tampak murung.


“T-Tidak! Pakaian santainya lucu sekali......aku jadi berpikir kalau anak SMP itu benar-benar dewasa!”


“Syukurlah! Karena main basket, aku suka khawatir dengan besarnya lenganku, sih.”


“Sama sekali tidak besar! Justru terlihat kencang dan indah......pokoknya, menurutku luar biasa!”


“Ah—aku malah membuat anak SD repot memikirkan hal seperti ini, maaf ya! Terima kasih!”


Pemandangan yang aneh, aku terus memuji sementara Haru-senpai merasa sungkan, berlangsung sekitar dua menit.


Dipandu Haru-senpai menyusuri Jalan Fujimi, kami tiba di fasilitas bertuliskan “Kolam Taman Tepi Laut Torisaki”.


Aku berganti ke baju renang sekolah dan berdiri di tepi kolam.


Bagi anak kurus kutu buku sepertiku, panas ini terlalu kejam, tapi neraka terik itu segera berubah menjadi surga.


“Baiklah, sebelum berenang kita pemanasan dulu, ya.”


—Saat aku menoleh, seorang dewi telah turun ke dunia.


Haru-senpai dalam baju renang sekolah biru tua tampak menyilaukan.


Untuk siswi kelas satu SMP, tubuhnya tinggi dan ramping, dengan otot berkualitas yang terlatih pas—kaki jenjangnya yang kencang tampak begitu indah.


Di hadapan tubuh atletis hasil latihan klub olahraga, aku hanya bisa terpana.


“Natsume-kun.”


“Ya......?”


“Kamu menatap terlalu terang-terangan. Aku jadi malu, jadi hentikan, ya.”


“Uhh......maaf. Dibanding anak perempuan sekelasku, Senpai terlihat jauh lebih dewasa......aku tidak menyadarinya!”


Tekanan dari tatapan Haru-senpai yang lembap dan menusuk terasa lebih menyengat daripada sinar ultraviolet.


“Anak laki-laki itu biasanya melirik ke mana, perempuan tahu semua, lho. Ingat baik-baik, ya.”


Sosok Haru-senpai dalam baju renang sekolah itu terukir dalam-dalam di kepekaan erotis seorang bocah SD, dan aku yakin tak akan pernah bisa melupakannya seumur hidupku。




Meski satu jam saja tak cukup untuk benar-benar puas bermain, kami tetap berhasil menentukan jadwal pergi ke laut bersama.


Apa kehidupan sehari-hari yang terasa begitu penuh ini adalah sesuatu yang diinginkan kakakku?


Jika memang begitu, aku begitu iri sampai rasanya ingin meraihnya dengan tangan sendiri, dan sekaligus membencinya sampai ingin membunuhnya.


“Aku masih......belum mau pulang.”


Dibandingkan kekhawatiran pulang terlambat, rasa enggan mengakhiri hari paling gemerlap dalam hidupku terlalu kuat, aku pun berhenti melangkah dan merengek kekanak-kanakan.


“Aku sih tidak apa-apa, tapi kamu tidak masalah pulang terlambat, Natsume-kun?”


“Asal Haru-senpai tidak keberatan! Aku......masih ingin bermain lebih lama!”


“Oh, begitu ya. Segitunya ingin main dengan Haru-oneesan, ya?”


Anak lelaki yang sedang jatuh cinta membiarkan suaranya melompat ceria, sementara kakak SMP itu dengan riang mengusap kepalaku.


“Tunggu sebentar, ya!”


Haru-senpai melambaikan tangan dengan ceria lalu berlari cepat ke arah yang berlawanan dari taman.


Setelah menunggu sekitar lima menit, Senpai yang tadi menghilang itu kembali sambil menjepit bola basket di sisi tubuhnya.


“Ada lapangan basket di tepi laut, ayo main bareng! Aku ajak kamu ke sana!”


Berpura-pura berlari melewatiku, Haru-senpai malah menggenggam tangan bocah polos ini dan menyeretnya pergi.


“Ayo, lari! Terobos angin musim panas di tepi laut, Kouhai-kun!”


