Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 2.4

Bab 2 - Kolam Renang Musim Panas, Baju Renang, dan Gedung Olahraga




Ah, andai saja aku bisa......menghabiskan seharian penuh bermain bersama Senpai seperti itu.


Aku akhirnya diperingatkan oleh Senpai yang bersikap seperti murid teladan, “Jumlah kehadiran juga penting, jadi siang ini masuk sekolah ya,” dan benar-benar datang ke kelas saat jam istirahat makan siang.


......Tiba-tiba, perhatianku tertuju ke luar jendela.


Dari kejauhan pun, aku bisa mengenali seorang siswi yang berjalan cepat di koridor penghubung lantai satu.


Sekejap, aku ragu.


Rasa berat di ujung kakiku mungkin merupakan penolakan tak sadar.


Namun, melihat punggungnya yang berjalan sendirian, tekadku pun terpaksa berbelok.


Aku ingin mengejarnya. Dorongan itu meledak. Aku berlari menuruni tangga dari lantai dua ke lantai satu, dan menerobos pintu masuk tanpa melepas sepatu indoor.


Aku meyakinkan diri ini hanya olahraga setelah makan, lalu menelusuri rute yang baru saja dia lewati. Otot-ototku berderit lebih parah dari dugaan, dan mungkin karena stamina yang menurun drastis, napasku pun terengah.


Yang akhirnya menyambutku adalah gedung olahraga kedua, tempat bahkan suara langkah kaki pun bergema.


Lantai kayu yang memudar oleh sinar matahari dari banyak jendela, garis-garis lapangan yang saling berpotongan rumit, ring basket di kanan dan kiri......semuanya terasa familiar.


Lalu, seolah magnet yang saling menarik, pandanganku bertemu dengan orang yang sudah lebih dulu datang.


“......Natsume-senpai?”


Di dekat panggung aula olahraga berdiri kokoh sebuah grand piano hitam legam. Di kursi pengiring di depannya, Touri duduk kecil sambil menopang novel saku yang terbuka dengan kedua tangan, masih mengenakan seragam sekolah.


Di antara kami mengendap suasana canggung.


Padahal tidak ada urusan apa pun, seorang siswa klup langsung pulang yang terengah-engah muncul begitu saja.


Aku yakin Touri juga tidak bisa memahami situasinya.


“Seperti biasa......waktu istirahat siang kamu membaca buku di depan piano.”


Tak tahan dengan keheningan yang ganjil, aku mencoba memulai obrolan ringan.


“......Tolong biarkan aku sendiri. Gedung olahraga kedua yang jauh dari gedung utama itu tenang, jadi sangat cocok untuk membaca sendirian.”


“Maaf, sudah mengganggu.”


“......Serius. Senpai yang tidak melakukan apa-apa hanya mengganggu saja.”


Touri berbisik dengan tenang sambil menundukkan pandangan, lalu kembali membalik halaman buku di tangannya.


“......Kmau tidak melakukannya?”


Entah ditujukan padaku yang berdiri kaku, Touri menyelipkan pembatas buku ke halaman yang sedang dibaca lalu berbisik pelan.


“......Latihan shooting?”


Touri meletakkan novel saku di atas lututnya, lalu bertanya seolah menguji, sambil memungut bola basket yang menggelinding di dekat kakinya dan menyodorkannya dengan agak sungkan.


“Menurutku, meskipun siswa yang akan mengikuti ujian berlatih shooting, otaknya tidak akan jadi lebih pintar.”


“......Bagiku, Senpai yang latihan mandiri saat jam istirahat siang itu hal yang wajar.”


“Itu wajar dari zaman kapan sih......”


“......Itu wajar sampai sekitar setahun lalu, sebelum Senpai keluar dari klub basket, mungkin.”


“Soalnya aku sudah tidak perlu latihan mandiri lagi.”


“......Tapi hari ini Senpai datang ke sini, ya?”


Sulit bagiku untuk mengatakan bahwa alasannya karena melihat dirimu.


