Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Prolog

Prolog




Jika kau bertemu lumba-lumba keberuntungan, maka cinta tak terbalas yang sudah lama berhenti akan mulai bergerak kembali.



Entah kenapa, aku merasa pernah mendengar cerita seperti itu dari seseorang beberapa tahun lalu.


Mungkin, jauh di sudut hatiku, aku masih menaruh sedikit harapan.


Bahwa roda gigi yang sudah berkarat dan berhenti itu—akan berputar lagi.


Kalau bukan karena itu, mana mungkin aku kabur dari belajar untuk ujian masuk dan datang ke pantai di musim mencari kerang begini.


Sambil berpikir, “apa lumba-lumba keberuntungan itu akan muncul begitu saja dari permukaan laut?”, aku pun sadar betul kalau membayangkan hal seperti itu saja sudah terlalu absurd.


Dari awal, apa sih sebenarnya lumba-lumba keberuntungan itu......? Kalau di Kisarazu, lebih masuk akal kalau yang muncul tanuki pembawa keberuntungan, sepertinya lebih mudah ditemukan. Entahlah.


Berjalan menyusuri pantai ini hanya jadi penyegar dari belajar, atau mungkin pelarian dari kegelisahan tentang masa depan.


Tidak lebih, dan tidak kurang dari itu.



“Hey, anak muda di sana.”



Aku sudah bosan melihat Aqua-Line yang membentang di Teluk Tokyo dan bayangan kota Kawasaki yang terlihat samar di seberang sana.


......Pulang, ah. Siswa kelas tiga SMA di bulan Juli tidak seharusnya jalan-jalan santai begini.


Matahari yang mulai condong.


Aku berbalik dari dermaga sore itu, di mana cahaya dari garis cakrawala terasa menyilaukan, dan berniat kembali menuju area parkir Pantai Kanada Mitate.


“Hei, anak muda yang jalannya kelihatan suram di sana.”


Seseorang memanggil dari belakangku.


Entah memanggil anak muda yang mana, tapi cepatlah jawab.


“Kamu, lho. Kamu. Anak muda yang dari tadi menatap laut sambil kabur dari kenyataan itu.”


Aku pun berbalik perlahan, setengah tak percaya......dan pandangan kami pun saling bertaut.


“Kupikir kamu tidak bisa melihatku, soalnya dari tadi kamu terus mengabaikanku!”


Di depanku berdiri seorang perempuan mungil—atau lebih tepatnya gadis kecil polos.


Dengan mata penuh rasa ingin tahu yang memantulkan wajah bodohku, dia tersenyum nakal.


“......Aku?”


“Memangnya ada anak muda lain di dekat sini~?”


Di dermaga itu, hanya ada aku dan gadis itu. Suara ombak dan suara kami berdua seolah-olah memenuhi seluruh tempat.


Aku segera memahami sumber dari rasa aneh yang kurasakan tadi.


Kemungkinan karena gadis yang tampak lebih muda berseragam SMP setempat, memanggilku anak muda dengan nada sok akrab.


“Kalau kamu orang sini, harusnya lihat dari seragam. Aku ini siswa SMA, tahu.”


“Kalau kamu orang sini, harusnya lihat dari seragam juga. Aku ini siswi SMP, lho~!”


Dia benar-benar mengabaikan usaha pamer statusku sebagai yang lebih tua, dan dengan riang mengungkap identitasnya sendiri.


Dari ekspresi ceria dan suara penuh energi itu kesan pertamaku jelas, gadis cerewet yang gampang akrab dengan siapa saja.


“Hei~ Jangan menatapku dari atas sampai bawah seperti sedang menelanjangiku begitu~”


Anak SMP yang songong ini, benar-benar berani menggoda orang yang baru ditemuinya.


“Maaf ya, tapi aku lebih suka wanita yang lebih tua daripada anak-anak.”


