Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 3.3

Bab 3 - Hari Pertama Perjalanan Ulang Tahun




Satu setengah jam setelah kami mulai berjalan—


Kami keluar dari hutan dan tiba di penginapan sekitar pukul 4:30 sore.


“Jadi ini tempat kita menginap.”


“Tempatnya punya suasana yang bagus sekali......”


Di hadapan kami berdiri sebuah penginapan kayu tua, berusia lebih dari seratus tahun—


berdiri tenang dan damai di tepi sungai di tengah pegunungan.


Bangunannya memang tidak terlalu megah, tapi jelas dirancang dengan hati-hati agar tidak mengganggu hutan di sekelilingnya. Ia menyatu begitu saja dengan pemandangan alam—kata tersembunyi di tengah hutan benar-benar pas untuk menggambarkannya.


Di depan pintu masuk berdiri sebuah pohon maple yang megah—landmark simbolis penginapan itu.


Karena kami berada di pegunungan, suasana sudah mulai temaram meski waktunya belum terlalu sore.


“Ayo check-in.”


“Ya—hm?”


Tiba-tiba saja, seekor anjing muncul.


Bulu tubuhnya sebagian besar putih dengan bercak cokelat dan hitam, terutama gelap di sekitar mata dan hidung, membuatnya tampak sedikit seperti rakun.


Bahkan, kalau melihatnya di kegelapan, mungkin seseorang bisa saja salah mengira itu rakun sungguhan.


“......Ini anjing, kan?”


Aoi-san juga terdengar ragu, suaranya naik seperti sedang bertanya.


Yah, aku pernah mendengar kisah orang yang mengira mereka memungut anak anjing liar, tapi begitu besar bentuknya makin mirip rakun. Dan ada juga yang tetap memeliharanya sambil meyakinkan diri bahwa itu memang anjing.


Jadi, wajar saja kalau kami ragu sesaat.


“Itu pakai kalung—mungkin milik penginapan?”


“Kalau tidak salah, situsnya bilang mereka punya anjing maskot.”


Aoi-san berjongkok dan mengusap kepala anjing itu dengan gemas.


Si anjing mengibaskan ekornya dengan riang, membiarkan dirinya dielus sepuasnya.


“Tenang sekali ya yang ini.”


“Ya. Aku ingat membaca bahwa dia terlalu tenang untuk dijadikan anjing penjaga.”


“Di tempat seperti ini, kurasa memang tidak terlalu butuh.”


Meskipun jujur saja, di tengah alam liar begini, aku merasa justru anjing penjaga akan makin diperlukan.


Tapi tentu saja, aku tak akan mengatakan sesuatu yang bisa merusak suasana.


“Sepertinya dia keluar untuk menyambut kita.”


“Sepertinya itu memang tugas si anak ini.”


“Terima kasih.”


Setelah Aoi-san selesai memanjakan si anjing dengan kasih sayang, kami pun berjalan menuju pintu masuk. Staf yang dengan ramah menunggu sampai momen kami bersama anjing itu usai lalu mempersilakan kami masuk. Di dalam, ruangannya—sama seperti bagian luarnya—dipenuhi sentuhan kayu hangat yang menyatu indah.


Yang membuat kami terkejut, meskipun sudah bulan Mei, sebuah penghangat ruangan masih diletakkan di samping meja resepsionis. Saat kami bertanya, staf menjelaskan bahwa pagi dan malam hari masih cukup dingin, jadi penghangat tetap diperlukan.


“Penjelasannya sampai di sini. Apakah ada pertanyaan?”


“Tidak, sejauh ini sudah cukup.”


“Kalau ada hal apa pun, jangan ragu untuk menghubungi kami.”


““Terima kasih banyak.””


Setelah menerima penjelasan lengkap tentang penginapan itu, kami menyusuri koridor panjang dan menuju kamar kami.


Begitu kami melangkah masuk—


“Wah......!”


Aoi-san mengeluarkan seruan takjub dan langsung bergegas masuk ke dalam ruangan.


Di hadapan kami berdiri tembok-tembok dari tumpukan batang kayu tebal. Interiornya menakjubkan, mengingatkan pada Finlandia—negara asal rumah log. Di ruang tamu ada sofa bergaya serta meja kayu, dan di kamar tidur terdapat dua tempat tidur single.


Dapurnya modern dan lengkap—tampak seperti tempat yang benar-benar bisa dipakai memasak.


