Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J4 Bab 6.3

Bab 6 - Hal yang Kupinta Pada Tuhan Hari Itu




Setelah kembali ke rumah dari Hatsumode, saat itu sudah lewat jam 3 pagi ketika semuanya sudah tidur---


Aku sendirian, duduk di tepi jendela tanpa menyalakan lampu ruang keluarga, memandang ke arah halaman.


Nafasku disinari oleh cahaya bulan yang menyinari ruang yang gelap gulita dengan cahaya putih yang berkabut.


Larut malam di pertengahan musim dingin---biasanya aku akan merasakan dingin yang menusuk pada kulitku, tapi mungkin karena kepalakku begitu panas jadi aku tidak punya waktu untuk mencemaskan kedinginan, aku tidak merasakan sedikit pun rasa dingin saat ini.


"......"


Aku terus memikirkan makna air mata Aoi-san yang kulihat pada saat hatsumoude.


Aku tidak bisa menahan perasaan bahwa aku melakukan kesalahan fatal.


Rasa frustrasi yang tak terkatakan membuatku tidak bisa tidur.


"Bulannya begitu indah hari ini ya."


Sebuah suara yang tidak asing terdengar di ruang keluarga yang tenang.


"......Eiji."


Ketika aku menoleh, ada Eiji dengan senyum lembut di wajahnya.


Eiji perlahan berjalan ke arah jendela dan duduk di sebelahku.


"Maaf......karena selalu membuatmu memperhatikanku."


"Tidak apa-apa kok."


Fakta bahwa Eiji muncul bukanlah suatu kebetulan.


Melihat ke belakang, saat aku mengalami kesulitan, Eiji selalu ada untukku seperti ini.


Seperti saat aku pergi ke minimarket untuk membeli permen untuk Izumi yang ingin memakannya saat kami mengadakan kamp belajar di semester pertama, atau saat aku bingung soal ayah Aoi-san setelah festival musim panas.


Bahkan sekarang, ia mungkin memperhatikan keadaanku dan datang untuk berbicara denganku.


Kalau aku seorang wanita, aku pasti akan jatuh cinta padanya.


"Saat hatsumoude, Aoi-san......menangis."


Aku bercerita karena kebaikan Eiji.


Eiji dengan diam mendengarkan kata-kataku.


"Pertama aku melihat Aoi-san menangis adalah saat festival salju di perjalanan kelulusan. Aku terpisah dari Aoi-san, dan aku segera menemukannya, tapi dia sangat bingung. Aku yakin Aoi-san secara emosional tidak stabil karena dia sedih mengucapkan selamat tinggal. Jadi, lebih dari sekadar membuat kenangan, aku ingin meninggalkan kenangan untuk Aoi-san agar dia tidak kesepian. Dengan begitu, aku yakin Aoi-san tidak perlu meneteskan air mata lagi."   


Itulah yang kupikirkan......


"Mungkin aku......pada dasarnya keliru tentang sesuatu."


"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"


Aku menjawab pertanyaan Eiji.


"Tidak peduli berapa banyak waktu yang kami habiskan bersama, tidak peduli berapa banyak kenangan yang kami buat bersama, aku merasa aku belum bisa meredakan kecemasan dan kesedihan Aoi-san.......aku merasa melewatkan sesuatu yang penting."


Kupikir Eiji juga akan bingung kalau ceritaku tidak jelas begini.


"Baguslah kau menyadari perubahan pada diri Aoi-san, Akira."


Eiji mengangguk mengerti, namun kata-katanya penuh dengan kelegaan.


Hanya satu kata itu yang menegaskan keraguan dalam diriku.


"Apa maksudmu......?"


Aku bertanya, mencari jawaban.


Eiji kemudian menyapu pandangannya seolah sedang memilih kata-katanya.   


Setelah beberapa saat, ia mengangguk seolah ia telah mengumpulkan pikirannya dan kemudian mendongak.


"Kalau kau sudah menyadarinya, mungkin tidak apa-apa untuk membicarakannya."


Eiji bergumam pada dirinya sendiri, bukan padaku.


"Kurasa yang menggerogoti hati Aoi-san saat ini adalah ketergantungannya padamu, Akira."


"......Ketergantungan?"


Ia mengucapkan kata yang tidak pernah terpikirkan olehku.


"Izumi lah yang pertama kali menyadari perubahan Aoi-san."


"Izumi......?"


"Kurasa kau juga menyadari bahwa Aoi-san secara aktif berusaha membuat kenangan denganmu sejak akhir liburan musim panas. Tapi bagi Izumi, penampilan Aoi-san yang terlalu agresif sepertinya merupakan tanda ketidakamanan."


Tiba-tiba, aku teringat saat aku pergi berbelanja untuk membeli hadiah bersama Izumi.


