Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 3.1
Bab 3 - Aku Benar-benar Membencinya
『─Ah, Natsume-kun? Sudah bangun? Kumpul di Lapangan Magokoro!』
Aku terbangun karena nada dering ponsel.
Dengan mata setengah terpejam, aku menyentuh tombol panggilan dan tanpa sadar menjawab, “Ya......aku datang sekarang......”, lalu menutup telepon.
“Fuaa......ini masih jam tujuh pagi......”
Aku menguap lebar.
Rasa kantuk yang membandel mencoba menutup kelopak mataku, tapi karena peneleponnya adalah Haru-senpai yang ceria sejak pagi, aku pun memaksakan diri keluar dari futon.
Sambil berpikir, “Sepertinya akan merepotkan......”, aku berganti seragam dan segera keluar rumah.
Lapangan Magokoro sebenarnya baru saja kukunjungi belum lama ini, tapi di parkiran jam setengah delapan pagi sudah terparkir juga sepeda perempuan milik manajer junior.
“Hei, Natsume-kun! Kamu agak telat!”
Aku langsung ketahuan oleh Haru-senpai yang sudah menunggu di parkiran dan dipanggil dengan lambaian tangan.
“Hm? Kenapa? Kouhai-kun masih mengantuk?”
“Soalnya Haru-senpai kelihatan seperti sedang merencanakan sesuatu, jadi aku waspada.”
“Eh, masa sih? Aku tidak merencanakan apa-apa kok?”
Bola mata Haru-senpai yang bulat bergerak ke sana kemari. Parah banget bohongnya.
Lagipula, dari pakaiannya yang cuma kaus dan celana pendek saja, niatnya sudah ketahuan.
Haru-senpai memutar ke belakangku, mendorong punggungku, dan menggiringku ke lapangan basket.
“Yo! Touri-chan, sudah kubawa orangnya ya!”
Begitu Haru-senpai memanggil nama itu, yang menoleh adalah Touri dengan seragam sekolah.
“......Selamat pagi, Natsume-senpai.”
Touri di sisi lain menunduk sopan tanpa mengubah ekspresi sedikit pun, menyapaku dengan dingin.
“......Lalu, ini maksudnya apa?”
Sambil melirik Haru-senpai di sampingku, aku bertanya dengan nada setengah heran setengah pasrah.
“Sejak jadi mahasiswa badanku jadi kaku, jadi pengin main basket. Ayo latihan pagi bertiga!”
......Sudah kuduga. Oke, pulang saja.
Begitu aku berbalik, bahuku langsung ditangkap, dan aku tertangkap dengan mudah oleh senpai.
“Jangan sungkan, santai saja dulu, Kouhai-kuun.”
Menampakkan gigi putih bersihnya sambil tersenyum, Haru-senpai mulai melakukan pemanasan dengan sungguh-sungguh—jongkok berdiri, meregangkan lengan dan kaki—agar tidak cedera.
“Asisten Natsume-kun, tolong ambil foto ya! Yang kelihatan segar lagi main basket!”
Sambil menyerahkan ponselnya kepadaku, dia pun melangkah ke lapangan dengan penuh semangat.
Baiklah. Dalam urusan memotret Haru-senpai agar terlihat menawan, seharusnya tak ada yang bisa menyaingiku—namun pikiran lain justru mengganggu.
Ini dia......! Bidikan terbaik!
Padahal diminta memotret saat main basket, aku malah tanpa sadar memotret momen Senpai mengikat rambut belakangnya dengan karet, membentuk ponytail yang rapi dan praktis.
Lebih menyilaukan daripada matahari musim panas......
“Natsume-kun? Tidak perlu ambil foto aneh-aneh ya?”
Karena bunyi shutter terdengar jelas, aku langsung ketahuan.
Aku mendapat tatapan lembap penuh kecurigaan dari Senpai lewat kamera, tapi pikiranku justru sibuk memikirkan bagaimana caranya memindahkan foto berkelas harta nasional itu ke ponselku.
Haru-senpai tersenyum penuh percaya diri lalu mulai mendribel bola, dan pemanasan pagi pun dimulai dengan sinar matahari sebagai satu-satunya penonton.