Di luar jendela, terpampang dek kayu yang disinari cahaya matahari.


“Tempat ini keren sekali!”


Setelah melihat-lihat, suara Aoi-san penuh semangat.


Dia membuka jendela dan melangkah ke dek. Pemandangan hijau segar terbentang indah di depan matanya.


“Pemandangannya bagus sekali......”


Melihat Aoi-san begitu senang membuatku merasa lega.


Namun entah kenapa, sesaat kemudian bayangan tipis melintas di wajahnya.


“Tapi......tempat seperti ini pasti mahal, kan?”


Ah, jadi itu yang mengganjal pikirannya.


“Sebenarnya, penginapan ini sedang merayakan ulang tahun ke-100 tahun ini, jadi mereka mengadakan kampanye khusus. Biasanya, iya, agak mahal. Tapi kita dapat harga diskon spesial. Jadi kamu tidak perlu khawatir.”


“Begitu......syukurlah.”


Dia masih terlihat sedikit ragu, tapi sepertinya dia mengerti maksudku. Dengan senyum kecil, dia mengubah suasana hatinya.


“Terima kasih.”


Aku membalas dengan senyuman.


“Kita sudah banyak berjalan dan lumayan berkeringat, jadi bagaimana kalau kita ke onsen sebelum makan malam jam enam? Pemandian luar besar tidak ada area bilas, jadi kita bisa mandi di pemandian dalam dulu, lalu setelah makan baru menikmati rotenburo-nya.”


“Iya, kedengarannya bagus.”


Kami mengambil handuk dan yukata, lalu keluar dari kamar.


Pemandian dalam terletak di sepanjang koridor yang mengarah kembali ke resepsionis. Kami menyusuri lagi lorong panjang itu, dan mengikuti tanda-tanda di dinding, sampai menemukan sebuah pintu di ujungnya, lengkap dengan tirai bertuliskan “Pria” dan “Wanita.”


Di depannya ada ruang istirahat dan mesin minuman.


“Kita ketemu lagi di sini setelah mandi, ya.”


“Baik. Kira-kira kamu akan selesai berapa lama, Akira-kun?”


“Jangan pikirkan waktuku. Mandilah dengan santai, nikmati saja.”


Bagaimanapun, biasanya perempuan butuh waktu lebih lama untuk mandi.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Kupikir aku bisa menunggu sambil minum susu kopi di ruang istirahat.


“Baik. Terima kasih.”


Setelah bertukar “sampai nanti,” kami masuk ke ruang masing-masing.


Begitu melewati tirai menuju ruang ganti, aroma khas air onsen langsung menyentuh hidungku.


Area ganti hanya dipisahkan dari ruang pemandian oleh satu tirai—hampir seperti satu ruangan saja. Tidak heran aroma onsennya begitu kuat.


Aku menaruh barang-barangku ke dalam salah satu keranjang di rak. Kulihat sekeliling—keranjang lainnya kosong. Sepertinya saat itu aku benar-benar sendirian.


Aku melepas pakaian dan masuk ke dalam. Benar saja, tidak ada siapa pun.


“Ini paling mantap.”


Ada dua bak mandi kecil dari batu, dengan dua area bilas. Tidak mewah, tapi punya nuansa nostalgia seperti pemandian umum zaman dulu. Uap memenuhi ruangan, dan suara air yang mengalir ke dalam bak bergema lembut.


“Rasanya ingin langsung terjun, tapi harus bilas dulu.”


Menahan keinginan itu, aku menuju tempat bilas dan duduk di bangku kecil. Aku mencuci rambut dan tubuh dengan hati-hati, membilas semua keringat—baru kemudian perlahan masuk ke bak.


“......Ahhh.”


Begitu air hangat menyentuhku sampai bahu, aku tak bisa menahan desahan lega.


Awalnya terasa sedikit panas, mungkin karena tubuh belum menyesuaikan. Tapi begitu mulai rileks, kehangatannya meresap perlahan, melonggarkan setiap otot. Airnya terasa lembut di kulit—mineralnya ringan dan menenangkan.


Ketegangan di leher dan bahu akibat persiapan ujian perlahan mencair. Rasanya luar biasa.


Mungkin aku harus sekalian memesan pijat lewat room service nanti.


“Aku bisa betah di sini selamanya......”


Beberapa saat kemudian, aku bergumam seperti itu.


“Itu juga yang kurasakan—ingin terus berendam.”


