Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 1.4


Bab 1 - Senpai Yang Ingin Melupakan Cinta Pertamanya Dan Tanuki-chan Yang Nakal




Jalan Fujimi di tengah malam yang hening seakan tak berpenghuni. Hanya suara ringan motor Rabbit terdengar, sementara wanita berhelm memeluk pinggang pengemudi dengan kedua lengannya.


Di dunia ini, hanya aku dan senpai yang tersisa, seolah sedang melakukan pelarian. Angin malam awal Juli membawa aroma laut dan berhembus hangat membelai.


Angin malam musim panas yang memotong saat berkendara terasa menyenangkan, tapi tak ada yang mengalahkan kehangatan senpai yang terus terasa di punggungku.


"Natsume-kun, bisa lewat jalur memutar?"


Terdengar suara itu dari belakang, bercampur dengan suara motor dan angin.


"Tapi ini sudah jam sebelas malam loh!"


"Kamu tidak mau begadang denganku?"


"Aku terbiasa begadang sama senpai, jadi mau ikut ke mana saja!"


Besok ada sekolah, tapi tidak masalah kalau aku kesiangan.


Bahkan kalau ditindak karena keluyuran tengah malam, aku sama sekali tidak peduli.


Kalau waktu berdua ini bisa diperpanjang selama mungkin.


Kalau bisa pergi bersamamu, sampai sejauh manapun seperti ini.




"Wah, kita sampai cepat banget ya~!"


Serius, kita sampai terlalu cepat.


Haru-senpai turun dari motor yang diparkir di tempat parkir.


Mengangkat kedua tangan ke langit malam berwarna biru indigo, dia meregangkan punggung yang tadinya membungkuk dengan ringan.


Aku berharap setidaknya bisa melewati Aqua Line......tapi keinginanku yang diam-diam tak terkabul, kami melaju lurus di Jalan Fujimi dan sampai tujuan hanya dalam waktu sekitar jarum detik berputar sepuluh kali.


Aku sempat berpikir untuk berpura-pura tersesat......tapi karena ini tempat yang sudah familiar, aku menahan niat kecil itu.


Lampu sorot berwarna biru pucat menerangi tempat terbuka di tepi laut, di balik tembok beton rendah dan pagar menunggu permukaan air hitam yang seakan bisa menyedot kami.


Di kejauhan, cahaya kawasan industri muncul samar-samar.


Garis cakrawala yang ditutupi warna hangat lembut membentuk jalur menuju Teluk Tokyo yang tertidur dalam, dan cahaya buatan menari lembut mengikuti gelombang.


Taman Tepi Laut Toriizaki—inilah tempat singgah Haru-senpai.


"Sudah lama aku tidak datang malam-malam, tapi meski sudah cukup larut, ternyata ada cukup banyak orang ya."


"Di sekitar sini memang tempat memancing. Orang yang memancing malam-malam juga tidak jarang kok."


Haru-senpai mengeluarkan suara seakan kagum. Memang, di sekitar terlihat bayangan orang yang tampak memancing, menurunkan tali ke arah laut yang gelap.


"Senpai, apa kamu ingin memancing malam-malam?"


"Tidak juga. Aku sama sekali tidak bawa perlengkapan apa-apa."


Padahal setengah bercanda, tapi mungkin dianggap ucapan polos alami, jadi dia terkekeh geli.


Terlihat juga beberapa pria dan wanita yang jelas bukan pemancing. Bahkan suasana kami tidak terasa aneh di antara mereka.


"......Tempat ini katanya disebut sebagai tempat suci pasangan kekasih ya."


"Iya, aku tahu. Lumayan terkenal juga kan."


Sambil menatap garis cakrawala kawasan industri, Haru-senpai menjawab dengan tenang.


Dulu ada drama bertema Kisarazu yang tayang beberapa belas tahun lalu, dan Taman Tepi Laut Toriizaki yang menjadi salah satu lokasi syuting itu kemudian disebut sebagai tempat suci pasangan kekasih.


Di monumen dua tanuki yang saling menempel hidungnya, yang melambangkan pasangan kekasih, tertulis besar “Tempat Suci Pasangan Kekasih” dan pagar berbentuk "LOVE" digantung dengan banyak gembok pasangan.


"Natsume-kun, kamu tidak suka acara-acara romantis begini?"


"Tidak juga......kupikir kalau dengan orang yang kusukai, tidak masalah. Bahkan kalau nanti jadi sejarah memalukan ketika dewasa, hari-hari yang kuhabiskan bersama orang yang kusayang tetap berharga."


