Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 4.3
Bab 4 - Hari Kedua Perjalanan Ulang Tahun
Dua setengah jam setelah beranjak dari lahan basah—
Sesampainya kembali di penginapan, hal pertama yang kami lakukan adalah pergi ke pemandian dalam ruangan untuk membasuh keringat.
Waktu itu bulan Mei, dan meski kami berada di hutan sejuk di dataran tinggi, berjalan sejauh itu tetap membuat tubuh mengeluarkan banyak keringat.
Saat mendaki aku tidak begitu menyadarinya, tapi begitu melepas jaket di penginapan, aku melihat kausku sudah basah kuyup.
Rasanya bukan hanya tidak nyaman—aku juga ingin meredakan kelelahan yang pelan-pelan menumpuk tanpa kusadari.
“Sepertinyaa besok akan pegal......”
Aku merendam tubuh di air panas, sambil memijat kaki perlahan.
Tubuhku lebih lelah daripada yang kukira, tapi ada kenikmatan tertentu yang menyertai rasa letih itu.
Mendadak aku bisa memahami kenapa orang-orang ketagihan trekking dan mendaki gunung.
Momen ketika kau mencapai pemandangan luas yang menakjubkan hanya dengan kekuatan kakimu sendiri—perasaan takjub, bercampur dengan kelelahan yang terasa justru menyenangkan—memberikan kepuasan yang tak bisa ditemukan di tempat lain.
Sepertinya tidak buruk kalau setelah ujian masuk nanti aku pergi mendaki lagi bersama Aoi-san.
“Baiklah......saatnya keluar.”
Setelah berendam sekitar tiga puluh menit dan tubuhku benar-benar hangat, aku pun bangkit dari pemandian.
Sebenarnya aku masih ingin berendam sedikit lebih lama, tapi waktu makan malam sudah semakin dekat.
Sambil duduk di ruang istirahat di depan pintu masuk, aku menunggu sambil menyesap susu kopi yang kubeli dari mesin penjual otomatis. Tak lama kemudian, Aoi-san keluar dari pemandian juga.
“Maaf sudah membuatmu menunggu.”
“Aku juga baru keluar, jadi tidak apa-apa.”
Sambil bergandengan tangan, kami kembali menuju kamar.
“Sepertinya nanti setelah makan malam ada sesi melihat bintang.”
“Sesi melihat bintang?”
“Iya. Tapi bukan acara formal atau apa. Kalau kita daftar, mereka meminjamkan kursi dan set unggun. Intinya hanya duduk di sekitar api unggun sambil menatap langit malam. Mau ikut?”
“Sepertinya seru. Aku mau.”
“Baik. Nanti sebelum makan malam aku bilang ke mereka.”
Setelah itu, kami kembali ke kamar, bersiap-siap, lalu menuju ruang makan.
Di meja resepsionis, aku memberi tahu kalau kami ingin ikut kegiatan melihat bintang, kemudian kami pun masuk ke ruang makan.
*
Setelah makan malam, kami menuju lokasi acara melihat bintang.
Tempatnya hanyalah sebuah area lapang di tepi sungai di depan penginapan—tidak jauh sama sekali.
Begitu melangkah keluar pintu depan, seorang staf sudah menunggu. Setelah kami menyebutkan nama, mereka mengantar kami ke tempat duduk.
Saat berjalan dalam gelap, aku melirik sekeliling. Di sana-sini terlihat cahaya api berkobar lembut, dengan suara kayu terbakar yang pelan namun jelas terdengar.
“Ini tempat kalian.”
Tempat yang ditunjukkan adalah sebuah area terbuka sedikit ke arah hulu sungai.
Dua kursi kemah model reclining sudah dipasang dengan jarak yang cukup jauh dari para tamu lain, lengkap dengan sebuah fire pit dan tumpukan kayu bakar. Di dalam pit, kayu dan pemantik sudah ditata rapi—siap tinggal dinyalakan.
Setelah staf memberi penjelasan singkat tentang cara menyalakan api, kami pun mulai bekerja.
Api langsung menyambar, dan dalam sekejap cahaya hangatnya menerangi area di sekitar kami.
“Sepertinya ini pertama kalinya aku membuat api unggun beneran,” kataku.
“Aku juga......Melihat api begini rasanya menenangkan,” jawab Aoi-san.
