Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J3 Bab 7.1

Bab 7 - Lalu, Kami Mencurahkan Seluruh Waktu Untuk Persiapan




Keesokan harinya, setibanya di sekolah dan sebelum perwalian pagi dimulai---


Aku dan Aoi-san berdiri di podium kelas, dan semua mata teman-teman sekelas tertuju pada kami.


Sudah dua minggu sejak Aoi-san tidak masuk sekolah, dan aku yakin semua orang memiliki banyak pertanyaan yang ingin mereka tanyakan padanya, tapi mereka menunggu kami untuk mulai berbicara tanpa membuat keributan seperti ini.


Meski, seperti yang diharapkan, semua orang terkejut ketika Aoi-san datang ke sekolah.


"Umm....... "


Aoi-san terlihat gugup dan terbata saat mengucapkan kata-katanya.


Tidak heran.


Meskipun Aoi-san sekarang merasa nyaman dengan semua orang di kelasnya, dia sangat pemalu sehingga, beberapa bulan yang lalu ketika dia masih berambut pirang, dia tidak bisa berbicara dengan siapa pun dan terisolasi.


Pada dasarnya, dia bukanlah tipe orang yang bisa berdiri dan berbicara di depan orang banyak.


Semua orang tahu itu, jadi mereka tidak akan menginginkan suasana kaku seperti itu.


Meskipun begitu, Aoi-san memutuskan untuk berbicara pada semua orang dengan kata-katanya sendiri.


Aoi-san meletakkan tangannya di dadanya dan menarik napas dalam-dalam.


"Teman-teman, aku minta maaf."


Meskipun lirih, dia mengucapkan kata-kata itu dengan jelas.


"Meskipun aku mengambil peran sebagai anggota komite festival, aku absen dua minggu.......kupikir aku menyebabkan banyak masalah bagi semua orang. Aku akan berusaha yang terbaik mulai hari ini untuk menebus masalah yang kutimbulkan, jadi tolong maafkan aku."


Aoi-san membungkuk dalam-dalam.


Semua orang menatapnya dengan ekspresi penuh perhatian di wajah mereka.


"Tidak apa-apa kok, Aoi-san."


Suara seorang gadis berseru dengan lembut.


"Kita semua tahu bahwa Aoi-san bekerja keras. Kami juga tahu kalau kamu berkeliling ke kedai-kedai untuk memilih menu, tidak hanya saat sepulang sekolah, tapi juga saat libur. Kamu sudah bekerja keras bahkan ketika kami tidak bisa melihatnya. Kamu tidak perlu meminta maaf."


Aoi-san menggigit bibirnya seolah berusaha menahan kata-kata yang penuh dengan kelembutan.


"Ya, ya. Malahan, tidak apa-apa kalau kamu istirahat sedikit lebih lama lagi."


"Jangan memaksakan diri, kalau kamu butuh istirahat lagi, kamu selalu bisa mengandalkan kami."


Kemudian, satu demi satu, teman-teman sekelas lainnya mulai memberikan kata-kata dorongan dan semangat pada Aoi-san.


Setiap kali suara lembut bergema di ruang kelas, ekspresi Aoi-san menjadi luluh. Dia tidak bisa menekan perasaan yang terus merembes, dan rasa terima kasih Aoi-san meluap dengan air mata.


"Aoi-san."


Aku yang berdiri di sampingnya dengan lembut menawarkan saputangan padanya.


"Terima kasih........"


Aoi-san menerimanya dengan senyuman di wajahnya, meskipun air mata masih mengalir.


Akhir-akhir ini Aoi-san sering meneteskan air mata, tapi air mata tidak melulu berarti karena dia sedih.


Aku merasa seperti mengetahui untuk pertama kalinya keindahan air mata yang menetes karena bahagia.

*




Dengan begini, Aoi-san telah kembali ke persiapan untuk festival sekolah, dan tinggal kurang dari dua minggu lagi---


Ini adalah putaran terakhir, tapi aku ingin memeriksa kemajuan setiap tim pada saat ini.



Pertama, mari kita bicara tentang tim kostum yang dipimpin oleh Izumi.


Aku sempat khawatir dengan tim ini, yang mungkin merupakan tim dengan biaya produksi termahal, namun perkembangannya berjalan dengan baik.


Saat ini, mereka telah menyelesaikan sekitar lima kostum yang dibuat dari kimono Jepang.


