Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 3.4
Bab 3 - Hari Pertama Perjalanan Ulang Tahun
“Haa......sepertinya aku makan kebanyakan.”
“Kita sampai nambah nasi dan sup miso juga, soalnya.”
“Makanannya enak banget sampai aku tidak bisa berhenti.”
Setelah makan malam, kami kembali ke kamar. Sambil mengusap perut yang masih terasa penuh, kami langsung menjatuhkan diri ke sofa untuk beristirahat.
Sambil mengobrol tentang hari itu, kami sadar kalau di luar sudah benar-benar gelap. Aku bangkit untuk menutup tirai dan berjalan menuju jendela—hanya untuk menemukan bulan bundar bersinar di langit malam.
“Aoi-san, malam ini bulan cantik banget.”
“Ya?”
Saking indahnya, bukannya menutup tirai, aku malah membuka jendelanya.
Kami berdiri berdampingan memandangi bulan, ketika Aoi-san bersandar sedikit lebih dekat.
“Sejak matahari terbenam, jadi agak dingin, ya. Boleh aku bersandar ke kamu, Akira-kun?”
Pertanyaannya membuatku tertawa kecil.
“Aoi-san, bukannya kamu sudah bersandar dari tadi?”
“YA. Tapi kupikir tetap harus minta izin dulu.”
“Mulai sekarang, kamu tidak perlu tanya.”
“Kalau begitu......aku terima, ya.”
Aoi-san merapatkan lengannya ke lenganku dan memeluknya erat.
Untuk ukuran dirinya, ini manis sekali—hampir seperti manja.
Bukan berarti aku keberatan. Sebagai pacarnya, disenderi seperti ini jelas lebih dari sekadar menyenangkan. Jujur saja, melihat sisi lembut dan manja seperti ini membuatku sangat bahagia.
Mungkin karena suasana liburan yang membuatnya begitu.
Atau mungkin efek makan malam tadi benar-benar bekerja.
“Indah sekali ya. Menurutmu ini malam bulan purnama?”
“Sepertinya belum. Masih kurang sedikit.”
Aku mengecek ponsel—ternyata malam bulan purnama jatuh lusa, tanggal 6.
“Sayang sekali. Kalau besok, malam ulang tahunmu, pas bertepatan dengan bulan purnama, pasti sempurna.”
Ini adalah perjalanan menginap pertama kami berdua, khusus untuk merayakan ulang tahunnya.
Kalau saja waktunya pas dengan bulan purnama, pasti suasananya benar-benar sempurna.
“Tapi itu tidak penting,” kata Aoi-san.
Lalu dia menggenggam tanganku perlahan dan berkata dengan suara lembut,
“Kamu sudah membawaku ke sini......itu saja sudah sempurna. Aku tidak boleh berharap terlalu banyak.”
“Ya......kamu benar.”
Sambil berdiri memandangi bulan, aku membalas genggamannya, menekan jariku sedikit pada tangannya.
“Pemandian terbuka di bawah cahaya bulan......pasti rasanya luar biasa.”
“Ya, kedengarannya romantis banget.”
Aku mengecek waktu di ponsel—baru lewat pukul 19.30.
Sepertinya waktunya pas?
“Mau......kita pergi lihat pemandian luar sekarang......?”
Aku bertanya pelan, semacam mencari tanggapannya.
“Ya......ayo.”
Dia mengangguk, dengan sedikit rasa malu.
Saat itu, jantungku langsung melonjak.
—Akhirnya......saatnya benar-benar tiba!
Aku menahan gugup yang mulai naik dan bersiap sebelum keluar kamar.
Seperti kata Aoi-san tadi, lorong terasa dingin setelah matahari terbenam.
Aku teringat ucapan staf, “Pemanasnya masih harus dinyalakan,” dan sekarang aku benar-benar mengerti maksudnya.
Tapi jujur saja, dinginnya bukan satu-satunya alasan aku menggigil—sarafku juga tegang.
Mungkin Aoi-san juga merasakannya. Dia menempel erat di lenganku.
“Kita harus berendam benar-benar sampai hangat, ya.”
“Iya......”
Kami mengobrol ringan—topik yang remeh, mungkin karena kami berdua terlalu sadar akan apa yang akan terjadi setelah ini.
Entah karena gugup atau karena kesadaranku sedang menajam, semua terasa lebih jelas dari biasanya.
Aku menangkap hal-hal yang tadi tak pernah kusadari, suara serangga malam, bunyi lantai kayu berderit di bawah langkahku, bahkan gemericik sungai di depan penginapan terdengar lebih keras daripada tadi.
Dan yang paling terasa......adalah hangatnya tubuh Aoi-san menembus yukata kami.
“Sampai nanti di dalam, ya.”
“Oke. Sampai nanti.”