Daripada mengobrol kosong dengan teman di kelas, bermain bola sambil diawasi Touri terasa lebih alami bagiku......tapi meski memikirkannya, aku ragu untuk mengatakannya.


“.......Bukankah Senpai agak gemukan? Sesekali tolong berolahraga.”


“Hah? Segemuk itu?”


“......Rasanya otot Senpai berkurang dibanding setahun lalu. Wajahmu juga kendur dan tidak kencang......ah, itu sih memang dari sananya.”


Berisik amat! protesku dalam hati.


“......Silakan.”


Bola yang didorong Touri dengan kedua tangan.


Aku menerimanya sambil menyerap benturannya, satu kali, dua kali, tiga kali. Berkali-kali aku membanting bola ke lantai dan memukulnya lagi saat memantul kembali.


Suara dribel ringan yang bahkan tak layak dihitung bergema keras di gedung olahraga yang hanya berisi kami berdua.


Tanpa melihat langsung lintasan bola pun, aku bisa memahaminya.


Meski mataku tertuju ke ring, bola seakan menempel di tangan kanan dan kiriku.


Itu kembali—untuk sementara.


Perasaan gemilang dari masa lalu, saat Touri mengawasiku sebagai manajer.


Sambil mendribel bola di sampingku, aku melangkah maju.


Setiap telapak sepatu indoor yang agak kotor bergesekan dengan lantai kayu, terdengar bunyi irama sepatu masa muda.


Touri kembali membaca, tapi gerakan tangannya membalik halaman melambat, dan entah kenapa terasa seperti dia sedang memasang telinga.


Garis three-point mendekat di kakiku. Aku tidak melangkah ke dalamnya.


Aku meletakkan kedua tangan pada bola yang sedang didribel, mengangkatnya sedikit di atas garis pandang, dan dalam waktu kurang dari satu detik saat ujung kakiku terangkat, seluruh tubuhku yang meregang menjadi landasan peluncur—lalu kulepaskan tembakan.


Sama persis dengan lintasan yang kubayangkan di dalam kepala.


Bola dengan backspin lembut menggambar lengkungan ideal, menembus ring dengan indah, dan menggoyangkan jaring seperti angin sepoi—semua itu terwujud persis seperti bayanganku.


“......Three-point milik Natsume-senpai itu indah ya.”


“Aku senang kau memujiku, tapi bukankah kau terus membaca buku?”


“......Tanpa melihat pun aku tahu hanya dengan mendengar. Suara dribel, suara sepatu bergesek, suara Senpai melayang sedikit saat menembak, suara bola menembus jaring. Suara Natsume-senpai sudah akrab di telingaku.”


Ucapan itu sama sekali tidak terdengar seperti lelucon.


Karena memang pernah ada masa ketika Touri hampir setiap hari berada begitu dekat, sampai suara dari dribel hingga tembakan itu melekat dalam ingatan.


“Suara basketnya, tidak berisik?”


“......Kalau yang bermain basket itu orang asing sama sekali, mungkin aku sudah merasa terganggu dan pergi.”


Touri menarik satu napas, lalu menatapku lurus.


“—Tapi, aku tidak membenci waktu yang dihabiskan sambil mendengarkan suara Senpai.”


Kami saling bertatapan dan terdiam.


Rasa canggung masing-masing menghalangi kata berikutnya, hingga mungkin kami hanya bisa menanggapinya dengan diam.


“......Ayo, jangan bermalas-malasan. Hanya karena satu tembakan masuk, sudah puas?”


“Kamu bicara seperti manajer saja.”


“Senpai aneh sekali. Aku ini manajer perempuan yang masih aktif, tahu.”


Touri tersenyum kecil penuh arti.


Aku memungut bola yang menggelinding, dan keheningan pun menyelimuti kami seperti hal yang wajar.


Lalu lagi, dribel menjadi isyarat yang memecah kesunyian.


