Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 2.3

Bab 2 - Hadiah Ulang Tahun




Begitulah akhirnya aku berada di sini, di pusat perbelanjaan bersama Natsumiya-san.


Untuk berjaga-jaga, ini bukan ide diam-diam—Yuuki sepenuhnya tahu soal ini.


“Kita masuk?”


“Ya. Mulai dari toko barang-barang umum dulu?”


“Boleh. Kalau tidak ada yang cocok, kita cari di toko lain.”


“Setuju.”


Kami pun melangkah masuk dan menuju sebuah toko umum.


Karena hari Sabtu, mall itu penuh sesak oleh pengunjung.


Melihat betapa ramai tempat itu membuatku teringat waktu aku datang ke sini bersama Izumi untuk memilih hadiah Natal buat Aoi-san.


Saat itu, Izumi yang membantuku memilih sepasang kalung pasangan—salah satu kenangan favoritku.


......Walau dia juga tiba-tiba menyeretku masuk ke toko lingerie dan bilang aku harus membelikan Aoi-san pakaian dalam. Itu jelas masuk tiga besar momen paling panik dalam hidupku.


Pada akhirnya, Izumi yang memberikan lingerie itu langsung kepada Aoi-san, tapi sebagai gantinya aku harus menjadi orang yang memilihnya......


Sayangnya, sampai sekarang aku belum pernah melihat Aoi-san memakainya.


Kalau kupikir-pikir—ke mana perginya set itu sekarang?


Mungkin......mungkin aku bisa melihatnya selama perjalanan nanti......!?


“Akira-kun, hidungmu kelihatan memanjang, lho.”


“Masa? Kamu pasti cuma kebayang sesuatu.”


Aku menjawab datar dan cepat-cepat menoleh ke arah lain.


Gawat......sejak rencana perjalanan kami jadi, imajinasiku terus berlari ke mana-mana.


Yah, ini kan perjalanan menginap pertama kami. Wajar kalau aku kepikiran macam-macam, kan?


Tolong maklumi saja ini sebagai hasrat polos—dan sangat murni—seorang remaja laki-laki.


Sudah tiga kali sebelumnya ada momen di mana sesuatu bisa saja terjadi di antara kami. Sekarang kami resmi pacaran, dan kami berdua sudah lama memantapkan hati.


Kalau kesempatan datang lagi, kurasa aku tidak akan bisa menahan diri. Dan siapa tahu......celana boxer mewah pemberian Eiji dan Izumi waktu Natal mungkin akhirnya akan mendapat panggungnya.


......Sudah setahun empat bulan berlalu, dan belum sekalipun kupakai.


Kalau begini terus, mereka akan membusuk di dalam laci.


“Jadi? Ada ide hadiah yang muncul sejak terakhir kita bahas?”


“Belum......aku terus memikirkannya, tapi makin dipikir, makin tidak tahu harus bagaimana.”


Sampai titik ini, aku bahkan sudah mimpi soal memilih hadiah.


“Apa saja yang pernah kamu berikan padanya sebelumnya?”


“Hmm, untuk Natal, kami saling bertukar kalung pasangan. Lalu untuk ulang tahun, kami memberikan cincin pasangan. Aku juga pernah memberi beberapa hadiah kecil, tapi dua itu yang paling besar.”


Natal lalu, kami memberikan syal untuk satu sama lain.


Suatu malam menjelang musim dingin, saat kami menelepon, dia bilang kalau dia ingin syal baru. Jadi kami memutuskan untuk saling membelikan sebagai hadiah.


Kami tidak bertemu—kami hanya mengirimkannya lewat pos karena sedang fokus persiapan ujian.


Tapi jujur saja, musim dingin itu terasa lebih hangat dari tahun-tahun sebelumnya......meski kalau aku mengatakannya keras-keras, aku pasti terdengar seperti sedang pamer.


“Begitu, ya.”


Natsumiya-san mengangguk dengan ekspresi penuh pertimbangan.


“Jadi standarnya sudah agak naik, ya?”


“Standarnya naik?”


Aku mengulanginya, belum benar-benar paham maksudnya.


Dengan satu jari menyentuh dagunya, dia menjelaskan.


“Kamu pernah memberinya aksesori yang cukup mahal, kan? Jadi sekarang, meski kamu tidak sadar, kamu mungkin merasa harus memberi sesuatu yang setara. Menurutku, itu sebabnya kamu jadi mentok.”


“Yah......sepertinya memang begitu.”