Kami mendengarkan bunyi kayu yang retak pelan, menonton nyala api menari tertiup angin, ditemani suara aliran sungai dan serangga yang bersahutan di kejauhan.
Ketika menengadah, langit dipenuhi bintang—banyak sekali, seolah siap jatuh kapan saja.
“Indahnya......”
“Iya......”
Kami menyandarkan tubuh pada kursi masing-masing dan bercakap pelan di bawah cahaya bintang.
Setelah beberapa saat, Aoi-san berbisik dengan nada sedikit sendu,
“Besok pagi......kita harus pulang ya......”
“Rasanya terlalu cepat......”
Setiap kali aku bersama Aoi-san, perasaan itu selalu datang.
Waktu yang menyenangkan benar-benar berlalu begitu cepat—bahkan lebih cepat daripada yang bisa diungkapkan kata-kata.
“Liburan ini lumayan untuk menyegarkan kepala sebelum ujian. Setelah pulang, kita harus belajar keras.”
“Iya. Demi masa depan kita—dan demi janji itu.”
“Mm......”
Saat obrolan mengarah ke urusan ujian, sesuatu yang sejak tadi ingin kutanyakan tiba-tiba terlintas kembali.
Sekarang sepertinya waktu yang tepat.
“Ngomong-ngomong, aku mau tanya sesuatu dari tadi.”
“Apa?”
“Kamu mau daftar universitas mana, Aoi-san?”
Terakhir kali kutanya, dia masih mempertimbangkan beberapa pilihan.
Aku sendiri sudah bilang padanya universitas pilihanku, tapi sejak itu aku belum mendengar perkembangannya lagi.
Kupikir sekarang dia pasti sudah memutuskan, jadi aku bertanya sekali lagi.
“Yah......”
Aoi-san tampak sedikit bingung dan memalingkan pandangan.
Lalu dia mengangkat satu jari ke bibirnya dan tersenyum.
“Itu rahasia.”
“Eh......?”
Ada sesuatu yang nakal di balik senyum itu.
“Kapan kamu akan memberitahuku?”
“Nanti, setelah aku lulus ujian.”
“Kamu mau merahasiakannya sampai lulus!?”
“Ya. Betul sekali.”
Strategi menggoda jangka panjang, rupanya.
Melihat ekspresinya, aku yakin meski pun terus mendesak, dia tidak akan berubah pikiran.
Sempat terpikir untuk bertanya ke Izumi atau Eiji, tapi itu rasanya curang.
Kalau dia sengaja merahasiakan dariku, kemungkinan besar dia juga sudah minta mereka untuk tutup mulut.
Lagipula, mengenal mereka......sekalipun aku yang bertanya, mereka tidak akan bocor.
Atau mungkin—mungkin saja dia bahkan belum bilang pada mereka juga.
“Tapi......minimal itu pasti universitas di Tokyo, kan?”
“Iya. Itu sudah pasti.”
Mendengar itu, aku cukup lega.
Aku bisa mencoba bertanya lagi nanti, kalau saatnya sudah tepat.
Tinggal satu masalah lagi—
“Kita harus cari waktu yang pas untuk bilang ke orang tua soal tinggal bareng nanti.”
Dalam banyak hal......itu mungkin tantangan yang lebih besar daripada ujian masuk itu sendiri.
Biasanya, mengatakan ingin tinggal bersama pacar setelah masuk kuliah itu......jelas bukan hal yang mudah diterima.
Mereka mungkin bilang itu bisa mengganggu studi, atau menyuruh kami menunggu sampai mandiri secara finansial.
Kalaupun tidak menolak mentah-mentah, mereka pasti tetap berusaha menasihati kami dengan berbagai alasan.
Saat aku memikirkan bagaimana caranya kami bisa mendapatkan izin—
“Aku sebenarnya sudah bicara dengan Nenek soal itu.”
“Hah—?”
Jantungku langsung berdebar kencang mendengar kata-kata yang sama sekali tidak kuduga.
“Apa yang Nenek bilang......?”
“Dia bilang tidak apa-apa, selama itu denganmu, Akira-kun.”
“Benarkah!?”
“Iya. Waktu aku bilang mau kuliah di Tokyo, beliau memang terlihat khawatir......tapi saat kukatakan bahwa aku ingin tinggal bersamamu, beliau malah kelihatan lega. Beliau benar-benar percaya padamu.”