Meskipun mandinya campur, pintu masuk ke ruang ganti tetap dipisah berdasarkan jenis kelamin.
Di depan pintu itulah kami berpisah, dan aku masuk ke sisi laki-laki.
“Duh......aku benar-benar gugup......”
Aku menaruh kedua tangan di rak tempat keranjang-keranjang diletakkan dan menunduk, menatap lantai.
Tentu saja aku menantikannya. Jujur, sejak Izumi bilang soal penginapan ini, aku sudah diam-diam berharap.
Sejak tahu ada pemandian campur, semuanya berjalan lancar antara aku dan Aoi-san.
Kalau dia tak nyaman, dia pasti bisa memilih pemandian luar khusus wanita, tapi dia tidak melakukannya.
Fakta bahwa dia memilih ini......wajar saja kalau aku punya harapan.
Melarang anak laki-laki remaja untuk tidak berharap dalam situasi seperti ini? Mustahil.
“......Baiklah.”
Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu melepas yukata.
Setelah siap, aku melilitkan handuk di pinggang dan melangkah keluar menuju pemandian besar terbuka.
“Whoa......”
Begitu pintu geser terbuka dan aku melangkah keluar, kata itu spontan lolos dari mulutku.
Di tengah hutan, uap hangat naik dari permukaan air, memantulkan cahaya lentera yang redup dan lembut.
Dengan suara air panas mengalir dari beberapa titik, terbentang sebuah pemandian luas yang dikelilingi batu-batu besar.
Sumber airnya tampaknya berada lebih tinggi—air panas itu dialirkan melalui saluran bambu terbelah yang memanjang dari dalam hutan, mengucur masuk sambil mengeluarkan bunyi gemericik yang menenangkan.
Di bagian kiri belakang, ada air terjun kecil dengan perbedaan ketinggian.
Menaiki tangga di sampingnya, ada bath yang lebih kecil tempat orang bisa duduk sambil memandang air terjun dari atas.
Di sisi kanan, menuruni tangga lain, ada bath yang memungkinkanmu menatap air terjun dari bawah—itulah yang disebut “Pemandian dengan Pemandangan Air Terjun.”
Pintu masuk untuk wanita berada di sisi yang mengarah ke pemandangan air terjun, jadi aku masuk ke area itu dulu untuk menunggu Aoi-san.
Untungnya, sama seperti saat mandi dalam ruangan tadi, tidak ada tamu lain.
Harusnya sudah waktunya......
Aku berendam dengan tenang, menatap pintu yang memisahkan sisi wanita. Sekitar lima menit berlalu—
Pintu itu berderit terbuka, dan sebuah siluet muncul di balik kabut uap.
“Eh—?”
Kata itu meluncur begitu saja dari bibirku.
“Maaf membuatmu menunggu.”
Itu memang Aoi-san—tidak salah lagi. Dia akhirnya muncul di antara uap hangat.
Tapi......bukan seperti yang kubayangkan.
“Kamu......pakai baju renang?”
“Eh......?”
“Ah—!”
Begitu sadar apa yang baru saja kusebutkan, aku langsung menutup mulut dengan kedua tangan.
Aoi-san sepertinya langsung mengerti maksudku. Meski cahaya redup, rona merah di pipinya terlihat jelas.
“Di website penginapannya tertulis boleh memakai baju renang. Maaf......Kalau benar-benar hanya kita berdua, aku tidak akan memakainya. Tapi kupikir mungkin saja ada tamu lain......”
“B-Benar! Tentu saja!”
Dia sepenuhnya benar.
Memang tidak ada tamu lain sekarang, tapi kami tidak pernah tahu kapan seseorang bisa masuk.
Dan aku jelas tidak ingin orang lain melihat Aoi-san—dengan atau tanpa baju renang.
Melihat ekspresinya yang tampak sedikit bersalah, aku langsung panik dan buru-buru meminta maaf.
Orang bilang, “mulut yang ceroboh bisa menenggelamkan kapal”—dan tak pernah terasa seakurat ini.
Tapi......aku tak bisa mengabaikan hal yang dia ucapkan tadi.
—Kalau memang cuma berdua, aku tidak akan pakai......
Kalimat itu terus terngiang di kepala.
“Y–Ya, kalau begitu......kita masuk, ya?”
“Ya.”
Aoi-san melangkah perlahan ke dalam air lalu duduk di sampingku.
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Saat kami berdua tenggelam setengah tubuh dalam air hangat, napas kecil lepas dari bibir masing-masing.
“Airnya enak banget......”
“Y-Yah......ya, enak.”
“......”
Tak satu pun dari kami bisa menyambung percakapan.
“Aku masih agak malu, sepertinya......”
Aoi-san mengaku pelan, pipinya sedikit memerah.
