Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 3.3

Bab 3 - Aku Benar-benar Membencinya




Aku menyusuri taman tepi laut dengan jembatan pejalan kaki merah yang mencolok, tempat di mana Haru-senpai kemungkinan memperbarui SNS-nya.


Sejak tadi dia tak mengangkat telepon, dan hanya matahari terbenam di cakrawala yang semakin mendekat.


Cukup panas sampai membuat tubuh berkeringat tipis.


Padahal ini tempat suci bagi pasangan, aku justru terus mencari seseorang yang bukan pacarku.


Jembatan pejalan kaki setinggi 27 meter dari permukaan tanah—tertinggi di Jepang, cukup tinggi untuk dilewati kapal tanker.


Aku berjalan cepat menaiki tanjakan landai dengan jalur berputar.


Terengah-engah, aku mencapai puncak tanjakan dan melangkah mantap di jalan yang menghubungkan Pulau Naka di laut dengan taman tepi pantai di darat.


Foto yang diunggah Haru-senpai sekitar tiga puluh menit lalu diambil di tempat ini.


Karena itu, aku pikir......kamu masih ada di sini.


“Satu tahun lalu, aku janjian bertemu dengan Seitarou-senpai di jembatan merah ini.”


Mungkin menyadari kedatanganku, Haru-senpai membuka mulutnya dengan tenang.


Dia tidak menoleh ke arahku.


Sambil meletakkan tangan di pagar jembatan dengan laut terbentang tepat di bawah, dia menatap ke arah deretan pembangkit listrik dan pabrik baja di kejauhan.


Sebentar lagi matahari akan terbenam.


Jika itu terjadi, cahaya oranye akan menyala lembut di deretan pabrik tepi laut.


“Seitarou-senpai adalah cinta pertamaku, dan kurasa ia juga sedikit menyadarinya. Tapi......saat itu aku masih SMP, bahkan untuk mengaku pun aku tidak berani.”


“Kenapa......?”


“Karena kalau ditolak, cintanya akan berakhir, kan. Kalau begitu......selama aku tidak mengaku, kemungkinan saling menyukai masih ada, dan hubungan akrab senior–junior juga bisa tetap seperti biasa.”


Sama persis......denganku selama ini.


Aku memutuskan sendiri bahwa itu mustahil, dan memilih bertahan di kondisi sekarang tanpa pernah mengaku.


“Dengan begitu tidak ada yang terluka. Aku bisa mempertahankan jarak polos cinta itu. Bagi kami berdua, itu lebih mudah.”


Mungkin kakakku juga pura-pura tidak menyadarinya.


Karena takut Haru-senpai terluka, dan hubungan mereka menjadi canggung lalu hancur.


“Kalau kupikir sekarang, cinta pertamaku mungkin sudah berakhir sejak SMP. Tapi aku terus menyeret penyesalan yang tak tahu diri itu, di sudut hatiku masih belum bisa menyerah, dan waktu berlalu sia-sia tanpa aku bisa melangkah ke cinta berikutnya.”


Aku suka suara lembutnya, tapi di saat ini aku ingin menutup telingaku.


Karena terlalu mirip dengan hidupku sendiri—dan itu menyakitkan.


“Kesempatan berbincang juga makin berkurang, dan Seitarou-senpai pergi ke sekolah kejuruan kecantikan di Chiba. Aku hanya sanggup berkata ‘kalau nanti jadi penata rambut, tolong potong rambutku’—itu saja sudah sekuat tenaga, di hari kelulusannya.”


“Di depanku Senpai selalu sok dewasa, tapi di depan kakakku kamu pengecut sekali, ya.”


“Kejamnya. Padahal menurutku sendiri, aku sudah mengerahkan seluruh keberanianku, tahu?”


Sambil mengenang masa itu, Haru-senpai menampilkan senyum yang tenang.


“Liburan musim panas tahun lalu, aku menelepon lebih dulu......lalu janjian bertemu dengan Seitarou-senpai yang sudah menjadi penata rambut di tempat ini. Aku berniat mengaku untuk memberi titik akhir, untuk mengakhiri cinta pertama yang tak mungkin terwujud. Aku sudah bertekad memutus sisa-sisa penyesalan demi melangkah ke masa muda yang baru, tapi......”


Suara Senpai yang tadinya ringan perlahan menjadi rapuh dan serak.


“Orang itu tidak datang. Seberapa lama pun aku menunggu.”


Tak ada satu kata pun yang bisa kuucapkan.


