Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 3.2

Bab 3 - Hari Pertama Perjalanan Ulang Tahun




Kami berpindah ke stasiun jalur privat, naik kereta, dan meninggalkan kota.


Perjalanan memakan waktu satu jam setengah—kereta bergoyang perlahan sementara kami memandangi pemandangan pedesaan di luar jendela—sampai akhirnya kami tiba di stasiun terdekat.


Setelah makan siang ringan di sebuah kafe dekat stasiun, kami naik bus—salah satu dari hanya empat bus yang beroperasi dalam sehari—yang membawa kami naik ke pegunungan.


Satu jam setengah lagi melalui jalan berkelok sempit yang naik turun—


Kami tiba di sebuah area parkir kecil yang dikelilingi pegunungan.


Tempat itu begitu terpencil hingga, pada akhirnya, hanya kami berdua yang tersisa di dalam bus.


““Terima kasih banyak.””


Begitu turun dan mengucapkan terima kasih kepada sopir, udara dingin langsung menyergap kami.


Kami sudah mendaki cukup jauh, dan mungkin karena ketinggian, suhu di sini lebih rendah dari yang kubayangkan. Dikelilingi gunung dari segala arah, dengan sinar matahari yang minim, sepertinya membuat udara semakin dingin.


Untuk ukuran bulan Mei, ini terasa dingin sekali.


“Ini......tempat kita turun?”


Sambil menatap sekeliling, Aoi-san bertanya dengan raut bingung.


Melihat betapa sepinya tempat itu, reaksinya benar-benar bisa dimaklumi.


Di area parkir hanya ada beberapa mobil, namun tak terlihat satu orang pun—suasananya benar-benar sunyi.


“Penginapan tempat kita menginap ada lebih jauh ke dalam gunung.”


“Lebih jauh ke......dalam gunung?”


Saat aku menunjuk ke jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan, Aoi-san mengikuti arah pandanganku.


“Kita harus ke sana bagaimana?”


“Ada jalur pejalan kaki di sepanjang tebing sungai, atau kita bisa meminta jemputan dari pihak penginapan. Tapi karena musimnya sedang bagus untuk berjalan-jalan, kupikir kita jalan kaki saja.”


“Ah, jadi itu alasanmu menyuruhku memakai pakaian yang nyaman.”


Itu menjelaskan kenapa hari ini Aoi-san mengenakan celana—sesuatu yang cukup jarang dia lakukan. Aku sudah memperingatkannya sebelumnya bahwa rok tidak terlalu cocok.


“Berapa lama perjalanannya?”


“Kira-kira satu jam setengah kalau berjalan dengan kecepatan normal.”


“Itu jarak yang pas untuk jalan santai.”


Suara Aoi-san terdengar lebih bersemangat. Karena kami sudah sejauh ini, aku memutuskan untuk menambahkan sedikit hal lain agar dia semakin antusias.


“Sebenarnya, penginapan tempat kita menginap berada di dalam taman nasional.”


“......Taman nasional?”


Taman nasional adalah kawasan alam indah yang dikelola pemerintah di bawah Undang-Undang Taman Alam. Untuk melestarikan pemandangan indah Jepang, pembangunan di area seperti itu sangat dibatasi.


Itu juga alasan kenapa kami tak bisa masuk dengan mobil pribadi dan harus berjalan atau menggunakan shuttle dari penginapan—pembatasan kendaraan pribadi adalah bagian dari upaya konservasi.


Contoh yang terkenal adalah Kamikōchi, di perbatasan Nagano dan Gifu. Konon ada banyak tempat seperti itu di seluruh Jepang.


“Karena alamnya masih terjaga, daerah ini dikenal sebagai tempat munculnya satwa liar di musim seperti ini. Kamu pasti bisa melihat rusa dan monyet—kalau beruntung, mungkin juga kelinci atau tupai.”


“Kelinci dan tupai—!?”