“Ya......meskipun kita pernah mandi bareng sebelumnya, tetap agak canggung.”
“Pertama kali itu semester satu, kan? Setelah kalian semua bantu aku belajar dan aku berhasil tidak remedial, terus kita pergi ke onsen sehari itu.”
“Lalu waktu liburan musim panas, kita mandi bareng juga di villa keluarganya Eiji.”
“Oh, ya. Benar juga.”
“Aku ingat waktu itu aku kaget......tapi aku yakin itu pasti idenya Izumi, ya?”
Mengingat kembali, aku memutuskan menanyakan sesuatu yang tak pernah kutanyakan selama hampir dua tahun ini.
“Sebenernya......ya. Dia bilang, ‘Cara tercepat untuk makin dekat adalah mandi bareng!’ Berbeda dengan onsen sehari itu, waktu di villa aku bahkan tidak pakai baju renang, jadi rasanya super memalukan, tapi......”
Aoi-san tersipu, suaranya mengecil.
“Tapi......aku ingin lebih dekat denganmu, Akira-kun.”
Jadi benar, Izumi yang merencanakan semuanya.
Anak itu......selalu memanfaatkan Aoi-san yang polos dan mudah percaya, demi kesenangan pribadinya.
Bukan berarti aku keberatan—aku yang justru sering diuntungkan.
Kalau dipikir lagi......aku sebenarnya berutang banyak pada Izumi.
“Sudah hampir dua tahun sejak itu, ya.”
“Ya......rasanya jadi nostalgia.”
Kami terdiam sejenak, membiarkan kenangan menghangatkan suasana seperti uap yang naik dari permukaan air.
Meski tadi aku sempat kecewa karena melihatnya memakai baju renang, yang terasa lebih kuat sekarang justru perubahan suasana di antara kami.
Berbeda dari dulu—malam ini ada sesuatu yang lain.
Sebuah ketegangan lembut, ekspektasi samar......sesuatu yang membuat kami semakin sadar apa yang mungkin terjadi setelah ini.
“Berendam sambil melihat air terjun dari bawah seperti ini......luar biasa, ya?”
“Hmm. Tapi ada satu lagi di atas. Dari sana, kita bisa lihat air terjunnya dari samping waktu berendam.”
“Benarkah? Aku mau coba yang itu juga.”
“Ayo.”
Kami keluar dari bath yang berada di tepi air terjun dan menaiki tangga batu.
“Gelap, jadi hati-hati ya.”
“Iya. Makasih.”
Di puncak tangga, ada sebuah bak kecil berlapis batu, dengan atap kayu sederhana di atasnya.
Tempatnya tampak kecil—penuh hanya dengan empat orang—tapi airnya lebih dalam, cukup untuk merendam sampai bahu. Rasanya seperti tempat yang benar-benar bisa menghangatkan tubuh sampai ke inti.
Karena posisinya lebih tinggi, pemandangannya juga jauh lebih baik.
Air terjun yang diterangi cahaya tampak begitu dekat—begitu hidup—hingga terasa seolah kami bisa menyentuh percikan airnya.
Kami duduk berdampingan, diam-diam menikmati deru air jatuh hanya beberapa meter dari wajah kami.
“Sepertinya tidak banyak onsen yang bisa lihat air terjun sedekat ini, ya.”
“Ya. Izumi-san juga bilang, onsen yang dekat air terjun itu yang paling mantap.”
Bukan cuma air terjunnya—jika menunduk sedikit, kami bisa melihat ceruk sungai jauh di bawah, dan lembah gelap yang terbentang di baliknya.
Ketinggian itu terasa jelas, begitu dekat, begitu nyata—pemandangan yang kuat dan memukau.
“Airnya memang bagus banget, ya?”
“Rasanya seperti mandi pakai losion. Kulitku halus banget,” kata Aoi-san sambil menuangkan air ke lengannya dan mengusapnya perlahan.
Tadi aku tegang sekali duduk di sampingnya, tapi seiring waktu dan hangatnya air, ketegangan itu perlahan mereda.
Tidak lama kemudian, kami mengobrol seperti biasa—tenang, nyaman, tanpa jarak.
“Kalau aku......tidak terlalu kerasa yang seperti itu.”
Aku meniru Aoi-san, mengusap lenganku sendiri. Tapi ya......rasanya biasa saja.
Mungkin kulit pria dan wanita memang berbeda? Aku masih memikirkan itu ketika—
“Akira-kun, sini......coba kulitku.”
Dia mengulurkan lengannya ke arahku.
“B-Boleh......?”
“Boleh.”
Aku tahu dia tidak bermaksud macam-macam.
Dia hanya ingin aku mengerti apa yang ia maksud dengan halus—sederhana, jujur, dan khas dirinya.