Profil wajahnya, dengan jemari yang bergetar, terlihat terlalu pilu.


“Hari itu......seharusnya hujan deras. Tapi Haru-senpai......tidak berniat pulang.”


“Mau hujan deras sekalipun, aku tak punya pilihan selain menunggu, kalau ditinggali pesan seperti itu.”


Haru-senpai mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyentuh layar dengan ujung jarinya.


【Hirose, maaf! Pekerjaanku molor! Mungkin aku akan telat, tapi aku pasti datang......tunggu aku, ya!】


Suara yang diputar lewat pengeras itu adalah suara yang sangat kukenal.


“Kalau begitu, sampai nanti”—begitulah suara kakakku menutup pesan suara yang tertinggal.


“Kakakku......apa ia sudah menyadari akan ditembak oleh Senpai......?”


“Kalau tiba-tiba dipanggil ke tempat suci pasangan, ya wajar saja kalau sadar.”


Tidak menyampaikannya lewat telepon atau pesan, tapi sengaja memilih tempat suci pasangan untuk bertemu.


Itu jelas situasi yang menuntut kesiapan untuk menerima pengakuan.


“Kupikir itu waktu yang pas untuk menenangkan diri. Selama menunggu Seitarou-senpai yang terlambat, aku mengulang kalimat pengakuan itu berkali-kali......berkali-kali di dalam hati, tapi ia tak juga muncul.”


Saat menceritakannya seperti ini, gambaran kenangan itu kembali dengan jelas.


Akhir Juli tahun lalu.


Pada malam hujan deras itu, ketika deretan pabrik di kejauhan memancarkan cahaya oranye, aku melihat dengan jelas sosok Haru-senpai yang menunggu sendirian di atas jembatan merah sambil memegang payung.


“Sama seperti waktu itu, ya.”


“Hah......?”


“Saat aku menunggu Seitarou-senpai seperti hari ini, Natsume-kun datang menemuiku. Setahun yang lalu juga begitu, kan.”


Meski dia mengatakannya dengan nada seolah itu hal biasa—‘seperti hari ini’—rasa janggal itu tak bisa diabaikan.


Padahal, seberapa pun menunggu, orang yang sudah meninggal tak mungkin datang.


“Dan kamu yang memberitahuku, kan. Bahwa Seitarou-senpai yang sedang menuju ke sini......meninggal karena kecelakaan motor.”


“Benar......setelah meninggalkan pesan suara itu, kakakku meninggal......”


“Aku tahu. Aku tahu itu.”


“Kalau begitu, kenapa kamu datang ke sini! Sebenarnya siapa yang kamu tunggu!”


Ujung kata dari teriakan yang tak sengaja terlontar itu bergetar.


“Kakakku......orang yang menjadi cinta pertamamu itu sudah tidak ada! Tak peduli seberapa lama menunggu atau ke mana pun mencari......kamu tak akan bisa mengaku!”


“Benar juga. Kamu setahun lalu pun......sudah memberitahuku kenyataan itu dengan jelas.”


Tidak sekasar ini sih kata-katamu waktu itu......mungkin.”


“Begitu ya? Aku sendiri juga sangat kacau waktu itu, jadi mungkin ingatanku samar.”


Tak bisa kulupakan.


Baik pandangan yang tertutup hujan deras, kilau menyeramkan aspal yang hitam dan basah, maupun berat pakaian yang basah kuyup menyerap air—semuanya.


Wajah dan suaramu yang kacau karena tak mampu menerima kenyataan itu pun masih kuingat jelas.


“Tadi, rasanya aku sempat berpapasan dengannya. Tapi langsung menghilang.”


......Tidak. Itu bukan yang asli.


“Kalau aku terus menunggu, apakah Seitarou-senpai akan datang? Datang untuk......menolak pengakuanku......?”


Air mata besar yang tumpah dari sudut mata Haru-senpai jatuh satu per satu ke laut.


“Karena aku jatuh cinta......karena aku memperpanjang akhir cinta pertamaku sendiri......maaf telah merenggut masa depan Seitarou-senpai......”


Aku......membenci kakakku.


“Kalau bisa bertemu lagi, aku ingin minta maaf. Mengatakan maaf karena mencintainya......apa aku bisa ya......?”


Aku benar-benar membenci kakakku yang egois—yang membuat orang yang kucintai bersedih, memaksanya meminta maaf karena jatuh cinta, dan membiarkannya menderita sendirian.


Dan yang paling kubenci adalah diriku sendiri—yang licik, berpura-pura menjadi tiruan kakakku itu.