"Maaf ya hari ini cuma sama aku. Natsume-kun pasti mau datang dengan orang yang kamu sukai suatu hari nanti kan~"


Senpai yang terlihat menyesal minta maaf dengan suara lemah. Aku yang berdiri di samping cuma tersenyum canggung, karena kalau tidak, perasaan asliku yang selama ini kutahan mungkin akan keluar.


Sekarang, aku benar-benar datang bersama orang yang kusukai—begitu.


"Senpai, kenapa datang ke rumahku?"


Aku ingin tahu alasannya mengacaukan hati murni si junior ini.


"Entahlah, mungkin begitu. Aku dengar dari Touri-chan kalau belakangan Natsume-kun jadi malas."


"......Itu saja?"


"Selain itu, aku merasa wajahmu kemarin terlihat kesepian."


"Wajah kesepian......tidak juga kok."


"Oh begitu. Jadi ini karena aku terlalu protektif, sampai khawatir."


Senyum penuh percaya diri ala kakak perempuan memberiku sensasi seakan semuanya bisa dibaca olehnya.


"Datang ke tempat ini juga, entahlah......begitu?"


"Ya, di tempat ini sebenarnya tidak ada keperluan apa-apa. Sungguh......aku cuma ingin mampir sebentar."


Seolah tenang. Tapi—


"Kalau aku pulang kampung, aku selalu berusaha mampir. Karena ini tempat yang aku suka."


Suara yang seakan diperas keluar itu......terseret pergi ke laut malam.


"Nii-san juga......menyukai tempat ini."


Ucapanku juga sempat tersangkut di tenggorokan, tapi kuhembuskan dengan tenang.


"Ya, aku tahu."


Haru-senpai mengangguk sangat pelan,


"—Karena itu aku juga menyukainya. Karena ini tempat kenanganku bersama kakakmu......Seitarou-senpai."


Setetes air mata mengalir di pipinya.


"Kadang-kadang......kamu terlihat seperti Seitarou-senpai. Punggungmu ketika mengendarai motornya benar-benar mirip."


"......Karena aku adiknya, kalau aku naik Rabbit milik Nii-san mungkin kesannya jadi mirip."


"Karena kalian kakak-beradik, sebenarnya bukan hal aneh. Tapi bayangan kalian berdua suka tumpang tindih......aku tidak bisa menghindarinya."


Senpai menutupi wajahnya dengan telapak tangan, menyembunyikan ekspresinya yang rapuh.


Aku tidak sanggup memandangnya langsung.


Aku secara refleks terdorong untuk mengalihkan pandanganku, melepaskan tatapan bingungku ke arah garis cakrawala.


"Yang ada di sini adalah Natsume-kun, adik kelas yang manis. Aku tahu itu......tapi mungkin bagiku, jam masih berhenti di musim panas terakhir ketika orang itu masih ada."


Apakah karena bayangan kakakku tumpang tindih dengan diriku, Haru-senpai ingin singgah di tempat ini?


Saat ini, yang berada di sisi Haru-senpai adalah Shirahama Natsume.


Padahal aku bukan Shirahama Seitarou, kakak yang dulu begitu “aku benci”.


Cinta pertama Haru-senpai takkan pernah terwujud.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Begitu pula dengan cintaku yang bertepuk sebelah tangan, itu takkan pernah terjadi.


Karena kakakku, Shirahama Seitarou......sudah meninggal setahun lalu.


Meski Haru-senpai menangis, bahkan memeluknya dengan lembut pun adalah sesuatu yang tak bisa kulakukan.


Itu bukan peranku.


"Aku sepertinya......masih belum dimaafkan."


"Apa......maksudnya?"


"Aku sepertinya tidak punya hak untuk melupakan cinta tak berbalas yang sudah lama berakhir."


Haru-senpai......sedang melihat ke mana?


Di ujung permukaan air hitam tempat pandanganmu terpaku, tidak ada apa-apa.


Terlebih lagi, tidak mungkin ada kehadiran manusia di sana.


Rasa takut seolah dia akan terseret ke laut, dan perasaan bahwa dia bisa menghilang jika aku mengalihkan pandanganku sesaat saja, membuatku tak sanggup memalingkan mata dari senpai yang menatap Teluk Tokyo itu.


Dengan ponsel yang kau tempelkan ke telinga setelah mengeluarkannya dari saku—sambil meneteskan air mata yang begitu indah—suara siapa yang sedang kau dengarkan?