“Aku mengerti......Syukurlah.”
Perpaduan antara terkejut dan lega membuat seluruh tubuhku terasa melonggar.
Untung saja aku sedang berbaring di kursi lipat—kalau tidak, mungkin lututku sudah goyah.
“Aku sudah bilang ke Ayah kalau aku ingin kuliah di Tokyo, tapi soal ingin tinggal bersamamu......aku belum bilang. Aku ingin membicarakannya langsung, bukan lewat telepon.”
“Kalau kamu bicara dengannya, aku akan ikut.”
“Benarkah?”
“Iya. Aku ingin melakukan ini dengan benar.”
“Terima kasih......”
Kalau aku berniat mengurus putrinya, maka aku harus menunjukkan kalau aku benar-benar serius.
Mungkin setelah ini aku harus menghubungi Ayahnya dan meminta waktu untuk bertemu.
Setelah itu, kami duduk berdampingan di depan api, menatap langit berbintang sambil mengenang kembali perjalanan dua hari ini.
Kami membicarakan betapa menyenangkannya berjalan di tengah alam, bagaimana air panas di pemandian terasa luar biasa dan sepertinya harus kami kunjungi lagi besok pagi, bagaimana setiap hidangan terasa menyehatkan......
—Dan entah kenapa, semuanya terasa seperti sebuah mimpi yang terlalu indah untuk berakhir.
......Hidangan lezat dari hasil bumi pegunungan, dan bagaimana rawa dataran tinggi itu akan menjadi tempat yang takkan pernah kami lupakan.
Sekitar satu jam berlalu. Kayu bakar di perapian mulai menipis, nyalanya meredup perlahan. Kami menghabiskan beberapa menit terakhir hanya dengan menatap langit penuh bintang, sampai akhirnya api benar-benar padam.
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Sesi menatap bintang yang begitu menyenangkan itu perlahan berakhir.
“Aoi-san, kita kembali ke kamar?”
“.......”
Aku memanggilnya, tapi tidak ada jawaban.
“Aoi-san?”
“......Ah.”
Saat kupanggil lagi, Aoi-san tiba-tiba bangkit dengan kaget.
“Maaf. Saking nyaman dan tenangnya......aku ketiduran sedikit.”
“Wajar kok, dengan langit seindah itu.”
Kami mengembalikan perlengkapan yang dipinjam, lalu masuk kembali ke dalam penginapan.
“Aku mau ambil minum dulu. Kamu duluan saja ke kamar.”
“Baik. Oke.”
Aku menyerahkan kunci kamar padanya dan berjalan menuju lobi sendirian.
Sebenarnya, aku merasa sedikit bersalah mengatakan aku mau membeli minuman......karena itu bohong.
Bukan karena aku berniat buruk—malah sebaliknya. Ada kejutan kecil yang sudah kusiapkan.
Sebuah kejutan yang hampir semua orang pasti harapkan di hari ulang tahun mereka.
“Permisi. Saya ingin mengambil pesanan yang sudah saya minta sebelumnya.”
“Baik, mohon tunggu sebentar.”
Tak lama kemudian, staf penginapan itu kembali membawa sebuah kue kecil—kue utuh berukuran pas untuk dinikmati berdua.
Itu kue ulang tahun yang sudah kuatur sebelumnya lewat telepon ketika membuat reservasi.
“Terima kasih sudah menunggu. Mohon hati-hati membawanya.”
“Terima kasih banyak.”
Dengan kedua tangan, aku menerima kotak kue itu dengan hati-hati—berusaha sekuat mungkin agar kejutan kecil ini tiba di kamar tanpa cacat.
Aku membawa kue dan lilin itu lalu kembali ke kamar.
Di depan pintu, aku menancapkan lilin-lilin kecil di atas kue dan menyalakannya satu per satu, kemudian membuka pintu dengan hati-hati.
Tanpa membuat Aoi-san menyadari kehadiranku, aku menyelinap masuk dan mematikan lampu lewat sakelar dekat pintu masuk.
“Huh—?”
Suara terkejut Aoi-san terdengar di kegelapan.
Tapi kurasa dia langsung memahami apa yang sedang terjadi.
