Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 2.2


Bab 2 - Kolam Renang Musim Panas, Baju Renang, dan Gedung Olahraga




"......Sampai kapan aku tenggelam dalam kenangan masa lalu."


Begitu bangun tidur, mimpi manis itu pun buyar, dan gumaman murung khas anak delapan belas tahun terlontar.


Cahaya keunguan yang menyelinap lewat celah tirai adalah warna langit fajar yang sedang menunggu matahari terbit dengan tenang.


Menandai dimulainya hari biasa yang tak berbeda dari biasanya.


Kepalaku sulit diajak berpikir, dan tubuh yang sudah lemas terasa seolah makin berat tertarik gravitasi.


Cinta tak terbalas yang dipaksa bergerak......ya.


Kata-kata tak terbayangkan yang diucapkan Umika semalam terus berulang di kepalaku, membuat batas antara mimpi dan kenyataan menjadi kabur.


Tenggorokan yang kering mengganggu pikiranku yang tak bisa fokus, dan aku merangkak keluar dari futon.


"Orang ini tidur di sofa lagi......"


Saat aku pindah ke ruang keluarga, ada mayat—eh bukan, ibu—yang jatuh dari sofa dan mendengkur di atas karpet.


Aku sudah semakin mahir melangkahi ibu yang tergeletak di lantai begitu.


Terlalu biasa, seperti hari-hari biasanya.


Sulit membayangkan sesuatu yang aneh akan terjadi dari situ, dan tidak ada tanda-tanda hubungan yang stagnan ini akan bergerak secara paksa.


Adegan ketika Haru-senpai datang untuk memasak, kami bermain sampai hampir ketinggalan kereta terakhir, dan aku mengantarnya pulang......


Aku tak boleh mematikan rasa peka hanya karena merasa senang.


Ini situasi yang tidak normal.


Lebih terasa janggal bahwa Haru-senpai, mahasiswa Tokyo, tiba-tiba pulang kampung sebelum liburan musim panas dan tinggal di Kisarazu.


Apakah aku terlalu pesimis?


Mungkin dia hanya belum pulih dari ‘penyakit bulan Mei’ dan sedang rindu kampung halaman, atau bisa jadi homesick karena belum terbiasa hidup di kota.


"Uuugh......kepalaku pusing......tenggorokanku kering......"


Aku sempat terkejut mengira itu erangan arwah gentayangan, ternyata hanya suara bangun tidur ibuku yang tergeletak.


Sepertinya dia terbangun karena suara aktivitasku, lalu memegang kepala yang berantakan karena mabuk semalam seperti biasa.


"......Natsume......tolong ambilkan air......"


Ibu menerima air keran yang kuambilkan dalam gelas dengan wajah yang tampak sangat tidak sehat.


"Tidur di kamar sana. Dan sesekali jalani hari tanpa alkohol."


"......Maaf ya......maafkan ibu yang malas begini......"


Ibu tersenyum “ehehe~” sambil menaikkan sudut bibirnya, tampak agak senang.


"......Kalau ke Seitarou sih cuma ditertawakan lalu dibiarkan......tapi kamu malah memarahiku dan khawatir......meskipun saudara, memang ada banyak perbedaan ya......"


"Mungkin......ibu lebih suka punya anak seperti Nii-san, ya?"


"Tentu tidak......Natsume ya Natsume, dan itu yang membuatmu lucu......Hidup Natsume......hanya bisa diperankan oleh Natsume sendiri."


Kalimat yang seolah menembus perasaanku itu dilontarkan tanpa ragu.


"......Ngomong-ngomong......si Rabbit......masih bisa jalan......? Itu......motor yang dulu dipakai ayahku waktu muda......lalu kupaksa rebut buat dipakai berangkat ke SMA......setelah menikah, kusimpan di gudang rumah orang tuaku, dan kemudian direbut Seitarou......barang antik yang diwariskan di keluarga Shirahama......"


"Aku baru tahu kalau skuter rongsokan itu punya sejarah begitu."


"......Waktu kupakai......itu beberapa kali rusak......soalnya bahkan saat itu pun sudah model yang cukup tua......"