Jam istirahat siang yang hanya dipenuhi pengulangan itu berlalu dengan perlahan.


Mungkin karena kelembapannya tinggi, gedung olahraga terasa agak pengap.


Keringat yang tak kunjung menguap membuat kemeja seragamku melekat di tubuh bagian atas.


Namun, itu tidak terasa tidak nyaman.


Aku tidak merasa kesal dengan itu.


Keringat yang membasahi poni dengan lembap itu bukan hanya berfungsi menurunkan suhu tubuh, tapi juga mengandung kepuasan dan esensi masa muda.


Keringat ini sendiri......adalah keringat pamer yang terus kutumpahkan dengan bodoh, demi ingin menunjukkan sisi keren diriku pada Touri, demi menginginkan sorakan yang kaku dan tak ramah itu.


“......Hah, Senpai ini benar-benar merepotkan.”


Touri menghela napas panjang seolah pasrah, lalu menyodorkan handuk kecil yang sudah dia bawa sebelumnya.


“Ini yang kau pakai untuk kegiatan klub, kan? Tidak apa-apa kalau aku yang memakainya?”


“......Itu handuk cadangan. Aku tidak punya fetish keringat, jadi tolong dicuci sebelum dikembalikan.”


“Iya, iya.”


Menerima niat baiknya, aku mengambil handuk itu.


Desain karakter anime itu memang tidak cocok dengan Touri yang serius, tapi aroma pelembut kainnya meredakan panas pikiranku dan menenangkan tubuh serta jiwa.


“......Senpai, tolong hentikan mencium baunya.”


“Touri......kau harum banget ya. Seperti aroma manis buah-buahan.”


“......Kamu bodoh ya? Itu bukan bauku, tapi aroma handuknya.”


“Waktu SMP, kamarmu juga sepertinya berbau seperti ini, ya?”


“......Kemampuan mengingat yang sia-sia sampai mengingat bau kamarku itu menjijikkan!”


Hanya karena iseng menggodanya, aku malah dimarahi Touri yang memerah, lalu handuk itu direbut dariku saat dia mendekat.


“......Bagi Senpai yang minim pengalaman masuk ke kamar perempuan, itu pasti kenangan berharga ya. Aku bisa membayangkan saat Senpai sudah jadi om-om nanti, terus menceritakan berulang kali ‘Aku pernah main di kamar junior perempuan’ sebagai satu-satunya kejayaan, dalam wujud pria tak laku.”


“Boleh aku menangis?”


“......Kalau mau mendapat gelar memalukan ‘pria yang dibuat menangis oleh junior perempuannya’, silakan.”


“Tidak butuh. Aku juga tidak menangis.”


“......Sayang sekali. Jadinya tinggal gelar ‘suka bau junior perempuan’ saja.”


“Tapi fakta kalau Touri harum banget itu benar.”


“......Idiot. Tolong berhenti.”


Padahal yang menggoda itu Touri, tapi entah kenapa dia malah memalingkan wajah dengan malu.


Karena dia junior dengan daya serang tinggi tapi pertahanan lemah, jadi makin ingin kumanjakan.


“......Tinggal lima menit lagi, jam istirahat siang akan berakhir.”


Seolah menanggapi gumaman Touri, jam dinding di gedung olahraga sudah menunjukkan waktu jam istirahat siang akan segera berakhir.


Aku membereskan bola ke ruang peralatan, namun tetap merasakan sedikit rasa enggan untuk berpisah.


“Touri.”


“......Ada apa?”


“Kalau tidak keberatan, aku juga ingin......mendengar suaramu lagi, setelah sekian lama.”


Meski sempat ragu, aku terdorong oleh suasana dan mencoba mengajukan permintaan yang cukup lancang.


Touri yang tampaknya mengerti maksudku terdiam, lalu kembali duduk di kursi di depan piano.


“......Sebegitu ingin mendengarnya?”


“Ya.”


“......Sebegitu, sebegitu ingin mendengarnya?”