Aku mengangguk, benar-benar tersadarkan.


Tidak, lebih dari itu—aku yakin dia benar.


Kenyataannya, saat aku mencari-cari hadiah, aku hanya melihat-lihat aksesori.


Kalau dipikir sekarang, aku jelas......bahkan terang-terangan berusaha mencari sesuatu yang tidak kalah dari kalung atau cincin yang pernah kuberikan.


Bahkan saat memilih syal untuk Natal, aku mengambil yang paling mahal yang bisa kubeli.


“Tapi aku ingin kamu mempertimbangkan ini juga.”


Merasakan betapa bimbangnya aku, Natsumiya-san melanjutkan dengan lembut.


“Kita masih anak SMA. Menurutku hadiahnya tidak harus sesuatu yang mahal.”


Dia berbicara dengan suara lembut, seolah sedang menuntunku perlahan.


“Aku bukannya bilang memberi sesuatu yang mahal itu salah. Tapi meskipun hadiahnya tidak mahal, kalau itu sesuatu yang kamu pilih dengan sungguh-sungguh—memikirkannya sambil benar-benar memikirkan dia—aku yakin dia akan bahagia.”


“Sesuatu yang dipilih sambil memikirkan dia, ya......”


Aku tanpa sadar mengulang perkataannya—dan kemudian mulai berpikir.


Entah sejak kapan......sepertinya aku sudah kehilangan gambaran tentang apa sebenarnya arti sebuah hadiah.


“Kalau dipikir lagi, ya......kalung dan cincin pasangan itu memang agak berlebihan untuk anak SMA. Mungkin sebenarnya ada pilihan lain yang lebih pas.”


Bukannya aku menyesal pernah memberikannya, dan bukannya hadiah mahal itu buruk—tapi menjadikannya standar adalah hal yang berbahaya.


Hal-hal seperti itu......bisa menunggu sampai aku mulai punya penghasilan sendiri.


“Kamu benar, Natsumiya-san. Terima kasih.”


Kata-katanya yang lembut dan penuh perhatian benar-benar menyadarkanku.


Dia seumuran dengan kami, tapi jelas dia yang paling dewasa di antara kami.


“Aku senang kalau bisa membantu. Tapi nasihatnya baru dimulai dari sini, ya?”


“Baru dimulai?”


Tiba-tiba, dia berbalik dan mulai berjalan ke arah lain—jelas bukan menuju toko perlengkapan umum.


“Ini sesuatu yang selalu kupakai saat memilih hadiah untuk Yuuki-kun. Menurutku, kuncinya adalah memilih sesuatu yang membuatmu bahagia juga—bukan hanya orang yang kamu beri hadiah.”


“Sesuatu yang membuatku bahagia juga?”


Dia mengangguk, mengangkat satu jari.


“Misalnya, membayangkan bagaimana mereka akan menyimpannya, menghargainya, lalu tersenyum karenanya—pikiran itu saja sudah membuatmu bahagia, kan? Atau nanti, saat mengingatnya lagi, kamu bisa merasa hangat di dalam hati. Sekarang sih kami saling tanya langsung ingin apa, tapi dulu, ini standar yang kupakai.”


Aku mencoba membayangkannya.


Apa saja—selama itu membuatku melihat senyum Aoi-san ketika menerima hadiahku.


Membayangkan dia menggunakannya, menjaganya dengan penuh sayang—hal itu saja sudah membuatku ikut bahagia. Mungkin bahkan sesuatu yang, bertahun-tahun kemudian, saat kulihat lagi......akan membuatku merasakan kehangatan yang sama. Mungkin aku bahkan akan merasa sedikit malu karenanya.


Ya......hanya dengan membayangkannya saja, aku bisa tahu itu akan menjadi kenangan yang berharga bagi kami berdua.


“Dalam hal itu, perjalanan ini sendiri sebenarnya sudah merupakan hadiah besar yang kalian berdua bisa nikmati bersama. Karena itu, menurutku hadiah yang berbentuk barang tidak perlu sesuatu yang mahal,” kata Natsumiya-san.


Benar juga—perjalanan ini akan menjadi sesuatu yang tersimpan lama.


“Kalau begitu, idealnya adalah sesuatu yang, bahkan bertahun-tahun nanti, setiap kali kami melihatnya, kami bisa tersenyum dan berkata, ‘Itu perjalanan menginap pertama kita.’”


“Tepat sekali. Dan karena itulah, hadiah yang kurekomendasikan adalah ini—!”