Padahal tak ada lawan di depannya, gerakan dan tatapan Senpai seolah menciptakan ilusi adanya lawan yang siap bertahan.
Seperti duel one-on-one yang sengit.
Sambil merasakan kejanggalan, aku tetap mengikuti Haru-senpai sebagai objek bidikan melalui lensa ponsel, mengabadikannya dalam foto-foto diam.
“......Tolong jangan hanya memotret pantat Haru-senpai saja.”
“Mana ada!”
Touri yang berdiri di luar garis lapangan menggoda kami.
Aku membela diri dengan suara keras, namun Touri hanya menutup mulutnya sambil tertawa kecil.
“......Tidak mau one-on-one melawan Haru-senpai?”
“Ototku masih sakit gara-gara latihan tembakan kemarin. Lagipula aku juga kurang olahraga, rasanya tidak bisa bergerak dengan benar.”
Aku sendiri merasa ucapan itu menyedihkan.
“Lagipula, Haru-senpai sekarang kelihatan sangat menikmati......aku tidak mau mengganggu.”
Keringat yang menetes dan senyum segar Senpai yang mengendalikan bola sambil berlari ke segala arah.
Tanganku yang menekan shutter terhenti—karena aku terpukau.
Senpai saat ini tenggelam begitu dalam dalam dunianya sendiri, sampai-sampai aku pun tak berani menyapanya dengan santai.
Aneh. Perasaan janggal yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata menyebar luas, tapi aku tak bisa menangkap hakikatnya.
Saat ini, dengan siapa sebenarnya kamu menikmati basket itu?
Di ujung tatapan yang seolah sedang jatuh cinta itu, apa yang sebenarnya kamu lihat?
Dalam pemandangan yang terpantul di mata Haru-senpai─
“......Pai......Senpai......Natsume-senpai!”
Sepertinya aku sedang dipanggil oleh Touri yang berdiri di sampingku.
“......Jangan-jangan, tadi Senpai terpana dengan Haru-senpai?”
“Saking imutnya sampai terpana sih......aduh.”
Aku disikut ringan di perut oleh junior yang sama sekali tak kenal ampun.
“......Natsume-senpai memang benar-benar menyukai Haru-senpai, ya.”
“Padahal tak punya keberanian buat mengaku......tapi soal menyerah justru keras kepala.”
“......Itu sangat khas Senpai. Kalau sudah terlanjur jatuh cinta, memang tidak mudah untuk menyerah.”
Melihat Touri menampilkan senyum kecil yang tampak canggung, entah kenapa rasa kedekatan muncul di hatiku.
Kepribadian kami memang berbeda, tapi mungkin ada bagian yang mirip.
“......Tidak ada siapa pun yang akan menyalahkan pilihan Natsume-senpai.”
Setelah jeda beberapa detik yang diisi suara sekitar sebagai pelumas percakapan, Touri berbisik pelan.
“Haru-senpai setahun yang lalu bukan dalam kondisi yang boleh dibiarkan sendirian. Aku menghormati pilihanmu yang berhenti dari klub basket dan memilih untuk mendampingi Haru-senpai.”
“Apa aku......tidak salah, ya?”
“Bukankah bukti itu ada tepat di depan mata, Haru-senpai yang sedang tersenyum?”
Pandangan Touri tertuju pada Haru-senpai.
Haru-senpai yang berhasil melakukan lay-up dan bersorak “Yay!” dengan polos seperti anak kecil—dia ada di sini sekarang.
Karena terlalu terburu-buru ingin mengabadikan momen ini, aku salah menekan layar dan malah membuka folder foto Haru-senpai.
Ada rasa bersalah seperti mengintip ranah pribadi, jadi aku hendak segera kembali ke kamera......namun pandanganku terhenti pada thumbnail foto-foto terbaru yang terpampang.
Hampir semuanya foto Kisarazu.
Dimulai dari seminggu sebelum Senpai pulang kampung, hingga pemandangan Pantai Egawa yang baru saja diambil baru-baru ini—setiap hari, setiap hari, setiap hari—Haru-senpai berkeliling tempat-tempat penuh kenangan sambil memotretnya.
