Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J3 Bab 9 Epilog

Epilog




"Oke......kira-kira begini saja."


Setelah festival sekolah berakhir, kami beristirahat setelah merapikan ruang kelas.


Semua teman sekelas sudah meninggalkan sekolah dan pulang ke rumah untuk menyaksikan kembang api yang akan diluncurkan. Hiyori juga pulang sebelum festival sekolah berakhir, jadi hanya tinggal kami berempat yang tersisa di dalam kelas.


Kami bisa saja pulang, tapi kami tetap tinggal, mungkin karena kami tidak ingin melewatkan kesan yang membekas.


Aku sedang duduk di kursi, bekerja dengan malas dan menikmati cahaya yang memancar.


"Baiklah, saatnya kita juga pulang."


Namun, kami tidak bisa selamanya seperti ini.


Waktu bagi siswa biasa untuk pulang sekolah semakin dekat, dan saat itu.


"Akira-kun, bisa aku minta waktumu sebentar......setelah ini?


Pipi Aoi-san sedikit memerah dan matanya menunduk saat ia berbicara.


Itu adalah tingkah Aoi-san ketika dia hendak mengatakan sesuatu yang sulit.


"Tentu saja. Tapi, sudah waktunya untuk keluar dari sekolah, jadi kita tidak punya banyak waktu."


"Anggota komite diperbolehkan berada di sekolah satu jam lebih lama jadi tidak apa-apa, bukan?"


Memang seperti yang dikatakan Aoi-san, anggota komite boleh tinggal satu jam lebih lama dari siswa lainnya.


Itu untuk beres-beres atau melakukan tugas-tugas lain setelahnya, tapi tidak perlu repot-repot tinggal, terutama jika tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan.


"Oke. Apa masih ada pekerjaan yang harus dilakukan?"


"Ada tempat yang aku ingin kunjungi bersamamu......"


Aoi-san yang mengatakan itu, entah kenapa terlihat gelisah.


"Kami akan pulang duluan. Nanti lagi ya~♪"


"Ya, sampai jumpa."


"Akira, festival sekolah masih belum berakhir."


"Hm? Apa maksudmu?"


Keduanya meninggalkan ruang kelas tanpa menjawab pertanyaanku.


Aku dan Aoi-san tetap berada di dalam kelas yang sunyi.


Apa ini......apa karena kami ditinggalkan sendirian di kelas pada jam-jam seperti ini, atau apa itu karena kami tenggelam dalam cahaya festival sekolah, ekspresi Aoi-san terlihat merenung, meskipun tidak dalam arti yang buruk.


"Ehm, bukankah kita akan pergi ke suatu tempat?"


"Ya. Ikuti aku."


Meninggalkan ruang kelas, kami berjalan melewati gedung sekolah yang sepi.


Entah karena gedung sekolah yang kosong pada malam hari, atau karena aku sedang berdua dengan Aoi-san.


Aku merasa bahwa ada suasana yang sangat berbeda dari biasanya diantara aku dan Aoi-san.


Kemudian Aoi-san membawaku ke atap---meski ini adalah tempat yang sudah sering kukunjungi, tapi matahari yang terbenam memberikan kesan seolah itu adalah tempat yang berbeda.


"Mungkinkah, kita ke sini untuk menonton kembang api?"


"Ya. Kita bisa melihatnya dengan jelas dari sini."


"Memang benar ini tempat yang bagus."


Aku memeriksa waktu di ponselku dan hampir pukul 18:30."


Pertunjukan kembang api dimulai pada pukul 18:30 dan berlangsung selama satu jam, dan anggota komite diizinkan untuk tetap berada di sekolah hingga pukul 19:30. Bisa menyaksikan kembang api dari atap seperti ini, di satu sisi, merupakan keistimewaan bagi para anggota komite festival.


Kami duduk berdampingan di bangku yang ada di sana dan menunggu kembang api meluncur.


Di sebelahku, Aoi-san menggosok-gosokkan kedua tangannya dan meniupnya.


Pada pertengahan November, saat matahari terbenam, suhu udara tiba-tiba turun.


"Aku akan mengambil jaket."


"Tidak apa-apa. Tanganku hanya terasa dingin."


"Tapi ini dingin, bukan?"

