Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J3 Bab 6.2

Bab 6 - Keputusan Dia




"Cokelat, minumlah, ini akan menghangatkanmu."


"......Terima kasih."


Setelah itu, aku membawa pulang Aoi-san.


Ada banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya, tapi pertama-tama aku harus menenangkan dirinya.


Aku berpikir begitu, dan sesampainya di rumah, aku menyiapkan bak mandi dan menyuruh Aoi-san masuk.


Mandi sering dikatakan bisa membersihkan pikiran, dan Aoi-san tampak mendapatkan kembali ketenangannya saat dia keluar.


Mungkin dia hanya terlihat seperti itu karena tubuhnya telah menghangat dan warna wajahnya membaik, tapi dia masih terlihat lebih hidup daripada saat aku bertemu dengannya lagi di apartemen.


Dan satu hal lagi, cara terbaik untuk mendapatkan kembali energimu adalah dengan makan makanan yang enak.


Aku membuatkan sesuatu yang ringan karena dia mungkin tidak terlalu berselera makan, dan setelah dia selesai makan malam setelah mandi, kami menghabiskan waktu seperti ini, duduk berdampingan di sofa ruang keluarga.


"Ini enak......"


Aoi-san memegang secangkir cokelat di kedua tangannya dan mendekatkannya ke mulutnya.


Setelah menyesapnya, dia bergumam pada dirinya sendiri sambil menghembuskan napas panjang.


"Aoi-san, aku ingin kamu menceritakan apa yang terjadi."


"......"


Aoi-san menundukan pandangannya seolah ragu.


Kenyataan bahwa dia bahkan ragu dalam situasi ini, mungkin karena kebaikan hatinya, karena dia masih tidak ingin melibatkanku di dalamnya.


Aku sudah memutuskan bahwa tidak peduli bagaimana perasaan Aoi-san tentang hal itu, aku tidak akan membiarkan dia memikulnya sendirian lagi.


"Aku tidak ingin hanya melindungi tempat kembali Aoi-san."


"Akira-kun......"


"Apa yang terjadi pada ibumu mungkin merupakan masalah antara Aoi-san dan ibunya. Tapi, jika Aoi-san dan aku tidak bisa bersama tanpa menyelesaikan masalah ini, ini bukan lagi masalah Aoi-san saja. Kupikir ini adalah masalahku juga. Karena itu, aku ingin berjuang dengan Aoi-san juga."


Aoi-san membuat gerakan seakandia sedang merenung.


Setelah beberapa saat, dia menatap mataku dan mengangguk.


"Terima kasih, Akira-kun."


Aoi-san kemudian mulai berbicara tentang dua minggu kebelakang.


"Kamu tahu, Ibuku......pergi ke tempat pria lain."


"Eh......?"


Aku memang tidak mengharapkan akan mendapatkan jawaban yang bagus.


Tapi yang keluar benar-benar terlalu buruk.


"Hari pertama aku pulang ke rumah ibu, aku ingin berbicara dengannya. Namun sebelum bisa melakukannya, ibu memintaku untuk memberikan uang tunjangan anak. Aku mengatakan padanya kalau aku akan memberikannya setelah kami berbicara, tapi dia tidak mau mendengarkan......jadi dia meninggalkan rumah dengan membawa kartu rekening tempat uang tunjangan anak disimpan."


Aku berusaha mati-matian untuk menggigit kebencian yang meluap di dalam perutku untuk mempertahankan rasionalitasku.


Aku tahu ibunya hanya mengincar uang, tapi aku tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak marah.


"Dia pulang ke rumah setiap hari selama beberapa hari pertama, tapi kemudian dia jadi jarang pulang, dan setelah seminggu berlalu, dia hampir tidak pernah pulang ke rumah. Ketika dia di rumah, dia sedang menelepon seorang pria, jadi kupikir dia mungkin akan pergi menemuinya. Aku mencoba untuk berbicara dengannya, tapi dia tidak mau mendengarkanku sekali pun."


Seminggu kemudian, dia hampir tidak pernah pulang ke rumah.


Ini berarti, bahwa Aoi-san sendirian di ruangan itu hampir sepanjang waktu.


Bagaimana perasaan Aoi-san menunggu ibunya pulang, ya?


"Maaf aku tidak bisa menghubungimu ya. Aku ingin melakukannya, tapi terakhir kali ibuku pulang ke rumah, dia menemukanku berhubungan dengan Akira-kun......dan mengatakan untuk tidak berhubungan dengan pria."


Kau tidak pantas mengatakannya.


Kau sendiri melakukan kontak dengan pria.


"Kupikir, itu tidak mungkin lagi......."


Aoi-san bergumam dengan suara yang terdengar seperti akan menghilang.


Aoi-san sendiri mungkin tahu bahwa tidak mungkin untuk berdamai dengan ibunya.