“Hei! Natsume-kun, kamu benar-benar motret?”
Suara jernih Haruru-senpai yang berada agak jauh menyadarkanku kembali.
Aku segera menutup folder foto dan kembali menjalankan tugas sebagai asisten fotografer.
“......Natsume-senpai yang sekarang ini......jujur saja, aku tidak suka.”
“Kenapa......?”
“......Karena Senpai terus-menerus berperan sebagai orang palsu yang setengah-setengah.”
Kata-kata Touri mengorek inti persoalan, membuatku merasa seolah sebuah pasak besar ditancapkan ke jantungku.
“......Karena Shirahama Natsume tidak dicintai, apakah Senpai memilih pasrah menjadi pemeran pengganti Shirahama Seitarou?”
Aku tidak bisa menjawab apa pun.
Otakku menolak memberikan jawaban, dan aku hanya bisa terdiam.
“......Senpai benar-benar orang yang kikuk, ya.”
Mungkin, aku ketakutan.
Takut akan momen ketika aku menjadi orang yang tak lagi dibutuhkan oleh Haru-senpai.
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Dengan keinginan keras untuk tidak menyadari bahwa aku sudah menjadi orang yang tak berguna lagi.
“Padahal Haru-senpai sudah bangkit sejak lama, dia tidak lagi membutuhkan pemeran pengganti......Natsume-senpai itu bodoh dan menyedihkan.”
Nada suara Touri lembut, menasihatiku seolah memeluk sisi diriku yang pesimistis.
“—Namun, tolong ingat ini. Bahwa di suatu tempat, ada juga orang aneh yang membutuhkan dan menyukai sosok bernama Shirahama Natsume.”
Kabut di hatiku perlahan menghilang......kata-kata Touri menjadi sinar matahari yang hangat bagiku.
“Ah! Di saat aku tidak lihat, Natsume-kun malah merayu Touri-chan!”
“Bukan, bukan, aku tidak merayu kok!”
Didesak oleh Haru-senpai yang jahil, aku hanya bisa menanggapinya dengan senyum kecut penuh kepayahan.
“......Kata-kata cinta yang dibisikkan Natsume-senpai terdengar penuh gairah.”
“Hebat juga, Natsume-kun. Apa aku jadi pengganggu, ya?”
Kalau Touri ikut-ikutan bercanda begitu, aku jadi makin repot.
“......Haru-senpai, kerja bagus. Silakan pakai ini.”
“Makasih! Memang hebat manajer yang masih aktif!”
Touri menyerahkan handuk kecil.
Meski bukan waktu yang terlalu panas, Senpai yang bergerak sepenuh tenaga itu terengah-engah, dengan butiran keringat besar berkilau di dahi dan lehernya.
Touri yang serba siap bahkan menyiapkan botol khusus berisi air dan minuman olahraga, dan caranya menyerahkannya pada Haru-senpai benar-benar memancarkan wibawa seorang manajer aktif.
“Hei, hei, Natsume-kun juga......mau main?”
Dengan poni basah yang tampak mengilap, Haru-senpai melontarkan ajakan misterius itu, membuatku tanpa sadar menelan ludah.
“Satu lawan satu sama aku♪”
“Tidak mau.”
“Eh—? Kenapaa?”
Begitu aku langsung menolak ajakan satu lawan satu itu tanpa ragu, Haru-senpai pun melayangkan protes.
“Yah......kalau sebentar sih, boleh juga.”
Pikiranku langsung berubah.
Soalnya aku remaja diusia itu—kalau di depan orang yang kusukai, rasanya ingin tampil keren.
Aku melangkah ke sisi berlawanan dari ring, memungut bola, lalu mulai mendribel sambil saling menatap dengan Haru-senpai yang bersiap dalam posisi condong ke depan.
Lupakan waktu yang terus berlalu, dan biarkan diri ini hanyut dalam masa muda yang tiba-tiba kembali setelah setahun lamanya.
“......Natsume-senpai, kalau tidak segera beres-beres, kita akan terlambat.”
“Hah, sudah jam segini......!?”
Mendengar ucapan Touri, aku menghentikan permainan dan mengecek waktu di ponsel.