“Tapi tadi kamu melihatku dengan pandangan mencurigakan, kan~? Yah, namanya juga anak SMA, kepalanya pasti penuh hal tentang gadis-gadis lucu~”


“Kalau itu, ya. Aku lihat sih.”


“......Dasar mesum, anak muda ini.”


Dia menyipitkan mata, memandangku dengan suara yang terdengar setengah kesal.


“Bukan pandangan mesum. Itu penting buat diperjelas.”


“Iya iyaaa~ Namanya juga remaja sehat, wajar kok~”


Dia benar-benar mengolok-olokku, tapi aku ini senior, tahu.


Sebisa mungkin kutahan diri untuk tetap tenang. Tidak mungkin aku marah-marah atau panik hanya karena digoda anak kecil.


“Mengesampingkan soal seleramu yang suka sama siswi SMP yang lagi masa pertumbuhan~”


“Jangan ngomong sembarangan. Tipeku itu senior yang lebih dewasa, yang lembut dan penuh kasih sayang. Aku ingin dimanja oleh perempuan yang punya aura tenang. Paham? Kalau kau mau, tunggu sampai sudah tumbuh dewasa.”


“Padahal menurutku, untuk ukuran siswi SMP, aku sudah cukup dewasa, lho~?”


Entah karena percaya diri pada perkembangan tubuhnya, dia menegakkan dada dengan bangga......tapi pada akhirnya tetap anak SMP. Tingginya agak di atas rata-rata, dan ada sedikit aroma kedewasaan yang samar, tapi jika kubandingkan dengan “seorang senpai tertentu” yang tiba-tiba muncul di benakku, perbedaannya jelas sangat jauh.


Jadi maaf kalau aku sempat mendengus kecil tanpa sadar.


“...Hah. Anggap saja penghargaan ‘harapan masa depan’, deh.”


“Hei kau, bocah mesum. Barusan kamu mendengus, ya~?”


“Bocah mesum itu kau, tahu! Aku ini Onii-san yang lebih tua!”


“Haa~~, Onii-san yang mesum~”


Kenapa dia yang malah menghela napas, padahal aku yang lelah.


“......Jadi, kau ada perlu apa denganku? Begini-begini, aku ini tidak senggang, lho.”


Aku mengembalikan pembicaraan yang sudah melenceng jauh gara-gara dia menggoda terus.


Alasan dia tiba-tiba memanggilku lumayan membuatku penasaran. Jelas ini pertemuan pertama kami, jadi tidak ada hubungan yang membuatnya wajar menyapa tanpa alasan.


“Eh~? Dari mana pun kelihatannya, kamu itu orang yang lagi nganggur~”


“Meski kelihatannya begini, aku ini siswa kelas tiga yang belajar setiap hari buat ujian masuk.”


“Memangnya menatap Teluk Tokyo membuatmu makin pintar, ya? Wah, baru tahu~”


Menghadapi ejekan seenaknya dari anak SMP, aku tidak bisa membalas apa pun......


Setelah puas mempermainkan siswa kelas tiga SMA yang lebih tua darinya, siswi SMP itu melangkah santai......lalu duduk manis di jok belakang motor yang terparkir sendirian di area pantai.


“Hmm~, joknya keras dan kurang nyaman, ya.”


“Berisik. Jangan duduk seenaknya lalu mengeluh.”


“Terus, ini juga kelihatannya lumayan tua, ya~? Beneran masih bisa dipakai di jalan?”


“Tenang saja, ini masih lolos uji jalan, kok. Untuk model dari tahun 1960-an, kondisinya tidak jelek.”


Skuter besi retro yang warnanya pudar dan tampak berkarat itu adalah Rabbit S301 Superflow. Dengan kata lain, dia memamerkan keberaniannya dengan menunggangi motorku.


“Kamu pulang ke arah mana~?”


“Aku? Ke arah Jalan Mimachi.”


“Kita searah! Yay~!”


Siswi SMP itu mengayun-ayunkan kedua kakinya yang keluar dari bawah rok.