"Aku pakai hampir tiap hari, tapi rasanya tidak ada masalah. Sepertinya beberapa tahun lalu Nii-san sempat merawat dan mengganti beberapa bagian, jadi mungkin itu sebabnya masih awet."


"Hebat......seperti yang kuduga dari mantan kendaraan kesayanganku......awet muda terus seperti aku......"


"Dalam arti kalau tidak dirawat secara rutin akan jadi rongsokan, kalian memang mirip."


"Aaah......kejam sekali perkataanmu......rasanya mau menangis......"


Orang dewasa berusia empat puluhan jangan berguling-guling di karpet sambil berpura-pura menangis, dong.


"Rabbit itu......mungkin sedang mengawasimu......sebagai perpanjangan tangan Seitarou......"


"Jangan bicara serius mendadak begitu."


"Ufufu......sesekali ibu juga......bisa serius......"


Aku dibuat geleng-geleng oleh ibu yang asal bicara sambil cengengesan begitu, tapi rasanya tak tega menyangkalnya mentah-mentah.


Foto kecil kakakku di altar rumah tetap tersenyum bisu, tak mengatakan apa pun.


"Haah......ngantuk......pengin minum sup miso kerang shijimi......."


Mungkin karena dibangunkan pagi-pagi dan kepalaku masih tumpul, tenagaku terkuras menghadapi tingkah ibuku.


Karena kasihan jika dibiarkan, aku menyiapkan miso instan ke mangkuk, dan saat itu bunyi notifikasi ponsel terdengar. Itu pemberitahuan bahwa Haru-senpai memperbarui SNS-nya.


"Hei......jadi SNS lebih penting dari shijimi ibu......?"


"Maaf, tapi aku lebih tertarik dengan SNS Haru-senpai daripada sup shijimi Ibu."


"Aduh......menjijikkan......tapi sampai buat lega juga......anak ibu polos banget ya......"


Ibu ini barusan bilang “menjijikkan”, ya? Padahal itu anaknya sendiri?


"Bisa aku tanya hal yang agak serius sedikit saja?"


Sambil menatap samar foto yang diunggah Haru-senpai, aku mencoba bertanya.


"Soalnya ibu lagi mabuk berat setelah minum......jadi hal serius......susah buat dibicarakan......"


Meski menggosok kelopak mata mengantuk, Ibu tetap mau mendengarkan.


"Kalau aku jatuh cinta pada seseorang yang belum bisa melupakan cinta pertamanya yang sudah berakhir......apa yang harus kulakukan?"


Ibu meneguk sedikit air, membasahi tenggorokannya, lalu mengatur napas menerima pertanyaanku.


Wajahnya berubah—bukan lagi orang mabuk baru bangun, melainkan seorang ibu yang mendengarkan keluh-kesah putranya.


"......Jadilah seseorang yang lebih berarti......daripada orang yang sudah tiada....."


"Kalau aku tidak bisa jadi seseorang yang lebih penting daripada yang telah tiada......?"


"Mungkin......dia tidak akan bisa melangkah ke cinta baru......selamanya......terikat oleh bayangan masa lalu......"


Jika kerinduan pada orang yang hilanglah yang memicu fenomena itu, maka hipotesis bahwa menemukan sosok yang lebih penting akan mengisi kekosongan dan membebaskan diri dari fenomena tersebut memang masuk akal.


Di suatu sudut hatiku aku mencoba tetap optimis, tapi kata-kata Umika—“kehilangan selamanya”, “akhir terburuk”—menempel seperti benda asing, tak mau hilang.


Semoga saja aku hanya berpikir terlalu jauh......namun saat menatap foto SNS itu lama-lama, entah dari mana muncul rasa gelisah yang mendesak.


Deretan tiang tak terhitung berdiri sejajar menuju laut dini hari yang dibasuh biru pekat.


Deretan tiang listrik melintasi pantai blue hour itu menciptakan suasana dunia yang aneh—seperti lukisan tentang lautan khayalan.


"Aku keluar sebentar!"


Aku tak bisa diam lagi.