“Tadi pagi, aku pergi berobat ke rumah sakit tempat ibu Natsume-kun bekerja.”


“Karena tingkah laku Haru-senpai mengkhawatirkan......aku juga datang sepulang sekolah. Jadi yang berobat memang Haru-senpai ya......”


“Meski dibilang bahwa Seitarou-senpai yang kulihat hanyalah palsu, dan kalau aku menggenggam tangannya aku bisa mati......aku tetap tak tahu harus berbuat apa......”


Melupakan bayangan orang yang telah hilang, lalu menemukan sosok yang lebih berharga dari itu.


Kenyataan bahwa hanya itulah satu-satunya jalan keluar menekan dengan berat, semakin menggerogoti hatinya yang rapuh dan penuh retakan.


“Tolong buat aku melupakan cinta pertamaku yang sudah berakhir......Kouhai-kun......”


Tanpa sadar, tubuhku bergerak.


Aku memeluk Haru-senpai yang menangis dari belakang.


“Ayo pulang saja. Kita main game di rumahku, nonton film, makan sambil ngobrol hal-hal sepele......”


Namun, aku tak bisa mengakui perasaanku.

Aku hanya bisa menutupi punggungnya yang ramping dengan lengan yang lemah, tanpa mampu memeras keberanian untuk membisikkan kata-kata manis dengan dorongan nekat.


Jika aku ditolak, rasanya saat itu juga “musim panas fatamorgana” akan merenggut Haru-senpai......aku sangat membenci diriku yang pengecut, yang hanya mampu meratap dengan keluhan kekanak-kanakan.


Kalau kakakku, apa yang akan ia katakan?


Kalau kakak......bagaimana caranya ia membuat Haru-senpai tersenyum?


Aku tidak tahu.


Karena aku hanyalah tiruan dirinya.


“......Kamu itu baik ya, Natsume-kun. Tetap di sisiku sampai aku bangkit, dan bahkan sekarang pun tak membiarkanku sendirian.”


“Aku yang dulu sendirian diselamatkan oleh Haru-senpai......jadi aku juga hanya tak ingin membiarkan Haru-senpai sendirian.”


“Begitu ya......kamu benar-benar junior yang manis.”


Haru-senpai tersenyum sedikit sambil menyeka air matanya,


“......Ayo pulang!”


Sambil berkata begitu, dia berbalik, membuat kami berhadapan langsung—aku yang tadi memeluknya dari belakang.


Wajah kami sangat dekat.


Cukup satu langkah kecil saja, bibir kami akan saling bersentuhan.


“......Senpai, terlalu dekat.”


“Hehe, kamu juga polos ya. Wajahmu merah sekali.”


“......Maaf, aku memang minim pengalaman soal hal-hal seperti ini.”


“Kita mirip ya? Mulai sekarang, mari sama-sama menjalani cinta yang baik.”


Orang ini bahkan tak menunjukkan tanda-tanda menyadari perasaan dari juniornya.


Tak berubah sejak pertama kali kami bertemu.


Baginya, aku hanyalah junior yang tak perlu sungkan—bahkan terasa seperti adik.


Dekat seperti keluarga, tapi jauh sebagai pasangan romantis.


Aku merasakannya sampai terasa menyakitkan.


Karena tatapan yang diarahkan padaku sama sekali berbeda dengan tatapan yang dulu mengejar kakakku.


“Jangan bergerak.”


Sambil berbisik begitu, Haru-senpai menyembunyikan wajahnya di dadaku dan berhenti bergerak.


“Sedikit lagi......biarkan aku tetap seperti ini.”


“......Baik.”


“Terima kasih. Untuk Senpai yang belum bisa move on ini......pinjamkan dadamu sebentar.”


Dengan suara kecil bercampur air mata, Haru-senpai mendekat sambil menundukkan wajahnya.


Aku perlahan membuka tangan dan memeluknya dari depan.


Agar hatinya yang goyah bisa tenang dan kembali tersenyum seperti biasa.


Aku yang hanyalah versi tiruan kakakku tak bisa menggantikannya.


Karena aku tak bisa menjadi kekasihnya, aku hanya bisa berada di sisinya.




Mungkin sekitar lima menit telah berlalu.


Kami pun berpisah secara alami, berjalan berdampingan menuju jalan landai ke arah taman tepi laut.


“Hei, kamu mulai lapar belum? Kita makan di suatu tempat yuk.”