“Sebegitu, sebegitunya ingin.”


“......Aku menolak.”


“Hah!? Padahal alurnya seperti mau memperdengarkannya!”



“......Wajah senpai yang tertipu ekspektasi itu lucu. Aku ingin melihat itu.”


“Seleramu buruk.”


Menggodaku yang lebih tua juga sangat khas Touri.


Seolah tanpa sadar sudut bibirnya terangkat, Touri yang tampak lebih rileks......membuka penutup tuts piano dengan tenang, lalu meletakkan jari-jarinya yang ramping di atas tuts hitam-putih yang tersusun rapi.


“Hari ini suasana hatiku sedang agak baik, jadi ini pengecualian ya—”


Gedung olahraga pun dipenuhi keheningan di antara kami.


Di ruang yang begitu sunyi hingga napas dalam Touri pun terdengar, alunan nada pun mekar.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Ujung jarinya terseret masuk ke dalam tuts, mulai menari dengan lembut.


Dengan cekatan dia menggerakkan jari tangan kanan yang memainkan banyak nada, melahirkan melodi.


Bagian awalnya lemah seperti bisikan, lalu perlahan nada-nadanya melonjak semakin kuat.


Setiap kali kedua tangannya menekan tuts, terasa seolah semua suara lain lenyap.


Kesadaranku dikuasai oleh alunan nada Touri, pendengaranku yang tenggelam sepenuhnya pun terpesona.


Bahkan penglihatanku terpaku, aku tak bisa mengalihkan pandangan dari Touri yang terus memainkan piano.


Judul lagu yang juga kukenal—Hadiah dari Hari Musim Panas.


Inilah dia. Melodi yang dipintal oleh jari-jari Touri yang tenggelam ke lautan musik.


Jari tangan kiri menopang dinamika tangan kanan.


Dia merapikan garis bass yang membungkus wilayah nada tinggi, menyatukannya menjadi satu lagu utuh.


Tidak, bukan hanya jarinya.


Kaki kanan Touri pun bergerak bersamaan.


Dia menginjak pedal damper, melepasnya, lalu menginjaknya lagi.


Karena itu, nada yang memanjang dengan ringan turut menggetarkan senar yang tak dipetik, memberi kedalaman yang luas.


Tangan kanan yang piawai mengatur dinamika berayun hebat naik turun, membawa klimaks ke puncaknya.


Kenangan yang meluap mencengkeram dadaku erat, dan getaran mirip mati rasa tak kunjung berhenti.


Aku terbebas dari panas yang menyiksa, seolah angin sejuk berhembus menembus seluruh tubuh.


Dulu saat SMP, aku sering mendengarnya.


Tubuhku bergerak sendiri, berdenyut tanpa sadar.


Suara paduan suara terputar di kepalaku, sampai aku hampir ikut menyanyikan bagian suara laki-laki.


Piano Touri dulu terasa dekat bagiku.


Basketku dulu terasa dekat bagi Touri.


Sejak kapan ya.


Kami melepaskan suara satu sama lain, dan keseharian yang dulu dekat pun berubah.


Jari tengah yang membunyikan nada terakhir terangkat dari tuts, dan suara perlahan memudar.


Tak lama kemudian, suara piano lenyap, dan Touri perlahan menutup penutup tuts.


“Aku teringat lomba paduan suara waktu SMP. Aku juga menyanyikannya sebagai lagu wajib, dan nadanya sama indahnya seperti dulu......sampai-sampai aku terbawa mendengarkan.”


“......Itu lagu sederhana untuk pemula, jadi kalau sedikit berlatih, anak SD pun bisa memainkannya.”


“Tidak, justru karena itu piano Touri, aku jadi makin menyukai lagu ini.”


“......Saat itu menyenangkan. Natsume-senpai mau mendengarkan pianoku......memuji seperti sekarang. Tapi......keseharian seperti itu tidak akan kembali lagi.”


