Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Bab 1.2
Bab 1 - Senpai Yang Ingin Melupakan Cinta Pertamanya Dan Tanuki-chan Yang Nakal
Hanya membayangkan gadis yang kusukai datang ke rumah sudah membuat langkahku terasa ringan, seakan melayang.
Aku sempat merasa bisa terbang ke langit luas sekarang......dan ternyata diriku yang ceroboh dan terlalu senang itu memang bodoh.
Saat aku kembali ke rumah biasa kami dan melepas sepatu seperti biasa—
“Hei~, kok di kulkas tidak ada minuman dingin sih~?”
......
......Kenapa? Aku tak bisa menahan rasa bingung.
Suara yang seharusnya tak ada di sini terdengar dari ruang keluarga, kenapa?
“Ah, anak muda. Selamaaat datang~♪”
Di sofa ruang keluarga, seorang gadis tergeletak sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.
Tidak, menyebutnya gadis mungkin terlalu memuliakan.
Seorang anak SMP kecil yang sok dan entah kenapa jadi lengket padaku.
Kalimat yang diucapkan dengan ekspresi ceria itu tak bisa kupahami, atau lebih tepatnya, maksudnya sama sekali tak terbaca dan mulutku tertinggal terbuka.
“Rumahku akhirnya dimasuki seekor tanuki ya.”
“Siapa yang tanuki! Jelas-jelas aku ini siswi SMP cantik nan imuuut kan!”
“Kalau begitu aku laporkan sebagai penyusup ilegal.”
“Ini bukan penyusupan ilegal, lho~. Kita ini kan sudah temenan~”
“Siapa yang temenan. Kita baru ketemu dua hari, tahu.”
“Kalau cowok-cewek boncengan motor sudah sah jadi temen, tahu! Lagian, pulang-pulang ada siswi SMP imut di rumah itu biasanya membuat orang senang! Dasar cowok-cowok herbivora zaman sekarang~!”
Apa jangan-jangan dia itu tipe tanuki yang langsung menganggap orang yang baik padanya sebagai orang tua lalu nempel terus?
“......Eh, jangan makan cemilanku sembarangan! Itu buat camilan pas istirahat belajar ujian!”
“Ahaha~ nostalgia~. Ternyata Wasabeef masih ada ya~”
“Rasanya pengen musnahin dia pakai pestisida.”
Tanuki JC yang menyusup itu dengan tanpa rasa bersalah mengunyah cemilanku.
“Lebih penting, kenapa kamu tahu lokasi rumahku......? Dan pintu depan tadi bagaimana?”
“Soalnya aku tinggal di dekat sini, jadi sudah sering lihat kamu~. Dan pintu depan itu, waktu kugoyang sedikit langsung kebuka biasa saja, loh?”
Sepertinya Ibu lupa mengunci pintu waktu berangkat kerja. Benar-benar menyusahkan.
“Kira-kira ada jasa pembasmi hama di sekitar sini......?”
“Hah? Di mana hama yang kamu maksud? Yang kulihat cuma calon ronin yang payah dan seorang gadis SMP super cantik, loh~? Hm~?”
Aku tidak akan mukul, tapi rasanya pengin banget mukul~~~~.
Karena kelakuannya yang bawel sambil mengunyah camilan itu menyebalkan, aku merebut saja snack yang sedang dia makan.
“Ah! Wasabeef-ku! Dasar pencuri!”
“Kaulah yang pencuri!”
Gadis SMP yang kekanak-kanakan itu bangkit dari sofa hendak merebutnya kembali, jadi aku mengangkat tinggi snack itu sambil berjinjit.
Si anak SMP yang tidak tahu menyerah itu merentangkan tangan dan melompat-lompat mencoba meraihnya.
“Jangan me~nin~das~ gadis lemah dong~! Nn, nu!”
“Baiklah, baik, ayo Tanuki-chan. Coba yang semangat ambil camilannya.”
“Hei! Jangan dielus-elus seperti anjing!”
Waktu kusentil dan kuusap kepalanya untuk menggodanya, dia mendekat sambil berjinjit, tak mau kalah.