Sebuah suara familiar terdengar dari balik dinding. Tidak perlu menebak siapa pemiliknya.


Aku menengadah—bagian atas dinding ternyata terbuka, membuat area pria dan wanita terhubung di langit-langit.


“Aoi-san, kamu sendirian juga?”


“Ya. Kupikir kamu juga sendirian, jadi aku manggil,” jawabnya.


Aku sempat mengeluarkan suara aneh tadi—benar-benar tidak menyangka bakal kedengaran. Untung itu hanya Aoi-san. Jantungku sempat hampir copot sesaat.


“Air di sana bagaimana?”


“Enak banget. Kulitku halus sekali—aku sampai kaget sendiri.”


“......Kulit halus, ya.”


Tanpa bisa ditahan, bayangan Aoi-san yang sedang dengan lembut mengusap kulitnya di dalam air muncul di kepalaku.


Kulitnya yang putih, garis lehernya yang anggun, memerah lembut oleh uap panas......lalu seluruhnya semakin halus karena mineral air panas......


Sekadar membayangkannya saja sudah cukup untuk membuatku hampir menerobos dinding.


“Akira-kun, kamu dengar?”


“Y-Ya! Dengar!”


Aku terlalu tenggelam dalam imajinasi sampai tidak sadar sama sekali.


Ini gawat......sejak sampai di penginapan, aku benar-benar kehilangan rasa malu.


Aku menegur diri sendiri—setidaknya bertahanlah sampai mandi luar nanti setelah makan malam.


Setelah mengobrol sebentar lewat dinding—


“Aku keluar duluan, ya. Aoi-san, santai saja, tidak perlu buru-buru.”


“Baik. Kalau begitu, aku berendam sedikit lebih lama.”


Kalau aku tetap di dalam, pasti akan pusing—entah karena panas, atau karena hal lain.


Aku keluar duluan dan mendinginkan badan di ruang istirahat sambil minum susu kopi. Setelah beberapa waktu, ketika tubuh dan pikiranku akhirnya tenang, tirai di area mandi wanita bergeser pelan.


“Maaf, sudah menunggu lama.”


Saat Aoi-san keluar sambil mengatakan itu, aku langsung terpaku menatapnya.


Mungkin karena tubuhnya masih hangat setelah mandi, yukata yang dia kenakan agak longgar, bagian kerahnya sedikit terbuka. Rambut hitamnya yang disanggul masih basah, dan dipadukan dengan semburat merah muda di pipinya, dia terlihat......luar biasa memesona.


Gambaran yang tadi hanya berputar di kepalaku......kini berdiri tepat di hadapanku.


Dia masih menyampirkan handuk di leher, jadi bagian tengkuknya tidak terlihat—tapi sama sekali bukan sesuatu yang perlu disesali.


Perjalanan ini masih panjang, dan kesempatan untuk bertemu kembali dengan tengkuk itu akan ada banyak sekali!


“Rambutku agak lama keringnya,” katanya sambil tersenyum.


“Tidak apa-apa. Masih banyak waktu sebelum makan malam.”


Aku mengecek ponsel—pukul 5.40 sore.


Kami memutuskan untuk balik sebentar ke kamar sebelum menuju ruang makan.


Saat kami tiba di ruang makan, beberapa tamu lain sudah mulai menikmati hidangan.


Ruangan itu dipenuhi deretan meja, dan ketika kami sedang mencari tempat duduk, seorang staf menghampiri. Setelah menyebutkan nama, kami diantar ke meja kami.


Aoi-san dan aku duduk berhadapan.


“Semuanya terlihat enak,” katanya sambil bersinar.


“Ya. Setelah jalan sejauh itu, aku jadi lapar.”


Di atas meja, berbagai hidangan sudah tersaji rapi.


Melihat menunya, jelas bahwa makan malam ini berfokus pada hidangan khas pegunungan.


Karena sedang musimnya, banyak sajian yang menggunakan sayuran liar dari hutan sekitar.


Ada tempura dari tara-no-me dan koshiabura, juga fuki miso—tunas fuki yang ditumis bersama miso dan mirin.


Lalu ada kogomi ohitashi—pucuk paku yang direbus ringan—dan banyak lagi hidangan musiman berwarna cerah yang ditata indah. Mata saja sudah kenyang melihatnya.


Selain itu ada sashimi lokal dari trout premium, dan iwana panggang garam.


Hidangan-hidangan yang jarang kami makan, membuat kami berdua semakin bersemangat.