Kurang lebih aku mulai paham apa yang ada di kepalanya......


“Karena kita sudah bertemu begini anggap saja takdir, tolong antar aku sampai dekat rumah!”


Kan, sudah kuduga. Hanya itu alasannya.


“Jangan-jangan......kau menghampiriku hanya karena malas pulang jalan kaki dari sini?”


“Bukan cuma karena itu. Aku juga ingin ngobrol denganmu yang keliatan kesepian tadi.”


Mata bulatnya bergerak ke sana ke mari tanpa arah.


“Sebenarnya sepedaku bocor bannya~”


“Terus?”


“Jalan kaki dari sini itu lumayan jauh dan malesin~”


“Terus?”


“Boncengin aku, tyolong.”

Tln: Dia bilang "oneshasu" plesetan dari onegaishimasu.


Si siswi SMP mengaku jujur dan menundukkan kepala. Tapi sikap manisnya langsung runtuh gara-gara satu kata konyol “tyolong”.


“Kamu tidak akan tega menelantarkan gadis yang sedang kesusahan, kan? Ya kan, ya kan?”


Jangan pakai mata berkaca-kaca seperti anak anjing terlantar begitu.


Walau kesal dengan kelicikannya, meninggalkannya begitu saja akan terasa tidak enak, dan aku tidak mau setiap datang ke tempat ini aku teringat wajahnya saat diabaikan.


“Tarif awal 300 yen, setelah itu ditambah 80 yen sesuai jarak. Silakan naik tanpa sungkan.”


“Kejam! Kamu mau narik tarif seperti taksi dari siswi SMP seimut ini!? Aku tidak punya uang jajan segitu~, senpai yang bisa diandalkan~♪”


Dasar, dia cuma manggil “senpai” kalau lagi butuh......


“Tolong yaa, onii-chan? Ayo pulang bareng?”


“Aku lebih suka peran adik kelas daripada adik perempuan......bukan itu. Dasar, mau bagaimana lagi......”


Dengan rasa muak, aku memakai helmku, duduk di kursi pengendara, menarik tuas choke, memutar kunci ke posisi ON, menekan rem kaki, lalu menekan tombol starter pada skuter tua itu.


Mesin mulai menderu dengan gemuruh berirama yang menyenangkan, mengaburkan suara ombak laut dengan dengungan mekanis.


“Kalau kamu boncengin aku, kamu akan dapat bonus menarik.”


“Oh ya? Apa itu?”


“Tentu saja......kenangan pahit manis masa remajamu, keliling kota dengan membawa siswi SMP super imut di belakangmu! Bukankah itu situasi yang diimpikan oleh anak laki-laki seusiamu? Kan?”


“Aku bodoh banget nanya tadi.”


“Tolong kagum sampai mati ya, dasar siswa SMA bodoh.”


Karena reaksiku terlalu datar, dia menepuk kepala helmku dengan chop kecil dari belakang.


“Kalau kamu meninggalkanku di sini, aku akan melempar kutukan supaya kamu gagal ujian~”


“Kalau begitu, aku akan mengembalikan kutukan supaya kamu gagal ujian masuk SMA.”


“Uwaa, kamu ini benar-benar onii-san sampah yaa.”


“Adik sampah ngomong apa, hah?”


Untuk kali ini saja, sebagai sesama warga lokal, biarlah aku antar dia pulang. Saat sedang kesulitan, kita saling membantu. Lagipula, kalau itu "senpai" yang kukenal baik, pasti bahkan dalam situasi seperti ini pun akan mengulurkan tangan dengan lembut.


Baca novel ini hanya di Musubi Novel


Aku menyerahkan helm cadangan pada si anak SMP itu dan mengawasi bagaimana dia memakainya dengan canggung.


“Yah, anggap saja ini layanan edisi perdana. Hari ini aku antar gratis.”


“Yay, ternyata anak muda yang murung dan tidak menarik pun masih punya sisi baik, yaa. Kukira kamu cuma calon ronin payah~.”