“Duduk.”
Saat kuperintah begitu, dia dengan patuh duduk bersimpuh di sofa.
“Bagus, bagus, anak pintar.”
“Yaaay! Kamu memang baik hati ya, anak muda~♪”
Saat kuusap kepalanya dan kukembalikan snack itu sebagai hadiah, dia makan dengan senyum penuh......Hmm, rasanya seperti punya anjing peliharaan. Atau lebih tepatnya, tanuki peliharaan.
Pada akhirnya dia hanya anak yang masih wajib belajar. Sok dewasa, tapi gampang dijinakkan.
“Ngomong-ngomong, tadi kamu ‘bercengkerama ala anak muda’ sama adik kelasmu di depan bekas Kisarazu Central ya~?”
Sepertinya obrolanku dengan Touri tadi diam-diam diintipnya.
“Jadi tempat hiburan di sana namanya Kisarazu Central, ya. Kupikir itu cuma bowling center atau gedung terbengkalai. Baru tahu nama resminya.”
“Hah? Kalau warga Kisarazu itu pengetahuan umum, tahu~? Memang sudah lama tutup sih, tapi dulu ada bioskop bernama Kisarazu Central Cinema di dalamnya. Nonton film di sana itu masa mudaku banget~”
Padahal masih SMP, gaya sekali bicara ‘masa muda’.
“Waktu kecil ayahku melarangku main, jadi aku tidak terlalu tahu tempat hiburan.”
“Aduh~ kalau saja aku ketemu kamu lebih cepat, pasti sudah kubawa nonton bareng. Bisa kuberikan kenangan manis masa muda, nonton film bersama gadis SMP~”
“Kencan sama gadis SMP? Sepertinya aku akan dibawa petugas kenakalan remaja, jadi mending tidak.”
“Wah, kamu malu-maku! Bagian polos begitu, aku tidak membencinya, tahu♪”
“Kuberi kau aburaage, jadi pulanglah dengan tenang.”
“Aku bukan rubah.”
“Maaf ya, Tanuki-chan. Kuberi agedama, jadi pergilah dengan baik.”
“Tidak mau! Kalau tidak dikasih lebih banyak camilan, aku tidak mau, tanu~♪ Aku akan tinggal di loteng, tanu~♪”
“‘Tanu’ apaan, sih!”
Pakai akhiran manja begitu pun tetap tidak jadi imut, tahu.
......Sudahlah, yang jelas aku tidak punya waktu buat main-main dengan Tanuki-chan yang manja ini.
“Sebentar lagi ada tamu penting yang akan datang.”
“Hmm, begitu ya~”
“Serius, beneran akan datang.”
“Abaikan saja aku~. Aku akan berperilaku seperti tanuki peliharaan kok~”
Mana bisa kuabaikan. Anak ini berniat mau menetap di sini.
“Kamu tahu apa jadinya kalau ada yang salah paham dan mengira aku membawa gadis SMP ke rumah?”
“Jadi apa~?”
“Akan ada adegan neraka yang menungguku, orang akan ilfeel dan membenciku, mungkin aku ditangkap polisi, ujian masuk universitasku tamat, aku akan dicap ‘lelaki yang menyentuh anak SMP’, dan itu berarti mati secara sosial.”
“Hahaha! Lucu banget.”
Jangan ketawa sambil pegang perut! Aku ini serius ketakutan, tahu!
“Iya iya, aku mengerti kok~. Pengganggu akan pulang cepat, yaa~”
Dia memang merajuk, tapi kenapa dia tetap tiduran telentang dan sama sekali tidak berniat bangkit?
“Kalau kamu bisa menang di itu, sih. Baru aku pulang~”
Tanuki JC itu menunjuk tumpukan game yang berserakan di bawah TV, sebuah tantangan terang-terangan.
Baik, tantangan diterima. Sebagai senior, aku akan naik ring dan melawannya. Dasar bocah sok dewasa yang usil. Akan kuhabisi cepat-cepat dan kuusir dari sini.