"Aku sudah tidak menyukainya, aku pikir sudah benar-benar melupakannya......tapi bayangannya tidak mau hilang."


Yang Hirose Haru rindukan adalah "yang asli" yang telah tiada, sedangkan aku hanyalah "yang palsu" yang menyelinap masuk ke tempat seseorang yang asli, menirunya tanpa pantas.




"Tolong buat aku melupakan cinta pertamaku yang sudah berakhir......Kouhai-kun."




Meski begitu—jika Haru-senpai bisa melupakan sedikit saja kesedihan dan rasa kehilangan itu, aku tidak apa-apa meski sebagai Shirahama Natsume aku takkan pernah mendapat balasan.

    ******


Setelah mengantar Haru-senpai sampai rumah keluarga Hirose, aku turun dari motor di jalan dekat rumahku.


Aku ingin mendinginkan perasaan yang kusut dan bercampur aduk ini.


Sambil mendorong Rabbit yang mesinnya sudah kumatikan, aku berjalan pelan di jalan malam yang hanya diterangi lampu jalan.


Jalan Mimachi yang sepi tanpa siapa pun pada tengah malam.


Siluet seseorang berseragam—yang terasa tak cocok dengan tempat ini—muncul di hadapanku, membuatku refleks berhenti melangkah.


"Sekarang bukan jam bagi anak SMP untuk berkeliaran, tahu."


"Anak SMA juga tidak boleh jalan-jalan jam seginiii."


Yang berdiri di hadapanku adalah......Umika.


Padahal dia seharusnya orang yang sama dengan Tanuki-chan yang bermain game denganku beberapa jam lalu, namun sosoknya yang berdiri dengan kesedihan di mata terasa seperti orang lain.


Aku terseret oleh atmosfer berat yang disandang gadis yang lebih muda itu, sampai-sampai tak mampu lagi bercanda.


Telapak sepatu terasa seakan terikat pada aspal yang kuinjak kuat-kuat.


Butiran keringat yang menggenang mengalir turun.


Padahal malam musim panas, namun bulu kudukku berdiri, membuatku merasa seolah panas itu lenyap.


Hiasan rambut berbentuk lumba-lumba itu diselimuti cahaya bulan, memancarkan aura yang ganjil.


"Aku ternyata bukan tanuki, tapi sepertinya lumba-lumba."


Aku tak langsung bisa memahami apa maksud ucapannya.


"Sejak kamu melihat wujudku......tidak, sejak pertama kali kamu bisa melihatku, ‘cinta tak terbalas yang berhenti’ milikmu, anak muda Natsume, mau tak mau mulai bergerak kembali."


"Apa maksudmu......?"


"Kamu sadar, kan, bahwa semuanya benar-benar mulai bergerak? Apa kamu pikir semua itu kebetulan?"


Kembalilah ke nada bicaramu yang santai dan menyebalkan itu.


Berhentilah berbicara dengan tenang sambil menancapkan fakta-fakta itu.


Bukan begitu, kau bukan karakter yang cocok bersikap seperti itu.


"Mempertahankan keadaan sekarang sudah tak mungkin. Cinta tak terbalasmu hanya punya dua pilihan, bergerak lagi oleh tanganmu sendiri, atau hilang untuk selamanya."


"Itu cuma bercanda, kan? Kau hanya menggodaku......? Aku tidak akan marah, jadi bilang yang sebenarnya."


"Tidak apa kalau mau marah. Kalau itu bisa membuatmu lega, kamu boleh memanggilku pembohong sebanyak yang kamu mau.......tapi apa yang kukatakan tidak akan berubah."


Ini bukan akting kelas peraih Academy Award.


Perubahan warna suara, perbedaan halus di ekspresinya, tatapan yang menembusku......tak satu pun itu adalah Umika yang kukenal.


Atau jangan-jangan, justru wujudnya yang nakal dan suka menggoda itu yang merupakan perannya?


"Siapa kau sebenarnya......?"


"Aku semacam lumba-lumba pembawa keberuntungan. Katanya, kalau seseorang menemukanku, ‘cinta tak terbalas yang terhenti akan mulai bergerak lagi’."


"Makhluk yang cukup samar, ya......"


"Aku sendiri juga tidak terlalu memahaminya. Mereka yang bisa mengenaliku jumlahnya sedikit, tanpa kecuali adalah orang-orang yang memiliki perasaan tanpa tujuan atau cinta yang stagnan."