Mengabaikan suara lemah Ibu, “Eh......Shijimi......”, aku menerobos keluar pintu dengan pakaian rumah.


Tak mau membuang waktu bahkan untuk menenangkan napas, aku melompat ke Rabbit yang diparkir di halaman.




Melaju di jalan sepanjang pangkalan Kisarazu, tak sampai dua puluh menit aku tiba di Pantai Egawa yang bercahaya biru gelap sebelum fajar.


Nada alam, aroma laut, dan lapisan biru–abu berlapis-lapis yang hanya bisa dirasakan langsung, bukan lewat layar, terasa begitu menggetarkan.


Di dunia yang begitu fotogenik itu, daratan biasa yang tak menarik justru tampak tidak serasi.


Manusia hanya bisa berdiri sampai batas ini, dan tali serta blok seadanya menghalangi masuknya orang ke laut yang tampak begitu fantastis itu.


Sosok punggung yang tampaknya milik Haru-senpai berdiri di atas daratan hambar itu.


Padahal jelas-jelas dia berdiri diam......namun sekelebat muncul ilusi seakan dia akan tersedot ke laut, ditarik masuk begitu saja.


Jika Haru-senpai melangkah lima langkah saja—dia bisa masuk ke laut dengan sangat mudah.


Di posisi seperti itu, siluet orang yang kusukai berdiri terpaku.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Dia berada di tempat yang tak bisa kuraih, menjauh dariku.


Aku akan kehilangannya, selamanya.


Karena itu aku berlari—dan menjangkau dengan sekuat tenaga.


"Haru......Senpai......!!"


Tanpa pikir panjang aku berlari dari belakang dan menggenggam lengannya seakan menariknya mendekat, dan ketika dia menoleh, matanya terbuka lebar.


"Seitarou......Senpai......?"


Dalam keadaan linglung, Haru-senpai memanggil nama seseorang yang tidak ada di sini, dengan suara seakan akan hilang.


"N-Natsume-kun ya! Jangan membuatku kaget dong, duh!"


Suara senpai yang kembali sadar terdengar meninggi karena kaget, tapi ekspresinya tidak jauh berbeda dari biasanya, dan aku menghembuskan semua karbon dioksida dari paru-paruku.


"Selamat pagi, Natsume-kun."


"......Selamat pagi."


Terpesona oleh senyum paginya, aku melepas lengannya tanpa pikir panjang.


"Pagi-pagi begini, apa yang sedang senpai lakukan......?"


"Sambil jogging sekalian ambil foto buat SNS. Bangun pagi itu membuatku selangkah lebih maju dari teman-teman!"


“Fufun,” Haru-senpai membusungkan dada dengan bangga.


Karena pemandangan tiang listrik berjejer di atas laut sangat fotogenik, waktu blue hour—saat laut dan langit tampak lebih indah—menjadi waktu terbaik untuk memotret.


"Jadi senpai juga ternyata mahasiswi kekinian, ya."


"Tidak sopan ya. Dari sudut mana pun aku ini jelas mahasiswi kekinian, kan."


"Kukira satu-satunya hobi senpai cuma hanya cowok-cowok bermasalah."


"Ya wajar aku ingin mengurus. Soalnya aku ini kakaknya si adik kelas bermasalah."


"Senpai memang senpai, tapi bukan kakakku, kan."


"Sekarang sudah berani melawan, ya. Padahal dulu kerjanya hanya mengikutiku ke mana-mana~"


"Aah, nggak dengar tuh."


"Kamu pernah loh manja sambil bilang ‘Haru Onee-san’ kayak anak kecil."


"Aku kalah saja! Tolong lupakan masa lalu kelam itu......"


"Nggak mau. Natsume-kun yang dulu lucu itu tidak akan kulupakan."


Bahkan senpai yang mengernyitkan alis pun, bagiku jauh lebih menarik daripada foto paling artistik sekalipun.


Karena malu, aku tak bisa memotret wajahnya; yang bisa kulakukan hanya membakarnya diam-diam ke dalam ingatan.