Dengan langkah pelan, aku meletakkan kue itu di atas meja dan duduk di sampingnya.
Bahkan dalam cahaya yang temaram, aku bisa melihat senyum yang merekah di wajah Aoi-san, berpendar lembut bersama cahaya lilin.
“Aoi-san......selamat ulang tahun.”
“Aku bahagia sekali......Terima kasih.”
Setelah dia meniup lilin-lilin itu, aku menyalakan lampu kembali.
Lalu aku mengeluarkan sebuah hadiah dari tas dan menyodorkannya padanya.
“Ini hadiah ulang tahunmu.”
“Terima kasih. Boleh aku buka?”
“Tentu.”
Aoi-san membuka pita lalu menyingkap kotaknya.
“Imut sekali......Bingkai fotonya cantik banget.”
Dia tersenyum hangat, benar-benar terlihat senang.
“Waktu di lahan basah itu......kita sempat bilang, kan? Aku yakin kamu dan aku akan pergi ke banyak tempat bersama, dan menciptakan begitu banyak kenangan. Menyimpan semua itu di ponsel atau di dalam hati memang tak buruk, tapi kurasa akan indah juga kalau kita mencetaknya, menjadikannya sesuatu yang bisa disentuh.”
Zaman sekarang, foto bisa dilihat kapan saja lewat ponsel.
Ada yang menganggap mencetaknya merepotkan, ada pula yang bilang foto akan memudar dan lebih baik disimpan sebagai data.
Setiap orang punya pendapat masing-masing.
Tapi untuk kita—yang akan hidup terpisah—aku merasa ada makna tersendiri dalam memiliki sesuatu yang bisa disentuh.
Tidak seperti kebanyakan pasangan yang bisa bertemu kapan saja, kita tidak punya kemewahan itu.
Justru karena itu, aku ingin kita punya foto yang bisa dilihat kapan saja......sesuatu yang membuat kita merasa dekat kembali.
“Jadi aku tidak hanya membelikan satu untukmu—aku membeli satu untuk diriku juga.”
“Kamu membeli bingkai foto yang sama denganku, Akira-kun?”
Aoi-san memeluk bingkai itu lembut di dadanya.
“Kalau begitu......ayo kita pasang foto yang sama.”
“Ya. Ayo pilih satu dari foto-foto yang kita ambil selama perjalanan ini.”
Sambil menikmati kue, kami melihat kembali foto-foto dari dua hari terakhir.
Jumlahnya ternyata jauh lebih banyak dari yang kami kira, dan beberapa begitu manis sampai-sampai kami sendiri malu melihatnya—padahal itu foto kami.
Kami tertawa, mengingat bagaimana belum lama ini, bahkan menggenggam tangan saja membuat kami gugup, dan pada akhirnya, kami memilih foto yang sama, foto yang kami ambil bersama saat perjalanan pulang dari lahan basah.
“Melihatnya lagi......fotonya memang indah sekali.”
“Nanti akan kucetak dan kupasang di meja kamarku begitu kita sampai rumah.”
“Hmm......atau mungkin kita cetak saja dulu sekarang, di toserba, sebelum pulang.”
Setelah memilih foto itu, kami membiarkan suasana ulang tahun tetap menggantung lembut di udara.
Tanpa sadar, waktu sudah lewat pukul delapan tiga puluh malam.
“.......”
Malam telah turun. Itu adalah waktu ketika hari mulai terasa mereda.
Kami sama-sama terdiam, dan suasana di antara kami perlahan berubah.
Tanpa kata pun, kami tahu apa yang dipikirkan satu sama lain.
“Aoi-san......”
Dalam keheningan kamar, aku meletakkan tanganku di atas tangan Aoi-san.
Dia membalasnya dengan senyum lembut, menggenggam tanganku pelan—tanda yang lebih jelas dari kata-kata, bahwa perasaan kami sama.
Tubuh dan wajah kami perlahan mendekat, seolah ada sesuatu yang menarik kami satu sama lain.
Tepat saat bibir kami hampir bersentuhan—
Aoi-san tiba-tiba menarik diri.
“Um......aku rasa aku mau mandi lagi.”
“Hah......?”
Terhentak oleh jeda mendadaknya, aku hanya bisa mematung.
Serius? Sekarang?
“Aku merasa bau asap dari api unggun tadi masih menempel.”