Aku teringat saat kami pergi ke pemandian air panas terpencil untuk perjalanan kelulusanku, tepat sebelum aku pindah sekolah.


Ketika kami berkemas malam sebelumnya, Aoi-san mulai bersenandung lagu “Nyanyian Beruang” tanpa sadar. Saat kutanya kenapa, dia menjawab, “Karena kita akan masuk jauh ke pegunungan—siapa tahu aku bisa bertemu beruang.”


Saat itulah aku benar-benar yakin kalau dia sangat menyukai hewan—dan ternyata benar.


“Mungkin......kita bahkan bisa melihat beruang!?”


Dia masih tampak berharap bisa bertemu beruang.


Sepertinya hewan yang paling ingin dia temui tetaplah beruang.


Sayangnya bagi Aoi-san, bertemu beruang sungguhan justru akan menjadi bencana.


Pegunungan di sini memiliki musim dingin yang panjang, dan sekarang sedang masa pencairan salju, jadi ada kemungkinan cukup besar untuk bertemu beruang yang baru bangun dari hibernasi.


Beberapa tahun terakhir, laporan penampakan beruang juga semakin meningkat seiring meluasnya wilayah jelajah mereka.


Aku merasa agak bersalah, tapi untuk berjaga-jaga, aku membawa lonceng penangkal beruang.


Tolong, jangan sampai ini berubah menjadi kejadian nyata seperti dalam Nyanyian Beruang.


“Ada papan petunjuk di mulut jalur. Ayo kita lihat.”


“Baik.”


Kami berdiri di depan papan petunjuk yang lebih tinggi dari kami berdua, lalu memeriksa rutenya.


Walau penginapannya cukup jauh, jalurnya hanya satu tanpa cabang, jadi mudah diikuti.


Jalur itu memang berkelok-kelok, tapi karena mengikuti aliran sungai, sepertinya kecil kemungkinan tersesat.


Konon sinyal ponsel tersedia di dekat penginapan, tapi di sebagian jalur akan hilang, jadi GPS tak bisa digunakan. Untuk berjaga-jaga, aku memotret peta itu dengan ponselku.


“Baik, ayo berangkat.”


Aku mengulurkan tanganku pada Aoi-san.


“......Hehe.”


Dia terkekeh pelan sambil menggenggam tanganku.


“Ada apa?”


“Aku hanya......sudah lama tidak menggenggam tanganmu. Rasanya membuatku senang.”


“Benar juga, terakhir kali......waktu karyawisata sekolah, ya.”


“Melakukan ini......rasanya sangat menenangkan.”


Seolah ingin benar-benar merasakan momen itu, Aoi-san menggenggam tanganku sedikit lebih erat.


Memegang tangannya juga memberiku ketenangan.


Selama ini, tanganku selalu merasa gelisah, seakan tidak tahu harus berada di mana—tapi sekarang, rasanya seperti akhirnya kembali ke tempat yang seharusnya.


Menanggapi kata-katanya, aku balas menggenggam tangannya dengan lembut.


“Ayo berangkat.”


“Ya. Hati-hati, ya.”


Dan begitu, kami meninggalkan area parkir dan mulai berjalan menuju penginapan.


Tak lama kemudian, jalan setapak berubah menjadi hutan sepenuhnya.


Jalan beraspal dari tempat parkir berakhir, digantikan jalur pegunungan tanah yang belum diaspal.


Jalan setapaknya menyempit di beberapa bagian, dan akar-akar pohon yang menonjol memaksa kami untuk lebih berhati-hati, tapi jalurnya cukup sering dilewati sehingga sneakers pun masih nyaman digunakan.


Sensasi tanah di bawah kaki terasa menyenangkan, meski tubuh kami—kaku setelah masa belajar ujian—mulai terasa pegal.