Pada saat itu, Izumi berkata, "Akira-kun sepertinya tidak perlu khawatir."   


Setelah kupikir-pikir, mungkin itu adalah sisi lain dari kata bahwa Aoi-san tidak baik-baik saja.


Aku dan Hiyori juga menyadari hal itu. Kupikir alasan dia memaksakan diri untuk bersikap ceria adalah karena dia cemas. Tapi kupikir itu karena dia sedih karena perpisanan......ketergantungan, ya......"


Jelas sekali bagi semua orang bahwa Aoi-san memaksakan diri.


Namun demikian, penyebab yang aku dan Izumi rasakan, mungkin berbeda.


Dalam banyak kasus, orang yang melihat dari samping lebih bisa menyadari sifat sebenarnya dari sesuatu daripada orang itu sendiri, dan lebih dari segalanya, ketika diungkapkan dengan kata-kata seperti ini, aku memiliki gambaran tentang seberapa besar 'ketergantungan' yang ada.



---Akira-kun berada di sisiku saja cukup.


---Apa yang akan kulakukan kalau aku tidak bisa melihatmu lagi.



Bukan itu saja.


Kata-kata yang mengingatkanku akan ketergantungan yang Aoi-san bicarakan ada di kepalaku.


"Mungkin, bagi Aoi-san, ibunya telah menjadi orang yang digantunginya sampai sekarang."


"......Aku yakin begitu."


Aku hanya bisa setuju dengan itu.   


Alasan kenapa dia tidak bisa meninggalkan ibunya adalah karena dia bergantung padanya, selain hubungan keluarga.


Alasan kenapa dia tidak bisa meninggalkan ibunya meskipun ibunya melakukan hal-hal yang mengerikan padanya adalah karena dia adalah satu-satunya anggota keluarga bagi Aoi-san pada waktu itu, dan pada saat yang sama, dia adalah jangkar emosinya.


Lima belas tahun yang mereka habiskan bersama menumbuhkan rasa ketergantungan daripada ikatan keluarga.


"Namun demikian, ketika kau mengulurkan tangan padanya, orang yang digantungi Aoi-san berubah dari ibunya menjadi dirimu, Akira. Kupikir itu wajar mengingat apa yang telah kau lakukan untuk Aoi-san, dan kalau kau melakukan hal yang sama seseorang, dia akan bergantung padamu meskipun itu bukan Aoi-san. Bahkan, akan aneh kalau tidak."


Ketika aku mendengarkan percakapan itu, sebuah pertanyaan muncul di benakku.


"Kau bilang sebelumnya, 'Aoi-san tidak membutuhkan bantuanku lagi.', tapi menurutku kau setengah benar dan setengah salah. Memang benar lingkungan di sekitar Aoi-san sudah membaik, tapi sebagai gantinya kau sudah menjadi orang yang sangat diperlukan bagi Aoi-san---kupikir mungkin itu alasannya."


Dengan kata lain, aku.......


"Jadi aku membantu Aoi-san untuk menyelesaikan masalahnya dan berpikir membuatnya menjadi mandiri, tapi aku malah membuatnya bergantung padaku ya......malahan, hasrat protektif yang masih ada dalam diriku menghambat kemandiriannya dan meningkatkan ketergantungannya padaku, kurasa. Sebaliknya, bukankah ini semua salahku---"


"---Itu salah."


Ketika aku akan mengatakan sebanyak itu, Eiji menutupi kata-kataku dan menyangkalnya.


"Biar kuperjelah hal ini."


Eiji kemudian melanjutkan dengan nada yang sangat kuat untuknya.


"Tidak ada salahnya dengan menjadi tergantung atau protektif."


"Tidak ada salahnya......?"


"Keduanya baik dan buruk. Itu juga merupakan ekspresi sayang, perasaan yang hadir pada tingkat yang lebih besar atau lebih kecil dalam hubungan antara kekasih dan anggota keluarga. Sejumlah ketergantungan dan protektif diperlukan untuk memperdalam hubungan dengan orang lain, yang juga terjadi dalam hubunganku dengan Izumi. Yang penting, semua itu bergantung pada cara berhubungan satu sama lain."


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Mengejutkan, bahwa ada juga ketergantungan antara Eiji dan Izumi.


Eiji menjaga jarak yang moderat dengan Izumi, sedangkan Izumi terlalu bebas dan tampaknya tidak ada hubungannya dengan ketergantungan.


"Kau tidak perlu memikirkannya terlalu keras. Itu hal yang normal untuk mengandalkan orang yang berharga bagimu dan melindungi orang yang kau sayangi, bukan? Ketika itu sudah terlalu jauh, barulah menjadi masalah."