“Oh, bagus juga. Kalau begitu, bagaimana kalau ke Moritaya? Sudah lama kan.”


“Oke, kita ke sana! Kari di kedai soba itu enak banget, kan!”


Aku tidak ingin kehilangan ini.


Aku ingin terus menjaga orang yang tersenyum polos di sampingku ini.


Namun, itu saja tidak cukup.


Aku harus mengakhiri cinta pertama Haru-senpai yang tak kunjung selesai, dan membalikkan takdir tak masuk akal yang mungkin akan datang.


Untuk itu, aku harus berhenti mempertahankan keadaan yang serba menggantung ini.


“Akhir pekan ini, mau pergi ke suatu tempat berdua tidak?”


Begini caranya—biar junior yang lebih dulu mengajak kencan.


Inilah ungkapan kasih sayang terbesar yang bisa kusampaikan saat ini.


“Itu......kamu mengajak Haru onee-san main? Berani juga ya?”


“Siapa tahu? Mungkin hanya alasan buat kabur dari belajar?”


Meski mulutku sok santai dan lancang, di dalam hati jantungku hampir meloncat keluar.


“Maaf ya, sepertinya agak susah.”


“Iya juga.....kalau mendadak begitu pasti merepotkan ya......”


“Soalnya mulai akhir Juli ada ujian akhir, jadi harus segera mulai belajar.”


“Aku juga berniat tidak pulang ke Kisarazu sampai Agustus,”


“Untuk sementara, fase kangen kampung halaman karena homesick juga sudah selesai.”


Meski cukup kecewa, setidaknya fakta bahwa Senpai tetap tinggal di Tokyo membuatku lebih tenang.


Selama dia tidak mendekati kampung halaman yang sarat bayangan kakakku......


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Mungkin tak tega melihat juniornya murung, Senpai yang baik hati itu melanjutkan pembicaraan.


“Kalau setelah masa ujian, di bulan Agustus, mau pergi ke suatu tempat?”


“Hah.....? Serius? Beneran?”


“Ya, ajak aku ke tempat yang ingin kamu datangi.”


Tak disangka......diterima! Langkah kakiku di atas jembatan terasa semakin ringan.


Wajah Senpai dari samping tampak santai, sementara emosiku mendidih hebat.


Agar senyum maluku tak terlihat, aku menunduk sedikit dan mempercepat langkah menuruni tanjakan,


kembali ke motor.


Perasaan yang belum mereda itu membuat pemandangan sebelum matahari terbenam tampak berkilau berlebihan.


“Sebelum itu, antar aku dulu ke Moritaya yaa—”


“Seperti biasa, Senpai memang kasar dalam memanfaatkan juniornya......”


“Kamu bilang apa? Hm?”


“Tidak kok, aku hanya berpikir Senpai itu luar biasa.”


“Dasar junior lancang ya? Menurutmu siapa yang membesarkanmu sampai sejauh ini?”


Saat senpai mengacak-acak rambutku, aku jadi terlalu bersemangat.


Wajahku memang berpura-pura cool, tapi sebenarnya aku senang setengah mati.


Terpana oleh imutnya Haru-senpai yang mengenakan helm, aku yang hatinya melayang tak mampu memasukkan kunci motor dengan benar dan malah menjatuhkannya.


Memalukan tingkat dewa.


Menjijikkan parah.


Bagaimanapun juga, kalau sudah Agustus, kami bisa pergi berkencan.


Dan saat itu—aku berniat menyampaikan perasaanku pada Haru-senpai.




Kami berdua masuk ke kedai soba langganan tepat di sebelum jam tutup.


Kami menikmati nasi kari dan ramen chāshū yang dulu sering kami makan sepulang klub SMP,


Lalu aku mengantar Haru-senpai sampai bundaran pintu barat Stasiun Kisarazu.


“Maaf yaa, seminggu ini jadi penuh dengan Senpai merepotkan yang pulang kampung seenaknya dan menyeret junior imutnya ke sana-sini.”


“Tidak kok, sama sekali tidak merepotkan. Aku selalu senggang, jadi kalau pulang kampung, aku akan selalu menunggu kabar dari Senpai.”


“Natsume-kun juga punya ujian akhir, kan? Walaupun aku tidak mengawasimu, tetap belajar yang benar ya? Kalau kamu bolos belajar, mungkin akan aku minta Touri-chan untuk melapor.”


Kadang dia tersenyum kecut seolah merasa bersalah, kadang pula senyum ceria khas Senpai sok usil itu terasa begitu menyilaukan.