"Pada hari H, kami akan bergiliran dalam kelompok delapan orang, jadi kami hanya perlu membuat tiga kostum lagi dan selesai♪"


"Tiga kostum? Kamu akan membuat satu untuk masing-masing gadis?"


"Tentu saja itu tidak mungkin. Kami akan mempadupadankan."


"Mempadupadankan? Lalu kenapa kau menyuruhku mengukur ukuran Aoi-san?"


"Eh?"


"Tidak tidak, jangan malah 'Eh'."


Tidak perlu membuatnya dalam ukuran yang persis sama dengan badan Aoi-san.


Malahan aku berpikir kalau itu akan agak merepotkan kalau tidak membuatnya dalam ukuran yang bisa dipakai oleh semua orang.


"A-Ah---saat kamu mengatakannya, itu memang benar."

 

Izumi secara terang-terangan berbalik dan berbisik ke arah sana, dengan tatapan matanya yang berenang.


"Kau, jangan-jangan......"


Dia sengaja!? Tidak, dia pasti disengaja!


Terima kasih banyak sudah memberikan aku kenangan yang luar biasa!


"Terima kasih untuk yang it......maksudku, aku punya satu pertanyaan---"


Kemudian Izumi dipanggil oleh teman sekelas dan pergi melarikan diri.


Izumi kemudian bertanya padaku tentang yang tadi, tapi aku lupa dan tidak jadi bertanya. Aku merasa itu adalah cerita yang cukup penting...tapi tidak peduli seberapa keras aku memikirkannya, aku tidak bisa mengingatnya.


Ada juga saat kau kehilangan timing-nya, kau tidak bisa mengingatnya ya.



Kesampingkan itu, selanjutnya adalah tim produksi alat, yang dipercayakan pada Eiji.


Meja dan kursi yang akan digunakan pada hari H sudah ditata, dan peralatan makan sudah dibawa dari rumah Izumi. Mereka saat ini sedang mendiskusikan apa yang harus dilakukan dengan interiornya, dan segera setelah mereka memutuskan, mereka berencana untuk berbelanja barang-barang yang diperlukan.


"Akan seperti apa gambaran interiornya?"


"Aku akan mengambil inspirasi dari interior kedai teh yang pernah kulihat di internet. Kalau aku harus meringkasnya dalam satu kata, mungkin retro Jepang."


"Kostum kita seharusnya memiliki nuansa kimono atau Taisho-romantis, jadi itu pasti akan lebih cocok seperti itu."


Namun demikian, elemen gal pirang pada kostum mungkin berarti bahwa kostum tersebut tidak bisa murni gaya Jepang, tapi Izumi mengatakan bahwa dia akan melanjutkannya sambil mendengarkan gambaran yang ada dalam benaknya.


Yah. Aku tidak percaya diri dengan seleraku, jadi aku serahkan pada Eiji saja.



Dan tentang panduan pelayanan pelanggan yang menjadi tanggung jawabku dan Aoi-san.


Kami meluangkan waktu di paruh pertama minggu depan dengan aku akan mengajar anak laki-laki dan Aoi-san mengajar para gadis.


Aku terkejut ketika mengetahui kalau aku juga cukup terbiasa dengan layanan pelanggan, awalnya aku enggan tersenyum pada pelanggan, tapi sekarang aku menikmatinya dengan caraku sendiri.


Bahkan aku pun bisa melayani pelanggan, jadi aku yakin semua orang di kelas akan baik-baik saja.



Kemudian tibalah saat pembuatan camilan teh untuk ditempatkan di menu utama.


Karena tidak tahan lama jika dibuat terlalu awal, kami meminjam ruang praktek memasak sekolah sehari dan dua hari sebelum hari H.


Untuk membuat empat jenis camilan yang telah diputuskan, kami akan meminta bantuan seseorang yang pandai memasak dan membuat camilan untuk membuatnya. Untuk saat ini, kami akan berbelanja bahan makanan pada paruh pertama minggu depan.


Eiji dan Izumi telah berbagi dengan semua orang tentang cara membuat camilan yang diajarkan oleh Hiyori.


Aku dan Aoi-san berencana untuk bergabung, jadi kami tidak ketinggalan.



Hari-hari persiapan berlalu seperti itu, dan pada hari Jumat sore sebelum hari H besok---


"Selesai!"


"Entah bagaimana kita berhasil tepat waktu."


Suara Izumi yang terlalu ceria bergema di depan camilan-camilan teh yang berjejer di atas meja di ruang praktek memasak.