Dengan waktu tersisa hanya sekitar sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai, bahkan naik sepeda pun rasanya sulit untuk menghindari terlambat.
“Touri, kenapa tidak bilang dari tadi sih—”
“......Maaf, karena kalian berdua terlihat sangat menikmati basketnya......aku jadi sungkan menyela.”
Dia memang junior yang aneh—terlalu perhatian di saat-saat tak terduga.
“......Lalu Natsume-senpai mau bagaimana?”
“Mungkin aku akan bolos dengan alasan tidak badan enak dan otot pegal......”
“......Bolos itu tidak kuizinkan. Aku akan menyeret Senpai.”
Kalau begitu jangan tanya ‘mau bagaimana’, dong.
“Kalau begitu mau bagaimana lagi. Pergi naik motor saja......”
“......Di sekolah kita, berangkat naik motor itu dilarang.”
Teguran dari junior yang patuh aturan itu memang benar.
“......Karena kami masih berseragam, sebenarnya bisa langsung ke sekolah, tapi kalau naik sepeda sudah pasti terlambat.”
“Aku sih tidak terlalu peduli kalau terlambat sedikit, tapi kalau Touri?”
“......Aku sedang mengejar penghargaan kehadiran penuh, jadi itu masalah. Sayang sekali kalau terputus gara-gara Natsume-senpai.”
Entah kenapa jadi salahku, padahal yang memanggil ke sini itu Haru-senpai dan Touri.
“Kalau begitu, bagaimana kalau Natsume-kun mengantar Touri-chan ke sekolah naik motor? Aku pinjam sepedanya saja buat pulang ke rumah orang tuaku.”
“......Tapi kalau ketahuan, nanti dimarahi guru, kan......”
“Kamu ini serius sekali ya, Touri-chan. Aku kasih tahu tempat rahasia buat parkir motor, dijamin sekolah tidak akan ketahuan.”
Touri yang sempat ragu karena melanggar aturan akhirnya mengangguk, seolah terdorong oleh bujukan Haru-senpai.
“......Demi penghargaan kehadiran, terpaksa aku naik di belakang Senpai.”
“Yang hampir terlambat kok malah sok berwibawa sih.”
“......Menurut Senpai ini salah siapa?”
“Gara-gara Touri yang bersekongkol dengan Haru-senpai memanggilku latihan pagi, kan?”
“......Karena Natsume-senpai kebablasan dan terlalu asyik main sambil senyum-senyum, bukan?”
“Main sih main, tapi aku tidak sampai senyum-senyum.”
“......Iya, Senpai melakukannya.”
Di layar ponsel yang disodorkan ke depan wajahku, terpampang foto diriku sedang bermain basket bersama Haru-senpai.
“Diam-diam motret lagi. Itu memalukan, hapus.”
“......Menyimpan rekam jejak Senpai juga bagian dari tugas manajer.”
Aku mencoba merebut ponsel Touri, tapi dia langsung menariknya dan menolak dengan tegas.
Junior yang satu ini ternyata cukup keras kepala dan tak mau mengalah—anehnya, itu justru terasa menggemaskan.
“Ya ya, yang rukun yang rukun. Pertengkaran kakak-adik cukup sampai di situ. Kalian benar-benar akan terlambat, lho?”
Tak tega melihatnya, Haru-senpai turun tangan melerai, dan kami berdua langsung menyahut bersamaan, “Siapa yang kakak-adik?!”
“Aku pikir kalau Touri-chan yang mengurusnya, Kouhai-kun pasti baik-baik saja, jadi aku bisa pergi dari Kisarazu dengan tenang. Melihat keadaan sekarang, sepertinya memang tak perlu khawatir ya.”
“......Aku saja tidak cukup. Natsume-senpai itu......orang bodoh yang sudah tak bisa ditolong.”
Touri bergumam pelan, lalu menundukkan pandangan dengan wajah canggung.
“Aku mau jalan-jalan sebentar. Kalian para siswa SMA cepat pergi ke sekolah.”
Diperintah dengan nada ceria seperti itu, kami yang masih siswa SMA pun membereskan barang dan meninggalkan lapangan basket.