Tln : jadi, Aoi-san itu bilang tsumetai yang artinya dingin(benda), sedangkan Akira bilang samui yang artinya dingin(suhu/temperatur)


"Kalau begitu......"


Aoi-san membuat ekspresi seolah dia sudah membulatkan tekadnya.


"Eh......?"


"Kalau seperti ini, akan jadi hangat."


Sambil mengatakan itu, dia menggenggam tanganku.


Tangan Aoi-san yang menyentuhku terasa dingin dan menghilangkan rasa panas dari tanganku.


Berbeda dengan sensasi tanganku yang mendingin, aku merasakan suhu tubuhku sendiri meningkat.


Aku sudah beberapa kali bergandengan tangan dengan Aoi-san, tapi aku tidak pernah merasa gugup seperti sekarang. Seolah-olah ini adalah kali pertama kami bergandengan tangan---tidak, ini lebih dari itu, aku merasakan jantung kuberdebar-debar.


......Tapi, entah bagaimana aku tahu alasannya.


Ini bukan karena hubungan kami telah berubah atau Aoi-san telah berubah.


Yang berubah adalah perasaanku.


""......""


Akhirnya, suhu tubuh kami bercampur seakan-akan melebur satu sama lain, dan saat suhu tanganku kembali.


Pertunjukan kembang api diluncurkan dengan dentuman keras dan kilatan cahaya yang dahsyat, menandakan dimulainya pertunjukan kembang api.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Segera setelah itu, kembang api diluncurkan satu demi satu menghiasi langit malam.


"Indah sekali ya......"


"Ya."


Ini adalah kedua kalinya kami menyaksikan kembang api bersama.


Kembang apinya terlihat lebih indah daripada kembang api yang kulihat selama liburan musim panas, mungkin karena udaranya lebih jernih akibat suhu yang lebih sejuk, atau mungkin karena pengaruh perasaanku yang sudah berubah, atau mungkin keduanya.


Mataku tercuri oleh kembang api warna-warni yang melesat tanpa henti.


Setelah menonton kembang api untuk sementara waktu.


"Aku sangat ingin melihatnya bersama Akira-kun."


Aoi-san bergumam sambil menatap langit malam.


"Kenapa?


"Izumi-san memberitahuku."


"Izumi?"


"Saat laki-laki dan perempuan yang tergabung dalam komite festival sekolah bersama-sama menyaksikan pertunjukan kembang api di atap......."


Aoi-san menahan lidahnya sekali ketika dia akan mengatakan hal itu.


Pipi Aoi tampak samar-samar merah, mungkin karena kembang apinya.


"Dia bilang mereka bisa bersama selamanya."


Aoi-san mengucapkan kata-kata itu dengan sedikit malu.


Aku sama sekali tidak bermaksud menyangkal perkataan itu, tapi kupikir itu pasti lelucon Izumi yang biasa.


Aoi-san adalah orang yang polos dan tidak tahu bagaimana meragukan orang lain, dan jika dia tidak diberitahu kalau itu lelocon atau bohong, dia akan selalu terus percaya. Di masa lalu, dia telah diberitahu banyak hal oleh Izumi dan mempercayainya.


Aku yakin kali ini juga Izumi pasti sudah memberi tahu Aoi-san sesuatu.


Karena jika memang ada hal seperti itu, aneh jika tidak ada siswa lain di sini. Mereka menggunakan posisi mereka di komite sebagai alasan untuk lebih dekat dengan orang yang mereka sukai, dan menyatakan perasaan mereka saat menonton kembang api bersama.


Seharusnya ada siswa lain yang seperti itu, tapi aku tidak bisa menemukan satu pun.


Dasar......si Izumi itu, dia memberikan perhatian yang tidak perlu.


Tapi kurasa, ketika aku berterima kasih pada Izumi, aku tidak bisa membohongi diri sendiri lagi.


"Akhir-akhir ini, aku berharap hari-hari seperti ini bisa berlangsung selamanya......."


Aoi-san menggumamkan beberapa kata sambil menatap kembang api yang menghiasi langit malam.


"Aku berteman dengan semua orang di kelas, aku bertemu dengan ayah dan nenek lagi, aku bisa memilah perasaanku tentang ibu dan...... memiliki keberanian untuk bertemu dengan keluarga ayah, kupikir aku benar-benar bahagia sekarang. Jika Akira-kun tidak menemukanku hari itu, tidak akan ada aku yang sekarang."