Sehari sebelum festival sekolah, tidak ada kelas karena untuk persiapan festival, dan sementara setiap tim melakukan persiapan akhir, aku, Aoi-san dan Izumi menghabiskan dua hari penuh di ruang praktek memasak sejak kemarin bersama anggota lainnya.


Kami berhasil menyelesaikan pembuatan camilan teh untuk menu di kafe gal pirang bergaya Jepang.


Empat jenis camilan teh disusun di atas piring persegi dengan pola bunga sakura yang dipinjam dari kedai kopi tempat kami bekerja paruh waktu. Ada satu set yokan matcha dan yokan kastanye, manju matcha, tiramisu matcha, serta es krim matcha dan vanila.


Meskipun per satuan porsinya kecil, set yang besar ini memungkinkan pelanggan untuk menikmati berbagai rasa yang cocok dengan matcha.


Dua ratus porsi dibuat dalam dua hari.


Melihatnya ditata di atas meja seperti ini sungguh merupakan pemandangan yang menakjubkan.


Semua orang tampaknya merasakan hal yang sama, melihat camilan teh dengan puas.


"Baiklah, mari kita cicipi bersama."


"Ya!"


Dengan Izumi yang memimpin, para gadis tertawa dan mengambil apa yang mereka sukai.


"Yang mana yang kamu inginkan, Aoi-san?"


"Yang mana ya. Aku jadi bingung."


"Akira-kun, boleh tidak kalau aku makan semua?"


Izumi mulai bicara sesuatu yang berlebihan.


"Secara perasaan, aku membolehkannya, tapi kita tidak punya banyak waktu untuk membuat ulang untuk bagian yang kita cicipi dan bahan-bahannya juga. Maaf, tapi kau harus berbagi mencicipi dengan yang lainnya."


"Mengerti! Kalau begitu, aku akan makan yokan...... mmm~ini enak"


"Izumi-san, yang tiramisu juga enak."


"Benarkah? Mana mana.......Ya. Kalau yang ini rasa orang dewasa."


Senang melihat tidak hanya Aoi-san dan Izumi, tapi juga yang lainnya dengan gembira mengobrol dambil menikmat camilan teh yang mereka sukai, tapi masih telalu dini untuk merasa puas.


"Sisanya akan disimpan di kulkas oleh aku, Izumi dan Aoi-san, jadi para pencicip bisa pulang lebih dulu."


Bagaimanapun waktu pulang sekolah semakin dekat.


Setelah mereka semua selesai mencicipi, aku meminta mereka untuk pulang.


Ketika semua orang sudah meninggalkan ruang praktek memasak, Eiji, yang sedang mempersiapkan ruang kelas, datang di ujung ruangan.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


"Kerja bagus, semuanya."


"Bagaimana kabarnya yang di sana?"


"Sudah selesai tanpa masalah. Sisanya tinggal melakukan persiapan ringan besok pagi."


"Baguslah kalau begitu. Kami juga hanya tinggal menaruh camilan teh di kulkas dan selesai."


"Aku akan membantu."


Kami pun berempat menyimpan camilan teh di kulkas.


Setelah beberapa saat, kami selesai menyimpannya dan kembali ke ruang kelas untuk mengambil tas dan melihat-lihat.


"Oh......ini luar biasa."


"Mengagumkan......"


Tanpa sadar, aku dan Aoi-san berseru kagum.


Meja dan kursi kayu disusun di dalam kelas, dengan taplak meja berwarna hijau dan coklat yang terbuat dari linen. Di tengah meja, beberapa jenis bunga ditata dalam vas kecil.


Ini sangat kontras dengan interior kedai teh yang kukunjungi bersama Aoi-san.


Ruangan itu penuh warna namun juga bernuansa kalem.


"Seperti yang diharapkan dari Eiji. Sangat sempurna."


"Terima kasih. Meski kebanyakan aku hanya mengambil referensi dari kedai-kedai yang kucari di internet."


"Tidak, tidak. Mengambil referensi itu satu hal, tapi mereplikanya adalah hal lain, jadi ini sungguh luar biasa."


Kupikir ia terlahir dengan selera di bidang itu.


Sepertinya Tuhan telah memberikan banyak hal pada Eiji, seperti wajah, kepala, kepribadian yang baik dan bahkan selera yang baik. Berapa banyak kebajikan yang harus dikumpulkan di kehidupan sebelumnya untuk terlahir kembali sebagai anak laki-laki dengan spesifikasi tinggi seperti Eiji sih?


Seriusan kau perlu sedikit berbagi.


"Kalian juga harus melihat bagian belakangnya."