Meninggalkan senpai yang melambaikan tangan kecil sambil melepas kami, kami berjalan menuju tempat parkir tempat Rabbit diparkir.
Dilihat dari kejauhan, Haru-senpai sendirian—
Tak ada tanda-tanda hendak berjalan-jalan, dia hanya berdiri diam sambil menatap sekeliling.
Seolah sedang menunggu seseorang.
“......Motor bekas kakakmu......ternyata masih kamu pakai, ya.”
“Aku tidak punya uang untuk beli yang baru.”
Saat tombol starter ditekan, mesin Rabbit menggeram disertai getaran halus.
Touri pun mengenakan helm dan, meski tampak sungkan, naik ke jok belakang dengan gerakan kecil.
“......Karena kamu merasa dengan begitu jadi lebih mirip kakakmu, kan? Selalu berusaha terlihat keren di depan Haru-senpai......benar-benar orang yang tak tertolong ya, kamu ini.”
Saat aku menggenggam setang, Touri berbicara dari balik punggungku.
Junior yang mampu menembus isi hati pria yang terbelit ini mengubah kata-kata pedasnya menjadi senjata, menusuk punggungku yang tak berdaya berkali-kali.
“......Melihat Senpai berpura-pura menjadi orang lain dengan wajah tersiksa......membuatku kesal.”
“Maaf jadi Senpai yang menyedihkan. Mulai sekarang pun......kurasa aku masih akan membuatmu kesal.”
“......Kalau tidak mengaku, juga tidak akan ditolak......jadi cinta tak terbalas tak akan pernah berakhir. Tidak menang, tidak kalah. Kau bisa terus jatuh cinta selamanya.”
“Tolong berhenti membaca isi hatiku sepenuhnya.”
“......Tanpa membaca hati pun, rasanya sudah menyakitkan betapa jelasnya.”
Ekspresi Touri tak terlihat, sementara volume suaranya menurun jelas.
Setelah selesai melontarkan keluhannya pada senpai yang tak berguna ini, dia terdiam dan perlahan melingkarkan tangan di pinggangku.
Itu mungkin isyarat tanpa kata untuk menyuruhku jalan.
Rabbit melaju perlahan, bergabung ke persimpangan sebelum taman pantai, lalu berbelok kanan menuju arah Jalan Fujimi.
“......Aku ingin sekali, setidaknya sekali, duduk di belakang motor yang dikendarai Senpai.”
“......Ternyata lebih nyaman dari yang kukira.”
“Begitu ya. Terima kasih.”
“......Dipuji oleh junior itu menyenangkan? Kalau senang, bilang saja senang.”
“Aku tidak benci dipuji olehmu. Jujur saja, aku senang sekali.”
“......Senpai yang terlalu jujur juga menjijikkan.”
“Dipuji olehmu sama sekali tidak membuatku senang.”
“......Kalau begitu malah membuatku kesal. Kalau aku memuji, tolong senanglah.”
“Jadinya yang mana sih?”
Panas tubuh manusia yang berbeda dari terik musim panas.
Setiap kali Touri menguatkan lengannya agar tidak terlempar saat melaju, tubuhnya semakin menempel di punggungku.
“......Senpai!”
Saat panas tubuh kami yang berjajar depan-belakang bercampur, Touri meniupkan suaranya ke dekat telingaku dari belakang.
“......Aku tidak akan mendukung atau apa pun! Cepat mengaku dan ditolak saja!”
Lalu dia berteriak keras, seakan menimpa suara angin yang menderu.
“Kalau aku cepat mengaku dan malah jadi saling suka, terus bagaimana?!”
“......Itu tidak mungkin! Orang yang bisa menyukai Natsume-senpai pasti orang yang sangat aneh!”
Di lajur kiri jalur pelabuhan Kisarazu, laut yang berkilau oleh cahaya pagi mengalir di sudut pandangan.
Karena sama-sama ingin menyampaikan perasaan masing-masing, kami terus berteriak keras agar tak kalah oleh suara kendaraan.