Tln: Ronin, siswa yang gagal ujian dan ikut ujian tahun depannya


“Cepetan turun.”


“Bohong kok, bohong, kamu keren, tahu. Aku bisa saja jatuh cinta. Heihei.”


Terseret oleh ritme anak SMP yang super ceria itu, aku sadar bahwa segala pikiran melankolis yang barusan berputar-putar sambil menatap laut sudah menghilang sementara.


Mungkin ini memang penyegaran yang kubutuhkan.


Tidak seperti beberapa puluh menit lalu ketika aku datang ke tempat ini, suasana hatiku kini sedikit lebih cerah.


“Pegangan yang kuat, jangan sampai jatuh.”


Begitu kurasakan tangan anak SMP itu menggenggam pinggangku, aku menurunkan standar motor, melepas rem, dan perlahan memutar gas.


Sambil membiarkan asap knalpot yang tak sedap larut diterpa angin laut, aku menjalankan motor tuaku.




Dari satu tepi laut ke tepi laut lainnya.


Dengan suara nyaring yang menepis tiupan angin selama berkendara, si anak SMP memberi petunjuk arah pulang, dan aku memarkirkan Rabbit di area parkir yang berdampingan dengan taman bermain ‘Alun-alun Magokoro’ di Taman Tepi Laut Toriizaki.


“Dari sini aku bisa langsung jalan pulang! Makasih~!”


Melepas helm dan turun ke tanah, si anak SMP itu memancarkan senyum penuh terima kasih.


“Hmm, ada apa dengan muka masam itu. Bukannya kamu barusan merasakan musim semi biru, berboncengan mesra dengan gadis SMP yang imut? Murah banget, kan~?”


Aku tak bisa menyembunyikan senyum keringku. Dengan nada seolah menasihati anak kecil, dia mengangkat bahu dan membuatku tampak seperti pihak yang kekanak-kanakan.


“Anak muda, terima kasih♪”


—Tiba-tiba kepalaku dielus, dan tanpa sadar jantungku berdebar kecil.


Dia benar-benar lihai menggunakan tingkah centil dan serangan manis yang tak terduga......!


Meski paham bahwa itu hanya godaan, tetap saja merasa sedikit senang, itulah makhluk yang disebut anak laki-laki.


Siswi SMP itu melanjutkan langkahnya dengan perlahan, sedikit demi sedikit menjauh dari taman.


Aku tetap duduk di atas motor, mengantar kepergian punggung gadis itu dengan pandangan, namun—


“Semoga hal-hal indah juga terjadi padamu yang sudah berbuat baik padaku!”


Disinari matahari senja awal musim panas yang cerah, gadis itu menoleh ke arahku dan mengatakannya dengan senyum lebar yang mekar di wajahnya.


Tiba-tiba, pandanganku tertarik pada satu titik tertentu.


Jepit rambut yang dikenakan siswa SMP itu memiliki desain yang mirip lumba-lumba.


Bukan berarti ada alasan khusus, tapi rasanya itu sangat cocok secara aneh, dan terlihat samar-samar indah.


Saat aku menatapnya dengan bibir terkatup, siswi SMP itu menggerakkan bibirnya tanpa suara.



──Dan kemudian, maaf ya.



Sepenuhnya hanya dugaan.


Jika itu memang sebuah permintaan maaf, aku tidak tahu alasannya.


Setelah siswi SMP itu menghilang di jalan pulang, aku pun hendak menyalakan Rabbit untuk pulang.


Namun, instingku memanggil. Gendang telingaku menangkap suara dribel yang terasa tak cocok dengan taman di tepi laut ini, membuatku ingin segera turun dari Rabbit yang baru saja kumatikan mesinnya.


Tubuhku seakan ditarik oleh satu sudut taman, menuju jalur yang begitu akrab dalam ingatan, ke arah lapangan basket luar ruangan yang dibangun waktu aku masih SMP, yang selalu terbuka untuk umum.