Padahal percaya diri banget, ternyata Tanuki-chan super payah main game.
Sepertinya ini pertama kalinya dia menyentuh konsol terbaru; aku harus mengajarkan cara main dari nol, dan bahkan sudah menyiapkan latihan sejam, jadi mana mungkin bisa tanding serius.
Sebenarnya bisa saja langsung kuusir, tapi melihat dia menggenggam controller dengan polos di sampingku, rasanya tidfak tega. Aku jadi sulit untuk menyuruhnya pulang.
“Sepertinya kita harus muat batu bara ini ke truk dan bawa ke tangki bahan bakar. Aku mengurus gas truknya, kau yang setir.”
“Hmmm, tega banget bilang begitu ke pemula, tahu~. Mengandalkan manusia letoy ini susah banget loh~”
Alih-alih game tanding, kami berdua malah larut bermain "Human Fall Flat", lupa waktu dan bermain dengan tulus.
“Iya, iya, belok terus, belok lagi......lebih dalam......”
“Hyah! Aku akan belok sekenceng mungkin!”
“Terlalu jauh! Balik! Kita jatuh! Jatuh! Ah—!”
“Aaaah! Karena kamu truknya jatuh!!!”
“Itu karena kau tidak putar balik setirnya! Sekarang kita harus muat batu bara lagi......”
“Kali ini kamu yang muat batu baranya, ya~”
“Ini salahmu, jadi kau yang angkut sendiri!”
Gara-gara si bocah sok hebat memutar setir terlalu jauh, kami keluar jalur dan manusia letoy kami jatuh bebas bersama truknya.
Suara teriak bersemangat kami saling bersahutan, membuat ruang keluarga dipenuhi kehangatan dan kegaduhan.
Meski di luar sudah gelap oleh senja, kami tetap asyik bermain......sampai suara pesan masuk membuatku menoleh dari layar TV dan kembali sadar.
【“Aku sebentar lagi sampai di rumahmu.”】
Astaga!? Sial......!!
Begitu sadar itu pesan dari Haru-senpai, keringat dingin bermunculan dan panik langsung menyerang.
Kalau Senpai sudah dekat dengan rumah, memaksa bocah ini pulang sekarang justru berisiko membuat mereka bertemu.
Di sekitar kaki berserakan snack dan game—jelas seperti “baru saja pesta game bareng seseorang”. Menghilangkan jejak pun butuh waktu. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana ini!?
Ding-dong!
Bel interkom yang terus berbunyi sontak membuat jantungku menyusut ketakutan. Rasa gelisah pun menyeruak naik.
“Halo. Natsume-kun, kamu ada di dalam?”
Suara lembut yang terdengar dari balik pintu itu, tak salah lagi adalah suara Haru-senpai.
Sudah datang!? Tidak, sebenarnya sudah lebih dari dua jam sejak aku pulang, tapi karena terus fokus ke game, rasanya waktu berlalu begitu cepat......
Lagipula cahaya dari lampu jelas terlihat dari luar, jadi pura-pura tidak ada di rumah juga tidak bisa.
“Anak muda, kenapa kamu panik begitu~?”
“Menurutmu ini salah siapa......!?”
“Tinggal ungkapkan saja dengan bangga. Tentang hu-bu-ngan ki-ta ini♪”
“Hubungan antara tanuki yang menyelinap masuk lalu mengacak-acak makanan, dan pemilik rumah yang ingin menyingkirkannya.”
“Siapa yang tanuki menyelinap!? Aku tanuki baik hati yang masuk lewat pintu depan dengan gagah berani!”
Bukan waktunya berdebat layaknya duo komedi dengan tanuki kecil yang tertawa seakan ini bukan urusannya.
“Natsume-kuun, dari tadi kudengar suara perempuan juga, apa kamu sedang kedatangan tamu?”
Tuh kan, suara kami terdengar jelas oleh Haru-senpai!
“......Suaraku kedengaran ya.”
Kalimat lirih yang diucapkan si anak SMP dengan wajah serius itu berhasil kutangkap nyaris tanpa sengaja.