“Semuanya keliatan luar biasa!” ujar Aoi-san sambil menatapnya dengan mata berbinar.


Mata Aoi-san berkilat—sisi foodie-nya muncul begitu jelas.


Dia tampak seperti hanya menunggu nasi dan sup miso tiba sebelum mulai menyerang semuanya.


“Aoi-san, lihat ini.”


Sambil menunggu, aku memperhatikan sebuah kompor keramik kecil di atas meja. Aku membuka tutup panci yang ada di atasnya. Di dalamnya ada beberapa potong daging yang tampak familiar, bersama sayuran.


“Ini......daging babi hutan?”


Benar saja—itu daging babi hutan.


Jenis daging buruan yang sama seperti yang kami makan waktu perjalanan kelulusan dengan Eiji dan yang lain—semacam gibier hot pot. Warna merah daging itu hampir persis seperti inoshishi nabe yang pernah kami santap.


Aku mengecek menu lagi, dan benar, “Nabe Daging Babi Hutan” tercantum pada bagian hidangan panas.


“Tidak nyangka bakal ketemu ini di sini.”


“Aku juga. Aku memang ingin makan ini lagi.”


Sementara kami mengobrol, staf datang membawa nasi dan sup miso.


Setelah kami mengucapkan terima kasih, mereka menyalakan bahan bakar padat di bawah kompor kecil itu dan berkata, “Kalau apinya sudah padam, berarti sudah matang—tolong jangan buka tutupnya sampai saat itu,” lalu pergi.


Aoi-san dan aku saling berhadapan, menyatukan tangan.


““Selamat makan!””


Kami mengambil sumpit dan mulai menyantap hidangan pertama.


Saat aku bingung harus mulai dari yang mana—


“Akira-kun, kamu pernah makan tempura tara-no-me?”


“Tidak, aku pernah dengar, tapi baru kali ini coba.”


Biasanya aku hanya melihatnya dijual di stasiun pinggir jalan atau pasar lokal waktu musim semi, tapi belum pernah benar-benar memakannya.


Sayuran liar seperti ini memang bukan sesuatu yang akrab bagi anak SMA, tapi tara-no-me adalah tunas muda dari pohon tara—disebut “raja sayuran gunung,” dan menjadi salah satu sansai paling populer.


Sebagai tambahan, “ratu”-nya adalah koshiabura—yang tersaji di sebelahnya.


“Memang terdengar seperti aku tahu banyak untuk seseorang yang belum pernah makan ini, ya......tapi waktu perjalanan keluarga dulu, aku pernah lihat display khusus di sebuah stasiun pinggir jalan. Ada penjelasan lengkap tentang cara memasaknya dan seperti apa rasanya.”


Kalau kau penasaran, cobalah mampir ke stasiun pinggir jalan atau pasar lokal saat musim semi—biasanya mereka menjelaskannya dengan cukup detail.


“Kalau kamu sendiri, Aoi-san, pernah makan sebelumnya?”



“Ya. Mereka tumbuh di pegunungan dekat rumahku, jadi para tetangga sering membagikannya pada kami.”


“Pantas saja. Aku bisa membayangkan mereka tumbuh di sekitar tempat tinggalmu.”


“Mereka enak sekali—aku yakin kamu akan suka, Akira-kun.”


Dengan rekomendasi seperti itu, tidak mungkin aku memulai dari hidangan lain selain tempura tara-no-me.


Aku mengambil sepotong dengan sumpit, menaburkan sedikit garam, lalu memasukkannya ke mulut.


Begitu kugigit, kerenyahan adonan yang baru digoreng langsung disusul kepahitan khas sayuran gunung, dan aroma lembutnya menyebar dalam mulutku. Masih hangat, dan semakin lama dikunyah, kepahitannya berubah menjadi manis yang lembut.


Ada sedikit sensasi getir, tapi justru itu yang membuatnya terasa pas.


“Ya......ini enak!”


“Kan?”


“Kepahitan yang lembut itu terasa begitu dewasa—dalam cara yang baik.”


Jujur saja, aku kaget betapa lezatnya.


Sudah lama rasanya aku tidak makan sesuatu yang membuatku berpikir, ini benar-benar enak.


“Koshiabura tempura juga enak sekali—coba juga yang itu.”


“Ya.”


Dengan ekspektasi yang sekarang melambung, aku beralih dari sang raja sansai ke sang ratu—koshiabura.