......Tapi kepalaku, jujur saja, sedang penuh dengan pikiran lain.
“Kalau begitu......permisi.”
Aku menyentuhkan jari ke lengannya dan mengusap perlahan.
“Wah......”
Benar-benar halus.
Bukan cuma lembut—teksturnya licin, seperti sutra basah.
Sulit percaya ini kulit manusia.
Jujur......membuat ketagihan.
Karena terlalu terpesona, aku jadi mengusapnya lebih lama dari yang seharusnya.
“Nn......”
Aoi-san mengeluarkan suara kecil—lembut, hampir berbisik—dan itu langsung membuatku tersadar.
“M-Maaf!! Aku berlebihan, ya?!”
“T-Tidak, tidak apa-apa......”
Keheningan canggung itu kembali menyelimuti kami.
Padahal kami baru saja mulai merasa nyaman lagi, lalu aku malah merusaknya.
Beberapa saat kemudian, ketika kami berendam tanpa berkata apa pun, Aoi-san berbicara dengan nada ceria—mungkin untuk mencairkan suasana—sambil menunjuk ke langit.
“Akira-kun, lihat.”
“Hm?”
Aku mengikuti arah telunjuknya.
Di sana, di langit, tampak bulan yang sama indahnya dengan yang kami lihat dari kamar tadi.
“Cantik sekali......”
“Bahkan lebih cantik daripada saat kita melihatnya dari kamar.”
Mungkin terlihat seperti itu karena malam sudah semakin larut, suhu turun, dan udara jadi lebih jernih. Atau mungkin karena hal lain—uap yang naik dari pemandian membuat tepi bulan tampak sedikit kabur.
Bulan yang remang, hanya bisa dilihat saat berendam di malam hari.
Benar-benar pemandangan yang penuh suasana.
“Akira-kun......”
“Ya?”
“Terima kasih......sudah membawaku ke sini.”
“Tidak perlu bilang seperti itu secara formal.”
“Tidak......aku ingin mengatakannya. Sesering yang diperlukan.”
Aoi-san menurunkan pandangannya sedikit, suaranya ikut melembut.
“Kamu tahu......sudah lama sekali tidak ada yang merayakan ulang tahunku seperti ini.”
Hanya dari satu kalimat itu, aku paham kenapa dia menunduk.
“Terakhir itu sebelum orang tuaku bercerai......mungkin sepuluh tahun lalu?”
Saat ulang tahunnya masih menjadi sesuatu yang dirayakan keluarganya.
Meski keluarga mereka tidak sempurna, tetap ada kenangan saat mereka bertiga bersama.
Sepuluh tahun......
Ulang tahun seharusnya datang setiap tahun—sesuatu yang begitu wajar hingga ketika seseorang tak merayakannya selama itu, waktu yang dilalui pasti terasa jauh lebih berat bagi Aoi-san.
Tidak sulit membayangkan betapa sepinya tahun-tahun itu baginya.
“Itulah kenapa......aku sangat senang bisa dirayakan tahun ini.”
Ekspresinya berubah seketika, dan dia menampilkan senyum yang begitu bercahaya.
“Memang hanya dirayakan saja sudah cukup......tapi orang yang bersamaku adalah seseorang yang benar-benar aku cintai. Aku tidak bisa meminta lebih.”
Wajahku langsung terasa panas—bukan hanya karena ucapannya yang berterima kasih, tapi juga kata-kata yang menyusul setelahnya.
“Itu pertama kalinya kamu bilang kamu menyukaiku sejak menjawab pengakuanku, ya......”
“Kalau kamu bilang begitu......memang begitu, ya.”
“Mendengar itu dari pacarku bikin aku bener-bener senang.”
“Kalau begitu, mulai sekarang akan sering aku ucapkan.”
Aoi-san bersandar lembut padaku.
“Terima kasih, Akira-kun. Aku mencintaimu.”
“Terima kasih juga. Aku Aku mencintaimu, Aoi-san.”
Tatapan saling bertemu, wajah saling mendekat, dan tanpa perlu berusaha—
di bawah sinar bulan itu, kami berbagi ciuman pertama sejak libur musim panas lalu.
Ciuman keempat bagi Aoi-san.
Ciuman kedua bagiku.
Setelah itu, kami menikmati pemandian luar ruangan yang luas itu sekitar satu jam sebelum akhirnya kembali ke kamar.
Rasanya kami bisa berada di sana selamanya, tapi tamu lain datang, jadi kami mengalah.
Kembali di kamar, kami membuka jendela dan menenangkan tubuh yang memanas dengan angin malam.
Tanpa sadar, waktu sudah lewat jauh, dan rencana hari itu pun pada dasarnya sudah selesai.
Yang artinya, hal berikutnya sudah jelas.
*

Post a Comment for "Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 3.4"