Saat itu, sebelum lapangan basket dibangun di Alun-alun Magokoro, kami menuju lapangan basket tepi laut yang letaknya agak jauh.


Rasa masa muda berlari bersama sambil ditarik tangan oleh orang yang kusukai ternyata jauh lebih manis dari yang kubayangkan, sebuah kenangan istimewa di antara semua ingatanku tentang Senpai.


Aku terlena, bertanya-tanya sampai kapan waktu bahagia yang dibalut kegembiraan ini akan terus berlanjut.


Namun, momen istimewa hanyalah kilatan sesaat.


Kekaguman dan kecemburuan. Karena terus menyadari satu sama lain secara sepihak meski telah terpisah, mungkin saudara sedarah memang ditakdirkan untuk saling tertarik kembali.




Kalau harus terjadi tepat di saat seperti ini, selera bercanda Tuhan sungguh terlalu kejam.


Di lapangan basket terbuka di tepi laut─sudah ada orang lain lebih dulu.


Di antara kelompok enam orang—laki-laki dan perempuan sebaya—yang terbagi menjadi dua tim dan bermain basket dengan akrab, ada sosok seorang pria muda yang melepaskan tembakan dengan form yang indah.


Lima tahun sejak orang tuaku berpisah, bayangan kebencian yang bersarang di kepalaku masih tersisa di suatu sudut.


Dibanding lima tahun lalu, tubuhnya jauh lebih tinggi dan raut wajahnya juga tampak lebih dewasa, tapi......aku tak butuh tiga detik pun untuk mengenalinya.


“Orang itu......jangan-jangan Seitārou-senpai?”


Nama yang terucap dari Haru-senpai dengan nada terkejut itu menceritakan kenyataan yang kejam.


“Kupikir anak kecil mana yang melototin, ternyata Hirose, ya.”


Mungkin menyadari kehadiran kami yang memperhatikannya dari kejauhan, pria bertubuh tinggi itu menghentikan permainan dan menoleh sambil memanggil nama keluarga senpai.


“Aku ini murid kelas satu SMP yang terhormat, lho! Meski begini, aku sudah kelihatan lebih dewasa, tahu!”


“Sudah lama aku tidak bertemu Hirose di luar jam sekolah, atau lebih tepatnya, sekali lihat aku bahkan tidak tahu itu siapa.”


“Hah? Bukannya Senpai sering menemani latihan tambahan sepulang sekolah?”


“Di sekolah aku hanya pernah lihat kamu pakai seragam atau baju latihan. Dari jarak segini pakai baju biasa, serius aku tidak mengenalinya. Kukira hanya kakak-adik anak SD yang lagi jalan-jalan.”


“Menyebalkan seperti biasa! Kesampingkan anak ini, tapi aku ini murid SMP, jadi jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Aku sudah dewasa, dewasa!”


“Dari sudut pandang anak kelas dua SMA, anak kelas satu SMP itu masih bocah. Sana, percaya saja sama Santa Claus.”


“Aku sudah tidak percaya Santa lagi. Lulus tahun lalu.”


Meski digoda dengan kata-kata pedas, suara Haru-senpai terdengar ceria, seolah tak benar-benar keberatan.


Di setiap ucapannya terselip sedikit ketegangan dan gairah, dan mudah dibayangkan bahwa ekspresi yang dia tunjukkan pada pria di depannya adalah senyum tulus tanpa kepalsuan.


Meski suaranya telah berubah menjadi rendah, wajah dan cara bicaranya masih jelas menyisakan bayangan lima tahun lalu.


Wajar saja.


Karena pria ini adalah kakakku—Shirahama Seitārou.


“Ngomong-ngomong, yang sembunyi di belakangmu itu beneran adikmu, ya?”


Kakakku tampaknya tertarik pada diriku yang bersembunyi di balik Haru-senpai. Mungkin karena penampilanku juga berubah selama lima tahun, ia belum menyadari siapa aku sebenarnya.