"Kamu sendiri, bisa tahu aku ada di sini sekarang?"


"Aku sempat bingung antara Pantai Egawa dan Kutsuma, tapi Kutsuma selain musim mencari kerang dilarang masuk."


"Itu memang benar, tapi aku tidak mengabari sama sekali kan?"


Dengan nada agak usil begitu, jelas si adik kelas jadi gugup!


"Aku bangun di jam aneh dan mau tidur lagi, tapi lihat SNS senpai yang baru update......jadi kupikir mungkin senpai ada di sini."


"Hmmm, jadi kamu lihat SNS-ku ya. Hmmm, Natsume-kun, ya."


Aku terpeleset bicara, dan Haru-senpai menyeringai mengejek.


Hobiku mengintip SNS senpai diam-diam akhirnya ketahuan......


"Terus jadi ingin ketemu senpai? Jadi penasaran lagi aku sedang apa?"


Pertanyaan isengnya tidak berhenti. Bahkan sebelum fajar pun dia tetap manis, sial.


"Aku mau main sama senpai, jadi boleh aku bolos sekolah hari ini?"


"Jangan pakai senpai sebagai alasan bolos. Kamu anak nakal begitu ya?"


"Itu karena senpai tidak mengawasiku lagi. Kenapa harus lulus?"


"Aku pun bingung mau jawab apa. Maksudmu aku seharusnya tinggal kelas?"


Aku mendapat kehormatan menikmati wajah cemberut Haru-senpai pertama kali di pagi ini.


Semakin mendekati waktu matahari terbit, langit dan permukaan laut perlahan berubah menjadi biru pucat, dan kami berdua sibuk menekan tombol kamera agar tak kehilangan momen magis itu.


"Senpai pernah datang ke sini bareng Nii-san, kan? Waktu sebelum fajar, seperti hari ini, untuk foto-foto."


Bagiku, itu tak lebih dari kenangan yang membuat iri.


Kakakku memboncengkan Haru-senpai di belakang Rabbit, mengantar ke mana pun dia ingin pergi atau ingin memotret.


Setiap kali aku mengingat diriku yang hanya bisa melepas kepergian mereka sambil merasakan gatal di gigi, rasa pahit selalu timbul dalam hatiku.


"Seitarou-senpai juga, ia suka dengan fotoku. Setiap kali aku mengunggah sesuatu, dia selalu mengomentari dan mengajakku pergi ke tempat foto itu."


"Benar-benar......sama sekali berbeda dari orang sepertiku......"


Berbanding jauh dengan seseorang yang hanya mengintip foto diam-diam lalu mengejar-ngejar seniornya sepertiku.


Meskipun bagian wajah atau suara kami mirip, aku tahu jelas bahwa aku tidak mungkin menjadi pengganti kakakku. Tapi merasa kalah oleh bayang-bayang masa lalu yang disimpan Haru-senpai membuatku tak berdaya dan menyedihkan.


Saat aku menghembuskan napas yang membawa perasaan menyalahkan diri sendiri, Haru-senpai meletakkan tangannya lembut di kepalaku.


"Natsume-kun itu adik kelas yang membuat orang ingin merawatnya, tahu? Karena ada kamu yang menempel dan mengagumiku, aku tidak jatuh dalam keputusasaan hidup."


"Bahkan seseorang sepertiku......apa aku diperlukan dalam hidup senpai?"


"Karena ada adik kelas yang canggung tapi selalu membuatku khawatir ‘aku harus kuat’, aku bisa bangkit dari kesedihan kehilangan cinta pertama. Kamu itu penolong yang tak tergantikan bagiku."


Untuk menyembunyikan air mata yang hampir jatuh, aku menundukkan kepala perlahan.


Jika dengan memerankan pengganti kakakku aku bisa menyelamatkan Haru-senpai, hanya itu saja sudah membuatku bisa merasa bahwa hidup yang tak bisa menjadi apa pun ini tetap punya peran.


"Tapi kamu sudah menghabiskan waktu berharga milikmu sendiri. Aku telah mengubah cara hidupmu. Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan sebagai penebusan, tolong beri tahu."