Kami terus berjalan, ditemani desir pepohonan yang bergoyang diterpa angin lembut, serta kicau burung yang bergema dari segala arah. Tanpa sadar, kami sudah berada cukup jauh ke dalam hutan, kehilangan rasa arah—utara atau selatan tak lagi terasa jelas.


“Aoi-san, kamu tidak apa-apa?”


“Ya. Tidak seberat yang kupikirkan.”


“Tidak banyak tanjakan atau turunan juga—untuk jalur gunung, ini lumayan.”


“Dan udaranya segar sekali. Lumayan untuk menghilangkan kurangnya olahraga.”


“Setuju. Kita tidak perlu buru-buru—jalan saja santai sesuai ritme kita.”


“Iya.”


Menyesuaikan langkah Aoi-san, kami berjalan sambil mengobrol sepanjang jalur.


Pepohonan yang rapat menghalangi sinar matahari, membuat udara terasa lebih dingin dibanding area parkir tadi. Namun setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, tubuh kami cukup hangat hingga keringat mulai merembes di balik pakaian.


“Sebentar lagi kita istirahat, ya.”


“Setuju.”


Kami sedang mencari tempat yang pas untuk beristirahat, ketika hal itu terjadi.


Suara sungai, yang sebelumnya terdengar jauh, tiba-tiba terdengar sangat dekat.


“Kita sudah berada di tepi sungai, ya?”


“Mungkin ada jalan turun ke sana.”


Berusaha menahan rasa penasaran, kami melanjutkan langkah.


Lalu, dari sela-sela batang pohon, terlihat aliran sungai tepat di samping kami.


Jaraknya dekat, hanya saja cabang-cabang pepohonan menutupi sebagian besar pandangan.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Saat melihat sekeliling, aku menemukan jalur sempit yang tampaknya sudah dibersihkan dari semak-semak.


“Aoi-san, sepertinya dari sini kita bisa turun ke sungai.”


“Benarkah?”


Kemiringannya agak curam, tetapi tanahnya padat dan stabil.


Sepertinya banyak orang yang sudah menggunakan jalur kecil itu untuk turun.


Untuk memastikan Aoi-san turun dengan aman, aku menuruni jalur itu lebih dulu.


Setelah sampai di bawah, aku mengulurkan tangan ke arahnya, berjaga-jaga kalau dia terpeleset, sambil membimbingnya turun perlahan.


“Terima kasih.”


“Aoi-san, lihat—”


Begitu kami mencapai tepi sungai dan mendongak, kami sama-sama tertegun.


Di depan kami terbentang pemandangan yang begitu indah hingga membuat kami tak bisa berkata-kata.


“Ini......indahnya......”


“Benar-benar cantik......”


Di atas sana, langit biru dan awan putih tampak mengintip di antara punggung gunung.


Di depan kami, mengalir sebuah sungai jernih berwarna hijau zamrud yang dalam.


Cahaya matahari menimpa permukaannya, memantul dalam kilau-kilau kecil seperti pertunjukan cahaya alami.


Di tengah pemandangan mempesona itu, terdengar kicau burung dari arah yang tak terlihat.


Suara aliran sungai dan desau angin yang menggoyangkan pepohonan berpadu menjadi orkestra alam yang menenangkan.


Angin lembut menyentuh pipiku, membuatku menarik napas panjang......lalu satu napas panjang lagi.


“Udara di sini bersih sekali......rasanya enak banget.”


“Ya. Tidak ada mirip-miripnya sama udara di kota.”


Perasaan itu mungkin berasal dari aroma hutan yang mengelilingi kami.


Wangi segar dedaunan baru—sesuatu yang tidak pernah tercium dalam keseharian—mengisi paru-paruku setiap kali bernapas, membuat udara itu terasa semakin menyegarkan, seindah pemandangannya.


Mungkin ini pertama kalinya aku merasa udara bisa terasa lezat.


“Hanya melihat pemandangan ini saja rasanya sudah sepadan dengan seluruh perjalanan.”


“Iya......benar......”