Melihat bahwa sekitar sepertiga ruang kelas dipartisi oleh tirai dengan pewarnaan dua nada yang sama dengan taplak meja, bagian belakang ruangan pasti merupakan dapur dan yang lainnya.


Ketika Eiji meminta kami untuk membuka tirai, kami menemukan area kerja yang rapi dan bersih.


Ada cukup ruang bagi orang untuk saling berpapasan, dan area untuk membuat teh dan menyiapkan menu berdampingan, dan itu dirancang dengan pertimbangan untuk orang-orang yang benar-benar melakukan pekerjaan.


Satu hal yang menonjol di antara mereka adalah kulkas mendatar di bawah ruangan.


"Eiji, ada apa dengan kulkas besar ini?"


Tidak peduli bagaimana melihatnya, ini untuk penggunaan komersial, bukan?


"Sebenarnya, manajer pekerjaan paruh waktu kalian mengirimkannya pada kami."


"Pak manajer?"


Aku tidak mendengar sepatah kata pun tentang itu.


"Katanya, kalau kalian akan menjalankan sebuah kedai, sebaiknya kalian memiliki ini di bagian belakang. Awalnya kami akan memiliki kotak pendingin dan refrigeran untuk menyimpan minuman dan camilan teh, tapi kalau dengan ini kita bisa menyimpan cukup banyak di dalamnya. Ini juga berarti lebih sedikit perjalanan bolak-balik ke ruang praktek memasak untuk mengisi ulang."


Terima kasih......


Selama dua minggu Aoi-san kembali ke tempat ibunya, dia absen dari pekerjaan paruh waktunya.


Dia tidak memberi tahu pak manajer kalau itu karena masalah keluarga, tapi ia pasti menyadari bahwa ada masalah. Ini mungkin adalah ide pak manajer untuk membantu kami.


Bukan hanya semua orang di kelas yang memberikan bantuan kepada Aoi-san.


"Aoi-san, bisa kamu mengundang pak manajer ke festival sekolah?"


"Ya. Aku ingin pak manajer makan camilan teh yang kita buat. Aku akan mencoba menghubunginya nanti."


Setelah selesai memeriksa semuanya, kami bersiap-siap untuk pulang dan meninggalkan ruang kelas.


Dalam perjalanan pulang, aku mencari saat yang tepat untuk berbicara dengan Eiji dan Izumi.


Karena ada hal penting yang ingin kusampaikan pada mereka.


"Ngomong-ngomong, kita belum memutuskan menu kelimanya, kan?"


Izumi berbicara dengan sedikit menyesalinya.


Ya, itulah yang ingin kubicarakan.


"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kubicarakan tentang masalah itu dengan kalian berdua."


"Tentang jenis camilan teh yang kelima?"


"Ya. Sebenarnya, kami sudah memutuskan jenis yang kelima setelah mendiskusikannya dengan Aoi-san."


"Eh!? Kalau begitu kamu seharusnya memberi tahu kami!"


Izumi mendesakku kenapa aku tidak mengatakannya.


"Aku yakin pasti ada alasannya, bukan?"


Eiji kemudian bertanya sambil menenangkan Izumi.


"Kami memutuskan apa yang akan dibuat segera setelah Aoi-san kembali. Aku ingin meminta Hiyori untuk mengajari kita cara membuatnya, tapi Hiyori juga harus sekolah dan tidak bisa datang pada hari liburnya, jadi aku tidak bisa memintanya untuk mengajari kita terlebih dahulu. Ini agak mendadak, tapi Hiyori seharusnya datang dan mengajari kita setelah ini."


"Maksudmu kita akan membuatnya di rumah Akira-kun sekarang?"


"Ya."


Hal ini begitu mendadak, jadi baik Eiji maupun Izumi terkejut.


Khususnya Izumi, yang sudah membuat camilan teh sampai beberapa saat yang lalu, jadi dia mungkin menyadari betapa sulitnya itu.


Ekspresi keterkejutan di wajah mereka bercampur dengan sedikit kecemasan.


"Alasan aku tidak memberi tahu kalian berdua sampai sehari sebelumnya adalah karena kupikir kalau aku memberi tahu kalian, kalian akan mengatakan kita akan membuatnya bersama. Kalian berdua bekerja sangat keras untukku dan Aoi-san, jadi kupikir ini adalah giliran kami untuk bekerja."


Aku tidak bisa membebani mereka berdua lebih dari ini.


Aoi-san mengangguk dengan penuh tegas di sebelahku.