“Ia anak yang seperti adik bagiku. Kami sering ke toserba yang sama dan belakangan jadi akrab. Karena liburan musim panas tapi cuma belajar terus, aku kasihan, jadi aku ajak ke kolam renang.”


“Kamu ini terlalu perhatian, ya. Jangan-jangan sampai tidak punya waktu buat kencan?”


“Justru Senpai sendiri yang tidak mau kencan sama sekali? Liburan musim panas malah latihan mandiri, apa tidak terlalu serius?”


“Daripada latihan mandiri, ini hanya main bareng teman-teman basket putra dan putri. Kualifikasi Winter Cup juga sudah dekat, jadi meski tidak ada latihan klub, aku harus tetap pegang bola biar tidak tumpul.”


“Kalau dengar begitu, rasanya benar-benar seperti ace klub basket ya?”


“Bodoh. Dari mana pun dilihat, jelas-jelas aku ace sejati.”


“Iya iya, kita anggap saja begitu.”


Tawa mereka berdua terdengar dari jarak yang sedikit terpisah.


Cepatlah, cepatlah selesai.


Rasanya sesak, seolah leherku dicekik oleh kapas kecemburuan.


“Oh iya—”


Kakakku memilih momen yang tepat dan mulai mengutarakan sesuatu.


“Libur nanti kami berencana BBQ di Pantai Mitate bareng mereka. Rencananya juga mengajak beberapa teman basket putri. Kalau mau, Hirose ikut juga?”


“Aku senang diundang, tapi, apa boleh anak SMP sepertiku ikut?”


“Semakin ramai justru makin seru. Lagipula belakangan ini kita tidak punya kesempatan mengobrol di luar sekolah atau klub, jadi ini momen yang bagus, kan?”


“Senpai......benar-benar ingin aku datang? Cara bicaramu terdengar seperti kamu ingin bertemu dan mengobrol denganku juga di luar biasanya......”


“Bodoh, jangan sok dewasa. Aku hanya mencari junior yang kelihatan senggang untuk menemani belanja keperluan BBQ.”


“Apaan itu! Aku jadi pesuruh Senpai dong!”


“Bukan pesuruh. Aku juga ikut, kan sudah kubilang.”


Undangan acara pantai......hal yang katanya jadi ciri khas liburan musim panas yang sempurna.



Suasana Haru-senpai jelas menunjukkan ketertarikan, tak ada alasan untuk menolak.


Namun, arah angin berubah. Begitu kakakku menyebutkan tanggal BBQ, nada ceria Haru-senpai meredup dan ekspresinya berubah menjadi ragu.


“Jangan-jangan hari itu kamu sudah punya rencana?”


“......Maaf, aku sudah ada janji sebelumnya! Kalau ada kesempatan lain, aku senang kalau diundang lagi!”


“Kalau begitu mau bagaimana lagi. Kalau kamu tidak datang, kami orang dewasa saja yang bersenang-senang. Anak kecil yang hanya punya baju renang sekolah mending main di kolam umum saja.”


“Tidak sopan! Memang benar aku hanya punya baju renang sekolah, tapi tahun ini aku akan beli bikini yang kelihatan seperti wanita dewasa! Lain kali pasti undang aku lagi, ya!”


Bayangan Haru-senpai yang memanjang di tanah bergerak.


Mungkin karena merasa bersalah telah menolak, dia menyatukan kedua tangannya sebagai bentuk permintaan maaf.


“Kalian juga datang untuk main basket, kan? Sekalian saja, mau main bareng?”


Kepada Senpai yang memeluk bola yang dia bawa sendiri, kakakku mengajukan usulan itu.


“......Maaf! Padahal sudah repot-repot, tapi hari ini aku sudah janji main dengan anak ini!”


“Begitu ya. Kalau begitu aku akan main basket dengan senang hati, kalian kakak-adik main saja sendiri di wahana sekitar sana. Karena kalian anak baik, begitu jam lima cepat-cepat pulang.”


“Sudah kubilang, jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Anak ini juga bukan adikku!”


Sejak awal hingga akhir, kendali percakapan sepenuhnya dipegang oleh Haru-Senpai.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Mungkin saja, inilah sikap yang lebih mendekati diri asli Senpai.