Rasanya aku bisa menatapnya selamanya.


“Airnya kelihatan dangkal di sini......mau coba masuk?”


“Mau. Sepertinya akan menyegarkan.”


Kami cepat-cepat melepaskan sepatu dan kaus kaki, meletakkannya di atas batu terdekat, lalu berjalan menuju sungai.


Masih bergandengan tangan, kami melangkahkan kaki telanjang ke dalam air—dan—


““Dingin banget—!””


Kami berteriak bersamaan karena kaget dengan suhu airnya.


Setelah terdiam beberapa detik, tubuh kami perlahan mulai menyesuaikan diri.


“Setelah terbiasa memang enak, tapi dinginnya jauh lebih parah dari yang kubayangkan.”


“Padahal sudah bulan Mei, tapi airnya dingin banget. Tapi aku pernah dengar, di bagian terdalam taman nasional ini, masih bisa turun salju sampai pertengahan April. Mungkin airnya masih bercampur lelehan salju.”


“Kalau saljunya turun sampai selama itu, pantas dinginnya begini.”


Kami duduk di atas batu-batu di dekat situ, membiarkan air yang sedingin es menyejukkan kaki yang mulai lelah.


Sedikit rasa dingin itu ternyata pas sekali untuk meredakan panas tubuh.


“Aoi-san, mau teh?”


“Mau, terima kasih.”


Aku mengeluarkan sebotol teh dari tas dan menyerahkannya padanya.


“Terima kasih.”


Setelah meneguk sedikit, Aoi-san mendongak, menatap pemandangan di sekitar kami.


“Indahnya......”



“Ya......itu benar.”


Pemandangan dirinya saat itu benar-benar terlihat seperti lukisan. Aku mengeluarkan ponsel dan membuka kamera.


Di sana, Aoi-san duduk di atas batu, dikelilingi alam yang begitu indah. Dia meneguk teh dari botol yang digenggam satu tangan, sementara rambut hitam panjangnya berkibar tertiup angin, membuatnya menahan ujungnya dengan tangan yang lain. Tatapannya mengarah pada pemandangan di depan—benar-benar seperti sosok yang tercetak sempurna di tengah momen yang juga sempurna.


Rasanya seperti adegan dalam iklan teh. Tanpa pikir panjang, aku mengambil beberapa foto.


Mungkin karena aku mendadak diam cukup lama, Aoi-san menoleh ke arahku.


“Akira-kun, kamu sedang memotret ya?”


“Ya. Kamu tadi kelihatan seperti lukisan.”


“Itu agak memalukan......tapi boleh aku lihat?”


Aku mendekatinya dan memperlihatkan ponselku.


Ketika menatap layar, Aoi-san mengeluarkan seruan kecil penuh kegembiraan.


“Aku tahu ini fotoku sendiri, tapi hasilnya bagus banget......”


“Kan? Nanti aku kirim ke kamu.”


“Terima kasih.”


“Sekalian, bagaimana kalau satu foto saat kamu lihat ke kamera—hm?”


Baru saja aku melangkah mundur untuk memotret Aoi-san yang menatap ke kamera, sesuatu yang tak terduga muncul di latar belakang, tepat di belakangnya.


“Akira-kun? Kenapa?”


Dia pasti menyadari mataku mengarah ke tempat lain. Aoi-san memiringkan kepala, bingung.


“Aoi-san......”


Sambil menahan napas, aku menunjuk ke belakangnya.


Di sana, tak terlalu jauh, berdiri seekor hewan yang belum pernah aku lihat secara langsung sebelumnya.


“—Itu apa?”


Aoi-san berbisik pelan, tersenyum penuh kebahagiaan tapi tetap berhati-hati agar tidak mengejutkannya.


“Kurasa......itu seekor kamoshika, rusa kambing Jepang.”


“Kamoshika......? Jadi masih satu keluarga dengan rusa?”