Meski disebut lapangan basket, hanya ada satu ring, ukuran setengah lapangan untuk 3-on-3.


Aku ingat jantungku berdebar kencang saat tiba di sini, dan ketika orang itu berada di dekatku, tubuhku terasa lebih ringan.


Hanya dengan senyum lembut dari "senpai" yang memperlakukanku seperti adik sendiri, hanya dengan suara lembutnya yang memujiku—aku jatuh cinta lebih dalam.


Tanpa sadar, aku melangkah mendekati lapangan, dan tepat ketika aku berdiri terpaku, sebuah bola berwarna oranye kusam menggelinding berhenti di kakiku. Bola basket. Tak salah lagi.


“Begitu tiba-tiba itu curang, tahu. Aku sama sekali belum siap......”


Bisikanku tumpah begitu saja, campuran kaget dan bahagia.


Tidak boleh. Sama sekali tidak kusangka, dan hatiku yang lengah langsung penuh oleh manisnya kerinduan itu.


Itu membawa kembali kenangan indah akan perasaan yang dulu membuatku mabuk kepayang, hari-hari ketika aku jatuh cinta.


Jangan muncul tiba-tiba seperti ini. Kumohon.



“Anak SMA di sana, aku akan senang kalau kau mengambilkan bolanya.”



Saat aku memungut bola itu, suara seorang perempuan menyapu bersih seluruh kusut di dadaku, seakan memutihkan hatiku yang lusuh.


Suara itu merambat lewat gendang telinga, menyebarkan rasa rindu yang hangat dan nyaman.


Memeluk bola yang kasar teksturnya, aku melangkah maju.


Di bawah ring, yang menungguku adalah sosok perempuan yang jauh lebih dewasa dari yang kuingat.


Rambut bob hitamnya kini berubah menjadi cokelat bergelombang sebahu. Riasan lembut yang tak berlebihan justru membuatnya semakin bercahaya. Setiap kali rok renda yang dia kenakan bergetar diterpa angin musim panas, desiran kecil di dadaku meninggalkan semburat panas di pipi.


Ketika aku terpaku saling menatap dengannya, langkahku terhenti—dan aku benar-benar kehilangan kata-kata.


“Haru-senpai......”


Nama perempuan yang terlalu kukenal itu—keluar dari bibirku begitu saja.


“Sudah lama ya, Natsume-kun. Mungkin setengah tahun?”


Hirose Haru. Satu tahun lebih tua dariku, sekarang seorang mahasiswi.


“Tidak......sejak Haru-senpai lulus, baru sekitar empat bulan.”


“Kalau begitu, masuk akal kalau kamu hampir tidak berubah ya, Natsume-kun.”


“Haru-senpai justru banyak berubah. Rambutmu makin panjang dan diwarnai cokelat......dari jauh aku sampai tidak tahu itu siapa.”


“Soalnya aku sudah jadi mahasiswi di Tokyo. Harus tampil modis supaya tidak dipandang sebelah mata sebagai anak kampung......menurutmu tidak cocok ya?”


Tenanglah, aku. Jangan gugup.


“K-Kupikir......itu cocok kok! Meski, aku juga suka Senpai jaman SMA!”


“Eh, suka? Apa kamu barusan menyatakan perasaan?”


“Ah, tidak, b-bukan begitu......! Maksudku, aku suka rambut hitam segarmu waktu SMA, itu cocok dengan seragammu sebagai pemain basket......!”


Rasa gugup membuatku tergagap. Bibir dan lidahku kering seperti gurun, tak bisa bergerak dengan benar.


Sial, kembalikan jarak nyaman empat bulan lalu! Dulu aku masih bisa bicara normal!


“Hmm, jadi kamu lebih suka aku yang dulu, anak Kisarazu polos, ketimbang mahasiswi Tokyo? Rumit juga ya hati gadis sepertiku~”


Senpai yang manyun tidak puas begitu juga manis sekali.