“Kalau kamu berbicara sekeras itu, jelas saja Haru-senpai bisa dengar......”
“Yah, iya juga sih. Rumah ini kelihatannya gampang bocor suara~”
Biar saja. Ini rumah kayu berusia lebih dari empat puluh tahun, rumah keluarga ibuku.
Kakek nenek dari pihak ibu tinggal nyaman di rumah lain, jadi aku tinggal berdua dengan ibu.
“Maaf, Haru-senpai! Aku tadi sedang sedikit merapikan kamar......!”
“Padahal malah makin berantakan sih~!”
Komentar si tanuki JC itu memang sangat tidak perlu, tapi setidaknya memberi beberapa detik tambahan.
“......Aku tidak mau Haru-senpai salah paham, jadi tolong perankan ‘anak SMP tetangga yang sedang diajar belajar olehku’. Anak SMP serius yang tidak peduli soal cinta.”
“Ya sudah deh~. Akan kuberikan akting kelas piala Oscar~”
Saat aku menegaskan kata “serius” dengan sangat hati-hati, si anak SMP itu mengangguk malas-malasan.
Baca novel ini hanya di Musubi Novel
Rencana itu jelas sangat darurat dan dangkal, tapi kami sempat menyelaraskan cerita dengan suara sekecil mungkin──dan akhirnya aku membuka pintu. Menyambut mahasiswi yang sudah repot-repot datang melihat keadaanku.
“Natsume-kun, di luar panas sekali, lho. Aku sampai capek menunggu.”
Haru-senpai berdiri tegak dengan tangan terlipat, tampak sedikit kesal, dan aku tak bisa melakukan apa pun selain tersenyum kecut dengan canggung......namun ekspresinya segera melunak.
“Hehe, bercanda! Justru aku yang harusnya minta maaf, mendadak datang saat Natsume-kun sedang sibuk belajar.”
“Ah tidak, aku sama sekali tidak belajar kok. Justru lagi main game.”
“Hm? Itu justru membuatku makin khawatir sih—?”
Kini Haru-senpai yang memberi senyum kecut sambil melangkah masuk ke rumah Shirahama.
“Oh, ada tamu imut di sini. Pantas tadi aku dengar suara perempuan.”
Akhirnya Haru-senpai dan gadis SMP tetangga itu saling berhadapan di ruang keluarga.
Dan mungkin hanya aku satu-satunya yang diselimuti ketegangan tidak perlu, menelan ludah yang terus berlebih akibat gugup.
“......Maaf.”
Karena entah kenapa si anak SMP itu tiba-tiba meminta maaf, detak jantungku melonjak drastis.
Kalau dia meminta maaf dengan cara yang penuh arti begitu, malah makin terlihat seolah kami punya hubungan aneh.
Haru-senpai juga jelas terlihat bingung, dan si tanuki kecil ini......apa dia menikmati ketegangan yang bisa berubah menjadi neraka hanya dengan satu kata salah? Aku tak bisa membaca niatnya. Ekspresi sesaat yang tampak seolah kesakitan itu, apakah akting kelas Oscar?
Dengan hubungan yang baru terjalin kemarin, mustahil aku bisa memahaminya.
“Senang bertemu denganmu. Aku Hirose Haru, kakak kelasnya Natsume-kun sekaligus mahasiswi. Seragam itu, dari SMP, ya?”
Senpai mencoba menata ulang suasana dan memperkenalkan diri secara sederhana.
“Halo. Aku anak SMP tetangga yang diajari belajar oleh anak muda in......maksudku Natsume Onii-chan. Hobiku mengamati manusia dan mencari kerang di pantai.”
Astaga, menjijikan. Kau......Natsume Onii-chan, serius?
Dia jelas sedang memerankan gadis tetangga yang polos, tapi dengan nada bicara yang tenang dan suara lembut itu, rasa janggalnya sampai hampir membuatku merinding.
Tahan tawa yang sudah hampir keluar dari tenggorokan. Ini kan idemu sendiri, Natsume.