"Hanya saja, yah, kupikir aku perlu memberi tahu kalian berdua sebelumnya, karena kalian akan terkejut jika kami membawanya ke sekolah besok secara tiba-tiba. Jadi, tunggu saja dan nantikan itu."


Aku mengatakan itu dengan maksud untuk membalas kebaikan mereka.


"Akira-kun, kamu tahu......."


Izumi memelototiku dengan wajah paling tidak puas yang pernah kulihat.


Alih-alih terlihat tidak puas, tergantung pada cara melihatnya, ini bisa dilihat sebagai kekecewaan.


"Sudah cukup, kamu harus menghentikan omong kosong seperti itu ini."


"Tidak, aku tidak mengatakan omong kosong apapun......"


"Benar. Kurasa aku juga setuju dengan Izumi tentang hal itu."


"Eeeeh......"


Tidak hanya Izumi, bahkan Eiji pun mengangkat di pundaknya, seakan mengatakan 'Ya ampun'.


"Kepedulian semacam itu penting bagi orang lain, tapi jangan lagi dilakukan di antara kita. Kamu tidak perlu merasa bahwa kamu merepotkan kami, atau bahwa kamu tidak bisa membalas budi atas bantuan yang kamu terima. Setidaknya aku merasa sedih ketika kalian berdua bersikap seperti itu padaku."


Izumi yang selalu ceria berbicara dengan serius.


Hal itu semakin menguatkannya.


"Akira, kau memiliki rasa tanggung jawab yang aneh, dan rasa tanggung jawab itu membuatmu terlihat jantan dalam beberapa hal. Seperti kata pepatah, 'Tetap ada etika bahkan ketika kau sudah dekat', dan aku berterima kasih kalau kau tetap berhati-hati dengan tindakanmu pada kami. Tentu saja, aku memahami bahwa ini adalah salah satu kebaikan Akira. Tapi kau tahu---"


Eiji terus merajut kata-katanya dengan hati-hati.


"Aku ingin kau berhati-hati pada kami dengan tidak terlalu berhati-hati pada kami."


"Berhati-hati, dengan tidak berhati-hati......" 


Kata-kata ini bergema di hatiku lebih dari yang kuduga.


"Aku yakin kita semua akan selalu berhati-hati dengan tindakan kita pada seseorang hingga hari kematian kita. Hal ini bukanlah sesuatu yang harus membuat kita pesimis, ini adalah bagian alami dari kehidupan bermasyarakat. Tapi aku yakin bahwa ada orang-orang yang bisa kita ajak bergaul tanpa harus berhati-hati, tentu saja. Mungkin kau hanya bisa bertemu dengan beberapa orang seperti itu seumur hidupmu. Aku sendiri berpikir bahwa kita berempatlah orang itu."


"Eiji......"


"Mungkin 'Tetap ada etika bahkan ketika kau sudah dekat' diperlukan, tapi etika seperti itu tidak diperlukan lagi dalam persahabatan yang sangat erat. Pada dasarnya manusia tidak bisa memahami itu memang pendapatku, tapi kupikir orang-orang menyebut hubungan dengan seseorang yang secara ajaib saling memahami satu sama lain sebagai 'sahabat'. Itulah yang aku dan Izumi sebut sebagai hubungan antara kita berempat."


Aku merasa bahwa aku harus meresapi makna kata-kata Eiji dan Izumi dengan baik.


Bukan hanya karena Izumi mengatakannya dengan tatapan mata yang serius. Aku harus memikirkan tentang makna Eiji, yang biasanya melihat segala sesuatu secara objektif, secara tidak biasa, berbicara dengan pemikirannya sendiri.


Aku yakin ini adalah sesuatu yang membuat aku dan Aoi-san senang.


Di atas segalanya, aku sudah lama menganggap mereka sebagai sahabatku.


"......"


Aku menengadah ke langit dan menarik napas dalam-dalam sebelum bertukar pandang dengan Aoi-san.


Kemudian Aoi-san tersenyum dan mengangguk perlahan.


Dia pasti sudah bisa menebak apa yang ingin kukatakan.


"Terima kasih......kalian berdua."


Rasanya akhir-akhir ini, aku dan Aoi-san selalu mengucapkan terima kasih.


Tapi itu bukan hal yang buruk.