Ekspresi lembut yang berubah-ubah itu, aku tak akan bosan menatapnya seumur hidup.


“Bisa bertemu Senpai begitu mendadaknya......jujur aku kaget. Tolong kirim pesan di ponsel dulu.”


“Kalau aku datang ke sini, kupikir akan ketemu Natsume-kun. Ini versi kejutan dariku!”


Aku mengoper bola ke Haru-senpai sebagai penutup rasa maluku. Nyatanya, kegembiraanku belum mereda, dan detak jantungku yang terasa meningkat tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.


Serius deh, ini terlalu mendadak. Setidaknya biarkan aku mempersiapkan mental dulu. Paling-paling yang bisa kulakukan hanyalah menunduk secara tidak wajar untuk menyembunyikan senyum yang tak mampu kutahan.


“Hei hei, sebahagia itukah kamu bertemu Haru Onee-san? Kamu tetap saja lucu ya, Natsume-kun. Rasanya mau punya adik laki-laki sepertimu.”


Sambil bercanda, Senpai mendekat dan menepuk bahuku pelan.


Aku tak mau menunjukkan wajahku yang lemah padanya, tapi rasa ingin tahunya membuatnya mencoba mengintip wajahku—hingga aku spontan memalingkan muka.


“Aku masih belum terbiasa hidup sendiri dan merasa sedikit kesepian, jadi bisa ngobrol denganmu yang masih berseragam itu rasanya menenangkan dan membuat nostalgia.”


Sepertinya aku benar-benar merindukannya sampai ke dasar hati. Waktu ketika aku bisa berbicara dengan orang ini.


Waktu yang menyenangkan cepat berlalu, tapi empat bulan tanpa Senpai terasa seperti bertahun-tahun.


“Eh? Natsume-kun, kamu tambah tinggi ya?”


“......Dalam empat bulan, mana mungkin berubah sejauh itu.”


“Eh? Pasti kamu tambah tinggi~. Kira-kira berapa selisih tinggi kita sekarang?”


“Tunggu, Haru-senpai......”


Terlalu dekat......sepertinya ingin membandingkan tinggi badan, Haru-senpai mendekat dengan jarak yang aneh.


Aroma parfumnya mewarnai perasaanku yang sedang jatuh cinta dengan lembut, dan aku bahkan bisa melihat tiap helai bulu matanya dengan jelas. Dibanding saat dia masih di Kisarazu, kini dia membawa wangi yang lebih dewasa.


Refleks, aku mundur selangkah.


Agar dia tidak menyadari panas yang merayap di kulitku ataupun pandanganku yang goyah.


“Mumpung sudah di sini, bisa lihat sebentar?”


Dengan gerakan tenang, Haru-senpai membalikkan badan ke arah ring dan melepaskan bola dengan kedua tangan ke langit senja.


Tubuhnya yang terulur penuh, bola yang dilepaskan dari form tembakan yang ideal itu tertarik gravitasi, membentuk parabola indah, dan terserap masuk ke ring yang berkarat.


“Yosh! Sepertinya lenganku belum tumpul, ya.”


Bola yang jatuh ke tanah memantul sekali, dua kali.


Suara pantulan yang memukul lantai lapangan semakin mengecil, dan ketika keheningan menyelimuti, deru kendaraan di sekitar justru terdengar lebih mengganggu.


Seruan “Yosh!” yang imut dan pose penuh semangatnya memenuhi seluruh indraku dengan rasa bahagia.


Saat ini, Shirahama Natsume sepenuhnya dikuasai oleh perasaan terhadap Hirose Haru—tak bisa memikirkan siapa pun selain dirinya.


“Natsume-kun.”


“......Hah?”


Dipanggil tiba-tiba, aku pun tersadar.


“Kamu menatap terlalu lama. Malu, tahu?”


Haru-senpai mengerutkan alis dan menyentil dahiku, tapi segera tersenyum lagi.