Dia memahami bahwa dia harus menerima kenyataan, tapi dia tetap tidak bisa menemukan solusi yang jelas. Alasannya tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata, tapi hanya karena mereka adalah keluarga.


Ikatan keluarga sering digambarkan sebagai sesuatu yang indah dan berharga.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Itu bukanlah kebohongan, dan pada kenyataannya, kupikir cinta keluarga adalah hal yang indah.


Namun demikian, juga benar bahwa benda yang paling indah pun bisa berubah penampilannya, tergantung pada bagaimana cara melihatnya. Hubungan keluarga, yang sejatinya indah dan berharga, sekalinya rusak, akan seperti kutukan yang akan menghantuimu seumur hidup.


Hanya itu saja.


"Aoi-san, sudahlah---"


Sudahlah, menyerah saja tentang ibumu---


Saat aku hendak mengatakan itu.


Ponsel Aoi-san di atas meja menerima pesan.


Tulisan yang ditampilkan di layar masuk bidang pandanganku dan tanpa sadar aku bergumam, seolah ingin memuntahkannya.


"Sudah cukup dengan ini......"


Bibirku bergetar karena kemarahan yang membuncah---tidak ada kata-kata keprihatinan akan keamanan putrinya, tapi bertuliskan 'Tunjangan anak di awal bulan, mintalah lebih banyak uang pada ayahmu'.


Bagian belakang mataku terasa terbakar dan penglihatanku kabur dan berkedip-kedip.


Aku mengepalkan tangan erat-erat untuk menekan emosi, aku bahkan tidak merasakan sakitnya kuku yang menancap di telapakku.


Ketika Aoi-san pergi, ada sesuatu yang selalu kupikirkan.


Meskipun aku berniat menggunakan cara apa pun untuk menyelesaikan masalah dengan orang tuanya, sebisa mungkin aku masih ingin menyelesaikan masalah ini sesuai dengan keinginan Aoi-san.


Jika Aoi-san ingin berdamai, meskipun tidak mungkin, aku akan berjuang agar mereka bisa berdamai.


Jika Aoi-san memaafkan ibunya, aku juga akan menutup mata atas apa yang telah dilakukan ibunya.


Tapi, ini sudah tidak mungkin.


Aku tidak bisa memaafkan ibunya, tidak peduli bagaimana perasaan Aoi-san terhadapnya.


"Aoi-san, aku akan membuat kesempatan Aoi-san dan ibumu untuk membicarakan semuanya."


"Eh ......?"


Aoi-san mendongak ke atas karena terkejut.


"Bagaimana caranya?"


"Aku punya ide. Tapi, meskipun kalian membicarakannya, mungkin hasilnya tidak seperti yang diinginkan Aoi-san. Tidak......aku yakin hasilnya tidak akan seperti yang kamu inginkan, mengingat apa yang telah terjadi sampai sekarang. Namun, jika Aoi-san ingin kesempatan untuk berbicara dengan ibunya, aku akan mengusahakannya."


Aoi-san memejamkan matanya dan berpikir.


Wajar jika dia tidak bisa langsung menjawab.


Aoi-san mengerti---apakah hasilnya sesuai dengan keinginannya atau tidak, ini adalah pertama dan terakhir kalinya dia akan berbicara dengan ibunya.


Dia mengerti bahwa dia tidak akan pernah memiliki kesempatan lagi untuk berbicara dengan ibunya.


Salah satu pilihannya adalah tidak mengambil kesempatan itu sekarang, tapi menghadapi ibunya lagi suatu hari nanti.


Pilihan lainnya adalah menunda kesimpulan dengan harapan suatu hari nanti ibunya akan berubah.


Namun demikian---


"......Tolong. Aku ingin kamu memberiku kesempatan untuk berbicara dengan ibu."


Aoi-san mengatakan itu sambil menatapku dengan tatapan serius.


Dari matanya yang penuh kebulatan, aku bisa melihat kesedihan Aoi-san yang melebihi tekadnya yang tidak bisa disembunyikan.


"Mengerti. Aku ingin kamu menyerahkan sisanya padaku."


Hal yang kupikirkan saat aku membalas Aoi-san.


Mungkin saja apa yang akan aku lakukan adalah hal yang kejam.


Dari sudut pandang orang yang tidak tahu situasinya, mungkin mereka akan mengira aku adalah orang jahat yang mencoba menghancurkan hubungan antara putri dan ibunya.


Aku tidak peduli.


Jika aku bisa membebaskan Aoi-san dari sebuah kutukan bernama ibu, aku tidak peduli apa yang mereka katakan.



---Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyerah untuk memaafkan seseorang.

*

Post a Comment for "Class no Bocchi Gal wo Omochikaeri Shite Seisokei Bijin ni Shite Yatta Hanashi [LN] J3 Bab 6.2"