Bukan wajah kakak perempuan yang selalu tampak tenang, melainkan wajah gadis junior yang sedang jatuh cinta—jika itu adalah perasaan sejati Haru-senpai.


Kembali ke lingkaran kelompoknya, punggung kakakku yang kembali memulai permainan 3-on-3 itu......


Haru-senpai menatapnya dengan pandangan yang dipenuhi rasa sayang yang tertahan.


Aku yang menatap dari sudut pandang rendah,


bahkan tak kusadari aku sedang memandangi wajahnya.


“Ahaha......maaf ya, jadi lama ngobrol. Senpai itu alumni klub basket SMP-ku, dan dulu sering menemani latihan tambahanku waktu aku masih pemula.”


Senyuman yang dipaksakan.


Haru-senpai menekan perasaan aslinya, karena dia adalah orang yang selalu mendahulukan kebaikan meski menyakitkan bagi dirinya, rasa bersalah yang besar pun membara dalam diriku.


Yang telah membelokkan perasaan sejatinya, tak lain adalah aku sendiri.


Aku hanyalah benda asing yang menyelinap ke dalam keseharian Haru-senpai seolah tak terjadi apa-apa, dan aku tak sanggup menghalangi cinta tak terbalas yang begitu rapuh.


Alasan Haru-senpai menolak BBQ itu—


Karena bertepatan dengan hari dia akan mengajakku ke laut.


“Haru-senpai”


Aku memanggil Haru-senpai yang sudah melangkah menuju jalan pulang, dan menghentikannya.


“Aku tidak bisa pergi ke laut.”


Senpai yang berhenti melangkah pun kehilangan kata-kata.


“Kenapa? Pergi denganku......kamu jadi tidak mau?”


“Bukan. Aku tidak mau......memaksamu berbohong pada perasaanmu sendiri.”


Bukan hanya aku yang akan senang jika diajak acara atau latihan oleh orang yang disukai.


Haru-senpai pasti merasakan hal yang sama.


Namun begitu......dia memprioritaskan janji denganku, dan terpaksa menolak satu demi satu acara yang seharusnya menjadi kesempatan emas untuk memperdalam hubungan.


Bahkan seorang anak pun bisa memahami perhatian halus yang dia tunjukkan.


Baik hati. Aku benar-benar berpikir bahwa orang ini adalah perempuan yang luar biasa.


Aku bertemu dengan Haru-senpai, dan diberi begitu banyak kebaikan.


Aku mengenal bahwa ada banyak dunia dan banyak kebahagiaan, dan setiap kali membayangkan bisa bertemu Haru-senpai, hatiku melayang tak menentu.


Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa itu adalah cinta pertamaku.


Aku diajari. Manis dan asamnya cinta tak terbalas.


Dan juga wajah seseorang yang sedang jatuh cinta pada orang lain.


Bahkan kepada bocah asing sepertiku, dirimu yang suka mencampuri urusan orang lain telah mengajarkan segalanya.


“Terima kasih. Karena telah bertemu denganku—”


Setiap kali kata-kata itu terucap, rasanya menyakitkan.


Nyeri tumpul yang berakar di dadaku tak kunjung reda.


Sosok Haru-senpai mengabur, air mata yang meluap menyapu keringat dan membasahi pipiku, sementara kata-kata yang telah kupikirkan lenyap tertelan isakan.


“Uh......ua......ngh......”


Aku melarikan diri.


Dengan mata terendam air mata secara memalukan, aku meninggalkan Haru-senpai sendirian, orang yang telah membawaku sejauh ini, dan berlari menyusuri pantai yang tak punya arti bagiku.


Tak peduli seberapa sering kuseka dengan lengan kurusku, air mata asin yang memadatkan penyesalan dan kecemburuan terus merampas cairan tubuhku, dan menguap seketika saat menetes ke aspal.


“Hah......hah......!”


Saat mencapai dermaga umum Pelabuhan Kisarazu, napasku terengah-engah hebat karena kelelahan.