“......Kalaupun saling suka, aku tidak akan mau mendengar cerita mesranya! Tapi kalau ditolak sesuai dugaan, aku akan mendengarkan keluhan apa pun! Supaya Senpai bisa cepat melangkah ke cinta berikutnya!”
“Baru sekarang aku sadar, ternyata Touri itu junior yang baik dan peduli pada seniornya!”
“......Baru sekarang tahu? Aku memang junior yang baik dan peduli pada Senpai!”
Touri merapat dengan lembut.
Sambil menikmati hangatnya angin yang berhembus dari depan, aku didoakan agar cinta tak terbalas ini segera berakhir.
Memanfaatkan jalan pintas di luar rute sekolah, aku memarkir Rabbit di ladang keluarga Hirose yang diberitahu oleh Haru-senpai.
Aku dan Touri berlari masuk ke sekolah sebelum bel berbunyi, berganti sepatu di pintu masuk, dan entah bagaimana berhasil menghindari keterlambatan.
“.......Natsume-senpai, apa kamu menyadarinya?”
Di tengah tangga menuju kelas masing-masing, Touri berhenti dengan raut wajah serius.
“......Sejak kembali ke Kisarazu seminggu lalu, sepertinya dia terus berkeliling kota seperti sedang ‘mencari sesuatu’. Ini juga pertama kalinya SNS Haru-senpai terus diperbarui hanya dengan foto-foto pemandangan daerah.......”
“Aku memang menyadari pembaruan SNS-nya, tapi dia sudah jadi mahasiswa, pasti ada sedikit perubahan. Mungkin hanya bernostalgia karena baru pulang setelah lama pergi......atau semacam itu.”
“......Tentu saja akan lebih baik kalau ini hanya kekhawatiran yang tidak berdasar. Tapi bahkan di latihan pagi tadi, sampai tepat sebelum Natsume-senpai datang, entah kenapa dia berjalan mendekati arah laut, atau menoleh seolah-olah ada seseorang yang baru saja lewat......”
Hanya ada satu kemungkinan kecil yang terlintas di benakku.
Namun, bahkan aku sendiri masih belum bisa menerima cerita yang begitu tidak masuk akal dan jauh dari kenyataan itu.
“......Tadi, Haru-senpai itu sebenarnya bermain basket dengan bayangan siapa, ya?”
Aku tidak bisa langsung menjawabnya.
Sampai tepat sebelum berhadapan denganku dalam one-on-one, seharusnya Senpai sedang melakukan pemanasan sendirian sambil menyerahkan urusan pemotretan kepadaku.
Namun, aku kembali mengingat perasaan janggal yang samar itu.
Tatapannya selalu seolah mengejar seseorang, dan mata yang penuh rasa ingin tahu itu tampak memantulkan ‘seseorang yang tidak ada di sini’.
“......Cerita tentang lumba-lumba keberuntungan yang menggerakkan cinta tak terbalas yang stagnan. Meski sudah jadi siswa SMA dan mempercayainya terasa konyol, ada satu musim misterius yang dirumorkan dan cukup menarik—”
Kata-kata yang akan dirangkai oleh Touri.
Bahkan sebelum gendang telingaku menangkapnya, aku sudah tahu kelanjutan kata-kata itu.
“......Musim panas ketika orang penting yang telah menghilang muncul kembali.”
Ucapan Umika melintas di benakku.
Si ‘lumba-lumba keberuntungan’ yang menyebut dirinya sendiri demikian.
Dia yang tak lebih dari anak SMP tetangga yang sok itu, telah meninggalkan kata-kata yang mirip dengan yang diucapkan Touri.
Keheningan akibat kebingungan kami berdua diputus secara paksa oleh bel peringatan.
“.......Bagaimanapun juga itu hanya rumor untuk menipu anak-anak, mungkin hanya halusinasi dan halusinasi pendengaran akibat gangguan mental yang dibesar-besarkan. Jika ada kasus serupa di masa lalu, kurasa ibu Senpai lebih mengetahuinya.”
Touri membelakangi arahku dan segera menuju kelas tahun kedua.
Suasana sekolah yang semula ramai perlahan menjadi sunyi, dan aku pun bergegas menuju kelas tahun ketiga.
******

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 3.1"