Kata-kata itu terlintas di benakku.


Jika itu masalahnya, maka aku dan Aoi-san yang sekarang sudah melewati batas.  


"Kau menghadapi perpisahan dengan caramu sendiri dan secara bertahap menerimanya, bukan?"


"Ya."


"Tapi Aoi-san justru sebaliknya. Saat dia berbagi perasaannya denganmu, dia perlahan-lahan menjadi semakin sulit untuk menerimanya. Selama perasaannya terhadap perpisahan berlawanan, tidak akan baik bagi kalian berdua untuk meninggalkan satu sama lain seperti sekarang."


Kupikir seperti yang dikatakan Eiji.


Bahkan jika mereka tidak mengatakan bahwa ketergantungan itu selalu buruk, apa yang akan terjadi jika kami berpisah seperti sekarang?


Jika penyebab yang telah melekat dalam pikiranku untuk waktu yang lama adalah 'ketergantungan' dan 'keinginan untuk melindungi' telah memperburuknya, jika itu adalah penyebabnya, maka membuat kenangan bukanlah solusinya.


Malahan, kenangan itu mungkin akan mengingatkan pada kesedihan.


Bukan di situ masalahnya yang harus diselesaikan.


Ini sulit......rasanya kepalaku jadi panas.


Apa yang harus kulakukan---?


"Apa kau ingat apa yang kukatakan padamu setelah minum teh pertama kami di kedai?"


Eiji kemudian berbicara padaku yang sedang gelisah, dengan cara yang sangat tenang.


"......Tentu saja."


Aku tidak pernah sekalipun lupa.


Kata-kata itu telah menjadi pedoman bagiku selama enam bulan terakhir.


"Pada dasarnya, manusia tidak saling memahami satu sama lain."


Mustahil untuk memahami satu sama lain tanpa kata-kata.


"---Itulah kenapa penting untuk menuangkan pikiranmu ke dalam kata-kata."


Kata-kata ini telah menyelamatkanku berkali-kali.


Dan sekarang, kata-kata Eiji sekali lagi meresap.


"Tidak ada salahnya berpikir sendiri dan mencoba mencari jawaban karena kau peduli dengan orang lain. Itu adalah kebaikan yang tidak diragukan lagi. Sayangnya, kebaikan saja juga sering kali tidak cukup bagi pria dan wanita untuk memahami satu sama lain. Kupikir sekarang adalah waktunya untuk berdialog di antara kalian berdua."


"Benar juga......"


Kupikir aku sudah sangat dekat untuk memahami satu sama lain tanpa kata-kata melalui dialog yang berulang-ulang dan kontak dari hati ke hati untuk memahami Aoi-san, tapi di sini tampaknya kami masih tidak bisa bergerak maju tanpa dialog.


Tiba-tiba aku berpikir.


"Tentunya kalau aku ingin bersama seseorang, aku harus mengulangi hal ini selama sisa hidupku......"


"Ya. Aku setuju dengan pendapat itu dengan sepenuh hati."


Kau terus berusaha memahami orang lain dalam sebuah dialog, dan ketika kau merasa telah memahaminya, maka semuanya akan berakhir.


Ingatlah bahwa kau dan orang lain adalah orang yang berbeda, jangan memaksakan cita-cita yang lebih tinggi dari yang diperlukan pada keluarga dan orang yang kau cintai, dan kalau kau ingin mereka memahami mereka, jangan gagal untuk berusaha memahami mereka sendiri.


Ketika kau menghentikan dialog sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu, kau mungkin kehilangan sesuatu yang penting.


Dan aku membencinya karena selalu saja aku baru menyadarinya setelah aku kehilangannya.


"Meskipun ini adalah masalah yang sensitif, kurasa bukan ide yang baik untuk memaksanya membicarakannya. Akan lebih baik menunggu waktu ketika Aoi-san mengungkapkan perasaannya atau ketika kau secara alami bisa membicarakan masalah ini dengannya. Tentu saja, batas waktunya sudah semakin dekat, jadi kau tidak bisa menunggu terlalu lama."


"Aku mengerti. Aku tidak harus terburu-buru."


Aku tidak punya cara untuk membuat Aoi-san mengutarakan pendapatnya tanpa menyakiti hatinya.


Kalau aku bisa melakukan itu, aku tidak akan mengalami masalah seperti ini sampai sekarang.


Aku harus memahami bahwa saat ini Aoi-san sedang kebingungan, dan saat Aoi-san sudah siap mengekspresikan perasaannya, aku harus menerimanya tanpa panik, meskipun hanya sedikit.


"Dan satu hal lagi, aku ingin meminta maaf."


Eiji kemudian menoleh ke arahku dan menundukkan kepalanya.