Ekspresi Haru-senpai yang begitu hidup selalu menjadi sihir yang membuat dadaku berdebar.


“Akhir-akhir ini aku tidak terlalu belajar, atau lebih tepatnya......aku mulai berpikir, apa ada masa depan selain universitas. Masuk sekolah kejuruan lalu jadi penata rambut juga mungkin bukan pilihan buruk......sekadar terpikir sedikit.”


Dengan nada bercanda yang setengah ragu, aku mencoba melihat reaksinya.


“Itu, memang masa depan yang kamu bayangkan untuk dirimu sendiri?”


“......Entahlah. Bahkan aku sendiri mungkin belum benar-benar mengerti.”


Niat untuk menjawab tegas berbenturan dengan isi hatiku yang tersembunyi, membuat suaraku mengecil tanpa sadar.


Keinginan menjadi penata rambut itu bohong.


Namun......kupikir itu akan membuat Haru-senpai senang. Jika jalurnya sama seperti kakakku.


Namun—


“Itu bukan hal yang ingin kamu lakukan. Itu bukan mimpimu, Natsume-kun.”


Itu bukan reaksi yang kubayangkan.


Senpai yang memasang senyum buatan canggung itu tidak menyambutnya dengan sukacita penuh.


“Maaf ya.”


Dengan mata berkaca-kaca, Senpai meminta maaf pelan.


Aku membuatnya meminta maaf.


“Kehidupan sehari-hari bersama Touri-chan itulah tempat yang seharusnya menjadi milik Natsume-kun. Karena aku......sungguh, maafkan aku......”


Suara tangis Senpai yang dipenuhi kepedihan bercampur dan tenggelam dalam hiruk-pikuk suara sekitar.


“Kamu bukan pengganti Seitarou-senpai. Padahal yang menyelamatkanku adalah kamu, Natsume-kun......tapi aku malah menumpuk bayanganmu dengan Seitarou-senpai......aku perempuan terburuk.”


“Kalau begitu, syukurlah.”


Kepada senpai yang kebingungan oleh jawaban tak terduga itu, aku membalas dengan senyum hambar.


“......Aku bisa menjadi pengganti kakakku dan mengembalikan senyum Senpai. Jika sebagai tiruan aku masih bisa......menjalankan peranku sampai akhir, itu sudah lebih dari cukup.”


“Kamu ini......canggung sekali ya. Akulah......yang membuatmu jadi seperti itu.”


Dia menundukkan mata yang dipenuhi air mata, lalu membelakangiku......dan dengan langkah cepat menghilang ke dalam stasiun yang dipenuhi orang-orang pulang ke rumah.



  

Aku rasa aku sudah tak bisa mencintai siapa pun lagi.


Karena jatuh cinta itu menakutkan.



  

Hanya itu yang dia tinggalkan sebelum pergi—


Aku jatuh cinta karena dia memberiku kesenangan dalam hidup, karena dia memanjakanku dengan cara yang sedikit berlebihan.


Bahkan jika harus menukar sesuatu seperti masa muda, aku tetap mendambakan berada di sisinya.


Jika aku kembali menjadi Shirahama Natsume, aku hanya akan kembali pada “cinta tak terbalas yang tak akan pernah terwujud”.


Jika aku meniru kakak yang memiliki hal-hal yang tak pernah kumiliki, yang selama ini hanya bisa kulihat dari jauh dengan iri, maka kami bisa saling menjilati luka bersama......bahkan jika itu hubungan yang tidak normal, aku ingin terus mempercayai bahwa aku bisa berada di sisi orang yang kucintai.


Ya, aku ingin terus hidup dalam kesalahpahaman itu.


“Aku tidak mau kembali menjadi Shirahama Natsume, hanya karena aku tak ingin terluka—itu saja.”


Di depan pintu barat Stasiun Kisarazu pada malam hari, diterangi lampu jalan.


Ratapan seorang pria yang berdiri sendirian dengan perasaan yang terpelintir itu bahkan tertelan oleh suara bus yang berhenti di stasiun, dan tak sampai kepada siapa pun selain dirinya sendiri.


Seolah mengejek sosok menyedihkan dan tak tertolong itu, angin hangat yang lembap mengalir melewati punggungku.


Namun, terasa dingin.


Mataku mengikuti arah angin itu, dan kesadaranku pun terseret ke sana.


Orang-orang tak terhitung jumlahnya berlalu-lalang di bundaran.


Satu sosok yang meluncur perlahan itu bergoyang tak beraturan, menyelimuti dirinya dengan aura asing yang tak bisa dijelaskan oleh akal sehat.