"Aku hanya, tidak sanggup membiarkan Haru-senpai sendirian waktu itu."


"Kamu memang baik sekali ya, Natsume-kun. Terima kasih......"


Dia mengusap kepalaku sambil bersikap seperti kakak perempuan.


Padahal usia kami hanya berbeda satu tahun, tapi pemandangannya seperti aku jauh lebih muda.


"Senpai merawatku selama ini......apakah itu penebusan untukku?"


"Aku hanya khawatir karena Natsume-kun terlihat lesu. Mungkin aku terlalu protektif, tapi aku ingin membantu semampuku."


Untuk menyemangati adik kelas yang loyo, dia memakai gaji kerja paruh waktu pertamanya untuk membeli game......dan bermain bersamaku. Dia memberi cahaya gemerlap pada keseharian yang sudah memudar.


Bahkan jika semua ini hanya karena aku menggantikan kakakku, itu sudah merupakan kemewahan yang terlalu berharga bagiku.


"Tiang listrik di laut itu, karena sudah tua dan berbahaya, katanya akan dibongkar bulan Agustus."


"Hah......? Benarkah begitu......?"


"Karena itu pemandangan yang tak akan bisa dilihat lagi, aku ingin menyimpannya dalam foto."


Pemandangan yang dulu Haru-senpai datangi bersama kakakku sebentar lagi akan hilang.


Mungkin rasa kehilangan yang samar itulah yang membawa orang ini kembali ke tempat ini.


"Baiklah, fotonya sudah cantik, jadi ayo kita pergi ke tempat berikutnya."


Mungkin puas setelah mendapatkan foto terbaik, Haru-senpai berbalik dan berjalan menuju motorku yang terparkir, lalu mengenakan helm dan duduk di jok belakang.


"Bukannya lagi jogging, ya?"


"Kalau kamu datang, jogging berubah jadi touring!"


Dengan wajah puas, dia melontarkan perkataan seenaknya. Ketukan kecil di jok depan—seolah memanggilku naik—juga selalu menggelitik hati yang sedang jatuh cinta ini, membuatku kewalahan.


Ke mana pun, sejauh apa pun, aku merasa bisa pergi asalkan bersamamu.


Aku berdoa pada dewa romcom, aku ingin melakukan perjalanan tanpa tujuan bersamanya sambil mengobrol hal-hal sepele.


Cahaya fajar perlahan menyentuh mata.


Langit yang tadi redup berwarna dingin kini bersinar oleh gradasi oranye, dan laut berkilau berubah menjadi warna hangat.


Kecemasan yang mengendap di sudut pikiranku kuremas dan kulemparkan jauh ke lautan luas yang tenang.


Haru-senpai tidak berubah.


Seperti biasa, dia adalah seseorang yang terus membuat detak cinta tak terbalas ini berdegup kencang.


Motor berboncengan kami melaju, meninggalkan jejak aroma asap knalpot, menuju arah Stasiun Kisarazu.


Kali ini, aku melonggarkan gas sedikit agar kami tidak cepat sampai.


"Kalau boleh, aku ingin kamu membawaku ke tempat berikutnya juga!"


Mengalahkan suara deru motor, Haru-senpai berseru memberikan ajakan yang sangat membahagiakan.


"Sepertinya aku akan telat sekolah, nih~?"


"Bolos saja pagi ini!"


"Yah......kalau senpai yang bilang begitu, mau bagaimana lagi!"


"Eh? Kamu kelihatan senang, ya? Diajak kabur sama mahasiswi nakal jadi semangat, ya~?"


"Tidak juga kok. Ini biasa aja."


"Bohong. Kamu senang bisa kabur bareng Kak Haru Onee-san~. Dasar tidak jujur."


"Aaah sudah, berisik!"


Senior yang mencolek-colek punggungku nakal begitu......astaga, lucunya.


Hatiku menari ritmis, dan aku tak bisa menolak godaan bolos.


"......Lalu, kita harus pergi ke mana?"


"Tempat yang pernah kita datangi bersama waktu itu......kolam renang umum!"

    ******

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 2.2"