"Izumi dan aku menyadari bahwa Aoi-san sangat bergantung padamu, dan bahwa kau masih memendam keinginan untuk melindungi Aoi-san. Kalian berdua menjadi saling bergantung dalam arti yang buruk, sebagai teman dekat, aku maaf aku tetap diam meskipun kami sadar akan situasinya."


Jangan menundukkan kepalamu---


Aku mencoba mengatakan itu, tapi kata-kata Eiji terlalu tulus untuk kutanggapi.


"Bahkan jika aku atau Izumi memberitahumu dan hubungan kalian membaik, itu mungkin hanya sementara. Aku ingin kau menyadarinya sendiri, karena kupikir meskipun kau akan langsung menanganinya, pada akhirnya kau akan mengulangi hal yang sama."


"Ya......sekarang aku juga berpikir begitu."


"Aku tidak berniat memberitahumu meskipun kau tidak menyadarinya. Bahkan jika hal itu tidak menyatukan kalian......jadi aku benar-benar lega karena kau menyadari perubahan pada Aoi-san."


Jangan khawatir.


Aku sangat menerima pemikiran Eiji.


Karena ini adalah strategi penanggulangan, bukan penyembuhan akar masalah.


Sebagai analogi, meminta mereka berdua untuk mengajariku adalah seperti membalut luka setelah terluka, dan yang perlu aku dan Aoi-san lakukan adalah memikirkan penyebabnya dan menghilangkan penyebabnya agar kami tidak terluka.


Jika kami tidak bisa melakukan itu dan mengandalkan orang lain, kami akan mengulangi hal yang sama seperti yang dikatakan Eiji.


Ini adalah kesalahanku yang tidak kusadari sampai hari ini.


Dan akhirnya aku mengerti kenapa aku tidak bisa menyadarinya---


"Kupikir aku takut menghadapi perasaan Aoi-san."


"Begitukah?"


"Kupikir setelah jatuh cinta dengan Aoi-san, aku tidak bisa menyelami perasaannya seperti sebelumnya. Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku, atau aku tidak ingin ini menjadi perasaan sepihakku......"


Itu berbeda dengan saat aku mencoba menolongnya, meskipun itu berarti mengabaikan kenyamanannya.


Kalau aku memiliki keberanian seperti saat itu, aku yakin segalanya akan berbeda sekarang.


"Itu mungkin benar. Tapi aku lega mendengarnya."


"Lega?"


"Aku mengerti kalau kau adalah anak SMA yang normal."


Eiji menunjukkan senyum yang jarang baginya, senyum usil.


"Kau sering menyebut Izumi sebagai orang yang suka ikut campur atau perhatian, tapi kalau ditanya, kau jauh lebih perhatian. Bukankah lucu kalau kau yang seperti itu tidak bisa proaktif pada gadis yang kau sukai?"


"Hentikan. Tidak ada yang suka kalau sesama pria berbicara tentang kehidupan cintanya."


"Begitukah? Aku tidak membencinya seperti yang kau kira."


"Kalaupun itu masalahnya, kita tunda saja sampai kita menyelesaikan semuanya."


"Kurasa begitu. Aku menantikan hari dimana aku bisa mengobrol tentang cinta denganmu, Akira."


Eiji bangkit dengan cepat di tempat.


"Aku hanya bisa membantumu sejauh ini. Aku dan Izumi tidak bisa memikirkan cara lain agar kalian berdua bisa berdamai dengan ketergantungan dan protektif kalian. Maafkan aku, tapi mulai saat ini dan seterusnya aku harus memintamu untuk berusaha sendiri."


"Ya. Mendengarkan ceritaku saja sudah cukup."


"Tapi aku yakin kau bisa menyelesaikannya. Karena sampai saat ini, meski aku tidak pernah memberikan solusi padamu, dan kau sudah menyelesaikan semuanya dengan menghadapi Aoi-san sendirian."


Kata-kata ini tentu saja merupakan bukti kepercayaan terbesar.


"Dalam waktu yang tersisa, Izumi dan aku akan melihat bagaimana romansa kalian."


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi harapanmu."


Eiji meninggalkan ruang keluarga setelah mengatakan ini.


Saat aku ditinggal sendiri dan menatap bulan di langit malam, tiba-tiba aku sadar akan udara yang sangat dingin.


Alasan kenapa pikiranku sangat jernih mungkin karena kata-kata Eiji dan angin malam musim dingin yang dingin telah menyejukkan pikiranku yang panas.


"Memang, bulan sangat indah hari ini......"


Waktu yang tersisa kurang dari tiga bulan.


Di awal tahun baru, aku merasa akhirnya tahu apa yang harus kulakukan.


Akhir Bab 6

Post a Comment for "Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J4 Bab 6.3"