Aku menghabiskan sisa tenaga yang nyaris tak ada, menopang lutut dengan tangan sambil menghirup oksigen berulang kali.


“Andai saja itu orang lain......!Kenapa......harus begitu......!”


Mengapa dunia ini begitu dingin padaku?


Aku berniat menerima siapa pun itu.


Jika Haru-senpai mencintai orang lain, aku ingin tetap mendoakan kebahagiaannya meski aku tak dicintai.


Orang yang membuat Haru-senpai kembali menjadi gadis polos, yang benar-benar dia cintai adalah—


“Aku membencinya!!”


Shirahama Seitarou. Orang yang dulu adalah kakakku.


Aku tidak tahu.


Bahwa ia telah menjadi ace klub basket, dikelilingi banyak teman hingga mampu mengadakan acara, dan bahkan memiliki junior manis yang menyukainya dengan tulus.


Aku tak punya cara untuk mengetahuinya......sama sekali.


“Aku tidak mau......tidak mau......Aku juga......menyukai......”


Menghilanglah.


Selama ia berdiri di bawah matahari dan bermandikan cahaya, aku hanyalah boneka yang terkurung di bayangan.


Mungkin seharusnya aku tak pernah berharap.


Jika aku tetap tak disukai siapa pun dan tak mencintai siapa pun, mungkin rasa kehilangan ini dan rasa sakit yang menyebar luas ini......tak perlu kukenal sama sekali.


Agar aku tak salah paham seolah-olah aku juga memiliki kehidupan normal seperti orang lain.


Burung yang kabur demi melihat dunia luar akhirnya kembali ke sangkar kesepian.




Karena tempatku bukanlah di sini.


Saat aku pulang ke rumah setelah menangis dan meraung hingga air mataku kering, ayah ada di ruang keluarga.


Ia tidak langsung marah, hanya menatapku tajam dengan wajah mengeras, membuat maksud hatinya sama sekali tak terbaca.


“Ke mana kau pergi?”


Ayah, yang ketegasannya terasa hanya dari atmosfernya, memecah keheningan.


“Aku lupa buku referensi di sekolah, jadi pergi mengambilnya......maaf.”


“......Baiklah. Pastikan kamu menebus waktu yang terbuang itu.”


Orang ini, yang sama sekali tak peduli pada kehidupan pribadi anaknya atau apa yang ingin kulakukan, hanya melontarkan percakapan seperlunya saja.


Ia awalnya bekerja di rumah sakit universitas di kota besar, namun kini berada di rumah sakit cabang di daerah.


Mungkin sejak kalah dalam perebutan faksi dan tersingkir dari jalur karier, ia telah membuang wajahnya sebagai seorang ayah.


“Jangan pernah melakukan hal yang membuatku malu.”


Aku sudah mendengarnya berkali-kali. Dipaksa untuk mendengarnya.


Ia menumpangkan hidupnya pada anak yang patuh, berusaha menjadikanku boneka yang menurut semata demi memulihkan kehormatannya.


Aku tak pernah menganggapnya aneh.


Aku dipaksa menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.


Sampai aku bertemu Haru-senpai dan dia mengajarkanku berbagai perasaan......setidaknya.


Ayah yang hendak keluar dari ruang keluarga untuk kembali ke tempat kerjanya, tiba-tiba berhenti.


“Jangan menjadi ‘palsu’ seperti Seitarou.”


Dan dengan satu kalimat yang tertanam sejak kecil itu, aku selalu, selalu dipakukan dalam-dalam.


“Ayah, tenanglah. Aku tidak akan pernah......menjadi sepertinya.”


Bertolak belakang dengan kata-kata itu—


Keinginan untuk menjadi sepertinya......seperti kakakku, justru mulai tumbuh.


Karena jika tidak begitu, Haru-senpai tak akan pernah menyukaiku.


Setelah ayah pergi dari hadapanku, perasaanku yang tertinggal sendirian......berayun hebat antara kepura-puraan dan perasaan sejati.


“Andai saja......aku tak pernah mengenal cinta pertama......”

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 4.1"