“Natsume-kun......anak ini, jangan-jangan......”
Ah......ketahuan oleh Haruru-senpai.......?
Selamat tinggal, kehidupan SMA. Mungkin juga selamat tinggal pada kehidupan kuliah yang bahkan belum dimulai. Aku akan hidup selamanya sebagai laki-laki tidak terhormat yang mengajak pulang gadis SMP yang baru ditemui.
“Ya ampun, imuuut sekali~!!”
Haru-senpai yang tiba-tiba bersuara ceria itu......langsung memeluknya erat-erat!
Tanpa menunjukkan sedikit pun kecurigaan, dia langsung menuju anak SMP yang (berpura-pura) polos itu!
“Jadi ada gadis imut begini di dekat rumahmu! Maksudku, Natsume-kun, kamu harusnya kenalin dari dulu, lho~!”
“M-Maaf! Dia ini agak pemalu! Selain aku, jarang sekali bisa dekat dengan orang lain!”
“Hmm, benar juga, dia terlihat pendiam dan serius. Mungkin karena kamu yang mengajarinya belajar, jadinya berasa anak teladan!”
Meski akulah yang menipu di sini, tetap saja, Haru-senpai terlalu polos sampai membuatku khawatir.
“Daripada tidak dekat dengan orang lain, lebih seperti, aku sangat menyukai Natsume Onii-chan~”
“Maksudmu suka caraku mengajar kan! Metode belajarku memang mudah dipahami, hahaha!”
Oi, dia benar-benar berulah......!
Karena dia menambahkan improvisasi yang sama sekali tak perlu, aku yang panik langsung memotong dan menimpa ucapannya.
“Ngomong-ngomong, Natsume-kun......kamu tadi bilang tidak belajar dan malah main game, kan?”
Sial......selain “aku main game” yang kuucapkan di pintu tadi, ruang keluarga yang penuh camilan dan PlayStation benar-benar terlihat seperti ruang pesta, tak ada sedikit pun jejak belajar.
“Dia ini sepertinya susah dapat teman, jadi aku mengajari permainan yang sedang tren. Jadi nanti dia bisa ikut ngobrol soal game, terus kalau main ke rumah teman juga bisa seru-seruan......semacam belajar supaya mudah berteman?”
Aku sendiri merasa ini karangan yang sangat memaksakan.
“......Natsume-kun benar-benar orang yang baik!! Begitu ya......aku bangga bisa jadi senpainya Natsume-kun!”
“Itu semua karena didikan Haru-senpai......!”
Gampang banget dibohongi. Bukan hanya percaya begitu saja, Haru-senpai sampai terlihat berkaca-kaca, dan itu membuat rasa bersalah perlahan muncul.
“Namamu siapa?”
“Hah? Shirahama Natsume, sih.”
“Fufu......itu aku tahu. Maksudku, dilihat dari alurnya, tentu saja aku tanya nama si adik SMP ini.”
Aku tanpa sengaja menembakkan jawaban bodoh, dan Haru-senpai malah tertawa karenanya......
Ngomong-ngomong, aku belum pernah menanyakan nama anak SMP ini. Dalam setting di mana dia dekat denganku sampai kututori belajar, tidak tahu namanya pasti terlihat sangat aneh.
“Dia ini......Tanuki. Ya, namanya Tanuki-chan.”
“Hah, namanya Tanuki-chan? Padahal dia pakai hiasan rambut lumba-lumba?”
Ah, dia polos, jadi sepertinya nama Tanuki bisa dipaksakan.
Bunyinya imut juga, Tanuki-chan. Mulai sekarang kusebut begitu saja.
“Siapa yang Tanuki-chan? Onii-chan, bercandanya tolong dibatasi ya~”
“Aduh, sakit, maaf. Kamu lebih imut daripada seekor tanuki......”
“Terima kasih~~ tapi jangan sampai jatuh cinta ya~~?”
Seorang anak SMP, yang menaruh kemarahan sunyi di ujung telunjuknya, mencubit-cubit pinggangku sambil mempertahankan senyum palsu. Ya, sakit betulan.