Dengan deklarasi penuh percaya diri, Natsumiya-san berhenti melangkah.


Aku juga berhenti, dan ketika menatap ke depan—pikiranku langsung membeku.


“......Hah?”


Yang terbentang di hadapan kami adalah sebuah ruang penuh warna yang menyilaukan.


Dia membawaku ke taman terlarang itu—toko lingerie wanita.


Tempat yang bagi anak lelaki SMA hanya bisa disebut sebagai wilayah sakral—bukan hanya terlarang untuk masuk, bahkan berjalan melewatinya saja sudah menguji mental. Paling banter, kami hanya berani melirik sekilas dari kejauhan.


Satu-satunya cowok yang masuk ke sana adalah petualang nekat, orang dengan minat sangat spesifik, atau pacar yang memegang izin khusus dari pasangannya—itu pun kalau dia ingin masuk.


Untuk catatan, aku pasti mau kalau Aoi-san yang mengajakku.


Bagaimanapun......aku kini dikelilingi sepenuhnya oleh dinding-dinding lingerie berwarna cerah. Panorama 360 derajat dari renda-renda yang memukau. Tenggelam di dalamnya, rasanya seperti Alice yang tersesat di Wonderland-nya godaan.


Persis pikiran yang muncul waktu itu juga.


Dan......kenapa aku berada di toko lingerie......bersama pacarnya sahabatku?


Déjà vu. Ini sudah pernah terjadi sebelumnya.


“Ayo, kita lihat-lihat!” seru Natsumiya-san penuh semangat.


“T-Tunggu dulu sebentar!”


Panik, aku buru-buru menahan bahunya agar dia berhenti.


Di antara rasa kaget, canggung, dan malu, rasanya aku benar-benar ingin menciut sampai hilang.


“Ada apa?” tanya Natsumiya-san polos.


“Ada apa......!? Bukannya sudah jelas!?”


Oke, aku tetap harus memastikan.


“Kenapa kita ada di toko lingerie wanita?”


“Karena aku pikir lingerie itu hadiah yang sempurna untuk Aoi-san!”


Dia mengatakannya dengan senyum paling cerah yang pernah kulihat.


......Dia serius?


“Boleh aku tanya alasannya dulu?”


“Kalian pergi menginap berdua. Jadi......mungkin suasananya akan jadi, yah, romantis, kan? Kalau dia menghabiskan malam itu dengan memakai pakaian dalam yang kamu berikan, maka setiap kali dia melihatnya setelah itu, dia akan langsung teringat pada perjalanan kalian. Itu jadi kenang-kenangan spesial♪”


Dia bahkan menunjukkan senyum bangga seperti baru saja menemukan ide jenius.


Aku benar-benar tidak menyangka Natsumiya-san bisa setenang ini kalau menyangkut hal begini.


Kepribadiannya memang beda dari Izumi, tapi energinya......terlalu mirip. Aku sampai sedikit bingung.


“Lagipula, seperti yang kamu bilang tadi—hadiahnya harus ‘sesuai dengan kemampuanmu,’ kan?”


“Kamu pikir kamu lucu, ya? Itu bukan ‘sesuai kemampuan’ yang aku maksud!”


Ini bukan masalah kecocokan ukuran tubuh—tapi kecocokan situasi!


Tidak pernah terbayang kalau aku akan menegur Natsumiya-san karena membuat permainan kata.


“Ya, tapi tetap saja......lingerie, huh......”


Bukan berarti aku belum pernah memberinya sebelumnya.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Waktu itu, memang Izumi yang menyerahkannya kepada Aoi-san, tapi aku yang memilihnya. Kami belum berpacaran waktu itu—tapi sekarang kami sudah.


Kalau dipikir dari sudut itu......mungkin sebenarnya tidak terlalu aneh kalau aku memberikannya kali ini......


“Kalau hanya malu masuk ke toko lingerie, itu urusan lain. Tapi memberi lingerie sebagai hadiah kan tidak memalukan sama sekali, kan? Lagipula, bukan seolah-olah itu pertama kalinya kamu lihat dia pakai pakaian dalam atau apa.”


“Ugh......”


Cara dia mengatakannya begitu santai—seolah kami memang sudah sampai ke tahap itu—membuat suara aneh keluar dari tenggorokanku.


Karena aku tidak menyangkal, dia pasti langsung menangkap kenyataannya.


“Tunggu......jadi kalian belum......?”