"Aku minta maaf pada kalian berdua, tapi sepertinya sudah jadi sifatku untuk berhati-hati dengan tindakanku seperti kata Eiji. Karena itu, aku akan berhenti berhati-hati seperti yang kalian berdua katakan, meski sulit kalau harus segera. Tapi---"


Ya, tapi---


"Ketika aku terlalu berhati-hati dengan tindakanku lagi, katakan keluhan kalian seperti yang kalian lakukan tadi."


Bagaimanapun, aku terlalu malu untuk mengungkapkan perasaanku dengan lugas ke dalam kata-kata seperti Eiji.


Mereka berdua kelihatannya sudah memahami kata-kataku yang berbelit itu.


"Pada saat itu, aku akan mengatakan seratus atau dua ratus keluhan, seperti biasa♪"


Izumi tersenyum jahil.


Aku tidak bisa mengatakan bahwa dia memiliki dua urutan yang berbeda dalam hal basa-basi.


"Jadi, apa yang akan jadi menu terakhirnya?"


"Puding matcha dari Kagetsu."


"Puding matcha dari Kagetsu?"


Dari reaksinya, Izumi pasti tahu itu.


"Memang benar itu enak, tapi kenapa kalian memilihnya?"


"Puding matcha dari Kagetsu adalah puding yang penuh kenangan bagi Aoi-san."


Kemudian aku dan Aoi-san memberi tahu mereka alasan kami memilihnya.



Tentang ayah Aoi-san yang sering membelikan puding matcha dari Kagetsu ketika dia masih kecil.


Tentang ketiga anggota keluarga ini selalu menantikan saat-saat untuk menyantap puding bersama.


Tentang meskipun Aoi-san sendiri lupa dari kedai mana puding itu berasal, tapi ketika aku berbicara dengan ayah Aoi-san tentang dirinya, ia memberi tahuku bahwa itu adalah puding matcha dari Kagetsu.


Tentu saja, kami tahu bahwa kami mungkin tidak bisa meniru rasa Kagetsu dengan sempurna.


Namun, aku ingin Aoi-san dan ayahnya bisa memakannya bersama seperti dahulu dengan puding buatan kami sendiri.


Kami juga memberi tahu mereka bahwa kami telah mengundang ayah Aoi-san untuk tujuan ini.



"Kalian mungkin berpikir bahwa kita tidak perlu repot-repot membuatnya sendiri, kita bisa membelinya di kedai Kagetsu dan memakannya bersama-sama. Tapi, bagaimana aku harus mengatakannya ya......aku merasa ada makna tersendiri kalau membuatnya sendiri."


Mereka mungkin tidak memahaminya, mungkin juga berpikir bahwa itu untuk kepuasan sendiri.


Tapi jika bukan karena festival sekolah, kami tidak akan berkeliling kedai teh, dan jika ibunya tidak muncul di depan kami, aku tidak akan mengunjungi kedai teh Kagetsu bersama ayahnya, dan aku mungkin tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mengenal dirinya lagi.


Ketika aku memikirkannya, kurasa ada artinya tersendiri kalau ayahnya memakan puding matcha buatan sendiri.


"Ini tidak akan memakan waktu semalaman, tapi kurasa akan sampai larut malam. Tolong bantu kami."


Aku meminta pada mereka berdua setelah menjelaskan semuanya.


"Oke. Kami akan pulang dan mempersiapkan untuk menginap dan kemudian pergi ke rumah Akira."


"Terima kasih. Izumi, bagaimana denganmu......eeh?"


Ketika aku mengira Izumi juga akan datang, dia menangis tersedu-sedu.


Tiba-tiba aku teringat saat pertama kali aku pergi ke pusat perbelanjaan bersama Aoi-san. Aku ingat ketika mereka melihat aku bersama Aoi-san dan menjelaskan situasinya pada mereka, dia menangis tersedu-sedu seperti sekarang.


Aku selalu berpikir kalau dia anak yang kelewat baik.


Izumi memeluk Aoi-san, sepertinya dia tidak bisa menahan diri lagi.


"Aoi-san, ayo berusaha agar ayahmu mengatakan 'Ini enak'!"


"Ya. Terima kasih."


"Kalau sudah diputuskan begitu, aku harus bergegas pulang dan mempersiapkan untuk menginap. Kamp pembuatan camilan teh kedua!"


Kamp sebelumnya dilakukan tanpa Aoi-san, tapi kali ini semua anggota berkumpul.


Ini adalah pertama kalinya kami berlima berkumpul seperti ini sejak liburan musim panas di vila.


Bukan hanya Izumi, tapi aku pun merasa bersemangat.

*

Post a Comment for "Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J3 Bab 7.1"