“Banyak orang mengira begitu, tapi bukan. Mereka sebenarnya bukan keluarga cervidae seperti rusa-rusa yang biasa kita lihat di Jepang. Kamoshika justru berasal dari keluarga bovidae—lebih dekat dengan kambing. Mereka hewan asli Jepang dan bahkan ditetapkan sebagai monumen alam.”


Meski penampilannya mirip rusa, ternyata secara ilmiah ia lebih dekat ke sapi—jujur saja, sulit dipercaya.


Lebih buruk lagi, tergantung wilayahnya, kamoshika punya julukan-julukan yang cukup kasihan, seperti baka-jishi, niku-baka, bahkan aho.


Konon, nama-nama itu muncul karena mereka mudah ditangkap—terlalu penasaran dan sering hanya menatap orang tanpa kabur.


Tetap saja......aho terasa kejam, kan?


Di sisi lain, sejak zaman dulu mereka juga dianggap sebagai pembawa pesan para dewa.


Perbedaan perlakuan terhadap hewan ini benar-benar ekstrem.


“Kasihan juga, ya......Tapi wow, Akira-kun, kamu tahu banyak banget.”


“Aku lihat-lihat website penginapan dan menemukan halaman yang memperkenalkan hewan-hewan yang hidup di taman nasional ini. Ada foto kamoshika, dan aku jadi penasaran.”


Tidak pernah terpikir kami benar-benar akan bertemu satu secara langsung.


“Oh, dan karena mereka masih keluarga kambing dan jago memanjat tebing curam, mereka dianggap sebagai simbol keberhasilan akademik—semacam ‘tidak akan jatuh dari tebing’. Jadi orang bilang mereka pembawa keberuntungan untuk lulus ujian.”


“Keberuntungan akademik!? Kalau begitu aku harus ambil fotonya!”


Cepat-cepat, Aoi-san mengeluarkan ponselnya dan memotret kamoshika yang sedang minum di tepi sungai.


“Kalau dilihat dari dekat, memang sedikit mirip kambing ya. Tanduk kecilnya dan mata bulatnya......lucu banget.”


Benar juga—ada kesan lebih imut dibanding rusa.


“Iya......lucu juga ternyata.”


Aoi-san tampak puas setelah melihat hasil fotonya.


“Nanti kukirim ke kamu ya, Akira-kun.”


“Iya. Terima kasih.”


Mungkin karena kami sedikit berisik, kamoshika itu tiba-tiba mengangkat kepalanya.


Seolah baru sadar akan kehadiran kami—matanya bertemu dengan mata kami, dan dia membeku.


“““......”””


Entah berapa lama kami saling menatap begitu.


Satu menit? Lima? Sepuluh?


Dalam momen yang terasa seperti mimpi itu, rasa waktu seolah lenyap.


Lalu, seakan teringat sesuatu, kamoshika itu berbalik dan menghilang ke dalam hutan.


Benar-benar makhluk yang terasa suci—pengalaman itu hampir terasa mistis.


“Kita lanjut jalan?”


“Iya, ayo.”


Kami mengeringkan kaki, mengenakan sepatu kembali, lalu naik ke jalur setapak.


Setelah itu, sambil tetap dibalut ketenangan dari alam sekitar, kami melanjutkan perjalanan menuju penginapan.


Oh, dan soal foto kamoshika yang diambil Aoi-san—


Ketika dia mengirimkannya ke Izumi dengan pesan, “Katanya ini pembawa keberuntungan buat ujian!”, foto itu langsung menyebar ke seluruh kelas.


Menurut cerita, sebelum hari berakhir, semua orang sudah menjadikannya wallpaper ponsel.


Membayangkannya saja rasanya absurd—tapi saat sedang menghadapi ujian, apa pun yang bisa membawa keberuntungan pasti akan jadi pegangan.


Dengan harapan yang sama, aku pun menjadikannya wallpaper.

Post a Comment for "Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 3.2"