“Yah, kamu tahu......kami hubungan jarak jauh......”


Dia menatapku—setengah kaget, setengah kasihan.


Tolong. Jangan menatapku seperti itu. Sakit, tahu.


“Maksudku, kalian kan sempat tinggal bareng selama setahun, kan? Terus sekarang sudah pacaran cukup lama juga, jadi aku kira......maaf.”


“Kamu pikir......kami terlambat dibanding lamanya hubungan kami?”


“Aku rasa tiap pasangan beda-beda. Mungkin kami saja yang......cepat.”


“Tunggu—apa?”


Itu jelas bukan kalimat yang bisa aku abaikan—aku langsung memotongnya tanpa sadar.


Natsumiya-san langsung memerah dan menghentikan kalimatnya di tengah jalan.


“......”


Serius?


“M-Maaf......aku tidak bermaksud......


“Tidak, kamu tidak salah apa-apa, Natsumiya-san.”


Aku memang sedikit kaget dengan pengakuan tak terduga itu. Mereka memang baru mulai pacaran, tapi karena sudah kenal sangat lama, bukan hal aneh kalau mereka sudah sampai sejauh itu......tetap saja, terlalu canggung untuk dibahas lebih jauh.


Dan ya, kalau dibandingkan, orang luar pasti akan bilang kami......jauh tertinggal.


Jujur saja, kalau ceritanya bukan tentangku, aku sendiri juga akan bereaksi seperti itu.


“Y-Ya, maksudku, aku mengerti maksudmu, dan aku juga tidak bilang lingerie itu ide buruk......tapi aku lebih nyaman kalau kali ini kita pilih yang lain. Maaf ya, padahal kamu sudah susah payah memberi saran.”


“Tidak apa-apa kok. Jangan dipikirkan.”


“......”


Seorang cowok dan cewek berdiri canggung di depan toko lingerie—benar-benar pemandangan yang tidak ideal. Semakin lama kami berdiri di sana, semakin aneh rasanya. Apalagi dia itu pacarnya sahabatku. Ditambah lagi tatapan pelanggan yang lewat......kalau ada teman sekelas lihat, aku mungkin langsung pengin lenyap dari dunia.


Cepat-cepat kami menjauh dan kembali menuju toko perlengkapan umum.


“......Tapi kurasa sekarang aku punya gambaran.”


Aku sengaja bilang begitu untuk mencairkan suasana.


“Kelihatan banget, loh—kamu itu sudah punya banyak pengalaman memberi hadiah buat orang yang sama berkali-kali.”


“Bukan begitu. Aku hanya pernah merasakan hal yang sama sepertimu sekarang, itu saja.”


Ya, masuk akal. Semakin lama bersama seseorang, makin sering hal seperti ini terjadi.


Aku bersyukur dia membantuku sadar lebih cepat.


“Tapi tahu tidak......kadang aku suka ingat masa-masa itu. Waktu aku masih pusing memikirkan hadiah apa buat Yuuki-kun, sama persis sepertimu sekarang......memang melelahkan, tapi rasanya menyenangkan juga. Kadang aku merasa kangen masa itu.”


Dia bilang begitu dengan tatapan lembut, sedikit bernostalgia.


Memang benar—ada sisi menyenangkan dalam semua kekhawatiran ini.


Kalau begitu—


“Kalau begitu, kenapa tidak sekalian pilih sesuatu buat Yuuki juga?”


“Buat Yuuki-kun......? Bareng kamu?”


“Maksudku, kamu tidak harus selalu bertanya padanya kalau mau memberi hadiah. Dan kamu juga tidak butuh alasan khusus untuk memberi sesuatu. Sekarang kalian sudah resmi jadian—jadi santai saja. Kasih kejutan kecil sesekali.”


“Akira-kun......”


Dia tersenyum dan mengangguk dengan bahagia.


“Kamu benar. Kalau begitu, ya, aku juga akan pilih sesuatu.”


“Bagus. Ayo kita cari.”


Kami sampai di toko perlengkapan dan mulai melihat-lihat.


Itu adalah toko populer yang kebanyakan pengunjungnya perempuan, dengan pilihan barang yang sangat beragam—mulai dari perlengkapan sehari-hari dan alat dapur sampai furnitur mungil dan dekorasi interior yang lucu.


Variasinya begitu banyak sampai rasanya kamu bisa mengisi satu kamar kosong hanya dengan belanja di sini. Dengan sebanyak ini, memeriksa satu per satu jelas akan memakan waktu.


