Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 3.5
Bab 3 - Hari Pertama Perjalanan Ulang Tahun
Sudah lewat pukul sembilan malam—
“Aoi-san......kamu benar-benar yakin soal ini?”
“Ya. Aku juga ingin melakukannya.”
Seorang laki-laki dan perempuan, berdua saja di kamar pada malam hari.
“Kalau begitu......ayo kita mulai.”
“Iya.”
Apa yang sedang kami lakukan, kau tanya?
“Aku senang bisa belajar bareng lagi, Akira-kun.”
Buku-buku panduan belajar terbentang di meja—kami sedang belajar.
““......””
Tunggu dulu.
Tolong dengar penjelasanku.
Pergi liburan semalam dengan pacarku untuk ulang tahunnya, berendam di pemandian air panas bersama, bahkan berbagi ciuman—dan setelah semua itu, kami belajar?
Ya, kalau ada yang bertanya apa yang sebenarnya sedang kulakukan, aku sama sekali tidak punya jawaban yang masuk akal.
Tapi......ada alasannya. Alasan yang sangat penting.
Semua ini kembali ke momen ketika aku meminta izin pada orang tuaku untuk pergi di hari ulang tahun Aoi-san.
Demi bisa mendapatkan izin apa pun yang terjadi, aku mulai belajar untuk ujian masuk lebih awal. Berkat usaha itu, akhirnya mereka mengizinkanku—seperti yang pernah kusebut sebelumnya.
Tapi yang belum kusampaikan adalah percakapanku dengan ayah waktu itu.
“Ayah, aku mau pergi liburan bareng Aoi-san untuk ulang tahunnya.”
“Ayah tidak masalah dengan perjalanannya......tapi bagaimana dengan persiapan ujianmu?”
“Tidak apa-apa! Aku akan bawa buku-buku belajarku dan tetap belajar di sana!”
Detik aku mengucapkan itu, aku benar-benar ingin mencekik diriku sendiri agar diam.
Kupikir ayah sedang menolak secara halus, dan karena panik......aku malah mengeluarkan kalimat itu begitu saja.
“......Kalau itu memang rencanamu, Ayah tidak punya keberatan.”
“Ah, t-terima kasih!”
Belakangan, aku baru tahu dari Ibu bahwa Ayah sebenarnya sama sekali tidak bermaksud menolak.
Dia hanya ingin memastikan perjalanan ini tidak akan mengganggu belajarku—dan kalau memang tidak, ia baik-baik saja dan berharap aku bersenang-senang.
......Kenapa tidak bilang begitu saja dari awal!?
Tetap saja, setelah aku terlanjur bilang akan belajar saat perjalanan, aku harus menepatinya—kalau tidak, rasanya seperti tidak jujur.
Setelah memutar otak memikirkan apa yang harus dilakukan, aku berbicara pada Aoi-san, dan dia berkata, “Kalau begitu, ayo belajar bareng.”
Dan begitulah kami sampai pada situasi sekarang.
Kalau saja aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan meninju diriku sendiri karena sok bicara.
“Maaf ya, aku membuatmu harus melakukan ini saat kita lagi liburan.”
Sambil menatap buku pelajaran, suasana hatiku turun seiring pandanganku.
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Maksudku, lelaki seperti apa yang belajar saat perjalanan romantis semalam dengan pacarnya?
“Jangan terlalu banyak minta maaf.”
“Tapi tetap saja......ini hanya kita berdua.”
“Aku senang kok bisa belajar bareng kamu seperti ini.”
Aoi-san tidak terlihat seperti hanya sedang bersikap baik.
“Kadang sepulang sekolah, aku tinggal dulu buat belajar bareng Izumi-san dan yang lain. Kami saling bantu kalau ada yang tidak mengerti, atau menemani seseorang supaya tidak malas. Alasannya beda-beda, tapi kadang kami tetap belajar bersama.”
Dia tersenyum saat bercerita, tapi kemudian ada bayangan lembut yang melintas di wajahnya.
“Dan setiap kali kami belajar seperti itu, aku jadi kepikiran......Kita berdua sama-sama berusaha keras untuk mewujudkan janji kita, tapi kalau Akira-kun ada di sana, kita bisa belajar bareng, saling bantu kalau ada yang tidak paham......kita bisa saling mendukung.”