Masih ada pahit khas sayuran liar, tapi aromanya lebih segar dibanding tara-no-me. Rasanya lebih kuat, dan kurasa ini cocok disantap dengan berbagai cara—bukan hanya tempura, tapi juga dengan saus wijen atau sebagai sayur rebus. Serbaguna sekali.


Benar-benar layak menyandang gelar sang ratu—halus, tapi kuat.


“Keduanya enak, tapi aku rasa aku lebih suka koshiabura.”


“Tempura memang enak, tapi di rumahku, nenek biasanya memasaknya jadi nasi campur.”


“Nasi campur......Maksudnya, sayur-sayurnya dicincang halus, ditumis dengan kecap asin dan mirin, lalu dicampurkan ke nasi yang baru matang?*”


“Benar. Rasanya dan aromanya jadi keluar semua—enak banget.*”


Hanya membayangkannya saja sudah cukup membuatku yakin.


“Lain kali kalau aku melihat ada yang jual, aku akan beli dan coba masak.”


“Harus coba, ya.”


Sambil berkata begitu, Aoi-san ikut mengambil satu potong tempura koshiabura.


Dia menggigitnya, lalu tersenyum puas, mengangguk berulang kali.


“Ini enak!”


Sambil menikmati sayur-sayuran pegunungan itu, sumpit kami terus bergerak.


Semua sayuran liar yang kami coba punya rasa khas dan daya tariknya sendiri. Sashimi dan iwana bakar garam rasanya lebih lembut dibanding ikan laut, tapi justru kelembutan itulah yang membuatnya cocok dipadukan dengan sansai yang rasanya lebih kuat.


Memang benar apa yang orang bilang—kalau makanannya benar-benar enak, orang jadi lebih sedikit bicara.


Mungkin juga karena kami sudah banyak berjalan dan perut sudah sangat lapar.


Kami tidak banyak bicara—hanya fokus sepenuhnya pada menikmati hidangan.


“Baiklah, sekarang saatnya hidangan utama.”


“Hidangan utama, ya.”


Saat sebagian besar piring sudah kosong, api di bawah inoshishi nabe akhirnya padam.


Kami tahu itu tandanya hidangan sudah siap dimakan, seperti yang dijelaskan staf tadi—tapi jujur saja, aromanya sudah menggoda dari bawah tutup panci sejak tadi, dan butuh tenaga besar untuk menahan diri tidak mengintip.


Saat kami menatap panci itu dan mengangkat tutupnya—


““......Wah!””


Asap panas mengepul keluar, membawa aroma miso yang kaya dan menggugah selera.


Itu adalah nabe daging babi hutan, dimasak dengan miso bersama jamur dan sayuran musiman.


Daging babi hutannya matang dengan sempurna, warnanya dalam dan menggugah selera. Hanya dengan melihatnya saja, rasa dan kenangan saat kami pernah memakannya dulu langsung kembali.


“Ayo makan.”


“Ya!”


Kami menyendokkan isinya ke dalam mangkuk, lalu masing-masing mengambil satu potong daging bersama sayurannya.


“Mmm—!”


Rasanya begitu nostalgis sampai kami tak bisa berkata apa-apa.


Kami berdua mengangguk-angguk—rasanya persis seperti yang kami ingat.


Tidak ada bau amis sama sekali, teksturnya mantap, dan jusnya langsung meledak begitu dikunyah. Lemaknya punya rasa gurih yang dalam, tapi tidak berat atau membuat enek. Ada nuansa liar di dalamnya—tapi dengan cara yang menyenangkan.


Semakin dikunyah, semakin menyebar kekayaan rasa daging babi hutan itu di mulut.


Kalau harus diringkas dalam satu kata—


“Rasanya benar-benar punya kekhasan liar, ya.”


“Iya. Liar banget.”


Itu reaksi yang sama persis seperti waktu perjalanan kelulusan kami dulu.


Seperti daging babi, tapi terasa lebih primal, lebih alami.


“......Jadi agak bikin kangen, ya.”


“Ya. Aku juga jadi teringat banyak hal.”


Sambil menikmati daging babi hutan itu, kami larut dalam nostalgia yang sama.


Sudah setahun empat bulan berlalu sejak perjalanan kelulusan itu bersama semua orang.


Dengan rasa yang familiar dari daging babi hutan itu, kami menghabiskan sisa makan malam dengan damai.

Post a Comment for "Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 3.3"