Sambil kami menyusuri rak-rak, Natsumiya-san dengan ramah memberi pendapat dan saran.


Setelah satu putaran penuh mengelilingi toko, satu benda tertentu menarik perhatianku.


“Frame foto......”


Rak itu dipenuhi berbagai jenis bingkai foto.


Salah satunya langsung membuatku berhenti, dan aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya.


Modelnya berbentuk dua panel. Bagian kiri untuk menaruh foto, sementara sisi kanan memiliki jam analog kecil di bagian atas dan hiasan bunga hortensia tiruan di bawahnya. Kesan keseluruhannya lembut dan berkelas.


Warna putih bersih pada bingkainya memberi nuansa elegan yang sederhana tapi memikat.


“Kamu menemukan sesuatu yang kamu suka?” tanya Natsumiya-san.


“Iya. Menurutmu bagaimana?”


Aku menyerahkan bingkai foto itu padanya.


“Waktu aku dan Aoi-san pergi karyawisata, kami ambil banyak foto—tapi jujur, hampir tidak pernah aku lihat lagi. Orang dulu katanya sering cetak foto dan simpan di album, tapi sekarang semuanya hanya menumpuk di ponsel dan tidak pernah dibuka.”


Kurasa bukan hanya aku yang begitu.


Paling banter, aku buka-buka fotonya setiap beberapa bulan sekali.


“Kalau kita cetak satu foto dari perjalanan ini dan taruh di sini, Aoi-san bisa pajang di mejanya dan lihat setiap hari. Lagi pula ada jamnya juga—pas banget buat dia cek waktu sambil belajar ujian. Bagaimana menurutmu?”


“Kurasa itu pilihan yang bagus. Kalau aku pergi berlibur dengan Yuuki-kun suatu hari nanti, aku juga pasti ingin punya yang seperti itu!”


“Baiklah, kalau begitu aku pilih yang ini saja—hm?”


Natsumiya-san meletakkan kembali model display ke rak, lalu mengambil satu dari kotak stok di bawahnya. Tanpa penjelasan, dia menyerahkan dua kotak padaku.


“Nih.”


“Dua? Kenapa?”


“Kenangan itu seharusnya dibagi, kan?”


Jadi salah satunya memang untukku.


“Kamu benar.”


Aku mengambil keduanya—satu untuk Aoi-san, satu untukku—lalu menuju kasir. Setelah sekian lama bingung, akhirnya aku menemukan sesuatu yang terasa pas. Hampir seperti sihir kecil.


“Sekarang giliranmu—ayo pilih sesuatu untuk Yuuki.”


“Sebenarnya, aku sudah tahu apa yang mau kuberikan padanya.”


“Benarkah?”


Aku mengikutinya menyusuri toko, melewati para pengunjung lain. Kami berhenti di depan rak perlengkapan dapur, dan dia meraih sesuatu.


“Kotak bekal?”


Itu adalah model berukuran sedikit lebih besar, dibuat khusus untuk laki-laki.


“Sebelum kami mulai berpacaran, Yuuki-kun selalu malu makan bekal buatanku. Tapi sekarang, ia memakannya dengan senang hati. Masalahnya, kotak bekal yang ia pakai sekarang itu sebenarnya sisa dari rumahku—modelnya sama sepertiku, tapi ukurannya agak kecil untuknya.”


Benar juga—belakangan ini, Yuuki sering membawa bekal buatan Natsumiya-san. Dan seperti yang dia bilang, itu memang tidak cukup untuknya. Kadang aku melihatnya membeli roti tambahan di kantin sekolah. Untuk anak lelaki SMA yang sedang tumbuh, tentu saja kotak bekal ukuran gadis terlalu kecil.


“Jadi kupikir, aku akan membelikannya yang baru.”


“Itu ide yang bagus. Aku yakin ia akan sangat senang.”


Bukan hanya Yuuki.


Aku yakin membuatkan bekal untuknya juga akan jadi lebih menyenangkan bagi Natsumiya-san.


Seperti yang dia bilang tadi—ini memang hadiah yang bisa membuat pemberinya ikut bahagia.


“Aku mau ke kasir dulu. Tunggu di sini sebentar, ya?”



“Ya. Sampai nanti.”


Dengan ayunan rambut yang ceria, Natsumiya-san berjalan menuju kasir.


Aku bisa membayangkan betapa bahagianya Yuuki dan Natsumiya-san nanti.

Post a Comment for "Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J7 Bab 2.3"