Lalu dia terus merangkai kata-kata terima kasihnya.


"Akira-kun sudah sangat banyak menolongku, dan tidak peduli seberapa banyak aku berterima kasih, itu tidak cukup."


"Bukan berarti aku telah membantumu sebanyak yang kamu katakan. Itu karena kerja keras Aoi-san."


"Tidak......sangat banyak kok. Bukan hanya apa yang baru saja kukatakan."


"Bukan hanya apa yang baru saja kamu katakan?"


Segera setelah aku bertanya kepadanya, tidak bisa memahami maksud dari kata-katanya.


"Akira-kun selalu berada di sisiku, bahkan saat kita masih TK."


"Eh---"


Kata-kata yang tidak terduga itu membuatku terdiam.


Saat kita masih TK, jangan-jangan......


"Aoi-san......kamu mengingatnya?"


"Aku......melupakannya untuk waktu yang lama. Bahkan setelah aku bertemu Akira-kun lagi, aku tidak bisa mengingatnya. Namun kemudian, ketika kamu menemukanku di depan taman kanak-kanak pada hari terakhir di semester pertama, aku mengingat semuanya."


Aoi-san mengalihkan pandangannya dari kembang api yang mewarnai langit malam dan menatapku.


"Kalau anak laki-laki yang selalu berada di sisiku saat itu adalah Akira-kun."


Kupikir hanya aku yang mengingatnya.


Aku tidak berpikir saat aku mengingat tentang Aoi-san, Aoi-san juga mengingat tentangku.


"Aku terpisah dari Akira-kun ketika masuk sekolah dasar, tapi ketika aku melihat kembang api bersamamu seperti ini, aku berpikir bahwa kali ini apa kita bisa tetap bersama.......aku berharap hari-hari seperti ini akan berlangsung selamanya."


Meskipun tidak terwujud, dia tetap mengharapkannya.


Tidak, dia berharap untuk itu karena dia tahu itu tidak akan terwujud.


Aku juga sudah berkali-kali berharap, seperti halnya Aoi-san, bahwa hari-hari seperti ini akan berlangsung selamanya.


"Aku hanya ingin Akira-kun berada di sisiku. Hanya itu yang kuinginkan."


"......Aku juga ingin terus bersama Aoi-san."


Jadi, setidaknya biarkan aku untuk mengungkapkannya dengan kata-kata.


"Ya......terima kasih."


Apa yang kupikirkan saat melihat senyum bahagia dan berseri-seri dari Aoi-san.


Pada saat yang sama, selain merasa senang karena kami merasakan hal yang sama, perasaan yang mirip dengan nostalgia muncul dari dalam dadaku. Ini berbeda dengan perasaan yang dulu kumiliki untuk Aoi-san, tapi ini bukan yang pertama kalinya.


Seakan-akan perasaan yang sudah lama terlupakan, yang pernah kurasakan sewaktu kecil, hidup kembali.


Mungkin aku tidak bisa lagi berbohong tentang perasaanku. Karena sekaranglah, setelah semua masalah telah terpecahkan dan kami sama-sama tahu bahwa kami telah mengingat segala sesuatu tentang satu sama lain, perasaanku telah berubah.



Ya---orang-orang telah memberi nama perasaan ini dengan nama 'cinta'.



Tapi---


Satu kekhawatiran yang muncul di dalam hatiku ketika aku menyadari bahwa aku jatuh cinta dengan gadis yang sama untuk kedua kalinya.


Semacam ketidaknyamanan yang terlalu sepele untuk disebut sebagai kekhawatiran. Kata-kata yang diucapkan Aoi-san, 'Tidak apa-apa selama Akira-kun ada di sisiku', membuatku merasakan sedikit kegelisahan.


Aku tidak punya bukti---


Namun demikian, hubungan antara aku dan Aoi-san mungkin menuju ke arah yang berbeda dari yang kuinginkan.


Sambil menatap kembang api yang bertaburan di langit malam musim gugur, aku terus berharap bahwa itu hanya imajinasiku.




Selesai

Translator : MayLa

Editor : Sphagnum

Post a Comment for "Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J3 Bab 9 Epilog"