“Aku hanya mengamati dengan cermat, ingin lihat apakah kamu jadi makin buruk setelah lama tidak latihan. Tembakanmu tetap sebagus saat zaman basket putri dulu.”


“Hei! Jadi kalau aku meleset, kamu mau mengejekku!? Berani banget, padahal kau lebih muda dariku!”


Dia mengacak-acak rambutku, aku pura-pura menolak, tapi sama sekali tidak menepisnya.


Sejak kau lulus, aku selalu merindukan waktu seperti ini.


“Ngomong-ngomong, kamu juga murid kelas tiga ya. Bagaimana? Belajar untuk ujian masuknya lancar?”


“Belajarnya terlalu lancar malah, jadi kalau Senpai pulang kampung, ajak aku main kapan saja.”


“Makasih! Memang yang paling berharga itu junior lucu yang selalu datang kapan pun dibutuhkan.”


Karena aku ingin terus berbagi waktu dengan Haru-senpai, karena aku ingin tetap menjadi junior yang lucu di matanya, maka maafkan aku kalau sedikit menyombong bahwa belajar untuk ujian berjalan lancar.


Kalau aku tak bisa menjadi pacarmu, setidaknya biarkan aku tetap menjadi junior terbaik bagimu.


“Usahakan bisa lulus ke universitas yang sama denganku. Aku tunggu, ya, Kouhai-kun.”


Ketika senyum polosnya disertai kata-kata penyemangat itu, rasa sepi yang lama mengendap tiba-tiba berubah menjadi harapan tanpa alasan. Begitulah sederhananya diriku sebagai manusia.



Aku memang belum punya mimpi yang jelas, tapi keinginan untuk masuk universitas yang sama dengan Haru-senpai itu sangat nyata.


Tapi mungkin itu bukan sosok aku yang diharapkan Haru-senpai.


Lumba-lumba keberuntungan, huh.


Entah kenapa, rumor entah dari mana itu melintas di kepalaku pada saat seperti ini.


Haru-senpai yang biasanya sibuk dengan kehidupan kampus dan kerja paruh waktu di Tokyo—hingga tak pernah tampak berniat pulang—tiba-tiba muncul begitu saja di awal musim panas.


Di hari yang sama ketika aku untuk pertama kali sejak lama kembali ke tempat ini. Bahkan di waktu yang hampir sama.



Jika kau bertemu “lumba-lumba keberuntungan”, cinta tak terbalas yang terhenti akan mulai bergerak.



Memang tak ada yang pernah melihat lumba-lumba asli berenang di laut Kisarazu, tapi entah bagaimana, pertemuanku dengan siswi SMP tadi seolah-olah membimbingku ke arah ini.


......Konyol. Mana mungkin begitu.


Mempercayai cerita murahan tanpa sumber itu jelas saja bodoh.


Aku tidak sampai memelintir pandangan cintaku hanya demi menghubungkan semuanya dengan hiasan rambut berbentuk lumba-lumba.


Cinta cinta tak terbalasku ini sudah membeku seperti tanah beku abadi.


Aku menahan diri pada kenyataan, cukup mensyukuri keberuntungan kecil bahwa aku bisa mengobrol dengan Haru-senpai......dan membiarkan perasaan melayang itu kembali menjejak bumi.


Mulai besok lagi, hari-hari penuh belajar dan pelarian dari kenyataan. Sudah pasti begitu.


Matahari yang membara di garis cakrawala seakan belum berniat tenggelam meski senja telah tiba,

terus membakar kulit seorang siswa yang bersembunyi dalam hubungan yang aman—hubungan yang tak melukai siapa pun—dan keringat yang muncul perlahan membasahi kemejaku.



Berkebalikan dengan cinta pertamaku yang sudah lama membeku.


Tahun ini pun, sepertinya musim panas akan terasa lebih panas dari sebelumnya.

1 comment for "Wasuresasete yo, Kouhai-kun [LN] J1 Prolog"