“B-Benar......kalau begitu aku juga sekalian mandi.”
“Ya......terima kasih.”
Kami mengambil handuk masing-masing dan keluar dari kamar.
“Kalau aku sudah selesai......tunggu aku di kamar, ya?”
“Iya......baik.”
Dengan kata-kata itu, Aoi-san menghilang ke dalam kamar mandi dalam ruangan.
Aku melewati tirai dan masuk ke ruang ganti, melepas yukata sambil berpikir—
Ini dia. Momennya akhirnya tiba!
Aku mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam, tapi mana mungkin seorang cowok SMA yang sehat bisa tenang dalam situasi seperti ini.
Semakin aku berusaha rileks, semakin kencang detak jantungku.
Aku menggosok tubuh lebih teliti dari biasanya, lalu tenggelam ke dalam air hangat.
“Tanganku gemetaran.”
Rasanya gugup sekali sampai sulit berpikir jernih.
Tidak, pada titik ini, berpikir terlalu banyak juga tidak ada gunanya.
Perasaan kami sama. Sisanya tinggal membiarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya.
“......Baiklah!”
Aku hampir melompat keluar dari bak mandi karena bersemangat—tapi tunggu dulu.
Biasanya, perempuan mandi lebih lama daripada laki-laki. Kalau aku keluar terlalu cepat, aku cuma akan menunggu di kamar tanpa kepastian dan makin gugup.
Berendam yang sedikit lebih lama mungkin bisa pas waktunya.
Tapi kalau aku berendam terlalu lama, aku bisa kepanasan antara air panas dan jantungku yang terus berpacu. Jadi aku duduk di tepi bak mandi untuk mendinginkan diri. Bahkan sempat menyiramkan air dingin ke kepala—tapi itu sama sekali tidak membantu.
“Sepertinya sudah waktunya......”
Kira-kira tiga puluh menit kemudian, merasa waktunya pas, aku keluar dan kembali menuju kamar.
Saat tubuhku mulai dingin dari panasnya air, aku melihat lampu kecil di kamar tidur sudah menyala.
Aoi-san sudah kembali, berbaring di tempat tidur.
“Aoi-san......”
Aku duduk di tepi ranjang dan memanggilnya dengan lembut.
Namun tidak ada jawaban.
“......Aoi-san?”
Aku memanggil lagi, tapi tetap tidak ada reaksi. Heran, aku mendekat untuk melihatnya lebih jelas.
Dia bernapas pelan, wajahnya tenang.
“Dia......tertidur?”
Dia benar-benar sudah tidur—nyenyak, dari kelihatannya.
Mungkin sedang bermimpi yang indah, karena ada senyum kecil di bibirnya.
“......Ya. Wajar saja.”
Seluruh ketegangan di tubuhku langsung luruh.
Untung aku sedang duduk.
Kami banyak sekali berjalan hari ini—tentu saja dia lelah.
Jujur saja, aku bahkan heran bagaimana dia bisa bertahan tidak tidur sampai sejauh ini. Dia pasti menahan rasa kantuk hanya demi tetap terjaga bersamaku.
Perasaan kecewa dan lega bercampur jadi satu.
......Oke, kalau harus jujur, rasa kecewanya memang lebih besar.
Tapi tetap saja—tidak perlu terburu-buru.
“Selamat malam......”
Aku mengusap kepala Aoi-san dengan lembut, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, lalu melangkah keluar ke balkon.
Tidak mungkin aku bisa langsung tidur dengan semua energi yang masih menggelegak di dalam diri.
Sambil mendinginkan tubuh dengan angin malam, aku mengeluarkan ponsel, dan sesuatu terlintas di pikiranku.
Benar......sepertinya aku harus mencoba menghubungi ayah Aoi-san.
Waktu baru lewat pukul sembilan malam—masih jam yang wajar.
Aku mengirim pesan: Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan mengenai Aoi-san.
Kupikir ia baru akan membalas besok pagi, tapi mengejutkannya, balasan datang hampir seketika.
Setelah bertukar beberapa pesan singkat, aku akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar dan mencoba tidur.
Tapi rasa berdebar itu belum benar-benar hilang.
Aku baru tertidur jauh lewat tengah malam.
Akhir Bab 4

Post a Comment for "Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 4.3"