“Namaku Umika. Wajahku imut, namaku juga imut, jadi setelah ini tolong ingat baik-baik ya♪”
Anak SMP itu melontarkan perkenalan diri yang kelewat santai.
Umika, ya. Nama yang terasa musim panas dan lucu.
“Namanya terasa musim panas sekali dan lucu, ya! Tapi rasanya karaktermu beda dari beberapa menit lalu?”
“Natsume Onii-chan bilang kalau memperkenalkan diri begini bisa membuatku populer. Aku sebenarnya kurang berminat, tapi Onii-chan maksa......”
“Natsume-kun, jangan ajari hal aneh pada anak yang serius begitu. Jelas-jelas karakternya beda, kan.”
Hei, jadinya aku yang dimarahi. Meski aneh kalau penipu yang mengatakannya, tapi Haru-senpai itu tertipu. Yang barusan itulah sifat asli Umika.
Saat senpai tak melihat, dia menjulurkan lidah untuk mengejek. Menyebalkan.
“Ngomong-ngomong, kamu belum makan malam, kan? Kamu pasti tidak masak sendiri, jadi biar Haru-senpai yang pintar masak ini membuatkan sesuatu dengan cepat.”
Sepertinya aku berhasil menghindari kematian sosial.
Saat aku menghela napas lega, aku teringat alasan senpai yang sibuk ini repot-repot datang.
“Aku benar-benar berterima kasih, tapi......apa kamu datang dari Tokyo hanya untuk ini?”
“Yah, ada alasan lain aku pulang ke Kisarazu. Tapi aku juga ingin sedikit menyemangati adik kelas yang sedang belajar menghadapi ujian.”
“Tokyo ke Kisarazu itu lumayan jauh, dan biaya transportnya juga lebih dari seribu yen, kan......?”
“Tidak perlu dipikirkan. Aku punya lebih banyak waktu dan uang dibanding anak SMA.”
Meski mungkin hanya mampir sekalian urusan lain, itu tetap menjadi kebahagiaan kecil yang bisa kunikmati.
Orang yang lama kukagumi dari jauh datang menjenguk karena khawatir. Bahkan memasakkan sesuatu untukku.
Tanpa harus menyatakan cinta, tanpa harus jadi kekasih, jika serpihan kecil masa muda seperti ini bisa terus berlangsung, itu sudah cukup. Aku tak merasa perlu mengubah keadaan.
“Natsume Onii-chan, ayo lanjutkan gamenya. Kita masih mengangkut batu bara, kan?”
“Umika, bereskan dulu ruangan yang kau buat berantakkan, ya?”
“Baik, Haru Nee-san!”
“Hah, kena marah Haru-senpai tuh. Rasain.”
“Kamu juga ikut membuat berantakan, kan? Rapikan.”
"Baik, Haru-senpai!"
"Hehehe, dimarahi Haru Nee-san tuh. Hehehe, rasain deh."
Sial! Jangan mengejek sepertiku! Nanti dikira level mental kita sama!
Sementara Haru-senpai yang pindah ke dapur sedang menyiapkan makan malam, aku dan Umika membagi tugas membereskan ruang keluarga.
"Natsume-kun, katanya hari ini kamu pulang bareng Touri-chan ya?"
Mendapat pertanyaan yang kejam begitu, rasanya semua udara di paru-paruku hampir keluar.
"Kenapa senpai tahu itu......!?"
"Tadi, Touri-chan yang bilang ke aku~"
Haru-senpai dengan bangga menunjukkan layar ponselnya padaku.
Di situ tertulis pesan dari Touri 【Mohon jaga si calon mahasiswa bodoh yang berantakan itu.】
Hmm, calon mahasiswa bodoh yang berantakan, ya.
......Eh, ini maksudnya aku? Touri menganggapku ‘bodoh dan berantakan’?
"Sepertinya aku akan pakai sisa-sisa makanan di kulkas, ya. Bumbunya juga pinjem, ya~"
Setelah mengintip isi kulkas, senpai dengan cekatan menata bahan-bahan dan langsung mulai memasak.