Kisah ini terlalu tak masuk akal, aku tak bisa menelannya mentah-mentah.


Karena dari sudut mana pun kulihat, dia tetap tampak sebagai manusia biasa.


"Mau kuberitahu apa yang terjadi pada orang-orang itu?"


Ingin tahu jawabannya......aku mengangguk pelan.


"Keadaan stagnan yang tak bisa diubah itu akan mulai bergerak dan membaik......atau berubah menjadi akhir terburuk bagi mereka. Masa depan hanya punya dua pilihan itu. Bagaimanapun, semuanya akan bergerak secara paksa."


"Berhentilah......itu bantuan yang justru menyusahkan."


"Mau dibilang begitu pun, aku tak bisa melakukan apa-apa. Ini seperti ‘kutukan’ yang aktif ketika aku dan orang rumit seperti dirimu saling terikat."


"Maksudmu, itu sebenarnya jati diri si lumba-lumba pembawa keberuntungan itu......?"


"Itu hanya sebutan yang muncul begitu saja. Karena aku memakai hiasan rambut lumba-lumba dan sering muncul di tepi pantai Kisarazu......mungkin dinamai begitu supaya jadi cerita yang menarik saat rumor menyebar."


Kekacauan mendadak itu menimbulkan rasa pusing, tapi aku bahkan tak punya tenaga lagi untuk menolak secara membabi buta.


Orang-orang yang tampaknya baru pulang kerja atau minum lewat di dekatku, menatapku dengan pandangan curiga dari sudut mata, atau menjauh seolah menghindari orang berbahaya.


"Tampaknya seperti akan muda Natsume sedang mengoceh sendirian di jalan tengah malam, kan?"


Benarkah mereka tidak bisa melihatnya......wujudnya, selain olehku.


Dan suara sombongnya, apakah mereka juga tak mendengarnya?


Berbeda dariku yang memakai pakaian biasa dan helm, Umika jelas-jelas mengenakan seragam SMP......namun bahkan polisi yang berpatroli malam pun tak menoleh padanya.


"Maaf! Di sana ada anak SMP, kan......?"


Kupanggil mereka, siap-siap jika dianggap perlu dibina.


"Tolong jangan bicara yang menyeramkan begitu......tidak ada siapa pun, kan?"


Mereka memberi tatapan jelas seolah aku orang berbahaya dan pergi tanpa menanggapiku.


Aku mencoba mengarahkan kamera ponsel ke Umika......namun yang terlihat hanya trotoar remang dan bayang-bayang perumahan.


Ingin menertawakan semua ini sebagai khayalan remaja......namun semua alasan untuk menyebutnya omong kosong lenyap satu per satu.


"Tunggu dulu......Haru-senpai juga bisa melihatmu, kan? Kalau begitu......"


"Haru Nee-san juga punya ‘cinta tak terbalas yang berhenti’. Nak muda Natsume pasti sangat tahu siapa yang dimaksud."


"Cinta tak terbalas Haru-senpai tidak mungkin bergerak lagi!! Karena orang yang dia suka......kakakku......semuanya sudah berakhir! Cinta pertamanya sudah......!!"


"Kamu benar, tapi akan terjadi ‘fenomena yang tak bisa dijelaskan oleh logika’. Ada tujuh musim aneh yang sejauh ini terkonfirmasi. Salah satu musim itu akan datang dan menghancurkan keadaan stagnan kalian."


Ini bantuan yang justru menyusahkan.


Selama menutup mata pada cinta yang tak punya tujuan......selama menahan sampai semuanya memudar, keadaan diam itu tidak akan melukai siapa pun atau merusak hubungan. Itu satu-satunya cara untuk menjaga ketenangan hati.


"Aku tahu ini menyusahkan. Tapi......aku tak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kulakukan hanya mengawasi sambil berharap cinta kalian dapat terbalaskan."


Karena itu, kau──


"Maaf ya......karena aku, kalian akan merasakan kesakitan."


Jadi setiap kali kami bertemu, dia selalu meminta maaf dengan tatapan sedih seperti itu.


Hanya dengan keberadaannya yang tidak normal, dia bisa membelokkan hubungan dan masa depan seseorang.



"Sebentar lagi akan dimulai. ‘Musim panas fatamorgana’, ketika seseorang yang seharusnya tak mungkin kau temui lagi......akan muncul."


Akhir Bab 1

Post a Comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 1.4"