Tak salah lagi. Tidak lain dan tidak bukan.


Tak mungkin, ini—


Saat penglihatanku berusaha menangkap wujudnya dengan jelas, sosok yang bergetar itu pun lenyap.


Yang tersisa hanyalah angin dengan aroma musim panas yang nostalgik, berhembus melewati tempat itu.


Aku menaiki Rabbit yang kupakir di pinggir jalan, lalu mengarahkan laju ke arah angin itu mengalir.


Pemandangan jalan yang dilewati angin hangat itu bergoyang, dan kulitku yang melaju dengan kecepatan maksimum terasa panas menyengat.


Apakah kau sedang memprovokasiku untuk datang ke sini?


Ataukah kau menertawakan adikmu yang mengendarai motor bekas seolah miliknya sendiri?


Masih ada bagian diriku yang belum bisa mempercayainya.


Namun aku tak mampu menahan rasa tidak nyaman yang mendidih, mengarahkan amarah tanpa tujuan itu ke depan, dan menerobos Jalan Fujimi.


Yang ditunjukkan oleh getaran misterius itu adalah lapangan basket di tepi laut, berbeda dari Lapangan Magokoro.


Sejak lapangan baru dibangun di Lapangan Magokoro, aku sama sekali tak pernah datang ke sini.


Karena bayangan kakakku terlalu mengganggu.


Tak ada siapa pun yang menungguku dari depan saat aku turun dari Rabbit.


Namun, entah kenapa—


Aku tak bisa menghilangkan perasaan bahwa kakakku yang tanpa ekspresi sedang berdiri tepat di depanku.


“Hei, kau ada di sana, kan......?”


Karena aku berbicara sendiri, tentu saja tak ada jawaban.


Saat aku merasakan kehadiran di belakang dan menoleh ke arah hawa panas beraroma musim panas itu......


Pemandangan tepi laut menjadi samar, bergoyang perlahan.


Penglihatanku yang telah kutajamkan semampuku sebagai orang biasa, menangkapnya—hanya sesaat.


Sosok ilusi yang meniru bentuk manusia—begitu tak masuk akal.


Muncul sambil mengguncang pemandangan sekeliling, lalu lenyap sambil menyatu dengan kegelapan malam—aku melihat momen itu.


“Dengan terus muncul dan menghilang seperti ini......kau menyiksa Haru-senpai......”


Lapangan basket terbuka itu terasa anehnya sunyi.


Padahal suaraku yang tak menyembunyikan rasa muak ini jelas terdengar di tempat seperti ini, tapi karena yang di hadapanku sudah bukan manusia, semuanya tak lebih dari monolog.


Ilusi kakakku ada di tempat ini.


Hanya dengan memikirkannya, rasa rendah diriku terpicu berlebihan, kepahitan memenuhi dadaku hingga rasanya ingin muntah.


Aku tak bisa menahannya, aku selalu teringat.


Kenangan pahit yang menenggelamkan rasa manis-asam itu, serta perasaan masa lalu yang bercampur antara kagum dan iri.


“Haru-senpai hampir bangkit lagi......jangan muncul sekarang!! Aku selalu membencimu......bahkan aku bersyukur kau mati!!”


Balaslah—meski hanya dengan satu sindiran.


Dengan wajah seolah adikmu ini tak berarti......katakan sesuatu padaku.


“Satu-satunya hal yang bisa kukalahkan darimu......hanya belajar. Tapi orang yang pertama kali dicintai Haru-senpai adalah ace klub basket, si populer Shirahama Seitarou......karena itu aku......”


Aku mencoba menjadi tiruanmu.


Karena kau mati. Karena kau mati seenaknya.


“Kenapa......meski kau tahu perasaan Haru-senpai, kau tetap menjauhinya? Saat hidup, dan bahkan setelah mati......kau terus menyakiti orang yang kucintai......aku membencimu......”


Luapan emosi yang sudah tersulut sumbu itu tak bisa lagi kutahan.


Aku tak tahu—dan tak ingin tahu—apakah keluhan menyedihkan ini sampai padanya atau tidak.


Jika aku tak bisa menyentuh ilusi kakakku, apalagi menyakitinya secara fisik, maka setidaknya—


Biarkan aku melayangkan kata-kata paling kekanak-kanakan ini sebagai pengganti tinju, dan menghantammu dengannya.




“Aku sangat membencimu!!”


Akhir Bab 3

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 3.3"