"Bagaiman sekolahmu? Kamu sudah kelas tiga, pasti sibuk, kan?"
"Yah......lumayan. Soalnya ada belajar ujian masuk juga."
"Beneran belajar? Mau aku awasi sebagai tutor pribadi?"
Aku suka waktu-waktu bercanda penuh gurauan seperti ini.
Aku suka suasana bersama seseorang yang pada akhirnya selalu memanjakanku.
Sambil mempersiapkan bahan-bahan, senpai memukul talenan dengan ritme halus dari pisau, sambil melempar topik-topik ringan.
Suara senpai yang lembut menambah nuansa, membuat semuanya terdengar seperti mimpi.
Andai masakannya tidak pernah selesai.
Aku ingin makan masakannya, tapi kalau aku menghabiskannya, Haru-senpai akan pulang.
Itulah kenapa aku memperpanjang obrolan, berusaha membuatnya memasak lebih lama.
Semakin bahagia momennya, semakin cepat waktu berlalu.
Merasakan perasaan itu lagi setelah sekian lama, suaraku yang terdengar bersemangat itu juga terselip sedikit rasa kesepian.
“Kalau terlalu lama, keluargaku nanti khawatir, jadi aku pulang duluan yaa.”
Setelah selesai merapikan ruang keluarga, Umika dengan cekatan mulai bersiap-siap pulang.
“Eh? Mumpung sudah di sini, Umika-chan makan malam bareng saja. Kalau mau menghubungi rumah, mau pinjam ponsel?”
“Aku mau banget makan masakan Haru Nee-san, tapi kalau makan di sini nanti kekenyangan dan tidak bisa makan malam di rumah!”
Sekarang sudah lewat jam tujuh malam. Anak SMP yang tinggal dengan keluarga pasti akan dicemaskan, dan kalau keluarga makan malam bersama, pasti sudah disiapkan porsi untuk Umika juga, tentu saja.
Karena merasa tidak enak juga, Haru-senpai tidak memaksanya lebih jauh.
“Karena kita tetanggaan, jadi ajak aku main kapan saja ya! Daah!”
Di depan Haruru-senpai, Umika tampak begitu sopan; dia pamit dengan santun lalu pergi dari ruang keluarga. Saat aku mengantarnya sampai pintu depan, Umika yang sudah memakai sepatu itu menatapku lurus dari depan.
“......Kita tetangga, jadi sampai sini saja dianternya. Selebihnya, silakan berduaan♪”
Umika mendekatkan wajahnya pelan-pelan, lalu berbisik lirih seperti hembusan angin.
Sakitnya. Anak SMA yang dibaca situasinya oleh anak SMP itu terlalu menyedihkan, kan.
“......Kukatakan dulu. Makasih.”
“Ugh, menjijikan! memangnya aku melakukan sesuatu yang pantas disyukuri?”
Dapet tatapan jijik yang begitu nyata itu, lumayan menusuk.
“......Soalnya gara-gara berurusan denganmu, aku jadi bisa ketemu lagi dengan Haru-senpai. Kalau kau tidak ada, aku tidak akan pergi ke lapangan basket di taman itu.”
“Ehehe~ berarti aku ini Cupid cinta ya. Aku mau makan sushi putar Yamatooo.”
“Ya sudah lah......nanti aku traktir.”
“Syukurlah hal bagus terjadi ya! Kalau begitu, semangat, anak muda!”
Ucapan yang Umika lontarkan sambil melewati pintu rasanya pernah kudengar kemarin. Kali ini cuma beda sedikit karena “hal bagusnya” sudah kejadian.
Sampai sesaat sebelum pintu benar-benar tertutup, Umika masih tersenyum jahil, namun—
Lagi.
Bibirnya bergerak sedikit. Sebuah kata tanpa suara, tanpa niat mengguncang udara, tetap sampai padaku.
Maaf.
Aku tidak tahu kenapa justru dia yang meminta maaf.

Semangat min TL-nya
ReplyDeleteSemangat💪
Delete