Dengan wajah muram Touri menggumamkannya, lalu bel peringatan berakhirnya jam istirahat siang berbunyi.


“Kalau memang mau, bisa kembali kok. Seperti hari ini.”


“......Hari ini pengecualian. Aku tidak akan bermain piano lagi.”


Touri berdiri perlahan, melewatiku dan hendak kembali ke kelasnya......namun dia segera berhenti melangkah.


“Siapa itu! Siapa yang main piano sembarangan!”


Soalnya, seorang guru berdiri menghadang di pintu masuk utama gedung olahraga.


Sepertinya piano di gedung olahraga memerlukan izin penggunaan, dan karena terdengar alunan tak terduga, beliau datang untuk memeriksa.


Karena gurunya tampak ketat soal aturan, aku pun bersiap tak akan lolos dari ceramah, namun—


“......Senpai, ayo kabur.”


Touri menggenggam tanganku dan berbisik pelan......lalu langsung lari secepatnya.


Tindakannya yang tak terduga membuatku terkejut, tapi aku pun berlari tanpa melawan.


Kami tak menghiraukan teriakan sang guru.


Masih mengenakan sepatu indoor, kami menerobos keluar lewat pintu belakang gedung olahraga dan berlari sekuat tenaga, meninggalkan guru itu di sana.


Rangkaian kejadian berlari menyusuri koridor sambil ditarik tangan junior terasa sangat baru bagiku.


“......Hal yang terasa seperti kenakalan begini, kalau sesekali, tidak buruk juga ya.”


“Ya......kalau sesekali saja.”


“Kalau nanti gurunya datang marah-marah, tolong Senpai yang kena ceramah.”


“Itu aneh. Kau saja yang dimarahi.”


“......Kalau begitu, mari dimarahi bersama.”


“Ya, itu satu-satunya cara.”


Pemandangan yang mengalir di sudut pandangku tampak seperti dunia bukan  hal sehari-hari, bersinar lebih gemerlap dari biasanya.


“Um, Touri.”


“......Ada apa?”


“Tangan ini......sampai kapan kita harus tetap berpegangan?”


Touri akhirnya sadar juga, lalu melepaskan tanganku sambil wajahnya sedikit memerah.


Kami berlari masuk ke gedung sekolah, terengah-engah, dan tanpa sadar menjaga jarak sedikit satu sama lain.


Rasanya seperti bisa diraih, tapi tetap tak sampai.


Dengan perasaan canggung yang menggelitik itu, kami berdua hendak berpisah menuju kelas masing-masing, namun—


“......Natsume-senpai.”


Namaku dipanggil, aku pun berbalik menghadap Touri.


Melihat Touri melempar sesuatu dengan lemparan bawah, refleks aku mengulurkan tangan kananku.


Kaleng yang kugenggam terasa dingin, kesegaran cairannya meresap ke kelima jariku.


“......Setelah olahraga, jangan lupa minum. Dari manajer sementara khusus jam istirahat.”


Jeruk peras yang segar.


Dulu, minum ini setelah menang pertandingan rasanya paling nikmat.


“......Ah, terima kasih!”


“......Besok juga aku akan membaca buku di depan piano, jadi—”


Touri tidak melanjutkan kata-katanya lebih jauh.


“Gedung olahraga di musim panas, tidak panas?”


“......Musim panas saat Natsume-senpai berlari di gedung olahraga itu......jauh lebih panas.”


“Musim panas saat kau duduk di depan tuts piano juga......rasanya cukup membara.”


“......Entah sejak kapan kita menjadi orang dewasa yang sudah mendingin. Aku juga, Natsume-senpai juga.”


“Hari seperti hari ini......dulu sebenarnya ada banyak.”


Kelelahan dan kepuasan yang hampir terlupakan, serta jam istirahat bersama Touri setelah sekian lama.


Sambil menyimpan rasa puas yang tak kutolak meski diliputi kebingungan, aku kembali ke kelas dengan langkah ringan.


Akhir Bab 2

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 2.4"