“Aoi-san......”
“Aku bukan bilang kita tidak bisa saling mendukung hanya karena kita berjauhan. Aku tahu itu. Tapi......aku tidak bisa menahan diri merasa kalau suasananya pasti akan berbeda kalau kita bisa melakukannya bersama.”
“Itulah kenapa......bisa belajar bareng kamu hari ini saja sudah membuatku benar-benar bahagia.”
Ini mungkin terdengar seperti aku sombong, tapi aku harus mengatakannya.
Pacarku itu......benar-benar luar biasa.
“Kalau begitu, mulai sekarang ya?”
“Iya.”
Aku mengatur kembali pikiranku dan mulai belajar bersama Aoi-san.
Memang......ada beberapa pikiran yang sempat muncul di kepalaku, tapi untuk saat ini, kutepis dulu semuanya.
Kami ini siswa yang sedang mempersiapkan ujian, bagaimanapun juga.
Begitu mulai belajar, kami langsung fokus, berkonsentrasi dalam diam di meja itu.
Tanpa kusadari, satu jam pun berlalu—
“Hmm......”
“Ada apa, Akira-kun?”
Aku sedang memandangi satu soal sambil mengerutkan kening ketika Aoi-san menyadarinya dan berhenti belajar.
“Ada satu soal yang tidak bisa kupahami.”
“Yang mana?”
“Yang ini......”
Aoi-san mendekat untuk melihat halaman bukuku, mengangguk-angguk kecil sambil memperhatikan soalnya.
Beberapa saat kemudian, dia berkata, “Jadi, yang ini tuh—” dan mulai menjelaskannya padaku.
Aku mendengarkan, mengangguk mengikuti setiap langkahnya.
Beberapa menit kemudian—
“Bagaimana? Penjelasanku bisa dimengerti?”
Soal yang tadi membuatku kebingungan langsung terasa masuk akal setelah penjelasannya.
“Terima kasih, Aoi-san. Jadi jelas banget.”
“Aku baru belajar bagian itu belum lama ini, jadi senang bisa membantu.”
Entah kenapa......tiba-tiba ada rasa hangat yang mengalir di dadaku.
Dulu, waktu kami tinggal bersama, aku yang sering membantunya belajar. Izumi juga. Tapi sekarang, nilainya meningkat begitu jauh sampai-sampai dia yang menjelaskan sesuatu padaku.
Bukan berarti dia dulu buruk dalam belajar—hanya saja keadaan di rumah membuatnya sulit berkonsentrasi saat itu. Dan aku selalu tahu itu.
Justru karena itu, kemajuannya menunjukkan betapa besar usaha yang sudah dia lakukan.
Itu adalah bukti bahwa janji kami benar-benar berarti baginya.
“Makasih ya, Aoi-san.”
“Sama-sama.”
“Sebelum kita lanjut ke ronde berikutnya, istirahat dulu?”
“Ya, ide bagus.”
“Mau beli es krim? Mumpung kita sedang liburan.”
“Es krim!?”
Mata Aoi-san langsung berbinar begitu mendengar kata itu.
“Aku lihat ada yang jual di toko bawah.”
“Benarkah!? Aku mau!”
“Baik, ayo pergi.”
Aku mengambil dompet dan mengajak Aoi-san ke toko itu.
Menurutku, camilan rasanya jauh lebih enak saat jeda belajar—apalagi kalau sedang berusaha keras bersama orang yang kamu sayangi. Pikiran itu sedikit meringankan rasa bersalah yang sedari tadi kupendam.
Setelah itu, kami makan es krim kami, lalu kembali belajar seiring malam yang terus merayap.
Sejujurnya, aku sempat berharap malam ini ada momen yang......lebih manis.
Tapi......yah, ini baru hari pertama. Tidak perlu terburu-buru.
Kalau sesuatu memang akan terjadi, kemungkinan besar besok—malam ulang tahun Aoi-san.
Kami belajar sampai jarum jam melewati tengah malam.
Akhir Bab 3

Post a Comment for "Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 3.5"